MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 2 Nomor 8 Agustus 2017


MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


“Aku senang, tim kita bertambah besar dan segera menjadi raksasa, terutama dengan para sukarelawan,” kata Rhalemug sembari memerhatikan bunga potong yang ada di meja Jhatatysa.

“Masalah apa lagi?” protes Mozza saat membuka pintu. Wajahnya benar-benar terlihat tegang dan lelah.
“Mozz, kapan terakhir kau beristirahat?” tanya Rhalemug penasaran.

Mozza memang suka ceplas-ceplos, kadang juga keras, tapi bukan sangat mudah emosi seperti ini. Meledak karena amarah.

Mudah uring-uringan karena ada masalah. Mozza mestinya bisa lebih tahan banting dari pada ini.

“Aku nyaris tidak beristirahat selama dua hari belakangan,” akunya sembari memijit-mijit kepalanya. Terlihat kacau. “Maaf kalau aku menyebalkan”.

Ternyata ia sadar kalau kurang istirahat membuat emosinya naik turun, labil.

“Memangnya apa yang kau kerjakan?” tanya Glaric prihatin. Ia merutuki dirinya karena tidak menyadari hal tersebut.

“Membantu perpustakaan merapikan beberapa data sekaligus memberikan data mengenai Sekoci. Kita tidak boleh membiarkan ilmu pengetahuan berjalan di tempat. Aku sudah mulai menulis proyek kita,” katanya sembari mencoba memfokuskan diri.

“Aku akan mengambilkanmu kopi, setelah itu kita baru membahas Sekoci,” usul Niaqu sembari mendekati mesin pembuat kopi yang juga ada di ruangan itu.

“Terima kasih, Niaqu,” celetuk Mozza. Ia menduduki tempat duduk dan menyandarkan punggungnya di sana. Nampak sangat lelah.

“Kuharap kau bisa segera beristirahat setelah ini. Tidak baik jika ada seseorang di antara kita yang sakit,” anjur Rhalemug.

“Tapi aku harus segera mengerjakan buku itu. Waktu kita makin menipis saja,” keluhnya tanpa membuka mata.

“Kita bisa mengerjakannya bersama-sama,” sahut Glaric memberikan saran.

“Benar kata Glaric, dengan pemikiran orang banyak, bukumu akan lebih detail. Baiknya kita mengerjakannya saat akhir pekan,” sambung Rhalemug.

“Terima kasih teman-teman, maaf aku berusaha terlihat super dan malah mengacaukan emosiku sendiri,” bisik Mozza.

Ia menerima kopi dari Niaqu. Sepertinya sangat pahit karena Mozza sampai mengeryitkan dahi, tapi ia tetap menghabiskan minuman itu.

“Baiklah, kita menghadapi urusan konyol apa lagi sekarang?”

“Seseorang tengah berusaha memasuki sistem dan mengganti data. Data sukarelawan kita tidak singkron. Mestinya jumlahnya sudah ribuan namun kita hanya bisa mendeteksi sekitar dua ratus saja,” papar Niaqu.

“Manipulasi data,” gumam Glaric. “Mungkinkah ini ada hubungannya dengan orang yang mengirimi kita surat kaleng? Aku sudah tidak mendapatkannya beberapa waktu ini. Kupikir ia sudah jera. Tapi bukankah kemungkinannya ada orang yang sama sedang menekan kita dengan metode yang berbeda?”

“Bisa jadi,” tukas Mozza.

Pertanyaannya sekarang adalah : Siapa?

*
Sekoci
Kebenaran semu merajalela bak virus
Manipulasi dilakukan dengan menghembuskan hal yang salah berulang kali akan menjadi kebenaran

Rhalemug memfokuskan dirinya. Ia mengingatkan dirinya untuk tenang, bahwa segala sesuatu mampu di atasi hanya bila ia tenang. Panik hanya akan membuat berbagai hal nampak kabur.

Ia memandangi berbagai tombol di hadapannya, mengingat-ingat segala sesuatu yang sudah dipelajarinya. Semestinya semuanya mudah. Asal ia mengikuti petunjuk yang sudah dipelajari, semuanya akan mudah.

Menghela napas dalam-dalam. Rhalemug bisa merasakan jari-jarinya berkeringat. Ia tidak merasa baik, tapi segala sesuatu harus dihadapi. Tidak boleh ada pikiran buat melarikan diri.

Pertama ia sudah memastikan pintu ruang pesawat sudah ditutup dengan baik juga memasang sabuk pengaman. Selanjutnya ia menyalakan tombol daya untuk menyalakan pesawat.

Langkah berikutnya adalah memastikan pesawat sudah berada di jalur untuk lepas landas. Maka ia mendengarkan suara Mozza yang memintanya bergerak ke koordinat tertentu dan segera melaksanakannya setelah menjawab dengan kalimat khusus.

Kalimat yang memadukan kode pesawat dan kesiapan merupakan kalimat khusus tersebut. Maka Rhalemug segera menjawab, "Sekoci 620 menuju titik JA40”.

Dengan perlahan namun pasti, Rhalemug mengarahkan pesawatnya ke landasan yang kodenya sudah diberitahukan Mozza. Hatinya berdebar kencang ketika mengetahui harus membelokkan pesawat terlebih dahulu. Agak sulit namun ia bisa mengatasinya.

"Siap meluncur ke dunia baru Sekoci 620?" tanya Mozza dari operator.

"Kapan saja kau menyuruhku pergi, Mozz," jawab Rhalemug. Ia menelan ludah.

"Hei! Kau harus menjawab dengan formal pilot!" protes Mozza.

Rhalemug merasa telinganya sakit karena merasa Mozza berteriak langsung di sana. Ia menggunakan headphone walau sebenarnya bisa juga menggunakan suara ke seluruh Sekoci. Tujuannya agar terasa lebih personal.

"Sekoci 620 siap berangkat”.

"Semoga penerbanganmu menyenangkan," balas Mozza. Nyatanya gadis itu tidak menjawab dengan formal. Lucu sekali.

Pintu pesawat Rhalemug dibuka dan Glaric muncul dengan senyum terlebar yang pernah Rhalemug lihat.
"Kau berhasil sobaaaaaat!"

Rhalemug meletakkan seluruh peralatan Sekoci dan melepas sabuknya. Ia tidak sadar kalau tadi berkeringat banyak. Ternyata ia masih belum setenang yang dibutuhkan.

Membayangkan membawa sekitar sepuluh nyawa di tangannya. Rasanya benar-benar mengerikan memiliki tanggung jawab sebesar itu.

"Berikutnya kita akan belajar peluncuran juga pendaratan. Dua hal itu tidak terpisahkan, maka dari itu aku juga tidak akan mengajarkannya sendiri-sendiri," sahut Mozza yang terlihat sedikit lelah setelah simulasi ini.

"Apa kalian juga membenahi Sekoci?" tanya Rhalemug sembari menerima minuman yang disodorkan Mozza.
"Karena jumlah sukarelawan tidak menuntut kita melakukannya, kami tidak akan melakukan hal itu sobat," gumam Glaric sembari memandangi minuman di tangannya.

"Kuharap masa depan bagi kita akan baik. Aku ingin kita semua selamat dan dapat membuktikan ke RFY bahwa kita bisa! Kurasa RFY sebenarnya cukup memiliki pikiran yang terbuka, hanya ia tidak mau mengambil resiko," lanjut Mozza.

"Waktu bertatapan wajah dengannya aku agak emosi, tapi mungkin memang itu sikap pemimpin yang baik. Lagipula memang itu gunanya penjelajah kan? Maju duluan?" kata Rhalemug lagi.

"Ibarat perang, kita maju duluan. Prajurit atau aparat dan Ilmuan kalau dipikir dari segi itu agak mirip ya?" kekeh Glaric sembari membenahi kacamatanya yang tidak miring. Ia gugup karena berada di dekat Mozza.

Aneh juga melihat dia yang masih belum percaya diri mengingat sekarang mereka sudah ada di satu tempat lagi. Satu proyek, satu pekerjaan.

Rhalemug belum sempat menceritakan kemajuan hubungannya dengan Jhatatysa, barangkali hal itu dapat membuat Glaric juga bersemangat mendekati Mozza. Memang sih mereka bukannya sudah pacaran atau apa, tapi belaian waktu itu semestinya boleh dikategorikan sebagai kemajuan.

“Kurasa kita mengerjakannya dengan sangat baik,” puji Jhatatysa yang turut mengawasi jalannya simulasi Rhalemug.

Ia sendiri sudah melakukan simulasi sebelum Rhalemug dengan hasil yang sangat baik. Jhatatysa sudah tidak terlalu fokus pada masalah regulator seperti Rhalemug yang sudah melepas Aracheas. Mereka sudah bisa memfokuskan pikiran untuk Sekoci.

Hari ini mereka sudah merencanakan untuk mengumpulkan para sukarelawan untuk pertama kalinya.  Sebagai orang yang juga akan menjelaskan Sekoci dan mengajarkan bagaimana mengemudikannya, Rhalemug harus mempelajari Sekoci lebih dulu.

Waktu mereka masih panjang sebelum waktu pertemuan dimulai. Namun pintu menuju Sekoci mendadak sudah terbuka. Terlihat siluet dua orang. Rhalemug mencoba memicingkan mata untuk mengetahui siapa yang datang.

"Kami bisa membuang Sekoci-sekoci itu jauh sebelum kalian menyentuhnya, tapi nyatanya tidak kami lakukan. Kuharap kalian segera menghentikan seluruh kegiatan konyol yang tidak bertanggung jawab ini!" hardik Ahora begitu sudah berada di dalam Juhi.

Rhalemug bahkan tidak mengingat Ahora memiliki mimik wajah yang sangat mengerikan seperti itu. Hidup berubah seiring berjalannya waktu. Cinta yang membutakan kini sudah luntur tiada berbekas.

Ahora memang cantik, Rhalemug tidak akan menarik hal itu namun tingkahnya benar-benar membuat muak. Sok kuasa hanya gara-gara ia termasuk aparat penjaga perdamaian.

Namun kali ini Alo menjadi pusat perhatiannya. Sahabatnya! Sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Apa yang sekarang Alo kerjakan? Apakah Alo marah padanya?

“Alo!” seru Rhalemug memanggil temannya itu.

“Apa kabar Rhalemug? Kuharap kau selalu baik,” jawab Alo dengan santai, seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka.

“Kemana saja kau! Aku sudah lama tidak melihatmu!” kata Rhalemug lagi. “Apa kau mendapatkan pekerjaan yang bagus? Kuharap kita bisa berkumpul-kumpul lagi”.

“Aku tetap di Plante., tidak pernah jauh darimu. Aku baik teman, tidak perlu memikirkanku. Aku justru prihatin denganmu. Kemana perginya Rhalemug yang sangat mencintai tanaman dan Aracheas?”

“Aracheas makin buruk Alo. Generoro akan menghadapi masa sulit”.

“Tentu tidak. Nyatanya setelah sekian lama, kebutuhan pangan kita masih tercukupi. Kau terlalu mencintai tanaman sehingga mudah panik karena kondisi Aracheas yang sedikit memburuk saja”.

“Alo, Aracheas ternyata sempat mengalami kelebihan pupuk. Tapi sekarang sudah bisa di atasi”.

“Tentu, Generoro mampu mengatasi seluruh permasalahan yang dihadapi dengan cepat. Maka dari itu aku berharap kau tidak berpikiran untuk meninggalkan tempat ini dengan pesawat tua berusia lebih dari lima ratus tahun”.

Sebelum Rhalemug bisa menanyakan apakah Alo ada hubungannya dengan kelebihan nutrisi tanah di Aracheas, teman lamanya itu sudah menoleh pada Glaric dan Mozza.

“Wah lihat! Ilmuwan terbuang kembali ke tingkat atas, tentunya ini tidak baik untuk Plante,” tambah Alo.

"Berhentilah mencampuri urusan kami Alo!" bentak Jhatatysa sembari menyilangkan tangan di depan dadanya. Ia benar-benar muak dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan Alo dan Rhalemug.

Di mata Jhatatysa, Alo tidak lebih dari seseorang berotak sampah. Tidak memiliki karya yang berguna, ia malah pernah membuat masalah di Aracheas. Ia mendengar semuanya, penuduhan Glaric hingga laporan palsu.

Seandainya Jhatatysa punya waktu untuk melakukan investigasi pasti sudah ia lakukan dari jauh-jauh hari. Namun ia harus berada di Juhi setiap hari dan mengurus Sekoci. Posisi yang tidak terlalu menguntungkan.

"Memangnya kau punya otoritas apa untuk mengaturku?" tolak Alo sembari menyeringai penuh kemenangan. "Mungkin kau dulu berkuasa, tapi sekarang sudah tidak lagi”.

"Sekarang kau hanyalah penduduk biasa, bersikaplah seperti posisimu sekarang. Ingat jabatanmu sudah lenyap tuan puteri," tambah Ahora.

"Ha ha! Lucu sekali Ahora kau berkata di hadapanku dengan begitu arogannya! Kalian juga tidak memiliki urusan untuk mencampuri urusan kami. Bekerjalah sesuai ranah kalian, jangan sok jagoan di bidang yang tidak kalian kuasai!" balas Jhatatysa kembali.

"Tentu kami ikut campur karena menyangkut Plante. Kami tidak membiarkan orang-orang yang terlalu berambisi meracuni penduduk lain. Rhalemug semestinya bersih. Ia harusnya tidak bertemu dengan kalian," sesal Alo sembari memandangi Rhalemug.

"Mereka teman-temanku Alo. Mereka baik! Seandainya kau mau mencoba untuk mengenal mereka...”.

"Tidak perlu. Aku sudah mendengar banyak hal gila yang mereka lakukan. Aku tidak perlu mendengar apa pun lagi. Aku sangat sedih kau harus mengalami apa yang disebut dengan cuci otak”.

"Tapi aku tidak...”

"Tidak apa-apa Rhalemug, sungguh aku tidak menyalahkanmu. Aku tahu kau orang baik”.

"Alo aku tidak mengikuti mereka karena terpaksa atau apa!" jelas Rhalemug mulai frustasi.

"Rhalemug, dengarkan kakakku. Kau tidak harus bergabung dengan mereka. Demi kebaikanmu, tinggalkan kelompok itu sekarang juga!" pinta Ahora mulai tidak sabar. "Kau bukan ilmuwan, tidak perlu ikut-ikutan dalam proyek Sekoci”.

“Aku tahu dengan jelas kalian tidak memiliki urusan di sini. Jadi keluarlah!” usir Mozza yang merasa jengah dengan rayuan Alo dan Ahora pada Rhalemug. Ia tidak suka temannya diombang-ambingkan oleh dua makhluk jahat.

“Tidak ada yang meminta pendapatmu! Kurasa kau lebih cocok mengubur diri dengan ribuan buku diperpustakaan. Jangan kembali ke Equilibrium,” sindir Ahora sinis.

Mozza mengepalkan keempat tangannya di samping tubuhnya. Ia benar-benar ingin berkelahi dengan gadis di hadapannya. Kemungkinannya ia akan kalah karena sebagai seorang aparat Ahora memiliki tubuh yang lebih terlatih daripada miliknya. Namun rasa marahnya benar-benar parah.

Glaric memegangi tangan atas kanan Mozza, berusaha menenangkan pujaan hatinya. Sekoci sudah berjalan dengan lancar. Konyol jika izin mereka dicabut karena ada konflik dengan aparat. Itu bisa menjadi batu sandungan.

Ahora memandangi kepalan tangan Mozza dan tersenyum simpul. Ia menang, ia selalu menang, Mozza ada di bawah kakinya. Tidak perlu dipedulikan.

“Sekoci tidak akan berjalan semulus yang kalian duga, jadi bersiap-siaplah!” cemooh Ahora.

“Rhalemug, kuharap kau berpikir ulang mengenai proyek konyol ini. Beritahu aku jika kau berubah pikiran dan ingin memajukan Plante seperti yang selalu kau lakukan dulu,” sahut Alo sembari meninggalkan Juhi.

Ahora mengikuti kakaknya pergi, namun sebelum melewati pintu, ia menyempatkan diri untuk memamerkan senyum penuh kemenangannya pada Mozza.

Mozza menjerit frustasi karena tidak bisa berkelahi dengan Ahora. Gadis itu benar-benar sombong.

Mentang-mentang jabatannya adalah aparat, Mozza tidak mungkin menang di mata hukum. Apalagi ia akan menjadi orang yang melakukan pemukulan pertama kali.

Ada bagusnya juga tadi Glaric menahannya sebelum benar-benar lepas kendali.

“Wuow tadi itu benar-benar menyebalkan!” sahut Jhatatysa sembari membuka lipatan tangannya.

“Aku heran kau bisa berteman bertahun-tahun dengan dua orang sinting tadi!” kata Mozza yang telah kembali mendapatkan suaranya. Ia bicara dengan agak bergetar.

“Mereka baik. Aku bahkan dianggap seperti anak dari keluarga mereka,” bela Rhalemug. Ia tahu Ahora dan Alo memang bersikap aneh barusan, tapi mereka tetap temannya. Ia tidak ingin menyerang kedua kakak-beradik itu.

“Baguslah kau bisa meninggalkan Sekoci dan kembali menjadi bagian dari keluarga mereka,” cibir Mozza masih tidak senang. Ia mestinya tidak melimpahkan kemarahannya pada Rhalemug, hanya saja pria itu seolah membela kedua orang sinting tadi.

“Hei! Aku kan tidak berkata seperti itu!” protes Rhalemug. “Aku tetap ada di proyek Sekoci”.

“Bagiku sama saja. Kau dengar kan tadi? Kau bisa kembali pada mereka kapan saja kau maju”.

“Sudah Mozz,” pinta Glaric. Ia tidak ingin bertengkar. Padahal beberapa menit yang lalu seluruh orang di Juhi baik-baik saja. Tapi sekarang mereka seperti sedang saling hantam.

“Aku setuju orang-orang barusan agak sinting seperti yang Mozza katakan. Tapi kita tidak perlu saling serang. Sebaiknya kita menenangkan diri dulu sebelum bicara kembali,” saran Jhatatysa.

Semua orang di Juhi nampaknya setuju dengan ucapan Jhatatysa. Jadi mereka berdiam selama beberapa menit setelahnya. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya baru saja terjadi dan apa yang sesungguhnya mereka sedang lakukan di ruangan ini.

Tentunya mereka ada di Juhi bukan untuk saling adu mulut seperti barusan. Selama ini mereka kompak, satu tim yang hebat. Namun kunjungan singkat dari dua orang sinting mampu menghadirkan adu domba di tengah-tengah mereka.

“Aku benar-benar kesal mereka seolah-olah berusaha menginjak-injak kita,” ujar Mozza yang nampak lebih tenang.

“Mereka memang memiliki tujuan yang berseberangan dengan kita. Tapi kita sebaiknya tidak mudah tersulut lain kali,” kata Jhatatysa dengan sangat tenang. Ketenangannya menyebar ke orang-orang disekelilingnya. “Pastikan kita tidak akan mempedulikan cara-cara kotor mereka lagi”.

“Aku hanya agak tersinggung ketika Rhalemug seolah-olah membela teman-teman lamanya,” aku Mozza sembari tertunduk.

Rhalemug menghela napas. Ia tidak ingin kedua temannya berada di kubu yang berbeda, tapi itu mustahil apalagi setelah mengetahui Alo tidak mendukung Sekoci.

“Maaf aku menyebalkan tadi. Aku terlalu antusias karena dapat bertemu dengan teman lama lagi”.

“Teman lama yang tidak memiliki visi yang sama. Aku mungkin tidak mengenal Alo sebaik kau, karena kalian yang sudah bersahabat lama. Namun hati-hati Rhalemug, beberapa orang bahkan berani mengatasnamakan persahabatan hanya untuk mendapat apa yang mereka inginkan,” ujar Jhatatysa memperingatkan.

“Alo memang ambisius, tapi aku tidak benar-benar memahami mengapa ia menolak Sekoci. Ia juga tidak menghubungiku sekian lama, mendadak hari ini muncul di Juhi dan mengatakan hal-hal yang terkesan provokatif,” jelas Rhalemug bingung.

“Mungkin kau tidak benar-benar mengenal dia, sobat,” sela Glaric menyerukan pikirannya.

“Tapi kami bersekolah bersama. Kami sudah bersama selama itu, rasanya mustahil jika aku tidak mengenalnya. Aku...”. Rhalemug tidak menyelesaikan kata-katanya. Segalanya seolah kabur baginya. Ia tidak sungguh-sungguh mengetahui apa yang harus diperbuat.

“Cepat atau lambat kita akan tahu apa yang mendasari perbuatannya. Atau pilihan lain kita tidak akan pernah tahu karena sudah terlanjur berpetualang menggunakan Sekoci,” opini Jhatatysa ringan. Ia memilin-milin rambutnya. “Jam berapa sekarang?”

“Setengah jam lagi pengumpulannya dimulai,” sahut Mozza mengingatkan. “Waktu kita benar-benar tersita oleh kakak-adik sinting tadi”.

Tidak lama Niaqu muncul sembari membawa beberapa komputer.

Komputer-komputer itu telah digarap Glaric sedemikian rupa. Ia menambahkan berbagai keamanan di dalamnya sehingga menjadi lebih sulit buat disadap seperti sebelumnya.

Mereka sengaja mendaftar ulang sukarelawan berhubung ada yang menyadap dan mengganti data. Dengan ini diharapkan data valid terkumpul.

Apalagi berisi data-data mereka yang memang setuju datang pelatihan. Tidak sekadar asal mendaftar.
Peserta yang datang ke pelatihan lebih dari dua ratus orang. Rhalemug bahkan yakin jumlahnya ada dua kali lipatnya.

"Beberapa di antara kami tidak mendapat pesan balasan dari proyek Sekoci, namun kami tetap mengajak teman-teman kami untuk datang," kata salah satu peserta ketika mengisi daftar hadir.

“Kami memang menghadapi beberapa kesulitan masalah data dan berusaha untuk membuatnya normal kembali maka dari itu tidak semua peserta mendapatkan undangan,” jelas Rhalemug.

“Kami sangat berterima kasih kau sudah mendaftar dan mengajak teman-temanmu buat hadir,” tambah Jhatatysa sembari tersenyum, sangat manis.

Si peserta memandangi Jhatatysa selama beberapa detik, seolah ia dikutuk untuk tidak dapat bergerak. Temannya menyenggolnya dan mereka segera bergegas ke kumpulan di mana para peserta lain telah berkumpul.

“Kau harus menjaga pesonamu, jangan sampai mereka melongo begitu,” Rhalemug tertawa tapi dengan nada memuji.

“Siap pak! Saya hanya akan menebar pesona pada Anda!” jawab Jhatatysa sembari membuat posisi hormat.

Mendadak Rhalemug merasakan wajahnya memanas. Ia benar-benar malu, tapi mendadak ia mendapat semangat untuk menyatakan perasaannya sebelum mereka lepas landas.

Setelah hampir seluruh peserta hadir, Rhalemug dan Jhatatysa bergabung dengan Mozza, tinggal Niaqu yang masih di meja pendaftaran dan memandangi data-datanya. Sekoci telah merebut hati ratusan penduduk. Mereka datang tanpa paksaan, bukankah itu luar biasa?

Angkanya memang tidak lagi mencapai seribu, namun lebih dari enam ratus orang datang. Rasanya Niaqu tidak pernah melihat orang sebanyak itu berkumpul sebanyak itu dalam hidupnya. Berkumpul karena sebuah tujuan yang sama meski tidak saling mengenal.

Sepanjang hidupnya ia melihat orang-orang berkumpul karena pekerjaannya, tapi bukan karena ketertarikan sesuatu yang lain. Niaqu makin semangat, keputusannya tetap berada di pihak Sekoci bukanlah suatu kesalahan tapi pilihan yang tepat.

Dari tempatnya berada, ia bisa memandangi keempat temannya telah memberikan penjelasan luar angkasa dan mengapa para ilmuwan membutuhkan mereka. Selain itu juga ada penjelasan mengenai Sekoci dan simulasi singkat.

Awalnya banyak yang merasa mereka seolah sedang merenggang nyawa tanpa alasan yang jelas. Banyak yang mencecar Sekoci, namun perlahan pemahaman mereka mulai tumbuh.

“Apakah kami tidak akan bisa bertemu dengan keluarga kami di Plante kembali setelah mengikuti program ini?” tanya peserta dengan muka sangat serius.

“Sekoci dibuat untuk meninggalkan Plante. Maka dari itu kami menghimbau agar para sukarelawan memikirkan keputusan ini matang-matang. Kami tidak akan keberatan jika kalian memutuskan untuk tidak meneruskan bergabung,” kata Jhatatysa kalem.

Banyak peserta yang berbisik-bisik satu sama lain, bunyinya mirip dengungan lebah. Mereka sepertinya dilanda keraguan untuk tetap terlibat dalam proyek ini. Tapi banyak juga yang merasa tertantang, pergi dari Plante menjadi tujuan mereka. Keingintahuan membuat mereka tetap bergabung.

Setelah keadaan mulai mereda, Mozza mulai menceritakan mengenai Sekoci dan ternyata mereka bersekongkol memvideokan simulasi Rhalemug tadi dan memutarkannya di layar besar. Rhalemug sampai melongo melihatnya!

“Astaga lain kali aku tidak mau!” protes Rhalemug pada Glaric.

“Nikmati saja sobat! Orang-orang harus tahu dengan wajah sang penanggung jawab proyek ini,” kekehnya pelan.

Sisa dari pertemuan mereka berjalan lancar. Beberapa orang berjanji akan menyebarkan berita ini dan mengajak teman-temannya. Tetap ada yang kelihatan ingin mundur, tapi bukan masalah. Mereka secara individu memang memiliki pilihan dan Sekoci tidak melibatkan unsur pemaksaan.

“Pertemuan berikutnya dengan mereka akan kita laksanakan minggu depan. Kita akan segera mengajarkan mengemudikan Sekoci,” tepuk Mozza sembari berlalu membawa komputernya. Ia terlihat sangat senang. Konflik tadi siang sepertinya sudah tidak bersisa di kepalanya.

Semua orang nampak bersenang-senang petang ini. Rhalemug berharap keadaan itu bisa berlangsung lama. Hingga mereka lepas landas.

*
Sentuhan Terakhir
Keberuntungan mengalahkan mereka yang mengandalkan kecerdasan dan kekuasaan
Terlebih trik-trik murahan yang licik. 
Namun  keberuntungan tidak selalu datang, kadang kesialan yang mengejar. 
Kesialan dapat diatasi dengan kegigihan dan keandalan dalam bidang ilmunya.

Hari ini Aracheas mendapatkan ketua baru, seorang perempuan. Berbeda dengan pemilihan sebelumnya, Rhalemug telah menetapkan peraturan baru supaya para ketua lantailah yang menjadi juri dari pemilihan ketua mereka. Ia sama sekali tidak campur tangan pada pemilihan penerusnya.

Mulai hari ini juga Rhalemug tidak akan ke ladang kembali. Seluruh Kiri telah dipanen. Glaric mengatakan bisa menghidupkan 200 Sekoci, dengan masing-masing pesawat mendapatkan dua bahan bakar tambahan.

Rhalemug rasa keadaan serupa juga sudah dialami Jhatatysa. Penggantinya seorang pria dengan dandanan serba rapi dan memelihara sedikit jenggot di dagunya. Sesuatu yang jarang kau temukan di Plante karena kebanyakan pria di sini mencukurnya.

Hal-hal semacam itu sudah sepantasnya berada di luar pemikiran Rhalemug karena hari yang ditunggu-tunggu telah hampir tiba. Meninggalkan Plante bukan lagi wacana. Ia adalah ilmuwan sekarang. Sang penjelajah luar angkasa.

Mozza melakukan pengetesan ulang seluruh pesawat yang telah diisi bahan bakar. Memastikan tidak ada kebocoran atau sistem yang bermasalah. Glaric dan Mozza benar-benar hebat.

Akhirnya mereka berdua mengerjakan proyek ini bersama hingga akhir tanpa bantuan dari ilmuwan lain.

*
Jhatatysa masuk ke ruangan mencari-cari Rhalemug. “Seperti yang sudah kukatakan padamu, radarku menangkap ada planet yang akan kita lalui dalam beberapa hari. Mereka juga telah mengirimkan sinyal balik. Tapi kita memiliki masalah.

“Sepertinya Alo sengaja mengunci pintu ruang lepas landas Sekoci, aku harus membukanya. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan satu orang. Kau harus membantuku”.

“Dengan segenap kemampuanku!” janji Rhalemug.

Jhatatysa memimpin, Rhalemug mengikutinya dari belakang. Rhalemug bisa merasakan detak jantungnya yang kian cepat. Bukan. Ini bukan karena takut. Ini karena ia bersemangat. Sejarah yang baru akan terukir. Generoro akan segera terlepas dari pesawat dan meraih kehidupan yang sebenarnya kembali.

Rhalemug “Plante ternyata bukan surga, surga ternyata bukanlah terjebak di pesawat ruang angkasa, tetapi terletak di planet yang dapat ditinggali. Entah apa yang dipikirkan generasi sebelumnya sehingga memutuskan meninggalkan planet asalnya, keingintahuan dan penjelajahan?”

“Ah biarlah… itu sudah masa lalu, kini problem yang ada, kitalah yang akan menyolusikannnya” ujar Jhatatysa.

Rhalemug diam, tanda setuju.

Mestinya sekarang sudah larut karena Plante sudah sunyi. Tapi bukankah ruang kendali seharusnya memang selalu sunyi?

Mereka segera masuk. Rhalemug tidak tahu dari mana Jhatatysa mendapakan akses.

“Kartuku sebagai wakil ketua Plante baru akan mati begitu aku pergi dari sini. Itulah salah satu keunggulan yang di dapat jika kau pernah menjadi anggota regulator,” jelasnya seolah mampu membaca pikiran Rhalemug.

Rhalemug mengangguk.

Jhatatysa menyapukan kartunya, mengunci pintu dan segera melompat ke kursi kendali. Terlambat beberapa detik karena sadar akan apa yang mereka segera lakukan, Rhalemug mengikuti Jhatatysa. Ia duduk di sebelah pujaan hatinya.

“Ini akan sedikit rumit. Sebenarnya hanya perlu membuka kunci dengan satu tombol namun keamanannya membuatku muak,” katanya dalam nada sedikit menggerutu. “Mereka sangat paranoid, mulanya takut makhluk lain membajak pesawat ini. Tapi akhirnya juga mempersulit Generoro sendiri”.

Jhatatysa menaruh seluruh rambutnya yang panjang itu di bahu kanannya.

“Aku akan memperpendek setengah dari panjang rambutku yang sekarang seandainya kita berhasil menyentuh Planet dalam kondisi hidup,” katanya sembari sedikit tertawa. “Terlalu panjang ya?”

“Kau cantik dengan rambut panjangmu,” timpal Rhalemug sembari menyentuh beberapa helai rambut gadis di sampingnya.

“Kau membuatku tersipu malu!” ujar Jhatatysa. “Baiklah aku akan segera memulai ini dan kita bisa segera pergi dari sini. Juhi lebih menyenangkan daripada ruang kendali”.

Rhalemug setuju dengan pernyataan Jhatatysa barusan.

“Perhatikan aku baik-baik. Kau harus meng-copy tindakanku dengan sempurna. Ini salah satu cara Generoro mengamankan pesawat. Password-nya perlu dimasukkan dua orang”.

Detik berikutnya Jhatatysa memberi aba-aba. Kali ini ia menahan napas dan menekan beberapa tombol, memasukkan password. Rhalemug mengkonsentrasikan dirinya. Tidak ada ruang untuk membuat kesalahan.

Ternyata bukan hanya satu kata kunci, tapi berlapis-lapis. Dan setelah memakan waktu beberapa menit, meja kendali bergeser memunculkan sebentuk tombol baru yang sudah terkubur diam selama lebih dari lima ratus tahun lamanya.

Jika Jhatatysa tidak salah perhitungan, baru beberapa hari orang lain membuka akses tombol ini. Tombol untuk membuka gerbang Juhi. Bukan berarti setelah ini gerbangnya segera terbuka. Mereka harus membuka kunci Juhi di ruangan itu sendiri. Kunci terakhir untuk membebaskan sekoci.

Jhatatysa menekan tombol itu. Tapi tidak ada yang terjadi.

“Ada apa?” tanya Rhalemug panik.

“Tidak berfungsi. Macet”. Jhatatysa menjawab dengan tubuh gemetar.

Rhalemug baru saja akan melepaskan sabuk pengamannya ketika Jhatatysa mencegah.

“Tetap di tempatmu”.

“Tapi...”.

“Aku tidak benar-benar menguasai kendali pesawat ini. Sebaiknya tetap di tempat dan jangan sentuh apa pun tanpa perintahku”.

Tepat sesudah Jhatatysa berhenti bicara, pintu kabin kendali terbuka.

“Kupikir Rhalemug bukan orang yang cocok untuk menjadi partner kejahatanmu, Jhatatysa. Sama sekali tidak layak mengingat ia hanya bisa bercocok tanam, mengunci dirinya di ladang”.

Mereka menoleh dan mendapati Alo dan Ahora muncul. Jadi selama ini mereka yang selalu membuat gara-gara.

"Aku tidak mengerti Rhalemug, segala ancaman dan halangan sudah kutebar di jalanmu, tapi kau selalu bisa lolos. Ingat surat kaleng yang pernah kau dapat?”

“Atau Glaric? Itu aku yang mengirimkan. Juga melakukan manipulasi data. Bukankah aku orang hebat? Paling tidak aku dibantu oleh teman lainnya yang sepaham dan bisa melakukannya" tawa Alo sembari memegangi satu sekop di tangannya.

"Aku tidak mengerti Alo, kau ini temanku. Tapi kau menerorku," balas Rhalemug muram. Ia tidak bisa marah pada temannya. Itu hal yang sangat sulit.

"Justru karena kita berteman Rhalemug. Orang tua kita juga berteman. Teman turun-temurun. Oleh karenanya aku tidak ingin kesalahan masa lalu terulang”.

Alo terdiam beberapa saat, memutar-mutar sekopnya di lantai yang bersih. Orang-orang dari dinas kebersihan selalu melakukan tugasnya dengan baik. Aneh sekali Alo membawa sekop ke ruang kendali.

"Aku tidak akan menyalahkan kematian ayahku karena mengikuti proyek ibumu. Itu masa lalu. Tapi yang perlu kau ketahui, aku tidak akan membiarkan sejarah terulang. Aku ingin kau tetap di sini. Masa bodoh para ilmuwan itu pergi, tapi kuharap kau tidak," katanya tajam.

"Kau tahu ini bukan dunia kita yang sesungguhnya. Wajar kalau orang-orang ingin pergi. Lagi pula Sekoci sejalan dengan tujuan Generoro: mendatangi dunia lain," kata Rhalemug mempertahankan apa yang ia percaya.

bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 8 Agustus 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage