MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 2 Nomor 1 Januari 2017



“Apa kau sudah menghubungi divisi riset?” Tanya Alfalfa sembari mengeluarkan seekor belalang dan memberikannya kepada Rhalemug.

“Aku berbagi tugas dengan Alo. Ia tengah melaksanakan bagiannya. Memberikan beberapa sampel untuk diteliti. Tentunya kau sudah tahu mengapa aku mesti segera kemari. Gulma-gulma tadi berkembang biak dengan sangat baik, dengan cepat, merusak tanaman, dan kami kewalahan”. Jawab Rhalemug.

Rhalemug menerima belalang tadi namun tidak memakannya. Tidak bernafsu. Pikirannya terus berfokus pada tanaman-tanamannya.

Alfalfa mengangguk mengerti. “Sebenarnya kita boleh dibilang tengah menghadapi masalah yang sama”.
“Apa maksudnya?” Tanya Rhalemug hati-hati.

Alfalfa memberi isyarat agar Rhalemug mengikutinya.

“Sebenarnya beternak belalang cukup mudah. Kita cukup meletakkan telur belalang, kemudian tinggal melempar rumput sebagai makanan. Di samping itu, kami juga menernakan jangkrik. Di mana untuk membuat kondisi kandang yang mendekati habitatnya, kami melumuri dinding kandang dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering”.

“Tempat persembunyian karena jangkrik memiliki sifat kanibalisme,” sambung Rhalemug.

“Pengetahuanmu di bidang peternakan cukup bagus!” puji Alfalfa.

“Aku pernah belajar peternakan secara otodidak. Dulu aku sempat memiliki jangkrik peliharaan di dekat tempat tidurku!” Ujar Rhalemug sembari tertawa.

“Aku harus menyatakan keherananku, Rhalemug. Bagaimana kau bisa tidak memakannya!” tawa Alfalfa, tawa yang dangkal karena tidak bertahan lama. Detik berikutnya Alfalfa menatap tajam Rhalemug.

“Rhalemug, kau perlu tahu. Kami juga tengah mengalami penurunan populasi belalang dengan sangat cepat, padahal kami sudah memakai pestisida dengan dosis yang tidak tepat supaya belalang-belalang ini menjadi kebal. Tapi hasilnya nihil. Tiap hari banyak induk yang mati. Persediaan belalang menipis”. Keluh Alfalfa.

Rhalemug masih berharap ada harapan buat Plante. “Bagaimana dengan peternakan jangkrik?”

“Kualitasnya menurun drastis”. Alfalfa beranjak ke kandang jangkrik, meraih satu serangga dan dari serangga itu ada zat cair dari keluar dari mulut dan duburnya.

Jangkrik-jangkrik itu tidak sehat. Lemah. Rhalemug jadi bertanya-tanya mengenai kondisi Plante.

Seandainya ia masih memelihara serangga, mungkinkah peliharaannya akan bertahan? Ia jadi berminat menangkap seekor lagi di Aracheas dan membawanya ke flat.

“Kandang yang kau miliki sangat banyak, Alfalfa,” kata Rhalemug mencoba mencairkan suasana yang terlampau tegang dan suram ini.

Alfalfa mengangguk. “Kami berdelapan puluh di bagian serangga. Dua puluh lima pekerja bekerja selama delapan jam bisa menghasilkan 12 kilogram belalang perharinya. Sisanya mengerjakan jangkrik”.

Rhalemug mengira-ngira berapa orang yang ada di divisinya. Tapi ia tidak yakin. Sepertinya lebih banyak dari pada jumah peternak.

“Belalang-belalang ini biasanya sudah bisa dipanen dalam 75 hari. Kami akan memastikan mereka bisa bertahan lebih lama. Kau, dari divisi pertanian, kuharap bisa menyediakan rumput sesuai kebutuhan,” sambung Alfalfa sembari meraih belalang satu.

Ia memerhatikan tekstur makhluk kecil itu untuk beberapa saat kemudian segera melepaskannya lagi. “Kami menanam rumput juga tapi tidak terlalu banyak, lebih luas ladang pertanian lantai dasar kurasa.

Rhalemug mengerti. “Kurasa kami masih bisa memberikan supply rumput. Kami lebih kewalahan mengurus tanaman pangan”.

“Kuharap kita bisa segera mengatasinya. Keberlangsungan Plante sangat bergantung pada divisi peternakan dan pertanian”.

Rhalemug kembali ke Aracheas dengan perasaan tak menentu. Ia merasa resah dengan keadaan Plante yang kian memburuk. Seandainya mereka bisa mendapatkan suatu planet yang indah untuk ditinggali mungkin semuanya akan berbeda.

Namun berapa banyak orang yang akan mendukungnya. Sekarang ia tidak dapat menghubungi Garic. Alo sendiri tidak suka mendengar ide dunia lain selain Plante bagi Generoro. Mozza, ia sudah diperingatkan untuk tidak membuat tingkah mencurigakan.

Seandainya bisa, ia ingin bertukar pikiran sekarang. Sayang tidak ada orang yang tepat untuk mendengarkan keluhannya.

Ia baru saja tiba kembali ke Aracheas setelah tadi pagi Alo mengutusnya ke divisi peternakan. Ia mendapati Alo tengah memandangi sebuah bibit dalam plastik tanam.

“Menurutmu media apa yang paling cocok untuk menanam Jheledora?” Tanya Alo.
Rhalemug mengangkat alis. Ia kaget Alo bukannya menanyakan apa yang tengah ia lakukan, malah mengajaknya bicara mengenai tanaman.

Ia sendiri yang mengiriminya pesan melalui komputer. Pesan itu ditemukan Rhalemug setelah pulang dari Schavelle.

Untung Alo tidak bertanya banyak mengenai absennya ia dari Aracheas kemarin. Rhalemug malamnya memang sudah sempat mengirimkan pesan bahwa ia tidak enak badan. Dan ia memang tengah sakit kemarin saat ke perpustakaan.

“Sabut kelapa mampu membuatnya lekas tumbuh. Namun sekam padi atau serbuk gergaji juga tidak buruk. Jheledora merupakan tanaman yang membutuhkan penyiraman rutin. Jangan biarkan medianya kering, jangan terlalu basah juga.

Rhalemug mengikuti pembicaraan Alo. Apakah sebenarnya Alo sudah mengetahui keadaan peternakan. Aneh sekali memintanya pergi namun tidak menanyakan keadaan area Gnemoe dan apa yang sedang terjadi di dalamnya.

“Sepertinya mudah sekali kau memahami tanaman, Rhalemug, sungguh membuatku iri”. Kata Alo.

“Aku hanya membuat asumsi dari ciri-ciri tanaman itu,” jelas Rhalemug, enteng.

“Aku berpikir apakah seluruh pohon buah begitu”. Alo bertanya seolah pada dirinya sendiri.

“Tidak, masing-masing memiliki kesukaannya masing-masing. Apa kau akan memindahkannya ke tanah hari ini?” ujar Rhalemug.

Alo mengggeleng, “Aku takut membuat mereka mati”.

“Alo kau tidak ingin tahu keadaan Gnemoe?” Rhalemug sudah tak tahan lagi. Ia benar-benar bingung bagaimana Alo bisa seacuh itu. Ini mengenai Plante.
Aracheas dan Gnemoe berhubungan.

“Ya? Kenapa dengan peternakan kita?” Alo seperti tidak paham.

Rhalemug mengernyit. “Keadaannya buruk Alo”.

“Oh. Semoga mereka bisa mengatasinya. Kita lebih baik fokus dengan Aracheas,” kata Alo acuh. “Bagaimana bila kita memberikan hormon perangsang buah saja di lantai tiga”.

“Frutikultur? Rasanya aku sudah seabad tidak ke sana! Aku akan membawa gunting pemotong dan melakukan pemangkasan bagi tumbuhan yang terlalu rimbun atau bila ada bagian tanaman yg rusak!” sahut Rhalemug bersemangat.

“Yang benar saja Rhalemug, umurmu saja baru sembilan puluh,” gerutu Alo sembari mengambil beberapa hormon perangsang buah dari lemari.

“Dan kau terdengar lebih tua dariku ketika sedang menggerutu,” cibir Rhalemug. Siapa yang sebenarnya sedang menggerutu sekarang.

Alo memutar bola matanya. Rhalemug mengeluarkan alat pemotong dari lemari perkakas kemudian menggunakan sarung tangan yang serupa dengan Alo.

Frutikultur selalu memiliki bau yang khas. Entah dari bunga, buah yang ranum, atau getahnya. Beberapa tahun yang lalu Alo sempat marah besar di sini. Waktu itu ia melihat beberapa buah yang jatuh membusuk ke tanah.

Maka dari itu beberapa petani yang melihat kedatangan Alo sedikit berjelengit kaget. Mereka mendadak memerhatikan sekelilingnya dengan lebih seksama.

Memasang mata siapa tahu ada gulma yang belum dicabut atau buah yang belum di beri pelindung supaya bila jatuh tidak sampai menyentuh tanah.

Rhelmug tersenyum kecut. Ia sudah biasa merasakan sikap tidak penerimaan dari para petani karena Alo. Orang -orang tidak menyadari kalau ia sebenarnya tidak pernah memarahi petani lain di depan umum, namun kedekatannya
membekaskan memori yang berbeda.

Percaya atau tidak banyak orang yang menganggapnya galak.

Deretan pepohonan yang paling dekat dengan pintu masuk adalah mangga, Rhalemug merasa liurnya terbit. Buah-buahan memang selalu menggoda. Meski begitu ia tidak menyukai yang asam.
Ia melihat bunga-bunga mangga berguguran namun banyak yang masih bertahan. Ia harus mengunjungi lantai ini ketika panen.

Mereka terus melangkah masuk ke lantai itu, lantai yang luas dan memiliki langit-langit yang lebih tinggi dari pada lantai Aracheas lainnya dan pepohonan di sini benar-benar memberikan kesan yang berbeda.

Dulu Rhalemug bekerja di lantai ini, sementara Alo ada dibagian sayuran. Namun ternyata dalam waktu yang singkat ia dan Alo berhasil lulus tes untuk menjadi senior.

Ia mendapati beberapa temannya saat menjadi petani tingkat bawah dulu dan memberikan senyum. Sebenarnya pekerjaan senior tidak terlalu berbeda, tetap berkutat pada tanaman.

Hanya saja mereka  lebih bebas untuk mengecek tanaman di lantai lain. Hanya para senior dan orang-orang yang ditunjuk yang boleh ke lantai hidroponik.

“Jadi kau akan memberi hormon buah untuk pohon apa?” tanya Rhalemug.

“Dari laporan kepala Frutikultur, apel di sini mengalami keterlambatan untuk berbuah. Apel yang berwarna hijau tepatnya. Mestinya mulai minggu lalu sudah mulai mengeluarkan bunga, namun hingga kini belum ada tanda-tanda,” ungkap Alo sembari memandangi cairan hormon perangsang yang ada dalam alat penyemprot.

“Apa ada gangguan ulat dan lalat?” Tanya Rhalemug menanyakan kemungkinan penyebab keterlambatan apel-apel mereka.

Alo menggeleng. “Tidak ada, baik-baik saja, maka dari itu Citrio kebingungan”.

Citrio. Orang itu tidak terlalu dekat dengan Rhalemug. Sebagai kepala Frutikultur ia jarang bicara. Bukan mulutnya, tapi tangan-tangannyalah yang terus bekerja. Tipikal atasan yang tidak terlalu menyenangkan bahkan cenderung tidak dekat dengan bawahan.

Meski begitu, dari tangannya berkilo-kilo buahan di Aracheas di panen. Jika ia sampai memberitahu Alo untuk melakukan penyemprotan hormon, berarti segala cara manual sudah dilakukannya dan gagal. Biasanya ia menghindari zat-zat kimia untuk tanamannya.

Mereka melewati area pohon jambu dan sampai ke tempat yang dituju. Di salah satu area yang terlindungi bayangan pohon Apel, Citrio menunggu dengan wajah murung.

“Aku senang kalian datang ke sini,” sambutnya dalam nada datar. Tidak mencerminkan kesenangan yang ia sebutkan.

Umur Citrio sepertinya sudah mendekati seratus enam puluhan. Beberapa janggutnya telah memutih dan kerutan di matanya sudah banyak. Semenjak Rhalemug lulus dari bangku sekolah, ia sudah mengetahui Citrio adalah kepala Frutikultur. Itu artinya orang tua itu sudah menempati lantai tiga untuk waktu yang sangat panjang.

“Citrio,” sapa Rhalemug sembari mengangguk. Orang di hadapannya pernah menjadi atasannya.

“Kami membawakan cairan hormon yang kau butuhkan,” sambung Alo sembari memberikan botol hormon itu sebuah pada pemimpin lantai tiga itu.

Citrio memerima cairan itu dan mengangguk.  Ia membagikannya kepada beberapa anak buahnya yang lain supaya cairan tersebut dapat di olah dan siap digunakan.  Segala cairan di gudang Aracheas memang membutuhkan pencampuran terlebih dulu.

Kebanyakan dengan air meski memungkinkan juga dengan zat kimia lainnya.

Sebagai pribadi yang pendiam, Citrio tidak mengajak tamu-tamunya basa-basi. Ia malah menunduk dan mulai mencabuti gulma. Alo cuek saja dengan duduk bersandar di bawah pohon, sementara Rhalemug memilih untuk mulai bekerja dengan guntingnya.

Mestinya hubungan mereka tidak sedingin ini kan? Sebagai  sama-sama pejuang pangan, entah mengapa Rhalemug merasa jauh dengan orang tua yang satu ini.

Citrio  dikenal kehebatannya dalam mengurus lantai tiga, hal itu yang membuat Rhalemug merasa ingin bertukar pengetahuan terutama mengenai tumbuhan yang berbuah.

Tanaman apel di Plante ditanam secara monokultur maupun intercroping. Mereka ditanam dengan jarak yang lumayan jauh, lega, tujuannya agar tidak menjadi terlalu rimbun ketika dewasa.

Kondisi kebun yang rimbun menyebabkan berbagai masalah lanjutan seperti buruknya sirkulasi udara, menghambat perolehan sinar, meningkatkan kelembaban hingga meningkatkan kemungkinan adanya pertumbuhan penyakit tanaman.

Apel sangat subur ketika ditaman pada tanah yang gembur juga, memiliki penyerapan air dan porositas baik. Tanah di lantai ini memang cocok untuk budidaya apel, bersolum dalam juga memiliki lapisan organik tinggi. Pergerakan hara serta kemampuan menyimpanan airnya juga optimal.

Rhalemug teringat saat di mana ia sempat melakukan pengapuran karena ph tanah di sini sempat melorot, kurang dari enam.

Tidak lama kemudian, orang-orang suruhan Citrio kembali dengan botol-botol penyemprotan.  Rhalemug menyingkirkan guntingnya dan ikut mengambil satu dari belasan botol penyemprotan yang ada dan mulai memberi hormon.

Ia menyemprot ke daun sembari sesekali memerhatikan tanaman siapa tahu ada serangan hama di sana. Meski ia tidak menemukan apa-apa.

Kadang memang ada serangga seperti belalang yang  muncul namun jumlah mereka masih terkendali.

Setelah setengah jam menghabiskan botol yang pertama, Rhalemug memandangi cara kerja Alo dan menemukan ada yang janggal.

“Bukan di batangnya Alo, bisa saja sih jika kau mengerat sedikit kulitnya. Pemberian hormon perangsang buah bisa dengan cara menyemprotkannya ke daun atau memberinya ke sekitar akar tanaman,” kata Rhalemug memberikan pengarahan.

“Mengerti!” timpal Alo mulai mengubah teknik pemberian hormonnya.

Citrio mengerling ke arah Rhalemug namun tidak memberikan komentar.

Mungkin ia memang sudah memahami bahwa sebenarnya pihak yang lebih mengerti tumbuhan adalah Rhalemug.

Ia termasuk orang yang kaget ketika mengetahui Alo yang terpilih menjadi tangan kanan Patizio. Semestinya Alo tidak ditunjuk. Kecuali temannya itu memiliki alasan tersendiri yang tidak diketahui orang lain.

“Kira-kira kita akan mendapatkan apel berapa lama setelah bunganya muncul?” gumam Alo seolah-olah sedang bicara dengan pohon di hadapannya.

“Buahnya dapat dipetik pada hari ke 120 setelah bunga mekar,” jawab Rhalemug. Jika tadi mereka bersisian, sekarang mereka tengah mengerjakan pohon yang sama. “Kau tahu aku senang menelan apel hingga bijinya!” ujar Rhalemug.

“Awas nanti ada pohon yang hidup dalam perutmu!” kekeh Alo menakut-nakuti.

“Tidak ada apa-apa. Sebenarnya aku juga melakukan hal yang sama dengan jambu biji dan tidak pernah mengalami masalah pencernaan,” balas Rhalemug tenang.

Selama bekerja Rhalemug merasa Citrio mengawasinya. Semoga orang tua itu tidak berpikiran macam-macam pada Rhalemug. Terutama pemikiran negatif.
Rhalemug sudah cukup pusing dengan masalah gulma.

Ia tidak ingin mendapatkan masalah tambahan dalam kehidupan sosial dan juga kariernya.

Sembari bekerja Rhalemug mencoba mengalihkan pikirannya pada Glaric.

Sedang apakah sahabatnya sekarang? Berkutat dengan alat-alatnya? Rasanya sudah lama Rhalemug tidak bertemu dengannya.

*
Ikan dalam Kolam
Apakah kau mempercayai keajaiban itu ada?
Orang-orang tidak sadar bahwa sesungguhnya keajaiban muncul dari kerja keras. Keajaiban muncul sebagai 
karma atas kerja kerasmu selama ini

Rhalemug baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah selesai mengembalikan alat-alat kerjanya dan membersihkan diri.

Sore kali itu Aracheas terlihat lengang.

Banyak yang sudah terlebih dulu pulang. Termasuk Alo. Sebenarnya waktu kerja sudah lewat beberapa puluh menit yang lalu. Namun hari itu ia memilih untuk tidak segera pulang seperti biasanya.

Ada yang hilang. Rhalemug merindukan Glaric dengan cerita-ceritanya yang luar biasa. Seolah tidak nyata, tapi yang bersumber dari mulutnya ternyata terjadi di luar sana.

Biar tidak menjalani, namun Rhalemug percaya dengan penjelasan-penjelasan temannya itu. Ia percaya pada Glaric. Ia merasa nyaman.

Ketika kondisi memisahkan seperti ini. Rhalemug baru menyadari bahwa dirinya memiliki beberapa persamaan dengan Glaric.

Mereka sama-sama mau membagi ilmu. Rhalemug dengan ilmu tanamannya kepada penghuni Aracheas, sementara Glaric yang dengan sabar menjelaskan hal-hal yang selama ini ada di luar jangkauan juga nalarnya.

Orang bijaksana tidak pernah ragu untuk membagi ilmu. Pengecut takut orang-orang sekitarnya memiliki pengetahuan yang sama dengannya, mereka memikirkan posisi dan mempertahankannya.

Seolah apa yang mereka miliki adalah sakral dan apabila banyak yang memiliki pengetahuan yang sama, mereka akan mudah dijatuhkan.

Rhalemug tidak tahu, apakah ia benar-benar bisa menutupi kesedihannya. Apakah ada orang yang memerhatikan bahwa ia menjadi lebih pendiam dan kurang bersemangat. Dan sampai kapankah ia bisa berpura-pura segalanya baik-baik saja.

Ia berjalan menuju gerbang Aracheas, dengan keempat tangan diselipkan ke dalam saku. Pikirannya berkelana. Membuatnya tidak fokus pada sekelilingnya.
Ia tidak menyadari sedari tadi ada sosok yang memerhatikannya.

“Selamat sore”. Sapa seseorang.
Rhalemug mendongakkan kepala dan mendapati Citrio tengah ada di dekat lift.

Entah keadaan macam apa yang membuat mereka berpapasan, seolah hal ini sebenarnya disengaja mengingat Citrio semestinya bisa menggunakan lift dari lantai yang diurusnya.

“Citrio,” sapa Rhalemug sopan.
Orang tua itu memandangi Rhalemug.

Mereka sama-sama akan pulang ke Sintesa Samiroonc. Semestinya begitu. Sebenarnya flat mereka dekat hanya saja tidak pernah mengunjungi satu sama lain.

“Aku akan mengunjungi Patizio di gubuknya,” kata Citrio tanpa ditanya.

Dugaan Rhalemug ternyata meleset. Orang ini tidak hendak pulang ke Sintesa Samiroonc. Citrio akan mengunjungi Patizio.

Tentu saja, mereka berasal dari generasi yang sama. Biar kedudukan mereka berbeda, bukan hal yang mustahil jika kedua orang tersebut sebenarnya dekat.

“Apakah kau tertarik untuk ikut denganku?” sambungnya dengan nada tenang dan datar.

“Ke tempat Patizio?” Tanya Rhalemug terkejut.

“Hanya jika kau berminat saja”. Ujar Citrio tidak mau memaksa.

Rhalemug meremas-remas bagian dalam sakunya. Dalam taraf ini ia menjadi setara dengan Irrina.

Lift terbuka, bunyi dentingnya seolah mengingatkan Rhalemug untuk segera memberikan jawaban atas tawaran tersebut.
“Aku ikut,” kata ujar Rhalemug dengan agak tergesa-gesa.

Citrio tersenyum kecil tanpa ujar.

Rhalemug melihatnya, Citrio lalu melangkah masuk ke dalam lift diikuti Rhalemug. Setelah menekan tombol, pintu lift bergerak menutup, menghilangkan Aracheas dari pandangan.

Rasanya mereka turun beberapa tingkat dari Aracheas. Selama ini Rhalemug selalu berpikir bahwa semakin tinggi jabatan, tempat tinggal mereka akan semakin ke atas. Memang pemikirannya itu tidak memiliki dasar yang jelas. Hanya mengira-ngira saja.

Patizio. Sebagai pemimpin pertanian Plante, dirinya jarang terlihat. Rhalemug pernah melihatnya beberapa kali. Pertama saat ia dan teman-teman seangkatannya menjalani upacara penyambutan petani. Kedua saat Patizio melakukan kunjungan tiga tahunan ke Aracheas.

Patizio bertugas memeriksa kualitas tanah dengan menggunakan tangannya yang keriput sebelum pekerjaan itu dilimpahkan kepada Alo beberapa tahun setelahnya. Ketiga, ketika perayaan lima ratus tahun Plante. Berarti terakhir sekitar tujuh tahun yang lalu.

Sejauh yang bisa diingat Rhalemug, Patizio bukanlah orang yang gemar bicara. Untuk menyapa kadang ia hanya menggunakan anggukan tanpa suara.

Namun bukan berarti Patizio adalah orang yang beraura negatif. Seperti tanaman, pembawaannya selalu tenang.

Karena sudah banyak pekerjaan yang ia limpahkan ke Alo, banyak orang yang berasumsi bahwa Alo akan menjadi penerus ketika Patizio memasuki masa pensiunnya yang tidak akan lama lagi.

Patizio hanya sesekali memberikan mandat melalui Alo tanpa mengunjungi Aracheas.

Rhalemug dan Citrio di sambut dengan hangat oleh sang pemimpin Aracheas. Bukan karena minuman hangat yang disajikan istri Patizio, namun juga karena Patizio mengajak mereka duduk-duduk di pekarangan rumahnya yang tenang.

“Aku sangat suka tamu! Sangat suka!” tegasnya dengan senyumnya.

Gigi Patizio sudah tidak lengkap, termakan usia dan bayangan Rhalemug mengenai orang tua yang tenang mendadak lenyap.

Jika Patizio tenang dan hangat, maka Citrio tenang dan tak tertebak. Dua sahabat yang seolah mirip, namun disaat yang bersamaan juga berbeda.

Citrio mengangkat cangkirnya dan mulai menyeruput minuman dengan aroma yang khas tersebut. Rhalemug yang merasa canggung, mengikuti gerakan orang yang membawanya kemari.

“Jahe?” tebaknya, tanpa sengaja Rhalemug menyerukan pikirannya.

“Tidak hanya itu pemuda! Coba analisa, apa lagi yang ada dalam minuman tersebut. Tentu saja bukan bahan-bahan berbahaya!” tantang Patizio.

Rhalemug membaui minuman itu lagi. Sepertinya ia mengenali sesuatu, namun kenangan itu seolah-olah tertinggal di tempat lain. Ia meminum lagi sedikit.

Rasanya ada bahan yang tidak asing.
Ia pernah merasakan bahan yang ada dalam minuman ini sebelumnya.

“Kau harus memberinya hadiah apabila dia mampu menebak dengan benar,” celetuk Citrio sembari melemparkan kerikil ceper kecil di dekat kakinya menuju kolam.
“Tentu saja! Tentu saja! Aku ini pemurah, aku akan memberikan hadiah!” konfirmasi Patizio kemudian menghabiskan minuman itu dari cangkirnya. Ia mengisi cangkirnya kembali dari teko yang memang sengaja ditinggal di situ.

“Bagaimana? Sudah tahu minuman ini terbuat dari apa?” tanya Citrio dengan nada datarnya.

Rhalemug merasa mendadak sedang dalam perlombaan yang tanpa kemauannya. Tanpa mengetahui hadiah apa yang sebenarnya ia kejar. Benar-benar aneh. Namun semestinya ia tahu.
Ia mencoba menenangkan diri dan memeriksa minuman itu sekali lagi. Tidak asing. Ia bisa merasakan batang, daun, juga.... getah?

“Aku tidak yakin,” ujarnya lambat-lambat.

“Aku berusaha mengingatnya, namun setahuku itu bahan untuk masakan, alih-alih untuk minuman”.

“Sebut saja! Aku kan tidak menyebutkan akan memberikan hukuman bila tebakanmu salah. Maka dari itu kau sebutkan saja!” dorong Patizio.

Citrio ikut-ikutan memandangnya. Dua orang itu menunggu jawabannya.

“Ku-kurasa kau mencampurkan Wakno ke dalam minuman ini,” jawab Rhalemug. Volumenya makin mengecil ketika mendekati akhir kalimat.

Patizio memandangi cairan di cangkirnya untuk beberapa saat. Kemudian bertepuk tangan.

“Tebakannya benar?” sahut Citrio sembari menunjuk Rhalemug dengan tangan kanan atasnya.

“Jitu sekali! Jitu sekali!” seru Patizio senang. “Tidak banyak yang mengetahui apa itu Wakno. Yang mengetahui Wakno juga dapat digunakan sebagai bahan minuman lebih sedikit lagi! Kau benar-benar petani sejati, pemuda!”

Rhalemug nyengir jelek. Ia tidak tahu komentar apa yang sepantasnya ia berikan. Wakno sebagai minuman, rasanya ia tidak pernah tahu. Padahal ia bisa membuat Waknio, tiap tahun membuatnya untuk Daro-Kanori.

“Katakan pemuda! Katakan kau menginginkan hadiah apa?” kata Patizio.

“Ha-hadiah...”. Rhalemug berkata terbata.
Rhalemug belum usai dari keterkejutannya saat dicecar kembali dengan pertanyaan lain. Memangnya ia menginginkan apa? Sebenarnya apa tujuannya kemari?

Tadi ia hanya menyetujui tawaran Citrio tanpa berpikir panjang apa yang akan dilakukannya di sini. Yang ada dikepalanya waktu itu hanya untuk mengetahui di mana orang nomor satu Aracheas tinggal.

Citrio berdehem. Seolah ada belalang yang menyangkut di tenggorokannya.
“Kurasa kau bisa membantunya, teman muda kita ini sedang dalam masalah. Maka dari itu aku membawanya ke hadapanmu, Patizio”.

Benar-benar tidak terduga! Jadi tujuan Citrio kemari memang untuk membawa Rhalemug pada atasannya? Bukan karena ia memang memiliki urusan pribadi dengan Patizio? Sejak kapan Citrio menyusun rencana ini?

“Aku harap bisa membantumu, pemuda!” ujar Patizio bersungguh-sungguh.

Namun apa yang harus Rhalemug minta. Masalah gulma dia rasa tidak perlu menyampaikannya pada Patizio mengingat masih bisa di atasi meski banyak petani yang mulai kewalahan.

Masalah kebun apel juga sudah ia coba atasi dengan cairan hormon. Apa yang sekiranya ia dapat ia minta pada Patizio?

“Sepertinya pemuda yang satu ini sedang kewalahan dengan pikiran-pikirannya. Jadi biarkan aku saja yang menyampaikannya."

Lagi-lagi Citrio berdehem.

 “Beberapa hari yang lalu, seorang petani yang merupakan teman dari Rhalemug di larang untuk ke Aracheas. Dia dituduh atas peningkatan jumlah gulma di ladang karena ia merupakan mantan pegawai divisi energi. Ia dicurigai tengah membangun sesuatu dengan gulma”.

“Biogas,” sambung Rhalemug yang sudah kembali menemukan suaranya.

“Pemanfaatan gulma sebagai sumber biogas tentunya merupakan sesuatu yang baik. Beberapa tahun yang lalu, ada orang dari divisi energi yang menemuiku”

“Mereka membersihkan kolamku yang penuh dengan enceng gondok dan menyebut-nyebut biogas. Proyek yang kuakui sangat baik untuk pengendalian gulma. Aku tidak mengerti mengapa ada petani yang harus di skors karena biogas,” papar Patizio sembari mendekati kolamnya dan mengambil sebuah enceng gondok dari tepian.

“Tumbuhan air yang mengapung, bisa juga menancapkan akarnya di dasar kolam yang dangkal. Pertumbuhannya yang cepat membuatnya dikategorikan sebagai gulma,” imbuhnya.

Rhalemug memandangi tumbuhan tanpa batang tersebut. Enceng Gondok memiiliki daun tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, sementara pangkal tangkai daunnya menggelembung seperti botol. Sejenis tanaman dengan akar serabut.

“Tanaman ini mampu meningkatkan terjadinya evapotranspirasi atau penguapan air melalui daun-daun tanaman. Hal ini disebabkan karena enceng gondok memiliki daun-daun yang lebar. Selain itu  pertumbuhan mereka sangat pesat. Tanaman ini merugikan ketika menghalangi cahaya dari perairan sehingga tingkat oksigen dalam air menurun,” tambahnya.

Patizio menghela napas panjang. Menyeruput minumannya yang sudah tidak mengepul lagi sebelum kembali berbicara.

“Meskipun begitu tanaman ini tidak seratus jahat. Ia dapat digunakan dalam pengendalian pencemaran lingkungan, juga merupakan sumber bahan bakar yang murah. Enceng gondok sangat berpotensi menjadi bahan baku biogas karena mengandung banyak nutrien seperti nitrogen, fosfat dan potasium”.

“Apa kau tidak mendengar masalah petani pindahan ini dari Alo?” Tanya Rhalemug yang merasa ada yang tidak sejalan, antara perkataan Patizio dengan Alo.

“Alo datang padaku, beberapa hari yang silam, aku tidak ingat tepatnya. Ia menceritakan ada petani yang tidak becus dalam menangani gulma. Aku katakan padanya untuk memberikan bimbingan. Namun kemudian ia mengatakan ada kemungkinan petani ini dengan sengaja memang ingin membuat gulma-gulma di Aracheas meningkat.

“Melihat ekspresi dan mendengar intonasinya yang mendesak, kurasa Aracheas memang tidak dalam keadaan yang baik, maka dari itu aku memintanya agar petani tersebut tidak perlu dipekerjakan seperti biasanya hingga ada bukti yang benar-benar mendukung tuduhannya.

“Maksudku ia bisa meminta petani itu mengerjakan hal-hal lain seperti perawatan peralatan pertanian,” ungkap Patizio panjang-lebar.

“Tapi dia bilang kau melarangnya ke ladang! Kau bahkan melarang orang-orang mengunjunginya hingga ia dinyatakan tidak bersalah!” protes Rhalemug dengan nada tinggi.
Ia benar-benar tidak terima temannya harus menghadapi kesulitan sendirian.

“Wahai pemuda, sabarlah. Aku memang sudah tua namun pendengaranku masih cukup baik. Apabila memang perkataanmu benar, maka itu adalah keputusan Alo. Aku tidak meminta petani diperlakukan dengan kejam seperti itu. Kita semua adalah satu keluarga di Aracheas,” ujar Patizio.

“Sudah kuduga. Kau tidak mungkin memutuskan hal kekanak-kanakan seperti itu,” gumam Citrio setelah sekian lama hanya mendengarkan. “Sebenarnya aku heran mengapa kau memilih anak itu”.

“Memilih seperti apa?” Patizio mengisi cangkirnya lagi. Minuman itu benar-benar menjadi favoritnya.

“Menjadikan anak dengan pengetahuan dangkal itu sebagai penyambung lidahmu,” tandas Citrio ketus.

Rhalemug tidak tahu kalau Citrio yang pendiam dan datar bisa berkata ketus.

Apakah ini artinya ia tidak menyukai Alo? Semestinya tidak ada masalah di antara mereka. Alo juga tidak pernah berkata hal-hal buruk mengenai orang tua ini.

Patizio tergelak. “Jadi rumor yang beredar seperti itu? Aku tidak pernah menunjuk siapa-siapa untuk sekarang, kau tahu hal itu Citrio! Anak itu memang sering kemari jadi aku banyak bertukar pikiran dengannya. Aku kan tidak hanya mendapat informasi dari dia saja”.

“Para kepala kategori di Aracheas sepertimu tidak pernah absen memberiku laporan. Tugas senior sudah dirumuskan sejak awal, dan aku berani menggaransi Alo tidak ada memiliki wewenang untuk mencampuri urusan di luar lantai dasar sebagai tempat pergudangan dan irigasi utama, juga lantai hidroponik,” sambungnya.

Kata-kata Patizio memang benar, sebagai senior, tugas mereka sudah jelas. Intinya sistem manajemen tanaman dan pengendalian hama. Mereka banyak berurusan dengan cairan-cairan kimia karena pergudangan ada di lantai bawah dan penggunaan larutan nutrisi dan pestisida harus di awasi.

Namun mengapa kenyataan bisa bergeser? Terutama hal-hal yang berkaitan dengan wewenang Alo. Di mata penduduk Aracheas ia adalah penerus Patizio, orang kepercayaan yang mengatur Aracheas. Bahkan Rhalemug sendiri mempercayai segala konstruksi realitasnya! Termasuk masalah Glaric!

“Kurasa kau harus sering-sering mampir ke ladang dan meluruskan banyak hal di Aracheas,” usul Citrio. Kali ini dia yang menuang isi teko ke dalam cangkir.

“Kau tahu aku banyak rapat dengan para regulator. Kadang aku merasa lelah harus memikirkan banyak hal. Apalagi kau tahu orang tingkat atas gemar menekan, memastikan semuanya berjalan secara sistem, ini dan itu”.

“Aku tahu tanggung jawabmu memang berat,” lanjut Citrio dengan sikap acuh. Seolah ucapan dengan isi hatinya tidak senada.

“Akan kuusahakan untuk mengunjungi ladang begitu waktuku sudah agak longgar,” janji Patizio.

Ia melihat cangkir Rhalemug yang kosong kemudian menuangkan minumannya ke gelas si pemuda itu.

Rhalemug meminum campuran jahe dan wakno dengan tampang datar.

“Lalu bagaimana dengan si pengacau?” dengus Citrio. Ia tidak ingin ada sesuatu yang terlewat dari pembicaraan kali ini.

“Alo? Aku tentu akan menegurnya. Teguran yang lumayan keras karena perilakunya yang buruk. Sangat buruk. Kau tinggal menunggu kejutan dariku Citrio. Kau tidak akan menyesal dan terima kasih telah membawakanku anak muda yang berbakat ini”

“Pengetahuannya soal tanaman sangat bagus, jarang aku menemukan petani yang pintar! Ngomong-ngomong, aku tahu hadiah untuk anak muda ini!” kata Patizio.
Rhalemug mengangkat alis.

“Siap-siap ya pemuda! Tanggung jawabmu terhadap Aracheas akan bertambah berat karena kau berhasil menebak Wakno dalam minumanku!
Tebakan yang bagus!” Kata Patizio.

“Kolam yang jernih dengan ikan berenang-renang bebas di sana”. Rhalemug mendadak berkomentar tentang kolam yang ada di sana.

“Mengapa kau berpikir ikan itu bebas hanya karena kau melihatnya berenang ke sana kemari tanpa ada yang mengatur atau melarang? Tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya mereka tengah terjebak, terbatas oleh dinding-dinding kolam tanpa mampu keluar?” komentar Patizio dengan bijak.

Rhalemug termenung dengan kata-kata itu. Ada yang muncul dikepalanya untuk melanjutkan perbincangannya dan bertanya lebih jauh, namun diurungkannya.


*

Alo Ego Elo
Marahlah dan kau akan terbakar bersama amarahmu
Api murni selalu menghasilkan debu. Tetapi kadang dibutuhkan untuk menunjukkan siapa dirimu

Rhalemug tidak tahu jam berapa sekarang. Ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu: segera menemui Glaric.

Rasanya sangat bodoh untuk mengikuti peraturan palsu selama lebih dari seminggu. Ia harusnya sejak awal melawan peraturan saja. Glaric adalah temannya. Tidak sepantasnya ia meninggalkan teman dalam masa-masa berat.

Lampu-lampu sudah diredupkan saat ia kembali ke Sintesa Samiroonc. Namun ia tidak peduli. Ia segera melesat ke flat milik Glaric dan mengetuk pintunya dengan agak tidak sabar.

Glaric mungkin sudah tidur dan itu berarti Rhalemug mengganggunya. Apakah ini tindakan yang tepat? Yang jelas Rhalemug tidak ingin menunda lebih lama lagi.

Ia harus memberitahu Glaric apa yang sesungguhnya. Sama seperti Glaric yang selalu menuntunnya menuju pencerahan.

Sejenak kemudian, Rhalemug mendengar sesuatu yang bergerak. Glaric membuka pintu dan saat itu pula mata Rhalemug berkaca-kaca. Ia berusaha tidak menangis. Rhalemug kini menyadari betapa ia menyayangi Glaric. Seolah pria di hadapannya adalah adiknya.

“Sobat?” tanya Glaric dalam nada setengah tidak percaya. “Masuklah”.

Glaric tidak menunjukkan kemarahan! Ia tetap baik seperti biasanya biar Rhalemug membiarkannya sendirian untuk waktu yang cukup panjang. Sangat berbeda dengan Alo. Glaric menyambut sobatnya dengan suka cita.

“Semestinya aku tidak mempercayai kata-kata Alo. Maaf aku tidak mengunjungimu sebelum ini,” cerocos Rhalemug begitu sudah ada di dalam flat Glaric.

“Tidak masalah sobat. Di satu sisi aku senang karena memiliki banyak waktu untuk mengutak-atik alat-alatku. Coba lihat! Aku berhasil merakit beberapa benda dalam waktu seminggu. Rasanya seperti kembali ke divisi yang lama. Tanpa partner tentunya,” cerita Glaric sembari membenahi letak kacamatanya.

Dalam pikiran Rhalemug bertanya-tanya apakah temannya itu pernah melepas kacamatanya.

“Semoga kau masih ingat dengan Mimosa Paradiamo. Aku berhasil membuatnya bekerja dengan lebih baik! Kali ini benar-benar sukses. Kita bisa menggunakannya untuk berkomunikasi dengan jalur yang berbeda dari yang terpasang di setiap flat sehingga pergerakan informasinya lebih cepat dan bebas gangguan. Kita bahkan bisa melakukan panggilan video!

“Yang lebih spektakuler lagi, regulator tidak akan mampu menyadapnya. Sebagai penduduk Plante kita memerlukan privasi, dan melalui alat ini cita-cita tersebut mampu terwujud!” katanya senang.

“Jadi kau sudah mencobanya untuk menghubungi Mozza?” Tanya Rhalemug penasaran.

Glaric mengangguk senang. “Kami sudah bercerita banyak hal. Semalam aku menghabiskan waktu dua jam penuh untuk ngobrol dengannya, tentunya sembari memandangi wajahnya yang cantik. Menyenangkan.

“Untung aku sudah sempat memberi Mimosa padanya sebuah. Aku juga akan membuatkan satu untukmu”. Kata Glaric dengan bersemangat.

“Sangat menyenangkan tidak hanya bergantung pada suara. Bagus sobat! Kau mulai ada kemajuan dalam relasi asmaramu!” Puji Rhalemug.

“Eh, sebenarnya tidak seperti itu juga. Kami banyak membicarakan biogas. Bukan masalah pribadi”. Kilah Glaric.

“Kau tahu, aku mendengar dari Patizio sebenarnya biogas adalah teknik yang hebat sebagai usaha pengadaan bahan bakar juga pengendalian pencemaran lingkungan,” Rhalemug menyampaikan pujian Patizio kepada sahabatnya.

“Kau bertemu dengan Patizio?” Mata Glaric membulat dibalik kacamatanya yang unik.

Rhalemug menggeser beberapa kabel supaya ia bisa duduk. “Ceritanya lumayan panjang. Namun yang pasti sebenarnya kau tidak dilarang untuk menginjakkan kaki ke Aracheas. Aku tidak menyangka Alo dapat memutar balikkan fakta dan menyebarkan kebohongan”.

“Kau harus tahu, aku cukup marah dengan temanmu itu. Ia benar-benar menyerangku menggunakan biogas. Tanpa bukti! Aku tidak yakin ada orang yang benar-benar memberikan pengakuan. Kurasa itu hanya akal-akalan temanmu saja,” gerutu Glaric.

“Kedengarannya sangat bukan Glaric kalau kau mencibir seperti itu,” gelak Rhalemug. “Aku minta maaf karena tidak dapat membelamu sebelum ini. Namun ke depan aku akan berada di sampingmu dan melawan balik perlakuan Alo. Aku sangat menyesal akan kelakuan Alo”.

“Hentikan Rhalemug. Kau terlalu romantis saat mengucapkannya!” seru Glaric kali ini dengan terkekeh. “Tidak perlu meminta maaf atas nama temanmu. Ia sendiri yang harus mengakui kesalahannya, hanya jika ia berminat ya. Kita lihat saja apa yang akan Alo lakukan ketika mengetahui rencana jeleknya terbongkar”.

“Mungkin kau harus mulai menjelaskan padaku mengenai apa itu biogas,” sahut Rhalemug yang kembali mengeser-geser kabel Glaric”

“Di samping kau juga harus mulai merapikan ruanganmu! Aku tidak mengeti bagaimana kau bisa hidup dengan kabel yang tidak jelas pangkal, tidak jelas ujungnya ini”.

“Percayalah aku memahami yang mana ujung dan mana pangkal. Usulanmu untuk merapikan flat akan kupertimbangkan, namun aku tidak benar-benar berjanji untuk melakukannya,” sahut Glaric sembari menggulung kabel berwarna biru yang tidak ia gunakan.

“Aku lebih suka bereksperimen daripada berbenah. Keduanya memakan waktu, namun yang satu lebih membosankan dari pada yang lain,” tambahnya.

“Aku bisa membantu jika memang kau memerlukan bantuan”.

Glaric tersenyum lebar. “Kau memang sobat terbaikku!”

Setelah selesai menggulung beberapa kabel dan mengikat kelebihan kabel yang digunakan, Glaric mengikuti Rhalemug duduk di lantai flatnya. “Jadi kau mau mengetahui penjelasan biogas dari mana?”

“Pengertiannya akan menjadi awal yang baik karena sejujurnya itu merupakan istilah yang baru buatku. Memang aku sudah membaca banyak buku, tapi biasanya penjelasanmu lebih mudah dipahami,” pinta Rhalemug.

Glaric mematikan beberapa tombol mesinnya. Mungkin tujuannya agar tidak menyetrum mereka yang meski sudah berusaha merapikan, masih tetap berada di antara kabel-kabel yang terlihat lumayan mengancam.

“Biogas merupakan gas yang mudah terbakar. Berbeda dengan bahan bakar lainnya, biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri. Dalam kasusku, memanfaatkan limbah pertanian sehingga ramah lingkungan”.

“Apakah kau yang mempelopori enceng gondok sebagai bahan biogas?”

“Enceng gondok adalah ide Mozza. Kami sempat mengunjungi Patizio dan mencoba melakukan pembuatan biogas menggunakan enceng gondong dari kolamnya. Orang tua itu baik ya? Aku senang sekali ketika mengetahui ia mendukung projek kami”. Ia berbicara sembari merapikan peralatan rakitnya seperti obeng, tespen, hingga rangkaian yang baru setengah jalan.

Rhalemug memandangi benda-benda yang tidak pernah digunakannya seumur hidup. Ia lebih mengenal cangkul atau alat penyemprot.

“Aku tidak mengerti bagaimana mungkin tanaman mampu menghasilkan gas”.
“Mungkin Rhalemug. Aku dan mozza sudah melakukannya dan berhasil. Tentu prosesnya memerlukan peralatan khusus juga waktu.

“Pertama-tama kami memotong batang dan daun eceng gondok dan memasukkannya ke dalam tabung reaktor”

“Gas enceng gondok berasal dari pembusukan, kurang lebih muncul setelah tujuh hari. Dari situ gas mengalir ke tabung reaktor kedua untuk kemudian ditampung dalam tabung khusus. Kira-kira itu penjelasan secara singkat dan mudahnya,” imbuhnya menjelaskan.

“Intinya pembusukan,” kata Rhalemug menyimpulkan.

Glaric menunjukkan keempat ibu jarinya.

“Glaric,” sambung Rhalemug, “Maaf kalau aku lancang. Tapi apa yang membuatmu mempertahankan program sekoci? Apa kau ada hubungannya dengan Jakarov?”

“Aku tidak mengenal Jakarov, sobat. Belum banyak membaca mengenainya juga. Alasanku mempertahankan program sekoci karena memang kita butuh keluar dari sini. Aku tidak peduli seandainya Planet yang kutapaki beracun. Aku berani mati,” terang Glaric menggebu-gebu.

“Tapi benar juga! Aku akan mencoba mencari informasi mengenai si pemberontak. Siapa tahu kita bisa mempelajari apa yang telah dilakukannya,” janji Glaric, menambahkan.

Rhalemug mengangguk. Ia juga akan mulai mengumpulkan informasi mengenai Jakarov. Siapa tahu untuk sekian kalinya komputer Plante mampu memberikan informasi layak baca. Kali ini topiknya akan berat. Namun mungkin saja akan ada celah.

Malamnya Rhalemug mencoba mengutak-atik komputernya. Namun tidak ada informasi penting yang berhasil di dapatkannya. Ia hanya mengetahui bahwa tragedi pemberontakan terjadi tidak lama setelah ia lahir.

Regulator dengan bangga menyatakan ide Jakarov terlalu liar dan mampu mengganggu keseimbangan Plante.

Mereka juga kelihatannya cukup senang Jakarov dapat hilang bersama sekocinya. Regulator menyebutkan Jakarov sebagai pemberontak bodoh dan tidak masuk akal.

Rhalemug dengan tekun membaca artikel-artike yang dapat ditemuinya. Kebanyakan bunyinya sama meski ditulis oleh sosok yang berbeda. Lelah tidak menemukan apa pun, Rhalemug men-shutdown komputernya.

Pasti ada celah, ia mengingatkan dirinya sendiri. Jakarov itu orang pintar. Pasti ia meninggalkan jejak.

Pagi itu atmosfer di Aracheas seolah berbeda. Para petani mengerumuni lantai atas untuk melihat orang nomor satu Aracheas.

Patizio menepati kata-katanya ia mendatangi Plante tidak lama setelah Rhalemug dan Citrio mengunjunginya.

Kedatangannya yang mendadak tentu membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa orang dengan kedudukan tinggi seperti dia mendadak muncul di Aracheas.

Ia meminta seluruh senior dan kepala lantai untuk berkumpul di lantai paling atas setelah berkeliling sebentar memandangi tanaman hidroponik yang nampak kurang segar.

Namun ia tidak berkomentar apa-apa. Orang tua itu semestinya mengetahui segala sesuatu hal yang terjadi di Aracheas melalui laporan para ketua tiap lantai.

Lebih dari dua puluh orang memasuki ruangan rapat Aracheas. Ruangan berbentuk kubah yang terbuat dari kaca-kaca sehingga siapa pun yang berada di dalamnya merasa sedang di tengah taman.

Ruang rapat ini jarang di gunakan. Kebanyakan para ketua mengunjungi Patizio secara langsung di kediamannya.

“Suatu proses dengan masalah merupakan hal yang wajar, sangat wajar,” katanya membuka pembicaraan. Seluruh orang yang ada dalam ruang rapat mendadak terlihat tegang. Patizio telah memberikan kata kunci di pembukaannya. Masalah di Aracheas.

“Hanya saja ketika informasi di belokkan, bahkan di pelintir sedemikian rupa tentunya akan menimbulkan ketidakadilan dan itu bukan hal yang baik”.

Alo memandangi permukaan meja di hadapannya dengan gelisah. Rhalemug berusaha tetap tenang meski tahu benar ke mana arah rapat ini. Ia merasa Alo memang harus mempertanggungjawabkan perilaku buruknya.

Beberapa senior lain saling lirik tanpa berbisik. Begitu pula dengan para ketua lantai di Aracheas.

Hanya Citrio yang terlihat acuh dengan rapat ini. Rhalemug manjadi bertanya-tanya apa apel di Frutikultur sudah menunjukkan tanda-tanda positif.
Semoga hormon yang sempat mereka berikan mampu memberikan hasil yang baik.

“Mari kita mulai dengan Farmakultur, ceritakan mengenai tanaman di sana, Marg,” pinta Patizio sembari membuka catatannya mengenai laporan lantai lima.

Marg merupakan ketua Farmakultur, seorang wanita yang sangat ringan tangan. Bukan dalam artinya senang memukul, namun tidak sungkan buat membantu.

Konon koneksinya dengan divisi kesehatan sangat baik. Di waktu senggangnya Marg bahkan sering mengunjungi divisi pelayanan kesehatan dan bertukar informasi mengenai penyakit-penyakit yang sedang melanda Plante.

“Aku harus minta maaf pada kalian semua, bahkan bangsa Generoro. Tanaman kami mengerdil dalam beberapa bulan ke belakang. Kemungkinan karena kelembaban air yang berubah. Aku sudah mengajak divisi penelitian untuk mencari tahu apakah dugaan tersebut benar”

“Di samping aku juga telah menghubungi Kalanya, ketua dari divisi kesehatan, memperingatkan kami mungkin masih belum bisa mengatasi hal ini dengan segera,” kata Marg dengan suara seperti kakinya tengah terjepit. Melengking, selalu begitu.

Patizio mengangguk. “Aku sudah menerima sample dari tanaman dari Farmakultur. Jhatatysa mengatakan sedang dalam tahap penelitian lanjut dan akan akan segera memberi kabar ketika menemukan sesuatu”.

Marg membalas anggukan Patizio.
Jhatatysa. Sepertinya Rhalemug pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?

Apakah dari buku yang pernah ia baca sebelum ini?
“Bagaimana dengan Olerikultur?” lanjut Patizio, menyingkirkan berkas Farmakultur dari mejanya. Berkas-berkas tersebut berbentuk digital. Seolah-olah muncul secara ajaib dari meja rapat.

Pemimpin lantai empat, Tarn segera bangkit berdiri. Padahal sebenarnya hal itu tidak perlu.

“Gulma dan hama!” serunya singkat. “Para petaniku kewalahan dengan pertumbuhan mereka yang pesat. Sayuranku dalam kondisi yang buruk!” Ia kemudian kembali duduk.

“Olerikultur menghadapi serangan ulat sayur dan juga kutu tanaman,” ujar Parizio memperjelas kata-kata Tarn. “Ulat daun mengakibatkan munculnya lubang-lubang pada daun. Untuk mengatasinya petani dapat dengan membuang telur-telur ulat yang biasanya terdapat pada daun. Dapat juga dengan penyemprotan insektisida”.

“Kami menggunakan insektisida dan gagal Pati!” seru Tarn frustasi.

“Aku tahu kau pasti telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan guna menyelamatkan sayuran kita,” timpal Patizio, tenang.

“Apakah penggunaannya tepat? Maksudku pemakaian pestisida dengan dosis yang tidak tepat dapat membuat hama menjadi kebal,” kata Rhalemug sembari berpikir mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Tarn menjawab, “Tentu saja! Kami selalu memerhatikan takaran dan selalu memantau reaksi tanaman kami terhadap zat-zat kimia”.

“Kukira kita memang sedang menghadapi masalah yang cukup serius. Citrio juga mengalami beberapa kendala, benar begitu?” sela Patizio menengahi.

bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 2 Nomor 1 Januari 2017
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa



Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free