MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 1 Nomor 6 Agustus 2016


… bahkan mempercepat penguraian sampah plastik hingga setara seperti sampah organik.

Kakek neneknya merupakan bagian dari munculnya Plante. Sama seperti leluhur dari Rhalemug yang sangat berjasa akan ide-ide pertanian yang mereka telurkan.

Mungkin karena itu ia memilih berteman dengan petani itu.

Terlebih lagi ketika ia tahu ia berhasil membangkitkan keingintahuan dari temannya, semangat Glaric untuk membawa Plante pada tahap yang lebih tinggi menjadi lebih membara.

Malam itu Glaric memikirkan dunianya dan dunia lain yang ia ceritakan pada Rhalemug.

Apa gunanya semua pengetahuannya itu jika nyatanya ia juga bangsa Generoro yang terjebak dalam Plante tidak dapat merasakannya.

Bangsa Generoro selalu mengklaim selalu tinggal di surga, namun mereka sebenarnya hanya tengah dalam sebuah penjara.

Tidak ada yang dapat mengeluarkan mereka. Tidak ada pahlawan yang akan datang dan membantu.
Yang hanya ada adalah Generoro itu sendiri dan mereka memilih untuk tetap terkungkung dalam penjara.

*
Ferosa Feromonia

Cinta tumbuh di tanah berbatu,
Cinta tumbuh di tempat tanpa gravitasi
Cinta menyembuhkan hati yang membenci dan menorehkan luka pada hati yang menyayang

Secara garis besar Plante bukanlah suatu dunia yang penuh perayaan. Tiap tahunnya ada perayaan pergantian tahun, juga ada perayaan ulang tahun Plante.

Jika Plante sudah berumur 500 tahun lebih, bangsa Generoro sebenarnya sudah ada lama sebelum adanya Plante.

Sebelumnya Bangsa Generoro tinggal di Plante yang berbeda. Plante yang statis dengan berbagai cuaca yang ekstrim. Mulai dari hujan badai, hingga musim kemarau yang ekstrim.

Menurut cerita para leluhur, di dunia Generoro yang sebelumnya, beberapa tempat bahkan terlalu dingin hingga beberapa suku dari Generoro harus tinggal di antara bongkahan es.

Namun kini bangsa Generoro telah di tinggal di surga, di mana cuaca selalu stabil.

Para generasi baru tidak lagi mengenal kegelapan karena ada lampu-lampu yang selalu menyala buat mereka. Makanan selalu tersedia tanpa ada yang perlu merasakan kelaparan.

Semua orang bekerja. Tingkat kriminal mendekati angka nol karena sebagai bangsa yang menjungjung sama rata sama rasa, mereka mengedepankan kesejahteraan seluruh penduduk.

Berbicara mengenai perayaan, ada suatu perayaan unik di Plante. Perayaan yang berhubungan dengan semakin dekatnya musim kawin.

Perayaan di mana para muda-mudi merayakan cinta.

Di mana para pria akan membawakan bunga Ferosa dan para wanita memberikan kue-kue manis berbentuk bunga buatannya kepada orang yang dicintainya. Perayaan Feromonia.

Bunga Ferosa bukanlah tumbuhan yang dibudidayakan di Aracheas. Ia tidak ditumbuhkan di mana saja, hanya berada di taman-taman tertentu, salah satunya di Aira.

Ferosa sebenarnya merupakan tanaman yang sulit tumbuh dan gampang mati ketika hendak dipindahkan. Namun sekali ia dapat tumbuh, umurnya akan sangat panjang.

Konon bunga-bunga ini sudah ada semenjak terciptanya Plante. Bunga leluhur yang disetujui oleh Bangsa Generoro sebagai lambang cinta tulus.

Membahas mengenai Feromonia benar-benar tidak dapat membuat Rhalemug menjadi antusias.
Maka dari itu ia menyingkir dari lantai dasar dan lantai hidroponik, menyelinap ke  lantai obat-obatan. Lantai lima.

Sebagai lahan pertanian yang luas, Aracheas menjadi rumah tidak hanya bagi tumbuhan semata.
Berbagai organisme seperti lebah, kupu-kupu, juga belalang ada di sana. Malah tidak jarang Rhalemug melihat adanya kadal yang menyelinap di antara batang tanaman.

Meski terkesan dibiarkan, sebenarnya para petani menaruh perhatian pada populasi binatang-binatang tersebut.

Bila terlalu banyak, biasanya mereka akan meminta bantuan dari Gnemoe untuk melakukan pengendalian populasi supaya tidak sampai merugikan tanaman.

Ketika ke ladang bersama ayahnya saat kecil, Rhalemug sempat melihat kupu-kupu seukuran dua kali telapak tangan orang dewasa.

Warnanya perpaduan antara biru dan hitam. Sungguh mempesona.

Sayang sekarang ia hanya bisa melihat kupu-kupu ukuran normal. Warnanya juga tak seindah yang waktu itu ia lihat. Kebanyakan sekarang berwarna coklat, putih, atau kuning.

Rasanya senang sekali melihat berbagai hewan kecil itu berumahkan Aracheas. Tanpa mereka, Aracheas hanyalah hamparan ladang yang sunyi.

Para penghuni aktif Aracheas sering kali membawakan simfoni-simfoni syahdu, murni dari alam.
Yang menyebalkan ketika Rhalemug harus menghadapi nyamuk-nyamuk Aracheas.

Gigitannya tidak hanya gatal, kadang nyamuk-nyamuk kebun itu menimbulkan suara di dekat telinganya, sangat mengganggu.

“Ka-kau bisa menggunakan salepku,” kata Irrina sembari menyodorkan sebentuk benda kecil.

Rhalemug yang sedari tadi menggaruk-garuk kulitnya segera mengambil salep yang diberikan Irrina dan mengoleskannya di bagian yang terkena gigit.

“Nyamuk-nyamuk ini bermunculan tiap kali kita menggoyangkan dahan tanaman”.

“Kurasa perkembangbiakan me-mereka memang cukup pesat,” Irrina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Gugup seperti biasanya.

“Bahkan di flat ku ada semut-semut yang membuat sarang, gigitan mereka sakit sekali,” gerutu Rhalemug menceritakan kondisi flatnya yang sudah menjadi duplikat dari Aracheas.

“Ke-kemungkinan karena kau me-menyimpan tanaman di dalam flatmu. Kau bisa menaruh mangkuk di bawah pot mu su-supaya semut-semut itu tidak tertarik mem-membuat sarang di kamarmu,” saran Irrina.

Rhalemug mengingat-ingat. Benar, ia memang memiliki satu pot tanaman di flatnya dan di letakkan di dekat kasurnya. Pantas saja semut-semut ini gemar untuk merambati kasurnya.

“Terima kasih atas petunjukmu Irrina, aku akan segera melakukannya. Aku sudah tidak tahan dengan gigitan semut-semut hitam itu”

“Belum lagi bentolan yang membekas selama beberapa hari setelahnya. Semula aku berpikir mereka terbawa ke flat ketika aku pulang dari Aracheas, namun kini aku tahu alasannya”.

“Bu-bukan masalah,” timpal Irrina sembari menunduk.

“Irrina, mengapa kau ingin jadi petani?”

“Ka-karena aku menyukai tanaman. Belum lagi ji-jika kau datang saat pagi hari, udara di Aracheas sangat segar. Benar-benar menghirup udara su-surga,” paparnya.

Rhalemug mengamati pipi temannya itu bersemu merah. Mendadak ia agak merasa besar kepala. Mungkin Irrina menyukainya?

“A-aku memiliki beberapa tanaman di flat. Ibuku sempat me-memarahiku karena banyak pot yang ada di flat ka-kami,” cerita Irrina tanpa di minta.

Rasanya tidak wajar Irrina bercerita mengenai dirinya ke orang lain. Biasanya ia hanya menjawab pertanyaan orang-orang saja.

“Berapa jenis tanaman yang kau punya?” tanya Rhalemug tertarik, ternyata bukan hanya dia saja yang memiliki tanaman di flat. Bahkan Alo tidak punya.

“Se-sekitar dua puluh tujuh jenis, semuanya aku taruh di ruang duduk. Be-berbahaya jika di-di kamar.

Mereka mengeluarkan kar-karbondioksida saat malam,” akunya sembari memetik selembar daun yang layu di area tanaman obat. “Kau tumben me-mengunjungi tingkat lima?”

“Pengawasan berkala,” sahut Rhalemug sembari memasukkan keempat tangannya dalam saku.

Irrina mengganguk. Di Aracheas memang ada tingkatan. Jika Patizio ada di kedudukan paling atas, di bawahnya di pegang oleh para senior Aracheas.

Di bawahnya baru ada kepala tiap lantai baru petani biasa seperti Irrina.

Rhalemug ini sudah masuk di tingkatan senior meski umurnya masih muda, sekitar sembilan puluh.
Salah satu hal yang membuat ia mendapat kedudukan setinggi itu adalah prestasinya. Bukan hanya saja gemilang sejak bangku sekolah.

Rhalemug juga merupakan petani yang terampil untuk melakukan pengembangbiakan dan budidaya.
Entah mengapa, tanaman yang diurusnya selalu saja hidup. Tidak seperti tangan-tangan Irrina yang hanya cocok dengan obat-obatan dan sayur-mayur.

Irrina pernah mengajukan diri sebagai sebagai pengurus bagian Florikultur. Namun sayang banyak tanaman yang diurusnya sulit untuk berbunga.

“Rhalemug apa kau me-menanam bunga?” tanya Irrina penasaran.

Yang ditanya mengangguk. Ia memang memiliki tanaman bunga Ferona di flatnya. Satu-satunya tanaman yang ia tumbuhkan di tempat tinggalnya yang sepi.

Untungnya hanya satu dan hanya sebatang tumbuhan kerdil atau dia bisa mati tercekik karena saat tidur tanaman akan mengeluarkan gas karbon.

“Hanya satu, tidak banyak,” katanya sembari tersenyum.

“Seandainya aku bisa menanam bu-bunga,” keluh Irrina sembari memandangi keempat tangannya.

Rhalemug tertawa. “Bunga yang kutanam tidak berbunga, aku hanya berhasil menanamnya di flatku”.

“Ti-tidak mungkin!” seru Irrina kaget. “Aku lihat sendiri kau pernah membuat bunga-bunga di lantai Florikultur ber-bermekaran!”

“Cara pemotongan dan pemberian pupuk pada masa yang tepat dengan mudah akan membuat kuncup-kuncup bunga muncul. Kau juga bisa jika mau mempelajarinya,” ujar Rhalemug memberi semangat.

“A-apakah kau mau mengajariku?” tanya Irrina dengan penuh harap.

“Apakah tanaman yang kau budidayakan di rumahmu merupakan Florikultur?” sahut Rhalemug juga bertanya.

Irrina mengangguk, pipinya makin bersemu merah. “Ji-jika kau tidak keberatan melihat kondisi mereka”.

“Tidak masalah,” angguk Rhalemuk sembari menepuk bahu Irrina. Perbuatannya itu membuat temannya tersentak sedikit.

Mungkin tepukan bahu juga bukan hal yang lazim bagi Irrina. Sepertinya Rhalemug harus lebih menjaga sikap supaya gadis itu tidak terlihat ketakukan seperti itu.

“Te-terima kasih! A-ku akan menunggu ke-kedatanganmu”.

Gadis itu berlalu, meninggalkan Rhalemug. Ia merasa kontrol yang dilakukannya sudah cukup.

Pengerdilan daun-daun tanaman obat memang benar terjadi, sesuai dengan kata-kata Irrina belum lama ini.

Hanya saja pengetahuannya akan tanaman obat tidak terlalu mendalam, jadi ia memutuskan untuk menggali informasi lebih dalam.

Sebagai senior di Plante, ia diperbolehkan memberikan masukan-masukan kepada para ketua lantai, di samping memberikan bantuan ketika diminta.

Berhubung masih belum ingin kembali ke lantai asalnya, ia kini beralih ke lantai buah-buahan.

Semestinya hari ini mereka sedang melakukan panen jika Rhalemug tidak salah ingat.

Namun keinginannya untuk mengelak dari teman-temannya di lantai dasar tidak terwujud ketika mendapati Glaric sedang membantu memanen labu.

Tidak memiliki kesempatan buat menghindar, Rhalemug memasang senyum ke temannya itu dan bersiap-siap turut membantu panen.

“Berapa umurmu Rhalemug?” Glaric muncul dengan beberapa buah labu di tangannya.

Ia sedang memanen. Labu di Plante berwarna merah mentah, ketika masih belum masak, warnanya kuning kehijau-hijauan.

“Tahun ini sembilan puluh,” sahut Rhalemug yang berusaha supaya ucapannya terkesan acuh.

Ia merasakan pembicaraan ini akan berujung pada perayaan Feromonia.

“Aku baru akan delapan puluh tiga tahun ini,” papar Glaric tanpa di minta. “Aku berpikir sejak menginjak delapan puluh sepertinya Feromonia menjadi pembicaraan hangat tiap tahunnya”.

Benar kan dugaanku, batin Rhalemug.

“Ceritakan Rhalemug, apakah kau pernah memberikan bunga Ferona pada seorang gadis?”

“Eh mengenai itu.... sebenarnya aku pernah”.

“Serius?” sahut Glaric agak tidak terima dengan pengakuan Rhalemug.

“Tidak seindah yang kau bayangkan,” bantah Rhalemug jujur.

Sebagai suatu perayaan yang populer, Feromonia memiliki batasan umur bagi penduduk yang ingin mengikutinya.

Minimal muda mudi itu harus berumur delapan puluh tahun keatas, dan batas maksimalnya seratus enam puluh tahun. Dengan perbedaan umur sebegitu panjang, tentunya menambah tantangan untuk mendapatkan pasangan.

Ketika seseorang di Plante hingga umur seratus enam puluh dan tidak memiliki pasangan, itu artinya mereka tidak boleh mencari pasangan lagi.

Pernikahan dengan umur yang terlalu tua dikhawatirkan akan menyebabkan berbagai macam kerugian, seperti bahaya melahirkan di usia tua.

Sebenarnya perayaan semacam ini bisa dinilai penting tidak penting. Penting untuk membantu menyediakan wadah pengakuan cinta dan mendorong generasi yang masih bujangan untuk segera memiliki pasangan.

Tidak penting karena sebenarnya cinta dapat dinyatakan kapan saja tanpa menungggu Feromonia datang.

Bagi Rhalemug, adanya Feromonia masuk dalam kategotri tidak penting. Feromonia merupakan manifestasi neraka di Plante.

Sepanjang hari ia akan mengurung diri dalam flat karena semua penduduk libur pada hari raya tersebut.

Bukannya ia tidak pernah merayakan Feromonia. Ia pernah ikut-ikutan mencari bunga Ferosa layaknya pemuda-pemuda lainnya.

Ia bahkan pernah mencoba melakukan sistem cangkok untuk menanam tanaman itu di Flatnya.

Sistem cangkoknya di luar dugaan berhasil namun siapa yang menyangka batang yang dia ambil itu tidak pernah berbunga. Sungguh nasib sial.

Maka dari itu, ia sudah bangun pagi-pagi pada hari Feromonia. Berjalan jauh menuju Aira dan menunggu bunga Ferona bermekaran.

Pukul enam pagi, dentang lonceng Aira berbunyi, menandakan Ferona mulai mekar.

Butuh satu jam untuk menunggu hingga Ferona mekar sempurna dan Rhalemug sudah menunggu bunganya hingga seratus persen mekar baru memetiknya dengan sangat lembut.

Sebagai seorang petani yang baik, ia sudah menyiapkan alat pemotong supaya ia tidak perlu menarik bunga berbatang lumayan keras itu.

Penarikan batang secara berlebihan dapat mencabut Ferona hingga ke akar-akarnya. Dengan kata “sudah mengambil bunga, juga merusak inangnya”.

Mestinya para pemuda yang dimabuk cinta ini diberikan penyuluhan untuk mengambil Ferona tanpa merusak tanamannya.

Membawa alat pemotong batang tentunya tidak akan menyulitkan, sekali pun bagi orang yang tidak bekerja di divisi pertanian sekali pun.

Lagipula harganya juga tidak mahal. Orang-orang yang sering ke Schavelle semestinya tahu letak toko yang menjual alat semacam itu.

Bunga dengan delapan mahkota yang berwarna biru keunguan itu hanya akan bertahan tiga jam setelah dipetik.

Oleh karenanya Rhalemug bergegas untuk mencari Ahora. Gadis itu semestinya juga berada di Aira pada hari perayaan seperti ini.

Maka dari itu Rhalemug segera menyingkir ke bawah naungan bayangan pohon-pohon yang berada di sekitar taman bunga.

Aira merupakan taman berbentuk bunga dengan air mancur bertingkat di tengahnya.

Patung-patung dewi diletakkan secara menyebar di antara berbagai jenis bunga yang tumbuh di sana.

Patung dewi sebagai ornamen penambah kesan artistik tentunya, bukan untuk sarana penyembahan pada hal-hal mistik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara logika.

Detik berganti menit, menit berganti jam. Ferosa di tangannya telah kehilangan satu mahkota.

Ketika mahkota bunga Ferosa tinggal lima, saat itulah bunga unik itu akan layu.

Rhalemug memicingkan matanya, berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jauh. Namun sosok yang dinantikannya juga tidak kunjung muncul.

Ia sedih karena mungkin saja Ahora tidak mengikuti perayaan semacam ini. Atau kemungkinan yang terburuk, Ahora sudah mendapatkan bunganya dalam perjalanan kemari sehingga ia tidak perlu melanjutkan perjalananannya ke Aira.

Saat itulah matanya terhenti pada gadis yang sepertinya bernasib sama dengannya. Gadis dengan keranjang kue dipangkuannya.

Rambutnya yang ikal sebahu berkilau redup oleh cahaya lampu. Gadis itu tidak terlihat sedang menunggu seseorang.

Seolah ia sudah mengetahui di mana targetnya namun tidak berusaha memberikan kue yang sudah dibuatnya.

Sesaat Rhalemug merasa pilihannya bisa menjadi sesuatu yang salah. Bisa saja Ahora datang sebelum bunga ini layu.

Namun di lain pihak ia tidak ingin Ferosa miliknya kehilangan sebuah mahkota bunganya lagi.

Maka dari itu ia memantapkan langkah dan mendekati bangku di mana gadis itu duduk.

“Untukmu,” kata Rhalemug sembari menyodorkan bunganya.

Gadis itu nampak terkejut. Rambut ikalnya bergoyang sedikit.

“Jangan salah paham, aku hanya tidak bisa menemukan orang yang kucari. Sebaiknya aku memberikan bunga ini pada seseorang sebelum layu”

“Bagaimanapun Ferona sudah menjalani waktu yang cukup lama sebelum akhirnya ia menghasilkan kuncup dan mekar”.

Gadis itu mengangguk. “Kalau begitu aku juga akan memberikan kue buatanku padamu”

Ia menyerahkan keranjangnya sebelum menerima bunga dari Rhalemug. “Aku juga tidak ingin kue yang kubuat akhirnya harus kutelan sendiri”.

“Apakah pria yang kau tunggu juga tidak muncul?”

Kali ini gadis itu menggeleng kemudian ia menunjuk sepasang muda-mudi yang sedang tertawa-tawa di dekat air mancur.

“Dia menolakku, dan memberikan bunga pada gadis itu. Feromonia akan menjemukan tanpa memiliki sisi sedih, bukan begitu?”

Rhalemug memilih tidak menimpali karena sebenarnya posisinya dengan gadis di sampingnya ini tidak jauh berbeda.

Ahora mungkin saja sudah mendapatkan bunga dari pria lain tanpa diketahuinya.

Satu yang pasti, ia tidak ingin perjuangan sekuntum Ferosa untuk mekar hanya disia-siakan untuk layu tanpa arti dalam jangka waktu tiga jam.

“Apakah kalian saling berkenalan? Apakah kalian saling berjanji untuk bertemu lagi setelah kejadian itu? Apa kalian masih berhubungan hingga sekarang?” Glaric langsung memborbardir Rhalemug dengan serentetan pertanyaan.

“Pertanyaan satu hingga tiga aku jawab dengan satu kata: tidak. Kami tidak pernah menyebutkan nama satu sama lain”

“Aku segera pergi setelah mendapat kue darinya, dan aku seandainya ingin bertemu kembali aku juga sudah tidak ingat wajahnya”.

Glaric memberikan ekspresi terburuknya sepanjang masa. “Aku tidak percaya kau melewatkan kesempatan itu begitu saja!”

“Aku memang tidak memiliki rencana untuk mendekati gadis itu, mengambil keuntungan atas kondisi yang sama-sama terpuruk. Waktu itu aku hanya berpikir bagaimana agar Ferosa-ku dapat berpindah tangan. Mendapatkan kue sebenarnya bonus”.

Semangat Glaric buat bertanya tumbuh kembali. “Apakah kuenya enak?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

“Enak. Seandainya aku bisa merasakannya lagi”. Mata Rhalemug menerawang, membayangkan kue-kue mungil berbentuk aneka macam bunga pemberian gadis itu.

Kue lembut dengan tingkat kemanisan yang pas, meleleh tiap kali menyentuh lidah.

Rhalemug tidak tahu apakah seluruh kue khas Feromonia akan selalu seenak itu ataukah hanya gadis itu yang dapat membuat kue seenak itu.

Mungkin ia harus mencoba mengikuti perayaan itu lagi. Mencari gadis yang tertolak dan mencoba membandingkan rasa kuenya dengan kue pemberian gadis masa lalu.

“Aku tahu kau akan menyesalinya sobat!” seru Glaric prihatin. Ia meletakkan labunya di keranjang buah kemudian kembali memetik lagi. “Ngomong-ngomong apakah kau akan berpartisipasi lagi dalam Feromonia tahun ini?”

“Entahlah. Aku belum memikirkannya,” alih Rhalemug, singkat.

Rhalemug melihat beberapa batang gulma tumbuh di antara tanaman labu dan mulai mencabutinya.
Sebenarnya pemberantasan bisa dilakukan sekaligus mengingat setelah labu panen, mereka akan segera menghanguskan tanamannya dan memulai menanam kembali dari biji.

“Bagaimana dengan dirimu, Glaric? Apakah kau memiliki kenangan indah mengenai Ferosa dan Feromonia?”
“Percayalah Rhalemug, semenjak umurku menginjak delapan puluh aku selalu berfantasi soal musim kawin yang fantastis!”

“Namun aku tidak pernah bangun cukup pagi saat Feromonia. Hahaha,” papar Glaric, enteng. “Mungkin kekuatan cinta belum benar-benar menyapaku!”

“Jadi Mozza belum mampu menjadi alasanmu untuk merayakan Feromonia”. Rhalemug berdecak usil.

“Justru itu sobat! Mozza tidak merayakan Feromonia. Ia mengatakan padaku tidak akan datang ke Aira saat Feromonia. Juga tidak ingin mendiskon waktu tidurnya untuk bangun pagi-pagi dan membuat kue dengan berbagai bentuk bunga”.

“Kau tidak pernah berpikir bahwa sebenarnya ia memiliki trauma terhadap perayaan itu?” Rhalemug meninggalkan gulma-gulma itu dan membantu Glaric memindahkan sebuah labu yang super besar.
Glaric mengangkat bahu. “Dia tidak mengatakan hal lain lagi mengenai Feromonia”.

*
Tanah & Masalah
Masalah.
Banyak yang memilih untuk masuk ke dalamnya
Karena tidak ada satu pun yang mampu
 membayarnya selain kedengkian

“Kau terlihat kesal Alo”.

Rhalemug mengayunkan garpu pengeruk tanahnya untuk membuat cekungan baru.

Mereka sudah berkutat dengan proyek irigasi selama dua minggu. Selama itu pula hampir setiap hari antara siang hingga sore mereka bekerja dengan alat pengeruk tanah.

“Kau tahu semenjak kita disibukkan oleh proyek irigasi ini, para petani lain sepertinya tidak becus dalam pekerjaan mereka. Menanam, merawat, dan memanen seharusnya bukan hal yang sulit. Dasar pemalas!”
“Memangnya ada apa?” Terlalu kaget, Rhalemug menghentikan pekerjaannya.

Alo mengikuti hal serupa. Ia menancapkan bagian yang tajam ke tanah. “Aku baru saja naik ke bagian hidroponik dan mendapati gulma-gulma sudah menindas tanaman kita!”

“Tanaman-tanaman kita menjadi kurus dan layu. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya orang-orang itu kerjakan”.

“Gulma? Tidak mungkin Alo! Ingat pagi hari saat aku membantumu memberi nutrisi di tingkat atas? Aku juga mengerjakan gulma-gulma itu hingga tuntas”

“Dan apabila perhitunganku tepat, semestinya gulma-gulma itu belum muncul lagi. Apalagi kita sudah memberikan cairan untuk pencegahan gulma untuk seluruh tanaman”.

“Tidak mungkin gulma muncul setelah satu minggu pembersihan”. Nada Alo terdengar dalam desisan, seperti ular yang terjepit.

Tentu saja Alo terlihat kurang puas dengan penjelasan Rhalemug. Sebagai asisten Patizio, ia tidak mungkin memberikan penjelasan seperti yang Rhalemug berikan.

Patizio tidak akan menerima sebuah alasan yang terdengar tidak masuk akal. Terlebih jika alasan itu tidak dibarengi dengan rencana kerja untuk menanggulangi masalah-masalah gulma ini.

“Sebaiknya kita meninggalkan pekerjaan irigasi untuk beberapa saat. Aku harus memberikan laporan mengenai gulma-gulma ini pada Patizio”.

“Ada baiknya kau menunjuk orang untuk melaporkan kondisi di ladang, semacam laporan tiap hari mengenai kondisi tanaman. Mungkin itu akan membantu pemetaan penyebaran gulma”.

“Ide yang bagus Rhalemug. Kau tahu sendiri aku sulit berpikir jernih tiap menghadapi masalah”.

Setelah menyelesaikan tugas harian mereka, Rhalemug bergegas kembali ke rumah.

Semestinya ia bisa meminjam beberapa buku mengenai gulma menggunakan komputer yang ada di rumahnya. Namun siapa sangka lain keinginan lain kenyataan.

Sesampainya di flat, ia menyalakan monitor yang ada di dindingnya. Berbeda dengan monitor sekaligus komputer sentuh yang di tanam di meja samping tempat tidurnya, monitor ini tidak selalu menyala.

Setelah kedipan tombol power, monitor itu mulai menampakkan pemandangan. Sejauh yang ia ingat, gambar di sana tidak pernah sama.

Monitornya tengah menampakan sebentuk benda besar yang melayang di ruang angkasa. Benda yang selalu menggelitik rasa ingin tahunya. Terkadang benda itu terlihat kecil namun setelah dekat, kemungkinan benda itu jauh lebih besar dari dunianya.

Benda itu juga muncul di kaca besar perpustakaan. Bisa saja para regulator sengaja memberikan pemandangan yang sama kepada seluruh penghuni Plante. Entah sumbernya dari mana.

Saat kecil, Rhalemug senang menghabiskan waktu bermenit-menit untuk memandangi monitor itu.

Mirip lampu lava yang mampu membuat orang seperti kena hipnotis. Dan kini ia kembali ke masa-masa kecilnya, terpengaruh oleh pergerakan lambat gambar di layar.

Gambar lambat itu diprogram untuk menjadi tayangan pertama yang muncul tiap kali monitor diaktifkan namun sebenarnya tidak hanya itu yang bisa di tonton.

Plante memiliki beberapa Channel, di antaranya berisi pengetahuan seperti sejarah Plante yang selalu diulang-ulang, biologi dasar mengenai tubuh bangsa Generoro, juga beberapa pengetahuan dasar untuk bertahan hidup seperti bercocok tanam, memasak, hingga membangun tempat tinggal.

Tempat tinggal sederhana dari kayu dan dedaunan dan beralaskan tanah. Hal seperti  itu terlihat sangat kuno dan nampak mustahil di Plante.

Setidaknya dunia mereka sudah sangat teratur dan tidak membutuhkan tempat tinggal kumuh seperti itu.
Dalam pikiran Rhalemug senang karena tempatnya tinggal sangat nyaman. Makanan juga tidak kekurangan.

Makanan. Tanaman. Mendadak ia ingat kembali bahwa harus mencoba mencari cara penanggulangan gulma.

Siapa tahu ada teknik yang belum di ketahuinya. Ia mematikan monitor dan mulai mendekati layar sentuhnya.

Dengan canggung, karena sangat jarang menggunakan komputer, ia mulai menelusuri menu yang membawanya ke bagian perpustakaan.

Menu di sana sangat banyak, dan ia tidak benar-benar memahami kegunaannya. Biasanya Rhalemug hanya melihat waktu dan kalender di sana, kini ia mencari-cari sesuatu yang berbeda.

Informasi seperti cara meracik obat-obatan untuk berbagai penyakit ringan, resep makanan hingga bagaimana merakit komputer sederhana ada di sana.

Benar-benar tidak terduga. Kenyataan ini membuat Rhalemug merasa sangat bodoh karena selama ini tidak pernah mengutak-atik komputernya. Di sana ada banyak sekali informasi yang mungkin akan berguna suatu saat.

Namun sekarang ia harus fokus pada gulma. Setelah beberapa kali bolak-balik menu, Rhalemug menemukan pilihan untuk terhubung dengan perpustakaan.

Meskipun banyak informasi gratis di sana, namun kebanyakan membahas hal-hal yang mendasar saja. Sementara ia membutuhkan bacaan mengenai gulma yang komprehensif.

Ia menyentuh pilihan perpustakaan dan menunggu beberapa saat. Di situ muncul halaman login yang membutuhkan username dan password.

Bagian usernamenya sudah terisi, sepertinya itu sesuai kode dari komputernya. Namun bagian passwordnya kosong.

Dengan mengernyitkan dahi, Rhalemug mencoba mengingat-ingat passwordnya. Kombinasi huruf dan angka dengan huruf kapital di tengahnya.

Tapi apa? Sepertinya sesuatu yang ada hubungannya dengan tanaman dan deretan angka. Di sana semestinya terdapat empat angka di belakang huruf-huruf.

Sesuatu yang berbunyi seperti enam tiga delapan enam. Namun bisa juga urutannya salah.

Agak ragu Rhalemug mencoba memasukkan password yang ia sekiranya ingat.

‘Talanau6386’.

Tulisan ‘Error’ berkedip-kedip di layarnya. Benar-benar membuat kesal. Bagaimana ia dapat melupakan passwordnya. Jelas-jelas si ibu petugas perpustakaan yang menor sudah memperingatkannya untuk mengingat.

“Bagaimana dengan ini?” Rhalemug mulai berbicara pada dirinya sendiri dan memasukkan ‘Talanau6863’.
Peringatan error kembali muncul di layarnya. Mestinya bagian huruf sudah benar, tinggal angkanya saja.

“Coba lagi!” serunya sembari memasukkan ‘Talanau6368’.

Gagal. Mendadak di layarnya muncul kotak peringatan yang memintanya untuk segera menghubungi perpustakaan untuk mendapatkan bantuan akses.

Merasa harapannya sudah pupus dan semangatnya untuk menebak-nebak telah habis.

Rhalemug dengan iseng menekan tombol bantuan. Ia melirik jam, sudah jam sepuluh malam lewat, hampir setengah sebelas malah. Ia hampir saja memutuskan komunikasi ketika seseorang menjawab dari seberang sana.

“Perpustakaan, selamat malam”. Senada suara wanita yang tidak asing bagi Rhalemug menyapa. Nadanya agak canggung, seolah menerima panggilan adalah sesuatu yang asing, terlebih sekarang mestinya bukan jam kerja.

“Mozza?” tanya Rhalemug hati-hati.

“Perpustakaan, selamat malam. Silakan menyebutkan identitas dan permasalahan Anda,” ulang suara wanita itu lagi.

Keyakinan Rhalemug agak menguap. Mungkin saja ia salah orang. “Hai,” katanya kemudian mengambil jeda sedikit untuk bernapas.

Aneh rasanya harus berbicara dengan komputer. “Namaku Rhalemug dari divisi pertanian. Usernameku 1124373, aku melupakan passwordku sehingga tidak dapat mengakses buku-buku dari flat”.

“Rhalemug teman Glaric?” Wanita dari seberang koneksi kembali bertanya.

“Be-benar,” Rhalemug merasa benar-benar tidak nyaman. Biasanya ia berbicara dengan orang di hadapannya bukan menggunakan suara seperti ini.

“Oh maafkan aku tidak mengenali suaramu! Aku Mozza,” ujar gadis itu dengan agak melengking. Telinga Rhalemug dibuat pekak karenanya.

bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 6 Agustus 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage