MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 1 Nomor 5 Juli 2016



MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


Hal itu membuat gelang dari batu-batu di tangannya bergoyang pelan dan menimbulkan suara khas saat berbenturan.

Orang ini benar-benar memiliki banyak aksesoris yang menempel di tubuhnya, Rhalemug kembali membatin.

Dengan binggung, Rhalemug menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Glaric, namun ia tidak dapat menemukan temannya itu.

Glaric hanya menyodorkannya kepada petugas perpustakaan kemudian menghilang. Seolah perpustakaan ini memiliki banyak kamar rahasia.

Ketika pagi ini menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di perpustakaan Schavelle bersama Glaric, Rhalemug merasa ada sesuatu yang ganjil.

Bangunan itu terlihat kecil dari luar. Seolah hanya ada sebuah konter penjagaan di sana. Tidak ada yang lain.
Namun dugaannya salah. Perpustakaan Schavelle yang juga merupakan perpustakaan pusat Plante tidak berisi banyak buku-buku berdebu yang berjajar dalam rak sesuai kategorinya.

Ini adalah perpustakaan digital yang sangat besar.

“Kami memiliki lebih dari enam belas juta judul buku yang membahas berbagai macam pengetahuan,” beber si penjaga perpustakaan sembari keluar dari konternya dan menggiring Rhalemug melewati pintu yang ada di sisi kanannya.

Rhalemug masuk ke ruangan yang seratus persen berbeda. Sebidang ruangan besar dengan banyak meja dan kursi duduk, juga komputer. Komputer itu mirip seperti yang ada di flatnya namun fitur yang nampak di layar benar-benar berbeda.

“Jangan bengong seperti itu, aku akan mengajarkanmu menggunakan akun untuk mencari buku yang kau butuhkan,” tegur petugas itu terlihat tidak sabar.

Rhalemug duduk di salah satu meja dengan komputer yang power-nya on. Ia melihat halaman login di monitor. Petugas itu memberikan akses melalui monitor mini yang di pegangnya, semacam komputer tablet.

Dengan agak gugup, Rhalemug memasukkan username dan password-nya. Ia memang memiliki komputer di rumah, setiap penduduk di Plante ia rasa punya.

Minimal komputer di meja samping tempat tidur untuk melihat kalender, mengetahui jam, juga mendapatkan informasi secara searah dari para regulator.

Terakhir kali pesan sentral yang di dapatkannya adalah mengenai adanya masalah di Gnemoe yang menyebabkan penduduk untuk sementara waktu hanya akan mendapatkan sayuran saja sebagai makanan.

Pesan sentral lain yang pernah ia dapat adalah mengenai penggantian regulator.

Pesan juga bisa masuk dari divisi tempat seseorang bekerja, seperti ia mendadak harus berganti jadwal dengan petani lain yang jatuh sakit.

Itu artinya ia jarang sekali bertindak sebagai penginput data, 90% yang dilakukannya hanya menyentuh layar dan membaca informasi yang diperlukannya juga pengumuman yang masuk.

Rhalemug tidak pernah membayangkan memasukkan username dan password saja bisa membebani mentalnya.

Ketidakbiasaan membuatnya tidak percaya diri.

Selesai memasukkan datanya, Rhalemug masuk dalam sebidang halaman di mana terdapat banyak sekali kategori pengetahuan di sana.

“Buku-buku di sini memiliki kategori dan tingkatan. Di samping pengelompokan berdasar tema, ada juga tingkatan khusus untuk buku yang dipinjam”. Jelas Petugas tersebut.

Ada buku yang baru bisa kau baca setelah membaca seratus buku, dua ratus buku, hingga tertinggi seribu buku,” lanjut si petugas yang nampaknya sudah terbiasa untuk menjelaskan prosedur di perpustakaan secara berulang-ulang kepada orang yang berbeda-beda.

“Mengapa begitu?”

“Apakah kau pernah mendengar bahwa buku mampu mengubah cara berfikir dan pemahamannya atau paradigma seseorang?” Tanya Petugas tersebut tanpa meminta jawaban.

“Ada beberapa buku yang mungkin bila kau baca sekarang hanya akan memberimu sakit kepala kemudian kau menyumpah-nyumpah mengapa ada orang yang memiliki pendapat bodoh”

“Padahal mungkin dia benar. Hanya saja kau belum mencapai pemahaman tersebut,” tambahnya.

“Percayalah terlalu memaksakan diri hanya akan membuat kau depresi,” tambah si petugas sembari mengernyitkan dahi, membuat make up-nya terasa lebih menyeramkan. “Apakah kau memiliki pertanyaan?” Petugas itu menunggu jawaban.

“Bagaimana cara meminjam buku di sini?” Tanya Rhalemug.

“Tentu saja aku belum menjelaskannya. Peraturannya sederhana. Kau tinggal melakukan permintaan sewa buku ketika sudah mengetahui buku apa yang ingin kau baca”

“Sistem secara otomatis akan mengirimkannya ke komputer rumahmu.
Ia mendekatkan wajahnya ke Rhalemug.

“Ingat kau hanya memiliki maksimal waktu satu bulan untuk meminjamnya. Lewat dari itu data buku yang kau pinjam akan kami tarik kembali. Kau bisa mengontak perpustakaan untuk perpanjangan”.

Rhalemug mengangguk-angguk seperti murid yang sedang diajak mengobrol oleh guru killer.

“Jangan sampai melupakan username dan password-mu. Jika butuh bantuan, kau bisa menekan tombol bantuan yang ada di layar. Selamat mencari pengetahuan!” tambahnya seraya berlalu.

Sepeninggal petugas tadi yang terlihat menyeramkan namun sangat ramah untuk menjelaskan seluk beluk peminjaman buku digital, Rhalemug menatap layarnya dengan gamang.
Mendadak ia tidak bersedia membaca hal-hal yang berhubungan dengan tanaman.

“Bagaimana dengan pencarian mengenai Plante,” gumam Rhalemug sembari mengetikkan kata Plante di kotak pencarian.

Hasil buku yang ditemukan tentunya sangat banyak. Maka dari itu Rhalemug memutuskan untuk membaca cepat judul-judul itu.

Plante : Surga Generoro. Plante dan Struktur Dunia Modern. Plante sebagai Dunia yang Sempurna. Rasanya seperti membaca sebaris untaian puisi yang sedang mengelu-elukan Plante.

Sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, dan menggunakan tangan kiri atasnya untuk menopang dagu, ia menuju halaman berikutnya. Kurang lebih judul yang muncul masih mirip-mirip halaman pertama.

“Kalau begitu langsung saja lompat beberapa halaman sekaligus,” cetus Rhalemug sembari langsung maju ke halaman tiga belas.

Di situlah ia menemukan judul yang menurutnya lebih manusiawi. Plante dulu, Plante sekarang tulisan Ygmy, seseorang yang berada satu generasi di atas Rhalemug.

Apa yang pernah kau bayangkan mengenai  tempat di mana jutaan orang dapat tinggal di dalamnya, tempat dengan satu bangsa saja.

Mulanya Plante hanya dihuni oleh ratusan ribu penghuni saja.

Penghuninya dapat dicirikan sebagai makhluk dengan empat tangan, dua kaki.

Berdiri tegak dengan tinggi 25-40 cm. Kulit mereka berwarna hijau.

Bentuk muka mirip kodok, mirip reptil kadal dengan mulut lebar yang khas. Meskipun begitu kulit mereka tidak bersisik dan tidak memiliki totol-totol.

Semenjak terciptanya tempat ini beberapa ratus yang lalu, beberapa hal sudah di tetapkan dengan jelas dan kaku.

Pembagian ruang dan pembagian peran merupakan hal yang sangat krusial di Plante.

Hal ini merujuk pada kelangsungan Plante itu sendiri, seberapa lama mereka mampu bertahan dalam dunia yang terisolasi dari dunia lainnya.

Penduduk Plante yang berjumlah sekitar dua juta orang membayar pajak yang cukup tinggi pada para regulator.

Sebagai gantinya mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, terutama listrik.

Populasi di atur sedemikian rupa supaya tiap-tiap masyarakatnya merasakan hidup layak.

Baik dari segi makanan, juga tempat tinggal mengingat sangat terbatasnya dunia mereka.

Pekerjaan dapat mereka dapatkan melalui tiga jalur. Pertama karena itu adalah pekerjaan yang sama dengan orang tua.

Seperti anak petani yang akhirnya menjadi petani karena orang tuanya adalah petani.

Kedua karena pengajuan aplikasi. Atau yang ketiga dipindah antar divisi oleh para regulator.

Di samping membayar pajak dan bekerja, penduduk diwajibkan untuk mengontrol jumlah populasi dari Generoro sendiri.

Keseimbangan Plante dipercaya terjaga apabila terisi dua juta atau maksimal dua juta seratus ribu penduduk saja.

Di luar itu, ekosistem Plante dapat terganggu. Terutama karena keterbatasan tempat dan makanan.

Sebaliknya, kekurangan penduduk juga dinilai akan membawa dampak buruk. Kekurangan tenaga kerja menyebabkan sektor-sektor di Plante tidak akan mampu beroperasi secara maksimal.

Pembagian daerah di Plante tidak hanya didasarkan pada tingkatan lantai semata. Satu lantai bisa terdiri atas beberapa kota atau bahkan hanya diisi satu kota.

Plante tidak ubahnya dengan puzzle rumit yang mungkin hanya dimengerti dengan baik oleh para penciptanya juga orang-orang yang berani untuk berkelana.

Meski dihuni hanya dua juta jiwa saja, tidak semuanya mengenal satu sama lain. Biasanya antar penduduk mengenai jika profesinya sama.

Buat mereka yang berbeda profesi, probabilitas untuk saling mengenai cukup terhambat, karena intensitas interaksi yang rendah.

Pada bab berikutnya, buku ini akan menjelaskan secara rinci mengenai divisi-divisi yang ada di Plante.

Rhalemug baru saja menyelesaikan bab pembuka dari buku yang dipilihnya.

Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah memberikan perhatian ekstra pada divisi di luar pertanian.

Ia tidak benar-benar paham sebenarnya ada berapa divisi di dunianya.

Namun sebelum ia beranjak ke bab berikutnya, Glaric mendadak menanyainya.

“Menemukan buku yang bagus, sobat?”

Karena terlalu fokus pada bacaannya, Rhalemug bahkan tidak menyadari kemunculan Glaric.

Sebenarnya bukan hanya Glaric saja, tapi juga beberapa pengunjung lainnya.

Saat pertama kali memasuki ruangan ini Rhalemug hanya mendapati beberapa pengunjung yang tengah membaca di komputer yang agak jauh darinya.

Namun sekarang ruangan itu sudah hampir penuh. Ternyata banyak yang memiliki minat baca yang tinggi di Schavelle.

“Aku membaca buku yang berhubungan dengan Plante, namun baru permulaannya saja,” sahut Rhalemug setengah berbisik, takut mengganggu konsentrasi pengunjung lainnya.

“Kemana saja kau?”

“Ruangan sebelah. Ayo ikut aku,” ajak Glaric sembari memberi isyarat.

“Apa kau yakin anggota baru seperti aku boleh memasuki ruangan itu?” tanya Rhalemug memastikan ia tidak akan melakukan perbuatan yang dapat membawanya pada masalah.

Apalagi ia baru pertama kali mengunjungi perpustakaan pusat. Tidak keren rasanya kena blacklist pada kunjungan pertamanya.

“Tidak masalah, kita hanya akan mengunjungi ruang peraga. Lagipula aksesmu pada hal-hal yang belum boleh kau ketahui sudah terkunci secara otomatis menggunakan username dan password,” jelas Glaric, enteng.

Ruang peraga, entah hal hebat apalagi yang akan Glaric tunjukkan padanya.

Setelah me-log out akun, mereka meninggalkan ruang baca. Glaric memandunya ke pojokan ruang baca yang ternyata di situ ada pintu lain namun desainnya dimiripkan dengan tembok di sebelahnya sehingga sekilas seolah tidak ada pintu di sana.

Rhalemug dengan jelas dapat membaca tulisan ruang peraga yang muncul saat pintu itu dibuka. Jantungnya berdebar tidak karuan, memikirkan apa yang ada di dalam sana.

Ruangan itu mirip ruang baca sebelumnya. Dipenuhi dengan meja dan komputer meski desainnya agak berbeda.

Hanya saja bukan deretan komputer-komputer itu yang menyita perhatiannya.

Melainkan sebentuk kaca besar yang sepertinya tengah memutarkan video.

Gambar-gambar itu seolah konstan, namun bila diperhatikan baik-baik sebenarnya ia tengah bergerak.

“Aku tahu kau pasti akan menyukainya!” seru Glaric tanpa berusaha merendahkan volume bicaranya mengingat pembaca di ruangan ini sudah dilengkapi dengan headphone.

Rhalemug ingin menanyakan benda apa yang sebenarnya dilihatnya itu, namun Glaric sudah terlebih dulu menunjukkan benda aneh lain padanya.

Benda tersebut di lingkupi oleh kaca. Benda tersebut mirip kaleng dengan banyak kristal sehingga sinar bintang dapat menembus beberapa area di dalamnya. Kaleng itu memiliki ujung kerucut. Seperti pensil.

Perasaan terkejut yang dahsyat, mirip orang yang baru terkena setrum, mengaliri seluruh tubuh Rhalemug ketika membaca informasi mengenai benda yang ada di hadapannya. “Plan... Plante...”.

“Plante,” ulang Glaric seolah ingin menegaskan apa yang dibaca Rhalemug barusan.

“Apa arti dari semua ini Glaric?

Bagaimana ada orang yang bisa mengetahui bentuk Plante sementara yang kita lakukan selama ini adalah di dalamnya?” tanya Rhalemug frustasi.

“Seandainya aku bisa menjawab pertanyaanmu sobat,” sahut Glaric muram. “Aku juga merasakan sesuatu yang ganjil ketika pertama kali melihat miniatur ini”

“Namun hingga sekarang aku tidak dapat menemukan jawabannya”.

“Apakah kau tidak mendapat petunjuk dari buku-buku yang pernah kau baca?” desak Rhalemug.

Glaric memberi isyarat lain. Kali ini mengingatkan Rhalemug agar tidak bertingkah terlalu mencolok.

Rhalemug menyadari bahwa tingkahnya barusan cukup berlebihan. Ia tidak bisa memastikan bagaimana ekspresinya sekarang.

Kaget? Panik? Takut?

Dengan kepala tertunduk, sembari memandangi lantai, Rhalemug mengikuti Glaric ke sofa yang ada di dekat kaca besar tadi.

Sofa-sofa itu di tata seolah memang tujuannya agar siapapun yang duduk di situ memandangi kaca penuh gambar-gambar tadi. Jujur saja gambar itu mirip seperti apa yang ada di layar monitor di flatnya.

Kini Rhalemug memasukkan keempat tangannya ke dalam saku. Menunggu Glaric memulai pembicaraan kembali.

“Rhalemug aku ini terlahir dari keluarga ilmuan. Membaca buku merupakan bagian dari hidupku. Membandingkan dan membuat teori antar satu buku dengan buku yang lainnya merupakan hal yang sudah biasa.

“Percobaan dan menganalisis kegagalan menjadi proyek sehari-hariku di divisi yang lama. Lebih sepuluh ribu judul buku menjadi bagian dari pengetahuan di kepalaku”

“Hanya saja aku tidak pernah menemukan pengetahuan yang menyebut siapa pembuat miniatur itu,” tambahnya muram.

“Apakah kau menyimpulkan sesuatu?”

“Bagaimana denganmu, sobat?” Glaric membalikkan pertanyaan Rhalemug.

“Aku hanya berpikir, mungkin saja ada orang yang pernah berada di luar Plante”.

“Menurutmu, di dunia yang lain, ada makhluk hidup selain Generoro?”

“Mungkin saja”. Rhalemug memandangi kaca besar itu lagi. Sebuah bulatan  besar melayang di sana. Benda itu berjuta-juta besarnya dari dunianya.

“Tapi aku tak pernah menemui makhluk selain Generoro. Kau tahu, bertangan empat, berkaki dua.... Itu tadi hanya pendapatku saja, tidak ada bukti”.

Glaric memandangi kaca itu. Di balik kacamatanya yang unik, Rhalemug bisa merasakan tatapannya yang tenang.

Setenang Aliran Air Sungai Verzacasa.

“Sedih sekali ya ketika kau memiliki hipotesis namun kesulitan untuk mencari bukti,” ujarnya dalam nada yang sangat datar.

“Kau tahu pemandangan ini merupakan candu. Aku sering mengunjungi perpustakaan untuk memandangi kaca ini selama berjam-jam. Kaca ini tidak pernah menampakkan pandangan yang sama”.

Rhalemug ikut memandangi kaca besar itu dalam diam.

“Oh ya, kau pernah mengengar Aurpra, sobat?”

Rhalemug menggeleng.

“Kau harus mengajak orang yang kau sukai kesana! Tempatnya sangat romantis”.

“Tempat para pasangan melepaskan hasrat mereka?” tanya Rhalemug antusias.

Glaric terkekeh pelan. “Tidaklah. Kita masing-masing sudah diberi flat, untuk apa melepaskan hasrat di tempat macam itu? Aurpra atau  taman sejuta bunga merupakan taman rekreasi keluarga”

“Selain tempat terkenal untuk menyatakan cinta, para orang tua di Schavelle sering kali mengajak anak-anak mereka untuk bermain di sana”.

“Aku hanya berpikir jikalau para pasangan yang dimabuk asmara mencari tempat yang lebih menantang untuk melakukannya,” kekeh Rhalemug polos.

“Aku tidak pernah membayangkan Plante memiliki hamparan taman yang luas selain Aracheas”.

“Lihat dirimu, sobat! Sekarang kau mengira dunia hanyalah Aracheas, Schavelle, dan Sintesa Samiroonc saja. Mungkin aku harus mengajakmu ketempat lain. Petualangan kita masih panjang!”


*
Surga Tanpa Hujan

Kesempurnaan dan ketidaksempurnaan
menghasilkan not-not lagu yang indah
Banyak orang yang gagal berpikir, satu-satunya yang sempurna adalah ketidaksempurnaan

Petani merupakan aktor utama dalam kegiatan budidaya tanaman di Plante, ranah yang terkait langsung dengan pengelolaan sumber daya alam.

Sebagai penghasil bahan-bahan nabati, Pertanian Plante yang berpusat di Aracheas dianggap sebagai salah satu penyangga penting kelangsungan dari Plante itu sendiri.

Meski begitu masing-masing divisi di Plante adalah krusial. Meski ada yang terasa lebih superior, nyatanya seluruh divisi di sini dibutuhkan. Kegagalan di satu divisi dapat memberikan dampak negatif pada divisi lainnya.

Sebagai pusat pertanian, Aracheas memiliki tujuh tingkat di mana dua tingkat teratas digunakan untuk pengembangbiakan secara hidroponik dan satu tingkat di bawahnya digunakan untuk penyemaian dan pembibitan.

Tingkat kelima hingga kedua dapat dibagi atas kategori berikut. Tingkat lima merupakan Farmakultur di mana tanaman obat-obatan tumbuh di sini.

Olerikultur atau tanaman sayur-sayuran seperti oyoiy, hiqwu, asj, raskl, juga iegdaj tumbuh di lantai empat.
Satu tingkat di bawahnya adalah tempat Pomologi atau Frutikultur. Di lantai ini berbagai buah-buahan seperti kkrukl, jalk, kokw, dan buah-buahan lainnya juga dapat dipetik langsung.

Tingkat dua merupakan surga bagi para pecinta bunga. Florikultur menghadirkan berbagai tumbuhan seperti eewrw, hrer, kafso,  hjdask dan lain sebagainya.

Pekerjaan petani di Plante sangatlah beragam. Para petani tidak saja menanam, bagi mereka yang ada di tingkat senior, tugas mereka meliputi membuat perencanaan rotasi tanaman, diversifikasi tanaman, hingga penggunaan pupuk organik.

Selain itu mereka juga memikirkan cara pengendalian hama, sistem pengairan bahkan sistem manajemen lingkungan supaya Aracheas mampu menghasilkan peningkatan produksi.

Pertanian yang baik adalah yang dapat menjaga kelestarian lingkungan.

Kerusakan lingkungan dapat di atasi melalui pengembangan sistem produksi yang mengutamakan keanekaragaman hayati pertanian juga dapat dilakukan dengan meniru proses alamiah ekosistem alam.

Aracheas bukanlah tempat yang dirajai oleh lelaki. Banyak wanita yang juga berprofesi sebagai petani di Plante.

Melalui tangan-tangan mereka yang lentik, berbagai dedaunan segar di petik, batang-batang yang lemah disangga, dan biji-bijian yang rapuh diselimutkan dalam dalam tanah yang hangat.

Pergaulan Rhalemug sebenarnya tidak terlalu mendalam dengan para wanita di Aracheas. Ia lebih banyak berkumpul dengan laki-laki.

Seandainya ada interaksi Rhalemug dengan rekan petani wanita biasanya tidak jauh-jauh dari tanaman itu sendiri. Intinya pergaulannya berpusat pada pekerjaan. Tidak menyinggung hal-hal yang bersifat pribadi.

Salah satu wanita yang dikenalnya adalah Irrina. Seorang gadis pemalu yang kebetulan sering menjadi partner-nya di ladang.

Irrina jarang mengeluarkan suara dan selalu gugup. Ia sering membenahi rambutnya ke belakang telinga atau meremas-remas tepi pakaiannya ketika sedang berbicara dengan orang lain.

Meski kelihatannya kurang dapat diandalkan, Irrina sebenarnya adalah petani yang ulet. Setiap sektor yang ditanganinya selalu rapi dan terawat.

Rhalemug pernah melihatnya memetik pucuk daun teh dengan sangat lincah dan terampil, termasuk saat ia memetik bunga utyut. Tidak ada daun atau bagian punya yang tertekuk ketika ia melakukannya.

Berbeda dengan Rhalemug dan Alo yang kebanyakan berada di lantai dasar juga lantai hidroponik dari Aracheas, Irrina lebih sering berada di lantai lima dan enam. Namun hari ini berbeda. Irrina muncul di lantai dasar, tepatnya di tepi Verzacasa.

“Irrina?” sapa Rhalemug ragu-ragu. Rasanya tidak percaya melihat Irina berada di lantai dasar seperti ini.
Memang tidak ada larangan untuk mengunjungi tempat-tempat di Aracheas, tetapi pemandangan seperti ini sangatlah jarang.

“Rha-Rhalemug!” seru Irrina, jelas kelihatan terkejut.

“Senang melihatmu di sini, apakau sedang ingin melihat sungai?” tanya Rhalemug berusaha ramah, ia tidak ingin Irrina bersikap gugup seperti itu meski ia tahu pembawaan gadis itu memang selalu begitu.

“Bu-bukan!” bantah Irrina dengan suara serak agak melengking khasnya.

Ia berusaha menguasai diri dan kembali berbicara dalam nada yang lebih rendah.

“A-aku sedang memeriksa kelembaban air, Rha-Rhalemug”.

“Kelembaban?” ulang Rhalemug seraya memasukkan keempat tangannya ke dalam saku.

“Be-benar. A-aku merasa air kita sedikit berubah,” ungkapnya sembari menunjuk aliran air dengan telunjuk kanan tangan atasnya, sementara tangan kiri bawahnya mulai meremas-remas tepi pakaiannya.

Rhalemug mengernyit. Rasanya tidak ada yang berubah dengan Verzacasa. Ia membungkuk dan menyentuh air.

 Menurutnya tidak ada yang berubah.

“Ta-tanamanku di lantai lima sangat sensitif dengan pe-perubahan kelembaban a-air. Aku merasakan me-mereka agak mengerdil akhir-akhir ini,” jelasnya, muram.

“Aku tidak tahu cara untuk mengecek kelembaban air,” aku Rhalemug ikut sedih.

Irrina mengangguk. “Ka-kapan-kapan mampirlah ke lantai obat-obatan”.

Rhalemug memberikan jempolnya kemudian Irrina pamit untuk kembali ke lantai tempat dia bekerja. Kebetulan sekali ia dan Irrina lembur pada hari bersamaan.

Jadwal lembur biasanya karena menggantikan rekan kerja yang jatuh sakit. Kadang ada juga petani yang meminta tukar jadwal karena ada keperluan pribadi.

Sore itu Rhalemug kembali mengunjungi flat Glaric. Ia baru saja menyelesaikan waktu lembur yang memakan setengah hari kedua akhir pekannya dan merasa mengungkung diri dalam flat untuk berbaring merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Glaric apakah kau bisa memberitahuku apa itu hujan?”

“Eh, mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu padaku sobat?”

“Karena waktu mengunjungi perpustakaan aku lupa untuk meminjam buku mengenai hujan,” jawab Rhalemug polos.

Pembahasan mengenai hujan yang muncul ketika ia mengunjungi Schavelle beberapa waktu yang silam memang selalu menggelitik pikirannya.

Seolah ada sesuatu yang mendesaknya untuk mencari tahu dan memperdalam pengetahuannya soal hujan.

“Kalau begitu kau bisa menanyakan apa yang ingin kau ketahui”

“Hmmm... bagaimana caranya air dalam jumlah besar turun dari langit? Apakah itu berarti ada yang bocor?”

“Langit tentunya berbeda dengan langit-langit Rhalemug. Di dunia yang lain, terdapat perairan dan daratan. Tidak seperti di sini. Di sana ada suatu benda besar yang terus-menerus memancakan panas, sebutannya matahari”.

Glaric mengambil kertas besar dan mulai menggambar dengan sekotak krayon.

Rhalemug mengingat Alo yang juga suka menjelaskan dengan gambar. Ia menggambar bulatan dan memberikan warna kuning.

“Ini matahari”. Kemudian di sisi bawahnya ia menggambar sesuatu yang ia warnai coklat di bawah bulatan tadi. “Ini daratan”.

Selanjutnya ia mewarnai biru area dekat daratan. “Ini perairan. Daerah yang tidak kuwarnai adalah langit”.

Rhalemug mencoba mencerna hal-hal yang sangat asing itu. Daratan, perairan, matahari, juga udara.

“Di Plante mungkin kita tahu perairan berbentuk sungai dan danau. Namun di dunia yang lain, terdapat perairan yang sangat luas”

“Ketika di tengahnya kau bahkan tidak mampu melihat daratan. Sangat berbeda dengan danau yang masih bisa kita lihat tepinya. Perairan yang sangat luas juga dalam disebut lautan,” papar Glaric penuh antusias.

“Apakah lautan juga digunakan sebagai sarana irigasi? Aku membayangkan berapa banyak ikan yang dapat kita budidayakan di lautan,” celetuk Rhalemug memotong penjelasan Glaric.

“Bukan begitu. Ikan yang di lautan biasanya tidak dibudidayakan. Mereka memang tinggal di sana dalam jumlah yang sangat besar”

“Nah aku akan melanjutkan penjelasanku menggunakan krayon hitam”. Glaric menyingkirkan krayonnya yang lain dan hanya fokus pada satu warna sekarang.

“Panas matahari yang terpancar membuat permukaan perairan menguap ke udara. Proses penguapan mirip ketika kau memanaskan air terus-menerus”

“Air yang dipanaskan berubah menjadi uap air. Kemudian uap air ini akan bergerak naik. Ketika suhu udara semakin dingin, uap air tadi akan mengalami kondensasi atau pengembunan”. Katanya.

“Di situ terbentuklah butiran-butiran air. Butiran air ini jumlahnya akan semakin banyak kemudian berkumpul membentuk awan. Coba tebak apa warna awan Rhalemug?” jelasnya.

“Putih? Transparan?” tebak Rhalemug sembari memikirkan kemungkinan dari air yang mengguap.

“Kau bisa menyebut bahwa awan ini berwarna putih. Namun hujan biasanya ditandai oleh awan gelap karena itu artinya awan tersebut mengandung butiran air dalam jumlah yang besar”

“Ketika awan sudah terlalu berat, butiran-butiran air yang terkandung di dalamnya akan jatuh ke bawahnya, daratan dan perairan,” kata Glaric sembari menyelesaikan gambarnya.

“Terakhir namun tidak boleh dilewatkan, hujan sebenarnya dipengaruhi oleh pergerakan angin. Angin membawa awan dan memiliki siklus tersendiri daerah mana yang akan mendapat curah hujan dalam waktu tertentu,” imbuhnya.

“Glaric apakah kau pernah merasakan hujan?” tanya Rhalemug curiga. “Kau menceritakannya dengan sangat detail”.

“Tentu saja tidak! Sejak kapan Plante mengalami hujan? Mustahil hal itu dapat terjadi. Kita bahkan selalu merasakan suhu yang sama dari hari ke hari”.

“Aku tidak tahu apakah Plante benar-benar dapat dikatakan surga jika hujan sekali pun tidak sudi buat turun di sini,” gerutu Rhalemug sembari memandangi alat-alat miliki Glaric.

Glaric tersenyum memandangi tingkah Rhalemug.

“Sebenarnya...”.

Rhalemug mendongak dan melihat Glaric, sepertinya temannya itu sedang berpikir.

“Sebenarnya kita bisa melakukan simulasi. Bagaimana jika kita kembali ke Schavelle akhir pekan ini? Aku akan membeli alat-alat yang diperlukan untuk melakukan simulasi hujan.”

“Walaupun pasti rasanya tidak seratus persen sama. Di dunia yang lain hujan biasanya disertai angin, petir  juga guruh,” ujar Glaric menyuarakan pikirannya.

Rhalemug hampir saja bertanya namun Glaric memotongnya, seolah ia tahu apa yang akan ditanyakan sobatnya itu.

“Angin, pergerakan udara, seperti ketika kau berada di dekat alat udara di atas kita ini. Petir merupakan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan. Petir terjadi karena perbedaan potensial muatan antara awan dan bumi, atau dapat juga awan dengan awan lainnya.

“Muatan negatif berkumpul pada salah satu sisi. Sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya”

“Perbedaan muatan yang sangat besar mengakibatkan terjadinya sambaran petir”. Glaric tersenyum jahil.

“Coba tebak berapa lama petir terjadi?”

“Satu jam!” tebak Rhalemug asal.

Bagaimana ia tahu lamanya arus petir terjadi. Membayangkannya pun mungkin masih salah.

“200 mikro-detik,” kata Glaric yang tak kuasa menahan tawa. “Itu saja kekuatannya sudah sangat dahsyat sobat! Ribuan sampai dua ratus ribuan volt”.

“Apa itu artinya?”

“Sebagai perbandingan, angka sebanyak itu mampu  menyalakan 500 ribu lampu bohlam 100 watt,” jelas Glaric.

“Seseorang bisa meninggal dengan kekuatan semacam itu,” kata Rhalemug ngeri, membayangkan ada orang yang tersambar petir, bahkan mungkin tanaman juga dapat hangus seketika.

“Aku tidak ingin membayangkannya, namun dalam beberapa kondisi hal semacam itu memang pernah terjadi. Kesialan datang secara acak. Kejadian semacam itu biasanya terjadi saat musim hujan karena kadar air yang lebih tinggi. Air adalah isolator yang baik untuk listrik”.

Glaric menghentikan pembahasannya di situ. Seandainya ia memiliki video mengenai hal ini pasti Rhalemug akan lebih mudah mencerna penjelasannya.

Rhalemug melakukan perenggangan sedikit. Otaknya benar-benar menyerap banyak hal hari ini. Tinggal satu lagi pertanyaannya. “Kita beralih ke guntur”.

“Guntur sebenarnya bunyi yang keras, berasal dari langit. Kemunculannya disebabkan petir tadi. Karena petir ini berdaya kuat, ia mampu memanaskan udara. Tidak tanggung-tanggung panasnya sampai 30.000 derajat celcius”.

“Udara yang sangat panas itu mengembang dengan cepat kemudian terjadi pengerutan ketika dingin. Peristiwa tersebut menyebabkan suara yang sangat keras”.

“Kuharap suatu saat aku dapat menikmati hujan, melihat petir juga mendengarkan guntur,” gumam Rhalemug dengan mata menerawang. Ia kemudian berpamitan dengan Glaric karena hari sudah mulai larut.

“Jika masih ada hal yang ingin kau tanyakan aku akan membantu sebisa mungkin untuk menjawabnya,”
Sebenarnya Glaric masih ingin membagikan banyak pengetahuannya kepada petani itu.

Seperti bahwa di dunia lain ada masanya dunia dikelilingi oleh sesuatu yang dingin dan putih. Salju.

“Salju terbentuk ketika butiran air yang sangat dingin membeku dan membentuk kristal. Bentuknya berbeda-beda. Selain dingin salju merupakan sesuatu yang rapuh. Mudah pecah,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Sebagai anak dari seorang cendekiawan, Glaric sudah diajari berbagai macam hal semenjak kecil. Segala ilmu yang berhubungan dengan sains sudah menjadi bagian dari hidupnya, dari keluarganya.

Membuat rangkaian listrik sederhana sudah dapat ia kuasai sejak umur sepuluh tahun. Ketika menginjak umur lima belas tahun ia bersama ayahnya berhasil membuat kapal uap sederhana dalam ukuran mini.

Delapan belas tahun. Ketika ia baru saja menginjak bangku sekolah, istilah-istilah seperti kinematika partikel, momentum linear, hingga thermodinamika sudah biasa ia dengar.

Posisi pertama di sekolah di raihnya tanpa perjuangan yang berarti.

Orang lain selalu menganggapnya terlahir cerdas. Padahal ia sudah diajari banyak oleh kedua orang tuanya. Mereka adalah ilmuwan.

Namun beberapa menyebut orang tuanya sebagai penyihir karena mereka mampu menciptakan air dari ketiadaan, mengubah udara kotor menjadi murni kembali.


bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 5 Juli 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage