MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 1 Nomor 10 Desember 2016


Rhalemug menyodorkan gelas berisi air yang jernih dan memberikannya pada Mozza. Gadis itu menerimanya dan segera menenggak isinya sampai habis.


“Apa kalian pernah mendengar anagram?” tanyanya pelan.

“Pengkontruksian kembali sebuah kata, jumlah hurufnya sama, namun susunannya membuatnya terdengar berbeda,” tebak Glaric.

“Plante dan Planet, terdengar mirip?” tanya Mozza lagi.

Anagram. Pantas saja kata Planet terasa tidak asing waktu Rhalemug baru pertama kali mendengarnya.

“Dulu orang tuaku sering mengajak bermain anagram. Salah satunya adalah Plante dan Planet. Namun mereka tidak pernah menjelaskan apa maksudnya,” ujar Mozza yang masih terlihat gelisah dan tegang.

“Bagaimana jika kita menemui orang tuamu dan meminta penjelasan?” usul Rhalemug.

Mozza menggeleng. “Tidak bisa Rhalemug. Menurut para regulator, kedua orang tuaku terlibat dalam kasus Jakarov si Pemberontak.

Mereka dieksekusi mati bersama  dengan Jakarov lebih dari delapan puluh tahun yang lalu. Maka dari itu saat kecil aku tinggal dengan Bibi”.

“Aku turut berduka,” kata Rhalemug agak salah tingkah.

“Aku bahkan belum benar-benar mengenal kesedihan ketika mereka tidak ada. Bibi mengatakan aku menangis berhari-hari karena merindukan orang tuaku. Namun setelah dewasa aku tidak mengingat pernah merasa kehilangan seperti itu,” tandas Mozza dingin.

Mereka hening untuk waktu yang cukup lama. Hingga makanan yang Mozza buat juga ikut menjadi dingin. Semuanya memutar otak mengenai apa yang sebenarnya bangsa Generoro percaya, kisah-kisah yang mereka dapatkan sejak kecil. Dan kemungkinan apa saja yang mungkin meruntuhkan kepercayaan itu.

“Terima kasih atas informasimu Rhalemug. Kini aku bisa menyatukan pecahan-pecahan informasi ini.
Kecurigaan sudah sekian lama ada namun aku tidak benar-benar memahaminya,” bisik Mozza.

Rhalemung dilanda rasa binggung yang sangat besar. Ia tidak begitu memahami apa yang dikatakan Mozza.

“Pertama-tama, jika kau menganggap benda lebar di perpustakaan adalah kaca, bukannya monitor. Maka kau benar. Kedua, Planet adalah dunia yang sesungguhnya. Kita semestinya tinggal di tempat semacam itu,” ungkap Mozza sembari menyilangkan tangan-tangannya di depan dada.

Ia menyibakkan rambut ke belakang punggung.

“Para regulator jelas menyembunyikan sesuatu. Namun aku tidak mengerti tujuan mereka yang sebenarnya”.


*
Teori Plante
Pencerahan bukanlah barang eksklusif milik cendekiawan
Kadang mereka terlalu sombong dengan apa yang diketahuinya dan menutup diri pada hal-hal di luarnya

“I-ibuku menitipkan sesuatu untukmu”. Irrina menyerahkan suatu tempat makan berbentuk bunga mawar.

“Me-menurut beliau, kami ha-harus memberikan ucapan te-terima kasih atas kedatanganmu. Ju-juga ia senang ada orang yang-yang mau mendengarkan ceritanya”.

Rhalemug mengambil tempat makanan itu dan mengintip isinya. Serangga dengan bumbu bunga mawar. Benar-benar unik. Aromanya sungguh menerbitkan liur. “Aku juga senang dapat mendengar legenda Plante yang tidak semua orang bisa mendengarnya. Terima kasih banyak Irrina”.

Irrina pamit untuk kembali ke lantai tempatnya bekerja. Ketika berbalik, Rhalemug mendapati Alo tengah memerhatikannya.

“Jadi itu pacarmu?” tanya Alo dengan nada iri yang kentara. “Senangnya bisa dibuatkan makanan seperti itu”.

Rhalemug terbahak. “Hanya sebuah ucapan terima kasih karena aku memberinya beberapa masukan mengenai perawatan bunga. Nanti kau bisa mencicipinya juga Alo”.

“Aku tidak meminta,” tolak Alo sembari melipat keempat tangannya.

“Aku menawarkan,” sahut Rhalemug sembari tersenyum. Ia menyimpan makanan pemberian Irrina di tempatnya biasa menyimpan peralatannya.

Biarpun banyak peralatan pertanian yang digunakan bersama, para petani memiliki tempat penyimpanan masing-masing. Misalnya untuk menyimpan sepatu atau sarung tangan mereka. Memang tempatnya kurang higienis, tapi apa boleh buat.

“Jadi bagaimana acara Daro-Kanori dengan teman barumu? Pasti menyenangkan ya,” ujar Alo masih belum mau menutup kontrontasi dengan Rhalemug.

“Kami makan ikan. Memang seperti itu Daro-Kanori, termasuk ketika merayakannya bersamamu dan Ahora,” jawab Rhalemug sembari meraih garu pengeruk tanahnya. Sekarang waktunya bagi Rhalemug dan Alo untuk kembali mengerjakan irigasi.

Alo mendengus, entah apa maksud yang sebenarnya ia ingin sampaikan. Ia turut mengambil alatnya kemudian berjalan keluar mendahului Rhalemug.

Saat bekerja sekali pun raut wajah Alo masih terlihat tegang. Rhalemug merasa temannya sedang berada dalam masalah. Memang Alo seperti itu, suasana hatinya dapat diketahui dengan mudah dari raut wajahnya.

Rhalemug teringat pembicaraannya dengan para temannya semalam. Mengenai Plante dan Planet. Mengenai dunia rekayasa dan dunia sesungguhnya. Ia ingin mengetahui pendapat Alo mengenai hal itu.

Namun sebelum ia mendapatkan kata-kata yang pas, Alo sudah terlebih dulu mengeluarkan suara.

“Agak mengejutkan, kemarin aku menemukan bibit enceng gondok di sungai ini,” ungkap Alo sembari mengayunkan pengeruk tanahnya.

“Verzacasa belum pernah memiliki enceng gondok, sejarah menyebutkan ini adalah sungai yang amat bersih. Apakah gulma sudah merambat keperairan?” timpal Rhalemug sembari tetap bekerja.

“Apa kalian sudah memiliki cara untuk mengatasinya?”

Rhalemug menggeleng lesu. Mendadak ia seolah tersedot dalam bayang-bayang bencana yang mampu meruntuhkan Plante. Tanpa makanan mereka tidak akan mampu bertahan. Makanan merupakan syarat hidup bagi makhluk setingkat Rhalemug.

“Aku berpikir apakah kita perlu hidup di dunia lain karena aku khawatir Plante akan didera kelaparan parah. Kudengar bukan hanya Aracheas, divisi peternakan juga tengah terancam tidak mampu menghasilkan bahan makanan,” Rhalemug menyatakan kekhawatiran terdalamnya.

“Jangan membuatku takut. Mungkin lebih baik jika kita mengubah topik pembicaraan”. Kata Alo.

“Tapi Alo, kau pernah melihat bulatan di monitormu kan? Itu bisa kita tinggali,” kata Rhalemug bersi keras. Ia ingin temannya juga tahu apa yang dipertimbangkannya.

Alo tidak terlihat senang ketika Rhalemug menyatakan hipotesisnya mengenai dunia Bangsa Generoro. Ia bahkan tidak berusaha menutupi luapan amarahnya yang tercermin dalam nada-nada tinggi.
“Ini dunia kita,” bantah Alo tidak suka.

Rhalemug menunjuk benda bulat yang tengah mereka lewati. “Planet itu dapat ditinggali”.

Alo terlihat agak kaget ketika Rhalemug menyebut Planet. Namun ia segera membenahi ekspresinya.

“Beracun”. Ia menatap Rhalemug tajam.

“Planet yang kau sebut itu, dasarnya saja tidak kelihatan. Bagaimana kita tahu kalau tempat itu bisa ditinggali?” tuntut Alo.

“Aku tidak tahu,” jawab Rhalemug frustasi.

“Tapi itu bukan berarti tidak ada kemungkinan kita bisa tinggal di sana. Kau tahu sendiri tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan makanan buat Plante!”

“Berhentilah berkata hal yang tidak bertanggung jawab seperti itu,” tepis Alo tajam.

“Tapi aku yakin ini bukan dunia kita yang sesungguhnya!”

“Demi arwah nenek moyang bangsa Generoro! Sebenarnya apa yang menjadi isi kepalamu itu, Rhalemug?” hardik Alo tajam.

“Kau tahu jelas! Plante akan didera kelaparan parah. Sudah belasan hari tidak ada hasil signifikan yang terbukti buat menyelamatkan Aracheas!” seru Rhalemug tidak kalah emosinya.

Alo menyambar baju Rhalemug, otot-otot tangannya terlihat menegang.

“Kau tahu apa soal Plante? Ini dunia kita! Berhenti berbicara ngawur!” Alo terlihat sangat ingin menjotos pria di hadapannya itu. “Kuharap kau tidak mulai berhalusinasi”.

“Respon macam apa itu Alo?” Rhalemug masih belum ingin mundur. Ia ingin mempertahankan pendapatnya, mempertahankan apa yang dipercayainya.

“Respon kau bilang? Kau yang menjadi aneh! Kata-kata yang harusnya muncul dari petani sepertimu harusnya hanya mengenai tanaman. Fokus saja pada penanganan gulma dan penyelamatan hasil pangan.

“Kurasa kau harus menjauhi mantan ilmuwan itu, sebelum otakmu menjadi rusak!” bentak Alo ketus. Ia melemparkan garpu pengeruk tanahnya dan meninggalkan Rhalemug dengan saluran irigasi yang mereka kerjakan.

Beberapa petani menoleh karena suara pengeruk yang dijatuhkan dengan kasar.

Mereka diam-diam memandangi Rhalemug dan mulai berbisik-bisik.

Setelah menarik napas panjang, Rhalemug mengambil pengeruk milik Alo dan menaruhnya di tempat penyimpanan.

Kemudian ia kembali mengerjakan saluran irigasinya dengan diam. Saluran irigasi yang mereka buat sudah selesai sekitar seperempat dari rencana.

Rhalemug mencoba memusatkan perhatiannya pada aliran sungai yang dibuatnya. Memandangi betapa air merupakan benda yang pasrah, selalu mengikuti kontur tanah, atau wadah tempat ia berada.

Apakah ia harus menjadi air? Mungkin diam saja lebih baik?

Mestinya ia tidak perlu menyampaikan pendapatnya dulu tadi. Alo belakangan terlihat lebih mudah kesal dari pada biasanya.

Kemungkinan besar karena ia juga memikirkan penanganan gulma.

Sebagai teman, Rhalemug bukannya memberikan jalan keluar, malah memperburuk suasana hati Alo.
Ia harus mencari solusi penanganan gulma karena ia petani dan tumbuh-tumbuhan adalah bidang yang dikuasainya.

Kata-kata Alo bahwa ia harusnya lebih fokus pada pemberantasan gulma memang ada benarnya. Rhalemug memang sudah mencoba membaca beberapa buku namun masih belum menemukan titik terang. Ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Karena petani Aracheaslah yang lebih sering bertanya kepadanya, bukan sebaliknya.

Rhalemug menyeka keringat yang ada di wajah dan tengkuk belakangnya dengan handuk kecil yang selalu ia bawa kemana-mana saat bekerja. Jam kerjanya sudah hampir habis dan mengerjakan saluran irigasi benar-benar bukan kegemarannya.

Maka ia menghentikan pengerukan tanah dan mulai berjalan menuju gudang penyimpanan. Di situ ia melihat kerumunan dan Glaric ada di sana.

“Aku yakin semua setuju bahwa keadilan harus ditegakkan. Siapa yang bersalah wajib di hukum!”

Seruan Alo mendapat sorakan dari orang-orang di petani-petani yang mengerubunginya.

“Maka dari itu, atas keputusan pemimpin Aracheas, dengan terpaksa kita harus melepaskan salah satu petani sebagai bentuk pertahanan”.

Rhalemug masih belum benar-benar mencerna apa yang sedang terjadi. Mendadak ia melihat Glaric dibawa oleh dua orang petani lainnya menuju pintu Aracheas. Ia ingin sekali mengejar temannya itu namun kerumunan orang-orang menghalanginya.

Merasa tidak mungkin mengejar Glaric, Rhalemug langsung memutuskan untuk menemui Alo. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.  Mungkinkah... mungkinkah Glaric kembali mengalami perpindahan divisi?

Setahu Rhalemug, pemindahan divisi dilakukan hanya oleh ketua divisi atau regulator.

Alo jelas bukan ketua Aracheas. Namun dia adalah tangan kanan Patizio.

Mungkinkah Patizio yang meminta Alo?

“Apakah Glaric dipindahkan?” tanya Rhalemug sesaat setelah mencapai Alo. Ia agak terenggah-engah.

Jantungnya berdegup kencang menanti jawaban Alo. Kerumunan itu sudah dibubarkan Alo.

“Aku tahu ini memang hal yang berat bagimu Rhalemug, namun kebenaran harus di tegakkan sekali pun kepada temanmu sendiri. Kerugian yang Aracheas alami akibat wabah gulma ini tentunya tidak sebanding dengan hukuman yang Patizio berikan kepada Glaric,” kata Alo sembari memakan selada mentah.

“Tapi apa alasannya?” tuntut Rhalemug yang duduk bersandar di meja samping kirinya.

“Ah! Mungkin kau belum tahu. Glaric sebelumnya berasal dari divisi energi dan saat ia dipindahkan dari divisinya ia sedang mengerjakan proyek penghasil bahan bakar yang berasal dari gulma. Kau bisa menyebutnya biogas.

”Maka dari itu aku tidak heran mengapa ia meminta untuk dipindahkan ke divisi kita Rhalemug. Tujuannya sedari awal sudah jelas, membudidayakan gulma untuk menyelesaikan proyeknya yang terpaksa dihentikan di tengah jalan,” sambungnya terihat acuh.

“Dari mana kau bisa mengetahuinya? Dan metode apa yang Glaric gunakan untuk menyuburkan gulma? Pemupukan? Kita semua melakukan pemupukan,” desak Rhalemug. Ia yakin Glaric bukan orang jahat.

“Ada yang melapor. Lagipula ia belum masuk dalam status di pindahkan. Ia hanya diminta beristirahat di rumah”.

Alo melahap seladanya lagi. “Harus kuakui pengaruh yang ia bawa padamu sangat buruk, Rhalemug. Dia harus jauh-jauh dari Aracheas”.

“Aku tidak akan keberatan seandainya terbukti bahwa Glaric memang adalah pelakunya, Alo. Mungkinkah kita hanya mempercayai laporan sepihak? Apakah si pelapor benar-benar dapat mempertanggung  jawabkan kata-katanya? Bahkan para petani tidak benar-benar tahu siapa yang melapor!” seru Rhalemug frustasi.

“Patizio hanya memastikan si pelapor mendapatkan keamanan setelah memberitahukan kebenaran. Orang baik sering kali dikejar oleh orang jahat karena berusaha menggagalkan rencana si jahat. Lagipula kita tidak memberikan hukuman yang berat pada Glaric. Ia hanya tidak diperbolehkan ke ladang untuk sementara waktu”.

 “Tapi aku juga tidak boleh mengunjunginya! Aku memiliki keyakinan bahwa Glaric bukan orang jahat Alo. Aku hanya prihatin jika ia tidak bisa berinteraksi dengan siapapun, ia akan sangat sedih”.

“Ucapan Patizio adalah hukum bagi para petani. Kuharap kau tidak melanggar permintaannya yang sederhana, Rhalemug. Aku tahu ini berat, tapi bukan berarti Glaric tidak dapat bertemu dengan siapapun”

“Patizio berkata keluarganya masih boleh mengunjunginya. Percayalah, keadaan tidak seburuk yang kau bayangkan,” tepis Alo sembari berlalu meninggalkan Rhalemug.

Keluarga. Pertanyaaannya sekarang apakah Glaric memiliki keluarga? Apakah orang tuanya masih ada atau sudah meninggal seperti orang tua Rhalemug? Apakah ia memiliki adik atau kakak seperti Alo? Rhalemug tidak tahu.

Selama ini Glaric hanya membicarakan kehidupan sekitarnya. Namun lebih sering lagi memberikan suntikan-suntikan semangat untuk menjadikan hidup lebih bermakna. Rhalemug tidak pernah ingat Glaric menyebut-nyebut soal anggota keluarganya, saudaranya. Apakah itu berarti Glaric sebatang kara di Plante yang luas ini?

Suatu kenyataan muncul dan menyayat-nyayat hati Rhalemug. Rhalemug tidak pernah tahu Glaric secara mendalam bukan karena Glaric adalah orang yang tertutup, tapi karena Rhalemug jarang menanyakan kehidupan pribadi Glaric.

Malam itu Rhalemug sulit tidur. Ia memikirkan sahabatnya.

Glaric dituduh sebagai penyebab gulma-gulma liar itu tumbuh. Sebagai orang yang pernah berada di divisi energi, tingkat kemungkinannya untuk dicurigai memang kuat. Rhalemug tahu, Glaric tidak akan melakukan hal serendah itu. Semestinya Alo juga mengetahuinya.

Namun apa arti dari kata-kata Alo? Mengapa dia setuju dengan orang-orang itu dan mengadukan Glaric? Apakah Alo membutuhkan kambing hitam? Apakah Alo membenci Glaric?

Berbagai pertanyaan muncul di kepala Rhalemug. Ia masih tidak dapat melupakan ekspresi Glaric ketika dituduh. Marah, sakit hati, kecewa. Dan yang paling parah, Rhalemug tidak dapat membantu memberikan pembelaan pada Glaric.

Bagaimana mungkin ada pembelaan tanpa bukti? Lagipula Rhalemug juga tidak tahu harus mulai mencari bukti dari mana.
Sempat berpikir untuk meminta bantuan Ahora, namun intuisinya berkata jangan. Mungkin karena Ahora adalah adik Alo. Meskipun Rhalemug dan Ahora dekat, bila dibandingkan dengan kakaknya, Ahora pasti akan lebih memilih untuk berpihak pada Alo.

Ia memandangi langit-langit kamarnya. Pandangannya kabur, sudah lama ia tidak merasa sedih seperti ini. Mungkin terakhir kali saat ia kehilangan ayah yang sangat dicintainya.


*
Pencegahan & Pembuktian
Arogansi. Memabukkan.
Ia menutupkan segala kemungkinan yang ada di hadapannya dan sibuk dengan keyakinan pribadi 
serta merendahkan yang lainnya. Namun terkadang arogansi dibutuhkan oleh orang yang baik sekali pun

Sudah satu jam terakhir sejak Rhalemug duduk di dekat pintu perpustakaan. Mozza masih belum muncul. Tentu saja karena jam operasional perpustakaan memang baru akan dimulai setengah jam lagi.

Rhalemug tidak terlalu ingat bagaimana ia akhirnya bisa berpikiran untuk pergi ke sini. Terakhir kali melihat jam, pukul empat pagi dan ia masih belum dapat tidur.

Kemudian yang ia ingat, ia beranjak dari tempat tidur dan langsung mengambil pakaian bepergiannya.
Dari situ ia mulai berjalan sendirian menyusuri koridor-kodidor yang kosong.

Sol sepatunya bergema pelan tiap kali menyentuh lantai. Setapak demi setapak ia meninggalkan Sintesa Samiroonc menuju Schavelle.

Suasana agak berubah mulai mendekati Schavelle. Orang-orang kota sepertinya tidak memiliki waktu untuk tidur. Masih saja ada orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan meski tidak sebanyak ketika siang atau malam hari.

“Baru kali ini aku melihat ada orang yang menunggu perpustakaan buka. Bahkan sudah menunggu sebelum waktunya”.

Seorang pria tua berpakaian lusuh menempatkan dirinya di samping Rhalemug. Pastinya bukan seorang gelandangan karena para regulator tidak mungkin membiarkan ada penduduknya yang menganggur.

“Selamat pagi, pak,” sahut Rhalemug berusaha sopan.

“Apakah ini hari terakhirmu bekerja di perpustakaan?” tanyanya sembari memandangi Rhalemug. “Beberapa orang yang dipindahkan menjadi lebih rajin. Hanya untuk mengingatkan mereka sudah tidak akan lagi berada di situ. Seolah akan pergi ke dunia lain tanpa ada tiket untuk pulang”.

“Tidak aku hanya ingin menemui temanku yang berkerja di sini,” bantah Rhalemug jujur.

Orang  tua itu meluruskan kakinya. “Kau tahu, tidak banyak orang yang rela menghabiskan waktunya untuk menunggu seperti kau sekarang ini. Jadi sebenarnya kau sedang ingin berbaikan dengan pacarmu yang bekerja di perpustakaan atau bagaimana?”

“Mozza sebenarnya lebih bisa dikategorikan sebagai teman dekat dari sahabatku. Aku bahkan belum pernah memikirkan dia untuk menjadi pacarku,” aku Rhalemug mencoba meluruskan persepsi orang tua tadi.

Orang tua itu tersenyum. Memamerkan beberapa giginya yang sudah menghitam. Beberapa malah sudah ompong. “Ternyata kau ingin menemui Mozza”.

“Anda mengenai Mozza?” ujar Rhalemug tak percaya.

“Gadis yang baik. Penuh ambisi namun malah menjadikannya sulit dijangkau”. Orang tua itu mengulurkan tangannya yang kotor kepada Rhalemug.

“Namaku Heere”.

“Rhalemug”.

“Aku sudah bekerja selama bertahun-tahun di kota ini. Bekerja setiap kali orang-orang tidur dan beristirahat ketika orang-orang terjaga. Pekerjaanku sebagai tukang kebersihan, mengharuskanku bangun pukul dua pagi tiap harinya.

“Kau tentunya sudah menikmati semenjak muda. Lantai yang bersih, tembok tanpa noda, dan langit-langit tanpa debu. Semua itu tugas kami, petugas kebersihan. Terkesan sepele namun coba bayangkan jika Plante kotor. Penduduk akan lebih mudah sakit,” katanya sembari sedikit terkekeh.

“Jika aku adalah pekerja kebersihan fisik, maka Mozza adalah pekerja kebersihan pikiran. Ia menjaga agar pemikiran-pemikiran yang jernih dan cerdas merasuki pengunjung perpustakaannya,” kata Heere.

“Gadis yang baik itu mengajariku untuk menciptakan alat-alat sederhana yang membuat pekerjaanku terasa lebih ringan. Sungguh seorang malaikat,” tambah Heere dengan dahi berkerut, tujuannya agar terlihat serius.

“Jadi bapak sering meminjam buku juga kemari?” tanya Rhalemug mulai tertarik dengan pembicarannya ini. Ia merasa kegelisahannya menunggu berkurang karena ada orang yang mengajaknya ngobrol. Kebahagiaan yang tidak disangka-sangka kehadirannya.

“Panggil aku Heere saja nak, tidak masalah. Mengenai masalah peminjaman buku, aku tidak pernah. Sia-sia saja karena aku tidak bisa membaca”.

“Tidak bisa membaca? Bukankah seluruh penduduk Plante diwajibkan mengenyam bangku pendidikan sebelum memasuki umur produktif?” sela Rhalemug terheran-heran.

Heere terkekeh, suaranya serak khas orang tua. Tawanya yang lebar menegaskan kerutan yang ada disekitar matanya.

“Tidak bisa membaca karena aku sudah kehilangan beberapa bahasa. Bahasa bukanlah suatu yang konstan. Ia bisa memodifikasi diri seiring dengan berjalannya waktu dan berjalannya komunitas.

“Kau tentunya tahu adanya tingkatan buku yang dapat dibaca seiring jumlah peminjaman. Semakin tinggi tingkatannya, bahasanya semakin sukar dimengerti. Seperti membaca tulisan kuno. Mungkin kau bisa membacanya, membunyikan abjad yang tertulis di sana namun tidak mampu memahami isinya,” sambung Heere menjelaskan.

Rhalemug mengangguk-angguk, menyetujui setiap perkataan Heere. Orang tua ini, meskipun terkesan pekerjaannya remeh namun karena bergaul dengan orang hebat, pemikirannya juga turut hebat.

Di sisi lain, Rhalemug baru menyadari ternyata di Plante ada orang-orang semacam Heere yang menjaga surga ini tetap bersih. Sesuatu yang tidak pernah di syukurinya karena selama ini ia merasa sudah seharusnya Plante memang bersih, tanpa memikirkan orang-orang dibalik layar yang menghabiskan hari-harinya dengan alat-alat kebersihan.

Apa yang dipikirkan sudah semestinya begitu ternyata dapat menjadi bumerang. Menumpulkan kepekaan kepada sekitar.

Rhalemug secara pribadi senang karena hari ini ia dapat bertemu dengan orang baru, dengan cerita mereka yang luar biasa. Ia juga merasa lebih hidup dengan berbagai pengetahuan di luar tanaman yang dulu sempat diagung-agungkannya sebagai pengetahuan tertinggi di Plante.

Karena tanpa tanaman, Plante akan menuju kehancuran. Meski begitu sebenarnya banyak hal-hal yang mendukung Plante itu sendiri. Setiap bagian adalah penting, tidak ada yang lebih superior. Satu bagian terganggu, dapat mengganggu bagian lain.

Satu bagian. Aracheas. Pertanian sedang menghadapi masalah sekarang. Glaric ditangkap dan ia ingin sekali meminta masukan dari Mozza mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Mungkin salah satu di antara ribuan buku-buku itu mampu memberikan solusi.

“Kau sepertinya sedang sedih, Rhalemug. Kuharap kau dapat segera mengatasi masalahmu”. Heere menggenggam tangan Rhalemug dengan tangannnya yang kotor penuh debu.

Namun Rhalemug tidak sedikitpun menarik tangannya. Ia sudah terbiasa berkotor-kotor ria di ladang. “Ah itu Mozza. Kuharap masalahmu segera dapat diselesaikan”.

Dari arah timur, Mozza muncul dengan rambut yang diikat rapi. Berbeda dengan hari-hari ketika Rhalemug ke perpustakaan untuk meminjam buku, atau pertama kali ia bertemu dengan gadis itu di kedai kopi. Mozza terlihat dingin dan tak terjamah. Belum lagi penampilannya yang selalu rapi.

“Terima kasih Heere, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” pamit Rhalemug pada teman barunya.

Rhalemug mendekati Mozza. Ketika jarak mereka terpisah sekitar enam meter, Mozza menyadari keberadaan Rhalemug. Kuncir rambutnya bergoyang pelan.

Ia memberikan isyarat supaya Rhalemug mengikutinya masuk ke dalam perpustakaan. Ketika mendekati pintu perpustakaan, Rhalemug mendapati Heere sudah beranjak dari tempatnya tadi.

Pria itu pasti telah beranjak. Kembali membersihkan sampah atau pulang untuk tidur. Rhalemug tidak tahu pasti yang mana.

“Sebenarnya aku tidak melarangmu ke sini. Terutama karena alasanmu untuk meminjam buku. Hanya saja menunggu beberapa jam sebelum perpustakaan buka mungkin saja bisa menimbulkan kecurigaan,” kata Mozza sembari menaruh tas dan menyalakan komputernya.

Mereka sudah di dalam perpustakaan yang sepi. Sebuah bangunan hanya dengan dua orang di dalamnya.

“Kecurigaan apa yang kau maksudkan?” tuntut Rhalemug.

“Entahlah. Orang lain yang curiga, bukan aku. Hanya saja kita tengah dalam masa-masa kritis sekarang. Aku memiliki sejarah pernah bekerja sama dengan Glaric di divisi kami yang sebelumnya.

“Kini Glaric dituduh sebagai orang yang ingin menghancurkan pertanian. Aku bisa saja terseret dalam masalahnya. Terlebih karena teman Glaric di divisi pertanian menungguku sejak pagi-pagi buta. Apakah itu bisa digolongkan sebagai perbuatan yang mencurigakan?” Mozza bertanya balik.

Rhalemug memasukkan keempat tangannya dalam saku. “Maafkan aku tidak berpikir sejauh itu. Aku hanya ingin menolong Glaric dengan mengatasi masalah di divisi pertanian kuharap dia dapat dibebaskan dari hukumannya”.

“Hukuman?” ulang Mozza seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

“Apakah kau belum mendengar kabar darinya?” Tanya Rhalemug.

“Sudah. Semalam kami melakukan koneksi menggunakan Mimosa Paradiamo. Alat itu sudah berhasil diperbaiki. Ia hanya menyatakan dituduh, namun tidak berkata tengah dalam pengasingan”. Jawab Mozza.

Rhalemug mengangguk. “Patizio melarangnya datang ke ladang, bahkan keluar dari rumah tinggalnya di Sintesa Samiroonc. Katanya untuk pencegahan dan pembuktian. Aku tidak begitu mengerti apa maksud dari pencegahan dan pembuktian”

“Namun aku merasa sedih, apalagi Patizio melarang siapapun mengunjungi Glaric. Benar-benar seperti tahanan”.

“Tapi mengapa Glaric yang dicurigai? Dan apakah ada bukti yang memperkuat hal tersebut?” Mozza mengetuk-ngetuk mejanya dengan gusar.

“Ada yang memberi pengakuan, melihat Glaric pagi-pagi di ladang. Selain itu Alo mengaitkannya dengan proyek biogas yang Glaric lakukan,” cerita Rhalemug.

“Karena dulu Glaric mengerjakan pembuatan biogas yang berasal dari gulma. Sekarang ide yang belum benar-benar terelalisasi itu menjadi senjata untuk menuduhnya,” ujar Mozza gusar.

“Posisinya Glaric benar-benar tidak menguntungkan saat ini”. Ujar Rhalemug.

“Pengakuan yang tidak berbukti malah dijadikan sebagai bukti. Aku turut berduka bagi Glaric. Ia bukan tipikal orang yang suka menghancurkan kehidupan. Semoga pelakunya yang sebenarnya segera di temukan,” kata Mozza murung. “Jadi apa yang membuatmu menempuh jarak jauh untuk menemuiku, Rhalemug?”

“Aku bertanya-tanya apakah kau memiliki buku yang membahas biogas. Keterbatasan pemahaman membuatku kesulitan untuk membela Glaric di hadapan Alo. Kuharap kau membantuku,” pinta Rhalemug.

“Kau memang tidak mungkin menyelesaikan masalah ini sendirian saja”. Mozza memberi isyarat pada Rhalemug supaya mengikutinya. “Kau sudah meminjam sekitar delapan buku sebelum ini. Sekaligus biogas masih berhubungan dengan tanaman, jadi kurasa tidak masalah”.

Rhalemug membaca dalam beberapa jam. Ia mendapatkan suatu kesimpulan penting: biogas merupakan solusi bahan bakar yang mampu membantu  pengendalian pencemaran lingkungan.

Jika memang biogas memberikan dampak positif, mengapa Alo harus menjadikan itu alasan untuk menyerang Glaric?

Kenapa juga Mozza dan Glaric harus dipindahkan karena menjalankan program biogas di divisi sebelumnya? Apakah orang-orang tidak benar-benar memahami kegunaannya?

“Mozza apa yang sebenarnya membuat para regulator memutuskan untuk memindahkan divisimu dan Glaric?” Rasa penasaran membuat Rhalemug berani menanyakan hal yang selalu ia kesampingkan.

“Mereka mengetahui rencana kami untuk memperbaiki dan menyempurnakan sekoci”.

“Sekoci? Bukankah itu sebutan kapal penyelamat kecil?”

“Sebenarnya sekoci yang kami garap merupakan pesawat kecil. Jika Plante tidak ingin menyudahi perjalanannya, kami para pejuang garis depan memutuskan untuk meninggalkan Plante dan akan mencari Planet terdekat yang memungkinkan buat ditinggali,” jelas Mozza sembari menggambar menggunakan komputer tablet yang ia bawa.

“Pejuang garis depan? Kapal penyelamat kecil?” Rhalemug menirukan kata-kata Mozza dengan pelan dan kemudian bengong, hentakan pikiran tentang Plante semakin jelas, tubuhnya gemetar.

“Tidak semua Planet cocok dengan Generoro. Sebagai Ilmuan harus ada yang berani melakukan perjalanan lebih dulu,” Jelas Mozza tidak peduli dengan apa yang terjadi pada pikiran dan ekspresi Rhalemug.

“Dari mana kalian semua mendapatkan kenyataan bahwa Plante sebenarnya bukan dunia, tapi hanya sebuah pesawat?” Tanya Rhalemug setelah mampu mengendalikan emosinya dan nafasnya mulai teratur walau pun tangannya masih sedikit gemetar.

“Kami dari lantai atas sedari awal memang memahami hal ini. Apalagi kami banyak belajar tentang mesin. Anggota lain yang banyak membaca buku mengenai sejarah Plante dapat mengetahui dengan mudah, bahwa Plante adalah pesawat penjelajah luar angkasa. Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa Plante bukanlah dunia yang sesungguhnya”.

“Sebenarnya untuk apa kalian menghasilkan bahan bakar untuk sekoci? Apakah tidak dapat menggunakan elemen yang lebih sederhana, misalnya air?” tanya Rhalemug sembari menjejalkan keempat tangannya dalam saku, mencoba menenangkan dirinya lebih jauh.

“Sekoci memang dirancang menggunakan bahan bakar air. Namun menurut pengalaman air tidak menghasilkan daya sesuai yang kita butuhkan. Jadi Generoro membutuhkan solusi lain,” jelas Mozza.

“Generoro pernah melakukan penjelajahan keluar dari Plante?” Tanya Rhalemug tak percaya.

Mozza menangguk. “Orang-orang satu tingkat di atas generasi kita ada yang pernah menggunakan sekoci”.
“Apa yang terjadi pada mereka?” Tanya Rhalemug.

“Tidak kembali. Tidak ada balasan. Tidak ada kabar. Seolah mereka hilang bersama udara. Coba tebak siapa orang yang sedang kita bicarakan? Orang yang keluar Plante dan tidak pernah kembali?” tanya Mozza penuh misteri.

Rhalemug menggeleng. Nama regulator saja ia tidak tahu. Lagipula itu pasti proyek tertutup di mana tidak semua orang mengetahuinya. Nyatanya Rhalemug sendiri baru tahu jika ada yang pernah keluar dari Plante meskipun tidak jelas apakah sukses atau tidak.

“Siapa yang menyangka Jakarov si Pemberontak sebenarnya adalah seorang pahlawan. Para regulator tidak ingin para penduduk Plante panik, mengetahui bahwa sebenarnya mereka ada dalam sebuah pesawat tanpa tujuan”.

“Jakarov?” ujar Rhalemug kaget.

“Jakarov,” ulang Mozza membenarkan. “Ia dulu menggunakan sekoci dan tak pernah kembali. Sebagian orang menilainya mati dalam perjalanan menuju Planet. Yang lain mengatakan bahwa ia menjadi tawanan makhluk asing. Tidak ada yang benar-benar tahu”.

“Lantas mengapa harus ada kata pemberontak di belakangnya? Maksudku, lebih memungkinkan menyebutnya Jakarov sang ilmuan,” kata Rhalemug bingung. “Semua orang menganggapnya sebagai penjahat”.

“Pemberontak karena ia berani mendobrak keyakinan bahwa Plante bukanlah surga. Para regulator menilai keputusannya adalah gagal berhubung ia tidak pernah memberikan respon balik ke Plante.

“Sejak saat itu reguator mulai bersikap ketat. Mereka tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali. Maka mereka menyebarkan paham-paham yang menyatakan Plante adalah dunia Generoro. Penduduk mampu memenuhi kebutuhannya tanpa kekurangan. Maka dari itu siapa pun yang ingin meninggalkan Plante merupakan orang sakit jiwa!” imbuhnya.

Plante memang pernah mengalami masa-masa pemenuhan kebutuhan dengan baik. Namun kini mereka mulai berada diujung tanduk dengan hancurnya ladang. Rencananya Rhalemug besok baru akan mengunjungi divisi peternakan untuk melakukan perbandingan.

Jika Plante, si pesawat tua mulai rusak. Itu artinya Generoro harus benar-benar berimigrasi ke Planet terdekat. Atau kekacauan akan terjadi. Perebutan makanan dan orang-orang menjadi liar.

Rhalemug menelan ludah. “Mozz, apakah biogas mampu menjadi jawabannya?”

“Tentu saja! Glaric diam-diam terkadang masih mengadakan penelitian, tumbuhan mana yang mampu menghasilkan gas yang paling kuat dengan kuantitas paling sedikit. Selain itu ia berjanji akan membangun tabung yang diperlukan,” kata Mozza lagi.

“Memang sekarang kesibukannya tidak fokus pada biogas, ia agak terobsesi dengan alat-alat yang sekitanya mampu menjadi corong komunikasi sekoci dengan Plante,” tambahnya.

“Benar-benar seseorang yang memiliki hobi dan terjun di dalamnya secara total,” angguk Rhalemug.
Obsesi Glaric pada hal-hal canggih benar-benar patut dikagumi. Glaric selalu bersemangat menciptakan penemuan.

Tidak sembarangan, namun yang memiliki tujuan dan manfaat nyata. Mungkin mirip dengan Rhalemug yang selalu memikirkan tanaman.

Rhalemug secara pribadi penasaran mengenai apa yang sebenarnya membuatnya jatuh cinta pada tanaman. Tanaman merupakan makhluk yang sangat pasif. Tidak seperti satwa yang dapat dilihat perilakunya bahkan diajak berinteraksi, tanaman lebih damai.

“Dia cerdas, kau bisa mempercayainya”. Kata Mozza.


*
Gnemoe
Kepedulian dan Ketidakpedulian terkadang seperti anak kembar yang bertukar posisi
Kau mengira masih berurusan dengan orang yang sama, padahal bukan

Stridulasi di divisi peternakan sangat kuat hingga Rhalemug merasa agak pusing. Stridulasi merupakan spesies yang ditimbulkan belalang ketika terbang atau akibat gosokan femur belakang terhadap sayap depan.

Sebenarnya tidak hanya belalang yang diternakkan di Plante. Namun satu-satunya koneksi Rhalemug di divisi peternakan hanyalah Alfalfa.

“Pakai ini”. Alfalfa ketua dari bagian ternak serangga divisi peternakan memberikan sebuah penutup telinga buat Rhalemug.

“Terima kasih,” sahut Rhalemug setelah mengenakannya. Stridulasi sudah tidak begitu mengganggunya. Tapi tetap saja bunyi-bunyian itu membuatnya gelisah.

Alfalfa yang sudah terbiasa, menghabiskan hari-hari di tengah-tengah serangga tidak terlihat terganggu. Ia malah seolah-olah bisa menikmati simfoni yang dikeluarkan dari binatang-binatang kecil itu.

Alfalfa duduk di salah satu kursi yang sebenarnya adalah kandang belalang yang sudah rusak dan meminta Rhalemug ikut bergabung dengannya.

“Ceritakan padaku”. Pinta Alfalfa.

Rhalemug meraba kepalanya dengan kedua tangan kanan. Memijitnya perlahan lalu mulai berucap.

“Kabar yang kurang baik berasal dari divisi pertanian. Kami mendapati gulma baru. Bentuknya seperti tali, berwarna kuning keemasan. Parasit ini sepertinya bisa membunuh tamanan-tanaman kami”.

bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 10 Desember 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage