MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 2 Nomor 6 Juni 2017


MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


“Tentu pak! Dia kan asistenku. Biar dia kelihatannya kurang mendukung Sekoci, namun Niaqu membantuku melakukan negosiasi dengan ketua sampai akhirnya kita bisa menjalankan program ini. Termasuk mengembalikan sang ilmuwan berbakat kita!”

Wajah Glaric agak bersemu merah ketika dipuji seperti itu oleh Jhatatysa.

Rhalemug bertanya-tanya apakah temannya juga memiliki ketertarikan pada gadis berambut ikal di ruangan ini. Tapi semestinya perasaan Glaric sudah fokus pada Mozza, benar kan?

Rhalemug mengingatkan dirinya supaya tidak mencemburui sahabatnya sendiri.

Glaric sudah berbuat banyak untuknya, untuk Plante. Mendekatkan impian Jakarov menjadi kenyataan.

“Baiklah aku ada rapat sebentar lagi. Niaqu akan marah-marah jika tidak bisa menemukanku,” sahut Jhatatysa sembari merapikan seragam kerjanya yang berwarna putih.

Satu-satunya yang berseragam coklat di ruangan kerja Glaric hanyalah Rhalemug.

Hal itu membuatnya agak merasa terasing.

“Oh ya Rhalemug, sesekali bawalah bunga kemari. Aku dari dulu menginginkan ada pot bunga di meja kerjaku. Namun hingga sekarang belum terealisasi,” ujar Jhatatysa sebelum menutup pintu dan meninggalkan Rhalemug bersama Glaric saja.

“Kurasa dia menyukaimu, sobat!” goda Glaric.

“Kuharap memang begitu karena aku menyukainya,” balas Rhalemug tanpa sadar bahwa itu cuma godaan.

“Benarkah! Aku memang sempat memerhatikan perilakumu yang agak berubah tiap kali berada di sekitar gadis itu. Ternyata dugaanku memang benar!” seru Glaric senang.

“Ngomong-ngomong kau tidak menyukai Jhatatysa kan?” tanya Rhalemug, cemas.

“Dia memang menarik, sobat. Tapi aku masih menyukai Mozza. Seandainya tidak ada Mozza mungkin aku juga akan menyukainya. Kuharap perasaanmu bisa segera berbalas,” ujar Glaric tulus.

“Semoga kita sama-sama berhasil dalam percintaan!” seru Rhalemug yang kemudian menyesali kalimat yang diucapkannya dengan terlalu lantang itu.

Kelakuannya pasti agak memalukan barusan. Untung ia hanya seruangan dengan Glaric.

Mendadak Rhalemug menjadi sangat bersemangat. Ia tidak sabar untuk segera melakukan rapat dengan ketua Plante. Rasanya kejadian buruk tidak bisa menyentuhnya sekarang. Tingkat kebahagiaannya terlalu tinggi untuk berubah menjadi kesedihan.


*
Arkeolog Dadakan

Fokus pada hal yang terlalu jauh sering kali membutakan
Bisa jadi ternyata kita sudah sangat dekat dengan apa yang kita cari. Namun bila terlalu dekat juga akan membutakan, karena kita tidak bisa melihat kesempatan yang terlihat jelas dari jauh.

Hampir setiap hari Rhalemug bertemu dengan Jhatatysa atau sekadang bertukar pesan melalui komputer. Namun hari ini berbeda Jhatatysa tidak membalas pesannya. Sepertinya gadis itu memiiki kegiatan khusus.

Ketiadaan kabar membuat Rhalemug gusar. Mestinya gadis itu tetap bisa mengirimkan pesan singkat. Tentunya hal tidak memakan waktu lama.

Memang Jhatatysa sempat mengutarakan akan pergi seharian hari ini, sehingga kemungkinan mereka tidak bisa melakukan kontak.

Namun hal itu tetap saja membuat Rhalemug sedih.

Dengan tatapan nanar ia memerhatikan monitor komputernya, berharap ada kabar yang masuk.

Hubungan mereka semestinya sudah dapat di katakan cukup dekat. Pertemuan dan percakapan yang intens, kadang menyinggung persoalan pribadi. Tapi tetap saja Rhalemug belum berani menyatakan perasaannya.

Lagipula Rhalemug tidak memiliki pengalaman yang cukup mengenai masalah lawan jenis. Ia belum pernah berpacaran meski umurnya sudah dibilang cukup. Ia terlalu pasif.

Jhatatysa tidak seperti gadis-gadis lain yang mudah ditebak. Ia baik kepada semua orang dan mau membantu yang mendapatkan kesulitan. Rhalemug tidak tahu apakah dia bisa dianggap istimewa oleh Jhatatysa. Ia menunggu sinyal yang mampu membulatkan tekadnya.

Terkadang Rhalemug ingin maju saja, menyatakan perasaan dan mendapatkan reaksi sehingga ia tidak perlu lagi bertanya-tanya.

Hanya saja ia selalu mengurungkan niat. Takut program yang mereka jalankan terhambat pernyataan konyol.

Maka dari itu Rhalemug memilih buat bersembunyi. Menunggu sinyal asmara yang tak kunjung datang. Terkadang terbakar api cemburu karena Jhatatysa tersenyum pada pria lain. Agak berlebihan.

Ia masih terjaga hingga larut malam. Seluruh laporan mengenai Aracheas sudah diselesaikannya. Memberikan respon pada timnya juga mengirimkan analisa Aracheas pada para regulator.

Rhalemug tahu Jhatatysa tidak akan menghubunginya selarut ini. Maka berlalulah satu hari tanpa kabar dari orang yang selalu ada dipikirannya. Sangat menyiksa. Menyesakkan dada.

Satu jam lewat dari tengah malam, Rhalemug baru memutuskan untuk naik ke tempat tidurnya. Saat itu ia melihat jenis semut yang pernah menggigitnya hingga memar untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Dengan sebal, ia segera mengambil semprotan pembasmi serangga dan memusnahkan makhluk kecil dengan gigitan sangat menyakitkan itu.

Semut itu mungkin saja bergerilya di tubuhnya ketika tidur. Dan itu bukan hal menyenangkan untuk menjadi nyata.

Mozza menyatakan akan menemaninya menemui Heere pada akhir pekan. Namun mendadak setelah Rhalemug mengirimkan pesan, malamnya mereka kehilangan buku yang di maksud Mozza.

Baik di database perpustakaan hingga komputer mereka masing-masing tidak ada buku itu. Lenyap, tak berbekas.

“Aku sempat berpikir bahwa buku itu khayalanku semata kalau sudah begini,” gerutu Mozza yang suaranya muncul dari Mimosa Paradiamo.

“Mungkinkah ada seseorang yang berusaha menghapusnya?” balas Rhalemug sembari merontokkan daun dari tanaman Feronanya yang sudah menguning.

“Seseorang yang memiliki otoritas pastinya. Misalnya aparat atau regulator. Sebagai pustakawan aku bahkan tidak dapat meng-copy data sesuka hati,” katanya dalam nada sedih yang kental.

“Ya mau bagaimana lagi. Lagipula kita memang tidak berhasil membaca buku tersebut, bahasanya benar-benar dewa!” seru Rhalemug hiperbolis.

“Ada kemungkinan kita sedang diawasi. Sayangnya aku tidak bisa membagikan buku menggunakan jaringan Mimosa Paradiamo. Kemungkinan seseorang melacak jaringan kita dan mendapati buku itu sebagai sesuatu yang berbahaya”.

“Apa itu prasangka buruk”.

“Tidak. Kemungkinannya hampir seratus persen. Aku menanyakannya pada atasanku. Ia berkata tidak mungkin sebuah buku ditarik tanpa motif yang jelas. Ia sendiri juga tidak dapat menemukan buku yang kumaksud. Dengan kata lain, ada yang sengaja menghilangkan informasi”.

“Sepertinya keadaan kita semakin rumit”.

“Tentu, apalagi setelah Sekoci mendapat izin untuk dilanjutkan, pasti diam-diam banyak yang tidak suka dengan proyek tersebut. Orang yang tidak mendukung akan mencari-cari cara untuk menggagalkannya”.

Rhalemug ingat tadi pagi ia kembali mendapat surat ancaman. Mozza benar, pasti ada kelompok yang tidak menyukai usaha mereka dan ingin menghentikan Sekoci.

“Apa kau mengalami tekanan dari seseorang?” tanya Mozza hati-hati.

Tentu ia mendapatkannya. Namun bukan saatnya untuk membebani Mozza dengan pikiran-pikiran baru. Selama masih bisa mengatasinya sendiri, Rhalemug berencana untuk menyimpan surat kaleng itu untuk dirinya sendiri. Mozza, Glaric, atau Jhatatysa tidak perlu tahu.

“Aku baik-baik saja Mozz, jangan cemas,” kilah Rhalemug. Ia berharap kebohongannya tidak segera terbongkar. Ia sangat payah dalam berbohong.

“Bagaimana dengan Glaric?”

“Dua hari lagi kami bersama-sama akan melakukan rapat dengan ketua Plante. Glaric akan membawakan penemuannya dan kami akan menjelaskan Sekoci secara lebih lanjut. Kuharap kau bisa segera bergabung dengan proyek Sekoci, Mozz”.

“Kembali menjadi ilmuwan kedengarannya seperti mustahil bagiku. Tapi akan sangat menyenangkan jika kita dapat bersatu untuk mewujudkan Sekoci. Untuk urusan mesin aku lebih handal dari Glaric,” tegas Mozza dengan nada bangga ketika mengucapkannya.

“Kuharap kita segera mendapatkan jalan keluar untuk itu. Kau harus baik-baik dengan atasanmu Mozz. Mungkin menanamkan sedikit demi sedikit pengertian akan bagus,” usul Rhalemug.

“Akan kulakukan pak! Oh ya Rhalemug, sebagai anak dari Jakarov memangnya kau tidak menyimpan catatan ibumu?”

“Kau pernah ke flatku Mozz, memangnya aku punya barang apa?”

“Bagaimana dengan kardus-kardus di kamarmu?”

“Aku tidak ingat isinya. Sepertinya barang-barang saat aku kecil juga beberapa peninggalan ayahku,” jawab Rhalemug ragu-ragu.

“Tidak ada salahnya membongkar dan memastikan. Aku tidak yakin Jakarov yang jenius tidak meninggalkan jejak apa pun  untuk penerusnya”.

Keesokan harinya Mozza sudah ada di tempat tinggal Rhalemug. Mereka bersiap-siap melakukan rencana yang sudah dibahas semalam sebelumnya.

“Seandainya kita tidak mendapatkan apa-apa, anggap saja aku membantumu membereskan rumah,” sahut Mozza sembari memandangi dua buah kardus di hadapannya.

Mozza sangat mengharapkan bisa mendapatkan sesuatu dari pembongkaran kardus hari ini. Namun ia juga tidak yakin dengan hasilnya. Juga tidak ingin membuat Rhalemug merasa bersalah seandainya mereka tidak menemukan warisan Jakarov.

“Aku akan membuang barang-barang yang sudah tidak diperlukan supaya dapat didaur ulang,” sahut Rhalemug.

Maka mereka pun memulai pembongkaran. Dus itu benar-benar diisi dengan sangat padat hingga Rhalemug sangsi apakah ia akan dapat memasukkan semua barang itu lagi ke kotak karton tebal di hadapannya.

Mereka mendapatkan perlengkapan Rhalemug semasa bayi. Mulai dari tatakan, baju bayi hingga mainannya.

Benda-benda yang tidak pernah diingat Rhalemug namun ada di rumahnya selama bertahun-tahun.

Di bawahnya ia bisa menemukan beberapa foto album orang tuanya juga buku-buku mengenai pengetahuan alam.

Bukan Plante namun dunia yang sesungguhnya. Jumlahnya sekitar dua lusin.

“Aku bahkan yakin perpustakaan kita tidak memiliki buku-buku ini!” sahut Mozza sembari membolak-balik buku yang baru saja dilihatnya itu.

“Kau boleh membacanya Mozz, jangan khawatir”.

Rhalemug memutuskan untuk menyingkirkan perlengkapan bayinya.

Mereka hanya menemukan beberapa potong pakaian kerja dari orang tua Rhalemug di kardus pertama.

Semoga ada sesuatu yang lebih menarik di kardus kedua, batin Rhalemug cemas.

“Memangnya untuk apa kita mencari buku yang berhubungan dengan kendali Plante Mozz? Proyek kita sudah jelas fokus ke Sekoci”.

Mozza menyandarkan bahunya ke tembok kamar Rhalemug. Nampak sedikit lelah.

“Berjaga-jaga saja seandainya ada keadaan yang membutuhkan pendaratan Plante. Menurutku semakin banyak informasi yang dapat kita kumpulkan akan semakin baik”.

Membuka kardus kedua rasanya seperti tenggelam dalam lautan kertas.

Rhalemug curiga seluruh kardus ini berisi kertas karena bobotnya yang lebih berat dari pada kardus pertama.

“Selamat bekerja keras!” celetuk Mozza sembari meneliti kertas-kertas yang penuh dengan coretan di hadapannya.

“Tidak mungkin kita tidak menemukan sesuatu di sini”.

“Aku suka melihatmu optimis seperti itu,” kata Rhalemug sembari memberikan ibu jarinya.

“Mari rapikan berkas-berkas ini. Jangan sampai susunannya kacau. Bisa jadi berkas-berkas ini sudah di tata rapi,” ajak Mozza sembari menguncir rambutnya menjadi ekor kuda.

Terang saja, dus kedua ini benar-benar menguras tenaga. Kebanyakan isinya tidak mampu dicerna Rhalemug karena lebih banyak berupa diagram. Kata-katanya sangat minim.

“Kau tahu kertas berisi informasi apa yang sedang kau pegang?” tanya Mozza sembari berkutat dengan kertas-kertas yang ia teliti.

“Membahas apa?”

“Proses pengubahan materi di Plante. Seperti menciptakan udara yang mampu kita hirup, bagaimana Verzacasa mampu menghasilkan air yang jernih dan masih banyak lagi. Sayang aku juga tidak  benar-benar memahami tulisan ibumu.

“Perubahan termasuk daur ulang sampah yang kita hasilnya. Termasuk sampah pernapasan,” tambahnya.

Rhalemug memandangi kertas yang ada di tangannya. Mulutnya menganga.

Sehebat itukah ibunya. Mungkin ibunya secantik dan secerdas Jhatatysa, maka dari itu ayahnya jatuh cinta pada si ilmuwan berbakat tersebut.

Sayang kecerdasan ibunya tidak menurun padanya. Bagaimanapun semenjak kecil ia hanya belajar mengenai tanaman.

Pengetahuan dan kemampuan yang tidak diteruskan, tidak secara otomatis diturunkan ke anak.

Rhalemug menumpuk kertas-kertas itu dan beralih ke tumpukan lainnya. Kali ini tulisannya agak banyak. Ia mencoba membacanya. Ia merasa pernah membacanya.

“Mozz sepertinya kita mulai mendapatkan petunjuk,” ujar Rhalemug dengan mimik serius.

“Apa yang kau temukan?”

“Draft Plante dulu, Plante sekarang”.
Mata Mozza membulat.

“Bab tiga! Dan Plante tidak akan menjadi misteri lagi,” katanya antusias.

Mozza menghentikan penataan yang dilakukannya. Ia beralih ke kertas-kertas yang dimaksud Rhalemug. Benar dugaannya. Jakarov tidak akan membiarkan generasi di bawahnya kehilangan jejaknya.

Sebagai satu unit pesawat penjelajah luar angkasa, Plante memiliki sistem kendali yang mampu menjaga perjalanan supaya tetap aman. Kendali namun hendaknya tidak dimaknai sesempit itu.

Mulai dari menetapkan tujuan dan meramalkan perjalanan masuk dalam kerumitan kendali.
Pemeriksaan keamanan perjalanan merupakan tugas sehari-hari petugas kendali.

Mereka memastikan pesawat tidak menabrak benda-benda luar angkasa seperti asteroid, planet, matahari, bahkan pesawat lainnya.

Mengetahui koordinat pesawat dan benda-benda di sekitarnya merupakan pengetahuan standar yang harus dimiliki.

Radar di ruang kendali akan membantu para pilot Plante untuk mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar Plante hingga menghitung kecepatan geraknya.

Selain memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan yang jauh dan berliku. Plante sebenarnya dapat melakukan pendaratan.

Cara aman pertama sebelum melakukan pendaratan adalah melakukan identifikasi jarak jauh mengenai Planet yang dianggap cocok sebagai tempat tinggal yang baru.

Sistem Plante mampu mendapatkan data-data seperti kandungan udara juga menyediakan citra Planet yang bersangkutan.

Pengiriman sinyal ke Planet terpilih dapat dilakukan sebagai kontak awal. Bagaimana pun Planet yang dituju kemungkinan berpenghuni dan Generoro tidak menginginkan adanya pertikaian karena kedatangan mereka.

Sinyal ibarat seperti melakukan kontak pertama. Apabila Generoro mendapat sinyal balasan, itu artinya Planet yang dituju sudah mengetahui keberadaan Plante.

Kendala yang akan terjadi berikutnya adalah bahasa. Cara paling mudah adalah mengirimkan data gambar.
Hindari makna yang bersifat kiasan karena mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman.

Gambar yang mungkin dikirimkan adalah penampakan luar Plante juga wujud penduduk Generoro.

Mulai meninggalkan plante

Ada dua cara untuk meninggalkan Plante. Pertama pendaratan Plante secara keseluruhan. Kedua menggunakan pesawat penjelajah yang juga dikenal sebagai Sekoci.

Penggunaannya dapat sesuai kebutuhan. Namun biasanya ilmuwan akan mengirimkan Sekoci terlebih dulu untuk melakukan kontak pertama kali.

Sekoci di Plante ada tiga ratus unit dengan kapasitas delapan hingga dua belas orang per pesawat.

Maksimal hanya dapat membawa 3.600 orang jika semuanya mampu berfungsi. Hingga buku ini ditulis (tahun empat ratus tiga puluh lima), Sekoci diketahui menggunakan bahan bakar air, namun ilmuwan masih mengembangkan bahan bakar lain yang mungkin bisa cocok dengan Sekoci.

Sekoci dilengkapi dengan autopilot dan dirancang mudah dimengerti oleh orang awam. Seorang pengemudi Sekoci hanya perlu melakukan latihan untuk melakukan climbing juga pendaratan pesawat. Sisanya serahkan pada autopilot.

Asalkan Planet yang di tuju lokasinya sudah jelas, pengguna Sekoci tidak perlu cemas akan adanya pergeseran tujuan.

Kecanggihan Sekoci termasuk kemampuannya untuk menghindari benda luar angkasa secara otomatis, sesuatu yang tidak dimiliki Plante yang harus dikendalikan secara manual.

Setelah melakukan climbing, segera tekan A/P yang merupakan tombol Auto Pilot. Pastikan Altitude, Speed dan Heading telah sesuai ketentuan.

Meski menggunakan A/P pengemudi Sekoci dianjurkan untuk memerhatikan panel instrument secara berkala. GPS akan membantu Anda mengetahui posisi pesawat.

Pendaratan Plante akan jauh lebih rumit, terutama karena ukuran Plante yang sangat besar. Tidak seperti Sekoci yang lebih fleksibel, tidak membutuhkan tempat lapang untuk pendaratan.

Plante harus memastikan dirinya dapat berpijak di daratan yang cukup bersih dari keberadaan bangunan dan penduduk di sekitarnya.

Kendali untuk pendaratan Plante sendiri sangat berliku karena banyaknya tombol kontrol yang harus diperhatikan.

Seperti memindahkan sebatang  pohon besar tidak akan semudah memindahkan tanaman dalam pot.

Meski juga memiliki Autopilot, pendaratan Plante membutuhkan 80% pilot manual. Itu sudah menjadi standar keamanan yang dipegang sejak Plante berdiri.

Oleh karenanya dibutuhkan pilot dari divisi kendali yang berpengalaman untuk melakukannya.

Pilot untuk pendaratan membutuhkan delapan belas hingga dua puluh orang.

Meninggalkan Plante merupakan hal yang penuh dengan resiko dan bahaya, namun bukan berarti hal yang mustahil mengingat Plante hanyalah pesawat penjelajah.

Cepat atau lambat, Generoro akan kembali ke dunia yang sesungguhnya.

Salam Generoro! Hidup Generoro!

“Salam Generoro! Hidup Generoro!”

Rhalemug mengucapkan kalimat terakhir dari buku karangan ibunya dengan perasaan terharu.

Mozza menepuk-nepuk bahu Rhalemug, berusaha menyalurkan semangat.

“Ibumu benar-benar ilmuwan sejati!”

“Cerdas dan Pemberani. Aku ingin menjadi sepertinya!” seru Rhalemug dengan penuh tekad. “Kita harus berhasil meninggalkan Plante!”

*
Ancaman & Tuntutan

Bisikan-bisikan kecil berasal dari balik tembok
Berusaha meruntuhkan tembok yang berdiri kokoh di hadapannya. Mustahil.

"Aku tidak yakin dapat mengerjakan sekoci kita tepat waktu," Glaric memegangi kepalanya dengan frustasi. Kacamatanya melorot hingga mendekati matanya.

Mereka ada di laboratorium Plante.

Rhalemug mendapati Glaric yang tengah berkutat dengan pekerjaannya di bagian Bioteknologi.

"Di mana letak kesulitannnya? Apakah kau membutuhkan tim yang bisa membantumu?" tanya Rhalemug menawarkan bantuan.

"Aku hanya menyangsikan, tenaga biogasku mampu mendorong kita hingga mencapai daratan," terangnya frustasi.

Rhalemug buta ilmu mengenai hal-hal seperti itu. Ia tidak tahu cara membuat biogas, ia juga tidak mengerti cara kerjanya. Ia hanyalah seorang petani tanpa pengetahuan yang baik di luar tumbuhan.

"Kurasa kau harus mulai mencari partner baru untuk bertukar pikiran dan mendapatkan ide baru," saran Rhalemug.

Setidaknya itu satu-satunya saran yang mungkin ia berikan kepada orang yang lebih pintar.

"Entahlah Rhalemug, aku sedang tidak bersemangat sekarang”. Glaric membuka sarung tangan lab dan menaruhnya di atas meja.

Meninggalkan Rhalemug dengan berbagai tabung reaksi di hadapannya.

Siapa sangka hal ini terjadi. Rhalemug tidak pernah membayangkan bahwa Glaric dapat kehilangan semangat seperti itu.

Selama ini ia selalu berusaha untuk menyelesaikan setiap alat yang dibuatnya. Maka dari itu sikap tadi cukup mengejutkan.

Ia memandangi rabung reaksi di hadapannya untuk beberapa saat kemudian meninggalkan laboratorium dengan perasaan gundah.

Bagaimana dengan memberitahu Mozza? Sayang sekali gadis itu terjebak di perpustakaan. Seandainya Glaric ditemani Mozza mungkin semangatnya akan lebih berkobar.

Ia memandangi langit-langit Equilibrium dan segera menuju lift untuk kembali ke Aracheas.

Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan di sini. Ia selama ini memang tidak memberi bantuan yang nyata. Glaric yang mengerjakan semuanya. Karena begitu terpukulnya,

Rhalemug sampai lupa ia semestinya memberitahu Jhatatysa. Tapi ia terus berjalan menuju lift.

Entah berapa lama lagi setelah mereka siap untuk meninggalkan tempat ini. Juga berapa panjang waktu lagi yang mereka miliki setelah Aracheas sedikit demi sedikit hancur.

Rasanya seperti tengah terperangkap ditengah dua dinding yang kian mendekat, berusaha menjepitnya.

Status Aracheas yang sempat membaik kini makin memburuk dari hari ke hari.

Mulai dari tanah yang tidak lagi mampu menyiapkan zat hara dengan baik, hingga air yang tidak sejernih dulu. Masa tua Plante telah tiba.

Putus asa. Rhalemug tidak tahu lagi siapa yang mampu diandalkannya untuk program biogas.

Ia hanya memiliki Glaric dan Mozza. Sementara kini Glaric mengatakan ketidakmampuannya.

Ia juga tidak ingin menyeret Mozza dalam masalah tersebut.

Ia baru saja sampai di lobby besar Equilibrium ketika matanya bertemu dengan mata Mozza.
“Kau...”.

“Kembali ke ruangan Glaric. Kita harus membicarakan masalah ini sekarang juga!” geram Mozza sembari melewati Rhalemug.

Wajahnya tegang, benar-benar bukan Mozza yang biasa.

Dengan setengah berlari, Rhalemug mengikuti Mozza dari belakang. Gadis itu akan meledak, Rhalemug sangat yakin itu.

Begitu mencapai ruangan Glaric ia membukannya dengan kasar. Glaric yang sudah kembali ke ruangan nampak terlonjak kaget.

Ia terlihat lebih pucat daripada tadi saat hanya masih berdua bersama Rhalemug.

"Aku sudah tahu Glaric tidak mungkin dapat mewujudkan program biogas. Aku yang mempelopori maka dari itu aku menyelesaikannya!" seru Mozza dengan kekesalan yang kental.

"Aku tahu kau hanya berpura-pura tidak dapat menyelesaikan program Biogas!"

"Mozz, aku...”.

Glaric tidak mampu buat menyelesaikan kata-katanya. Ia memang tidak tahu harus mengatakan apa.

"Kau tidak lebih dari seorang pengecut. Bagaimana kau bisa melangkah jauh dan mundur dengan jumlah sama banyaknya. Kau benar-benar mengecewakanku!" hardik Mozza geram.

"Sabar Mozz, kita sebaiknya mendengarkan pembelaan Glaric," lerai Rhalemug, mendadak ia merasa aneh melihat kedua teman dekatnya bermusuhan seperti itu.

Mozza melemparkan rambutnya ke belakang bahu.

Masih terlihat kesal. Ia menarik kursi di sebelah Rhalemug sambil memandangi Glaric dengan sorot mata yang sangat tajam.

"Aku tidak perlu penjelasannya! Aku tahu alasan mengapa dia bertingkah bodoh. Jadi kau sangat takut dengan gertakan?" tantang Mozza.

Ia benar-benar memuntahkan amarahnya. "Biarkan saja orang-orang tahu bahwa mereka membutuhkan dunia baru! Kau tahu benar Plante mengalami kerusakan yang cukup serius. Kita membutuhkan tempat tinggal yang lebih baik!"

"Glaric? Diancam orang?" kata Rhalemug terkejut. Mungkinkah bukan hanya dia yang menerima tekanan?

"Cendekiawan, salah satu ilmuan jenius Generoro menyerah hanya karena gertakan dia akan dibunuh. Isu Jakarov boleh saja menghangat kembali…”

“… Tapi seharusnya kau bisa melihat bahwa semakin banyak orang yang mulai memahami bahwa kepercayaan mereka adalah omong kosong belaka!" bentak Mozza geram.

"Kau benar-benar menodai pengetahuan yang kau miliki. Semuanya menguap digantikan logika murahan," imbuhnya dengan mata berkilat-kilat karena marah.

"Kau tidak tahu betapa sulit untuk bekerja dengan baik ketika banyak pihak yang menekanmu. Aku tidak tahu cara untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih lagi!" kata Glaric sembari melepas kaca matanya. Dahinya penuh keringat. Terlihat sangat putus asa.

"Seolah kau saja yang menanggung beban!" teriak Mozza tajam.

Rhalemug memegangi pundak gadis itu. Memintanya untuk lebih tenang. Sedikit banyak ia mulai merasa senang karena kebanyakan ruangan di Plante dilengkapi dengan peredam suara.

"Sebaiknya kita semua mendinginkan kepala terlebih dulu," pintanya dengan suara lembut.

Saat itulah air mata Mozza mengucur lebih deras dari sungai di Aracheas. Kemarahan dan kekecewaan yang terlalu besar membuatnya pedih perih.

Mozza membenamkan kepalanya ke dalam empat tangannya di atas meja.

Rhalemug terus mengelus-elus pundak temannya dengan sayang. Sementara itu Glaric memandangi Mozza tanpa dapat berkata apa-apa.

Pengaitan isu Jakarov dengan program sekoci memang menimbulkan banyak pro-kontra, termasuk orang-orang di lantai atas Plante.

Rhalemug sendiri yakin banyak duri dalam daging dalam pengerjaannya. Namun kita tidak mungkin meminta orang lain seratus persen mendukung. Pasti ada golongan oposisi yang terus mencari kelemahan.

Jam di layar monitor menunjukkan pukul sepuluh. Satu jam lagi Rhalemug harus segera menghadiri rapat yang ditunggu-tunggunya.

Ia tidak mendapatkan tidur yang nyenyak beberapa hari kebelakang. Semoga itu tidak memengaruhi performanya saat rapat.

Rhalemug berjalan menuju ruangan Jhatatysa dengan diiringi Mozza. Sementara Glaric mengikuti mereka dari belakang.

"Bagaimana kau bisa lolos dari pemeriksaan?" tanya Rhalemug pada Mozza. Ia merasa perlu mengalihkan pikirannya pada hal lain supaya amarahnya pada Glaric tidak bertambah besar.

"Aku meminta bantuan atasanku. Biar ia kelihatannya tidak bisa diajak bekerja sama, sebenarnya ia orang yang baik dan cukup peduli”.

"Kau menceritakan program Sekoci padanya?"

"Dia kenal baik dengan ibumu, Rhalemug. Tidak sulit bagiku untuk membuatnya mendukung rencanamu. Ia juga sudah mendengar kabar-kabar buruk mengenai kesediaan pangan, maka dari itu ia mudah untuk mempercayaiku. Ia memberiku akses kemari untuk menemui Glaric”.

"Dan karena kau karyawan yang baik juga," tambah Rhalemug. "Tapi dari mana kau bisa mengetahui Glaric tidak menyelesaikan tugasnya?"

"Aku mengenalnya sudah cukup lama dan mampu mencium gelagatnya yang aneh. Setelah kau menceritakan bahwa akan mengadakan rapat, aku langsung menanyainya, mengenai kemajuan dari kerjaannya dan apakah dia butuh bantuan mengingat dia bekerja sendiri.

"Siapa sangka ia hanya menjawab segalanya baik-baik saja. Padahal Glaric itu paling suka menceritakan proyeknya hingga mendetail. Dari situ aku memutuskan untuk segera melakukan penelitian kilat," imbuhnya memberikan penjelasan.

"Berkat kau, Sekoci mampu tertolong. Aku berhutang banyak padamu," desah Rhalemug.

"Aku melakukannya untuk Plante. Kau tidak perlu berterima kasih," tepis Mozza sembari mengecek komputer tabletnya.

Memastikan data presentasinya sudah ada di sana dan tidak mendadak hilang seperti kejadian buku panduan Plante beberapa hari silam.

"Ngomong-ngomong dari mana kau mendapatkan sampel untuk penelitian?" tanya Rhalemug terheran-heran.

"Aku mengontak seseorang bernama Karata, salah seorang petanimu. Menyatakan perpustakaan membutuhkan beberapa koleksi tanaman untuk mengganti koleksi yang sudah lama dan dianggap tidak layak," ujar Mozza.

Karata, salah satu senior di Plante secara tidak langsung telah membantu program Sekoci. Gadis itu bahkan tidak tahu apa itu Sekoci.

"Aku sudah melakukan banyak kebohongan dalam beberapa ratus jam terakhir. Semoga aku tidak mendapat masalah setelah ini. Tapi aku tidak menyesal karena aku tahu pilihanku tepat," ujar Mozza lagi.

"Kami akan menjagamu supaya tidak ada hal buruk yang menimpamu Mozz. Kau sudah melakukan hal yang besar," janji Rhalemug.

Mereka ada di monitor pusat informasi. Glaric tanpa diminta langsung menggunakan aksesnya untuk mencari ruangan Jhatatysa. Mozza mendengus tidak suka.

"Seandainya aku memiliki akses, aku akan menguncimu di ruangan dan menyelesaikan segalanya sendiri!" geram Mozza masih dengan luapan emosi yang mendidih.

Glaric memilih tidak menimpali. Seolah dengan itu ia menyatakan tidak masalah terus dihujani caci dan maki.
Untuk mencapai ruangan Jhatatysa, mereka harus menaiki tangga kaca. naik dua lantai sekaligus. Di sana terdapat banyak deretan ruangan yang ditandai dengan abjad.

Entah kebetulan, entah memang disusun sesuai abjad, Jhatatysa ada di ruangan J.

Rhalemug mengetuk dengan hati berdebar. Ruangan Jhatatysa sesuatu di luar bayangannya. Mereka biasanya bertemu di ruang rapat atau ruangan Glaric.

Sebelum Rhalemug berpikiran lebih jauh, Niaqu sudah membukakan pintu buat mereka.

"Silakan masuk," katanya ramah.

Rhalemug merasa Niaqu tidak sekejam yang dikiranya saat awal mereka bertemu.

Gadis itu memang suka mengisolasi diri dari orang-orang yang tidak dikenalnya namun bukan berarti dia jahat.

Jhatatysa duduk di kursinya sembari memandangi komputernya. Rhalemug bisa melihat bunga yang ia berikan ada di meja Jhatatysa. Bunga Alinalima.

"Aku tidak mengerti mengapa hingga sekarang belum mendapatkan data untuk rapat," kata Jhatatysa jelas marah.

"Ada sedikit salah paham Jhatatysa. Kuharap kau memberikan kelonggaran kali ini”.

Jhatatysa bergeming, namun matanya tertuju pada Mozza.

"Tim baru?" tebaknya.

"Kita sedang mengalami kondisi krisis sekarang. Namun data yang kau butuhkan sudah siap," kata Rhalemug lagi.

"Jhatatysa," sapa Mozza.

Jhatatysa mengangguk namun suasana hatinya masih kacau karena tidak diberikan data oleh Glaric.

Ia merasa sudah dibohongi karena tiga hari sebelumnya ia sudah mengingatkan mengenai rapat hari ini.
"Senang melihatmu di lantai atas Mozza”.

"Aku membawakan data yang kita perlukan. Kurasa kita masih memiliki waktu untuk membahasnya sebentar”.

"Singkat namun jelas," kata Jhatatysa setuju.

Mozza menjabarkan temuannya. Selama dua hari ia telah meneliti sekitar selusin tumbuhan.

Dari situ ia mendapatkan bahwa tumbuhan Kiri mampu menghasilkan biogas dengan daya paling kuat.
"Tapi aku tidak memiliki Kiri di Aracheas," sahut Rhalemug ragu.

"Aku mendapatkannya dari Irrina. Tanaman langka. Apa kau pernah melihatnya?"

Hanya Rhalemug yang mengangguk. "Tanaman langka.Sangat aktif. Irrina menyembunyikan Kiri saat aku mengunjungi rumahnya. Aku tidak menemukan tanaman itu ketika berkunjung”.

“Tanaman kesayangan dan langka, pemiliknya pasti akan menjaga tanaman itu sebaik mungkin. Tenang aku sudah mendapat izin untuk budidaya tanaman aktif tersebut”.

"Aktif bagaimana?" tanya Jhatatysa tertarik.

"Seluruh sulur-sulurnya selalu bergerak. Namun bukan berarti membahayakan. Memang sulur Kiri seperti suka ingin menangkap kita. Namun seandainya tertangkap sekali pun kita bisa melepaskan diri dengan memotong sulur tersebut," jelas Rhalemug.

"Tanaman dari Planet tempat Generoro berasal," kata Mozza menambahkan.

"Baru permulaan saja aku merasa sudah dikhianati. Negosiasi dengan ketua tidak pernah mudah. Kuharap kita lebih bisa menghargai satu sama lain," kata Mozza dengan nada ketus.

“Aku bisa menggaransi semuanya berjalan sesuai rencana jika kau mau membantuku untuk melakukan negosiasi ulang dengan atasanku. Aku akan menjalankan proyek ini dengan baik,” kata Mozza bersungguh-sungguh.

“Dan menyingkirkan Glaric dari posisinya?” tanya Jhatatysa tajam.

“Kepercayaanku padanya sirna. Kupikir dia ilmuwan yang hebat dan patut dipertahankan bagi kemajuan Plante”.

Wajah Glaric yang pucat tetap pucat. Mungkin memang sudah tidak bisa berubah menjadi lebih pucat lagi.
Rhalemug takut seandainya ia akan pingsan sewaktu-waktu.

“Minta maaflah,” saran Rhalemug, berbisik ke telinga Glaric.

“A-aku minta maaf Jhatatysa. Aku tidak akan mengulangi kejadian ini lagi, akan lebih bertanggung jawab,” sahut Glaric. Bibirnya agak bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu.

“Kecewa. Aku sangat kecewa padamu,” kata Jhatatysa dengan wajah yang sangat datar.

Untuk posisi sekarang ini benar-benar terasa Jhatatysa bukanlah orang biasa.

Caranya bicaranya, pembawaannya yang tegas. Gadis itu benar-benar wakil dari Plante. Pertama kalinya Rhalemug merasa Jhatatysa ada di luar jangkauannya.

Ketegangan itu berlangsung lebih lama dari pada kenyataannya. Rhalemug bahkan merasa dirinya agak sulit bernapas karena atmosfer ruangan ini yang terlalu mencekam.

Ia menujukan matanya pada Alinalima, berharap tanaman mampu membuatnya lebih tenang.

“Aku akan mengawasimu Glaric. Jadi berjaga-jagalah,” sahut Jhatatysa dengan nada yang sangat dingin.

“Sebaiknya kita tidak mengulur waktu lagi. Mozza kau boleh mengambil rapat dan menjelaskan temuanmu pada kami”.

Mereka beranjak ke ruang rapat pribadi Jhatatysa. Semuanya mendapat tempat duduk dan secangkir teh mawar.

Berhubung Rhalemug merasa awal hari ini sudah sangat melelahkan, ia segera meminum tehnya. Glaric juga segera menghabiskan isi cangkirnya dan menuang sekali. Sementara Mozza mempersiapkan presentasinya.

Mereka semua masing-masing memegang satu unit komputer tablet. Mozza mengirimkan datanya keseluruh komputer di ruangan itu.

“Seperti yang kujelaskan tadi, aku mendapati Kiri, tumbuhan dari Planet asal Generoro mampu menghasilkan bahan bakar gas yang kuat. Sayang tumbuhan ini tidak banyak di Plante. Kita harus membudidayakannya,” ujar Mozza memulai presentasinya.

“Budidaya Kiri secara hidroponik dapat menghasilkkan tumbuhan baru dengan cepat juga cepat besar,” sela Rhalemug.

“Hanya perlu dua sampai tiga bulan untuk membuat tanaman itu menjadi banyak,” jelas Mozza.

“Tambahkan hal itu dalam materi presentasi,” pinta Jhatatysa pada Niaqu.

“Pembibitan dilakukan dengan memotong kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam plastik tanam. Dengan potongan kecil dan larutan nustrisi, Kiri akan mudah tumbuh menjadi tanaman baru, bila dibutuhkan dapat menggunakan kultur jaringan,” imbuh Mozza.

Seketika data Mozza bertambah sesuai dengan ucapan Rhalemug.

“Sementara untuk Sekoci aku tidak memiliki wewenang untuk melakukan pengecekan. Namun ketika terakhir kali aku menjadi ilmuwan, setahuku ada empat puluh Sekoci yang rusak,” lanjut Mozza.

“Aku sudah melakukan pengecekan ulang minggu lalu. Kita memiliki 213 Sekoci siap pakai. Sisanya rusak, tiga puluh persen di antaranya rusak berat,” kata Glaric menyuarakan temuannya.

Sekejap materi Mozza berubah kembali atas data yang Glaric berikan.

bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 6 Juni 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage