MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 1 Nomor 4 Juni 2016


Sintesa Samiroonc
Apa yang mampu membuat hidup menjadi lebih bermakna di samping cinta?
Sahabat menjadi jawabannya. Ia adalah tali penolong ketika kau terjatuh

Hari sudah mulai larut meski pergantian waktu tidak pernah ada tanda ekstrim di Plante. Lampu-lampu selalu menyala menaungi seluruh penghuninya.

Memastikan mereka tidak pernah buta. Suatu dunia yang tidak mengenal gelap.

“Jadi sekarang kau sudah dapat pergi ke Schavelle sendiri”.

Alo memandangi tas berisi sepatu yang dibawa oleh Rhalemug dengan sorot mata yang tajam.

Bukan main kekagetan yang dialami Rhalemug. Alo ada di depan pintu rumahnya. Duduk tenang, nyaris tak menimbulkan suara. Pantas saja Rhalemug merasa ada yang berbeda dengan pemandangan depan rumahnya.

 “Alo...”. sapa Rhalemug, agak gamang. “Tidak kah kau ingin masuk ke dalam? Aku akan membuatkanmu secangkir kopi hangat”.

Rhalemug mengeluarkan kunci flatnya. Namun gugup karena kehadiran Alo yang mendadak, ia menjatuhkan kuncinya. Sebelum menyentuh lantai, Alo dengan sigap mengambil kunci milik Rhalemug kemudian memasukkannya ke pintu dan memutarnya.

Karena bentuk tempat tinggal yang sama, dan kenyataan bahwa Alo sudah beberapa kali menginap di flat miliki Rhalemug, dengan mudah Alo dapat menyalakan lampu.

Tanpa perlu dipersilahkan, Alo duduk di ranjang milik temannya sementara Rhalemug melepaskan jaket bepergiannya juga sepatunya yang usang. Ia akan segera membuang sepatu itu begitu Alo pulang.

“Kau bahkan tidak pernah menerima ajakanku untuk mengunjungi Schavelle bersama. Jadi memperluas dunia yang kau maksud sama dengan berteman dengan orang-orang asing dan melupakan orang lama”.

Alo kembali membuka pembicaraan dengan nada tidak suka dan cenderung menyerang untuk menyalahkan.

“Astaga Alo! Aku tidak percaya kau mencurigaiku seperti itu! Yang kumaksud dengan memperluas dunia hanya pergi ke tempat lain di luar Aracheas. Aku sudah terlebih dulu membuat janji dengan Glaric”. Rhalemug menjelaskan sembari memasukkan keempat tangannya ke kantong pakaiannya.

“Aku hanya takut kalau-kalau pemikiran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih ekstrim!” bentak Alo tajam.

“Seperti Jakarov si Pemberontak?” Nada bicara Rhalemug ikut-ikutan meninggi. Mungkin lelah secara fisik membuatnya kehilangan sedikit kontrol emosi.

“Kurasa waktu itu aku memang sudah keterlaluan”. Alo menyentuh pelipisnya. “Sudahlah. Tujuanku kemari sebenarnya untuk berbaikan, bukannya berdebat”.

“Tempat tinggalku akan mendapatkan giliran untuk pengecekan dan renovasi. Selama proses itu, aku berpikir apakah sebaiknya aku dan Ahora tinggal di tempatmu”.

Hati Rhalemug mendadak berkecamuk. Ahora adalah adik dari Alo, sekaligus cinta pertama Rhalemug yang rahasia.

Rahasia karena Rhalemug tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Saat itu Alo adalah sahabat satu-satunya dan ia merasa tabu untuk mengakui jika sebenarnya menyukai adik dari sahabatnya sendiri.

Terlebih saat itu Ahora masih kecil. Berbeda dua puluh tahun dari Rhalemug, Ahora saat itu masih bersekolah.

Tentunya bukan sekolah yang sama dengan Rhalemug mengingat gadis itu tidak tertarik dengan tanaman.
Meski terlihat lembut, Ahora memantapkan diri untuk mempelajari bidang komputerisasi.

Bidang yang seratus persen berbeda dengan keluarganya yang turun temurun menjadi aparat penjaga perdamaian juga berbeda dengan pilihan Alo yang dari semenjak sekolah juga sudah memilih pertanian.

Rhalemug mengagumi gadis itu. Bukan hanya secara fisik, namun secara kecerdasan dan keberaniannya menentukan pilihan.

Karena Rhalemug di umur yang sama belum benar-benar mengerti profesi apa yang diinginkannya dewasa nanti. Petani dan ladang menjadi satu-satunya jalan ketika kebimbangannya tidak menemukan jawaban.

Sepuluh tahun, dan Rhalemug tidak pernah bertemu gadis itu lagi. Pekerjaan seolah-olah muncul menjadi sebentuk halangan sempurna bagi Rhalemug untuk mendekati Ahora.

Perbedaan divisi ternyata memiliki dampak yang sangat besar. Ia bahkan tidak pernah benar-benar mengerti, setelah lulus studi komputerisasi, profesi macam apa yang mungkin dilakukan oleh Ahora.

Waktu berganti. Tahun ke tahun membuat Rhalemug merasakan Ahora hilang dari pikirannya, seolah otaknya hanya dapat diisi oleh tanaman.

Di samping itu ia juga belum pernah jatuh cinta lagi setelah rasa itu pergi. Berkelana seolah tak pernah akan kembali.

Namun sekarang kenyataan akan berbalik. Alo akan membawa Ahora untuk tinggal di flatnya selama beberapa saat.

Minimal sekitar satu seminggu jika perhitungan Rhalemug tidak salah. Jika beruntung, pengecekan dan renovasi dapat berjalan lebih panjang.

Tunggu.... apakah baru saja Rhalemug berpikir jika Alo dan Ahora dapat lebih lama tinggal di rumahnya merupakan sesuatu keberuntungan? Apakah ini artinya Rhalemug masih memiliki rasa yang terpendam pada gadis itu.

Kira-kira seperti apa Ahora sekarang? Mungkinkah kedewasaannya turut mematangkan kecantikan yang sudah dimilikinya semenjak masih kecil?

“Tentu saja Alo, aku sangat senang kau memilih flatku yang jelek untuk tinggal. Aku akan merapikan ruangan yang tidak kugunakan. Ahora tentunya tidak ingin tidur satu ruangan dengan kita”.

“Maaf merepotkanmu. Aku pribadi cukup kaget ketika mengetahui jadwal pengecekan tempat tinggalku bersamaan dengan Ahora”.

“Tidak masalah. Aku juga pernah menginap di tempatmu”.

“Iya, saat ibuku berulang tahun ke dua ratus enam,” konfirmasi Alo.

“Waktu itu beliau membuat banyak kue untuk kita berempat. Aku sangat senang waktu itu kau mengundangku datang,” cerita Rhalemug. “Kau tahu aku benar-benar merindukan adanya keluarga”.

“Pasti berat rasanya menjalani hidup di Plante seorang diri. Aku tidak tahu apakah aku dapat bertahan tanpa Ahora setelah kematian ibuku”.

Rhalemug mendekati konter tempatnya menaruh gelas dan mengisi gelas itu dengan air putih. Penduduk Plante percaya Verzacasa merupakan sumber dari segala air di dunia ini.

Rhalemug sendiri tidak begitu mengerti apakah pendapat itu benar karena seluruh flat memiliki saluran air minum sendiri-sendiri, air dapat muncul dari sebuah keran tanpa memahami sumbernya dari mana. Mungkin ia harus mengecek di mana hulu dari Verzacasa suatu hari nanti.

Ia memberikan gelas itu pada Alo yang diterima dengan sumringah. “Untung kau ingat untuk memberiku minum! Tadi aku menunggumu agak lama. Aku hampir pingsan karena dehidrasi”.

“Kau kan bisa mengingatkanku Alo,” gerutu Rhalemug, namun sembari tersenyum lebar.

“Rhalemug, kau selalu berkata bahwa ayahmu meninggal karena wabah cacing. Namun aku tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ibumu. Setelah sekian lama berteman denganmu aku baru memberanikan diri untuk bertanya sekarang. Semoga pertanyaanku tidak membebanimu”.

Rhalemug memasukkan keempat tangannya kedalam saku. Sesaat kemudian aroma kesedihan menguar dari dirinya.

“Aku tidak pernah berpikir untuk menyembunyikan apapun Alo. Seandainya ada yang bisa kuceritakan tentang ibuku padamu pasti sudah kuceritakan jauh sebelum kau harus bertanya. Ayahku tidak pernah mau membagi cerita yang menyinggung soal ibuku”.

Alo terdiam, tidak tahu harus memberikan komentar apa. Tidak mengetahui identitas orang tua sendiri seolah adalah hal yang mustahil. Namun siapa sangka hidup terkadang memang kejam.

“Pasti ada alasan khusus,” kata Alo menenangkan setelah keheningan selama beberapa menit.

“Iya, kurasa ayahku juga tidak membenci ibuku. Pasti ada alasan khusus mengapa ia tidak membagi cerita mengenai ibu padaku. Aku hanya selalu berusaha menerima penjelasan ayahku apa adanya. Kebanyakan kami hanya membicarakan tanaman,” aku Rhalemug yang berusaha menyembunyikan suara paraunya.

Alo mengangguk, dalam hati ia agak merasa menyesal telah memberikan pertanyaan bodoh pada temannya.

“Tidak peduli siapapun ibumu, pasti ia orang yang hebat. Maafkan aku menyampaikan pertanyaan tadi”.
Rhalemug mengangguk namun tidak memberikan komentar. Ia takut jika ia bersuara, kesedihan itu akan semakin nyata.

Alo pamit pulang mengingat hari sudah terlalu larut, sementara besok mereka harus bekerja. Meski sama-sama petani, Alo tidak tinggal di Sintesa Samiroonc, ia ada di Daerah Capuill. Menempati rumah yang tadinya milik orang tuanya.

Berbicara mengenai orang tua, Rhalemug menyadari mengapa Alo sangat membenci kata-kata memperluas dunia atau hal-hal yang bisa dikaitkan dengan Jakarov si Pemberontak.

Hal itu tidak lain karena ayah Alo menjadi korban saat pengamanan Jakarov berlangsung. Ayah Alo merupakan aparat penjaga perdamaian di Plante.

Mungkin Rhalemug harus berhati-hati dalam pemilihan kata-katanya supaya Alo tidak salah pengertian. Bukan salah Alo yang sensitif dengan isu-isu semacam itu.

Jakarov si Pemberontak. Siapa yang tidak tahu namanya di Plante? Semua orang pernah mendengarnya meski kejadiannya sudah berlalu lama.

Jika tidak salah ketika Rhalemug masih duduk di bangku sekolah. Orang itu dinilai sebagai satu-satunya penjahat yang pernah tinggal di Plante.

Karena kejahatan tertinggi di Plante bukanlah penyiksaan atau pembunuhan. Tapi perilaku yang dapat membawa Plante dalam kehancuran.

Dari desas-desus yang tersiar, Jakarov berencana membuat Plante berhenti agar dapat memulai suatu dunia yang baru, dunia yang lebih baik daripada yang sekarang. Yang memungkinkan Generoro  berkembang biar lebih banyak dan kembali mengalami evolusi secara fisik.

“Kebebasan berawal dari sebuah pemberontakan!”

“Pernahkah kalian bermimpi dapat kembali merasakan hujan? Kita sudah lama terlena dalam mimpi dan tak pernah berusaha untuk meraih mimpi-mimpi kita yang indah! Maka dari itu aku berusaha membangunkan bangsa yang telah lama tertidur ini”.

Berbicara mengenai impian, Rhalemug sempat mengira ia telah mengetahui impiannya dan merasa telah mencapainya. Bertani dan berladang, tanaman seolah merupakan elemen terpenting dalam hidupnya.

Namun kunjungannya ke Schavelle dan ingin merasakan hujan seperti yang dikatakan penjual toko, juga Jakarov, menggelitik rasa ingin tahunya.

Seperti apa sebenarnya hujan? Glaric menyebutnya sebagai kondisi di mana air turun dalam jumlah yang besar dari langit. Dari mana sebenarnya air itu datang, dan apakah hujan akan terasa sakit ketika mengenai kulit?

Mungkin ia harus meminjam buku mengenai hujan, atau meminta Glaric untuk menjelaskannya.

Berbagai pikiran berkelebat di benak Rhalemug. Namun ia harus mulai memikirkan bagaimana ia harus merapikan rumahnya yang sudah lama tidak diurus. Ia tidak ingin para tamunya merasa tidak nyaman tinggal di flatnya.

Rasanya Rhalemug tidak sabar menunggu bulan depan untuk segera datang.


*
Mimosa Paradiamo
Rahasia selalu menarik perhatian
Bukan karena informasi penting yang tersimpan di dalamnya. 
Tetapi karena tidak semua orang boleh mendengar bisikannya

Aracheas merupakan Ladang Pertanian Plante. Segala pasokan makanan ke seluruh penjuru dunia berasal dari sini.

Mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, dedaunan segar, buah, bahkan obat-obatan.

Dengan demikian penamaannya telah tepat, dalam Bahasa Bangsa Generoro, Aracheas berarti tanah surga.
Terdiri atas tujuh tingkat, di mana tingkat teratas para petani menggunakan sistem hidroponik untuk membudidayakan tanaman.

Satu tingkat di bawahnya digunakan untuk pembenihan berbagai biji tanaman.

Meluncur ke tingkat paling dasar dari Aracheas, terdapat sungai Verzacasa. Sumber air kehidupan, di mana seluruh tanaman mendapatkan kehidupannya.

Jika hari sudah agak siang biasanya beberapa anak kecil yang belum bersekolah maupun yang baru pulang sekolah akan mengunjungi Aracheas untuk membantu mencabuti gulma-gulma atau iseng saja mencari belalang.

Rhalemug biasa memandangi mereka bermain-main di antara tanaman sembari bekerja. Terkadang ada beberapa di antara mereka yang nakal, memetik buah yang hampir ranum kemudian memakannya.

Mayoritas anak-anak yang bermain di Aracheas adalah anak dari petani. Hal itu mengingatkan Rhalemug pada dirinya semasa kecil. Ia suka memerhatikan ketenangan ayahnya ketika merawat tanaman.

Menunggu tanaman baru muncul dari biji merupakan hal yang sangat disukainya sangat kecil. Rasanya aneh saja. Biji yang terkesan sudah kering seperti mati sekali pun terkadang ternyata masih bisa memunculkan tunas.

Namun kebahagiaannya selama masa kecil tidak hanya terhenti di situ. Ia sangat suka bermain di sungai Verzacasa.

Rhalemug sangat suka menceburkan kakinya ke sungai yang dangkal itu. Airnya yang dingin seolah tidak menjadi masalah untuknya. Belum lagi ketika ia melihat ikan-ikan kecil berenang santai di antara kakinya.

Jika sedang bersemangat, Rhalemug tidak akan segan membantu ayahnya menyirami tanaman. Alat penyiram tanaman ukuran kecil dibelikan ayahnya ketika ia berulang tahun keenam.

Air yang bisa ditampungnya tidak banyak, hal itu disesuaikan dengan tenaga Rhalemug waktu itu.

Karena hanya bisa membawa air dalam jumlah sedikit. Rhalemug harus berlarian bolak balik antara area tanaman yang sedang di sirami dan sungai Verzacasa.

Tanpa perlu bersekolah sebenarnya Rhalemug sudah hapal benar area pembagian penumbuhan tanaman di Aracheas. Namun pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak di Plante.

Sehingga ketika menginjak usia delapan belas ia harus bersedia mengurangi waktunya mengunjungi ladang dan berteman dengan buku-buku digital.

Sebagai anak petani yang masa kecilnya sudah dihabiskan di ladang, pendidikan tentunya tidak pernah menjadi hal yang menarik bagi Rhalemug.

Meskipun jarang belajar, pengetahuan Rhalemug sudah cukup matang dengan pengalamannya berladang.

Belum lagi ayahnya yang setiap hari mengajaknya bicara mengenai tanaman. Bagaimana Plante, sebentuk dunia tanpa matahari mampu membuat tanaman tumbuh dan melakukan proses fotosintesis secara sempurna.

Bangku sekolah tidak berlalu tanpa arti, di sekolahnya, Rhalemug buat pertama kalinya memiliki teman baik. Alo yang bukan merupakan anak petani menjadi teman sebangkunya.

Rhalemug banyak membagikan pengetahuannya mengenai tanaman pada Alo. Sebaliknya Alo banyak mengajarinya mengenai Peraturan Plante.

Sebenarnya Rhalemug sangat kaget ketika mengetahui ayah Alo adalah aparat, penjaga perdamaian di Plante.

Namun perbedaan itu ternyata tidak menjadi masalah apalagi setelah melihat sendiri Alo benar-benar ingin memperdalam pengetahuannya mengenai tanaman.

Seorang anak yang tidak berasal dari keluarga petani tentunya tidak memiliki masalah untuk menjadi seorang petani ketika ia benar-benar memilih jalan berladang.

Nilai-nilai Alo selama masa sekolah tidak pernah berada di atas Rhalemug. Namun siapa sangka kesuksesan karier tidak ada hubungannya dengan kesuksesan akademik seseorang.

Mungkin karena keuletannya, mungkin karena sikap dominannya, Alo selalu ditunjuk menjadi pemimpin beberapa proyek di Plante. Kebiasaan itu membuat orang benar-benar berpikir bahwa ia memang ditakdirkan untuk menjadi orang besar.

Tapi itu bukan masalah. Ia mencintai tanaman juga Archeas tanpa peduli jabatan.

Semenjak kecil Rhalemug  sudah mengerti bahwa hidupnya tidak akan jauh tanaman, tidak ada keraguan lagi.

Ia sudah mencintai tanaman sejak kecil dan bakat merawat tanaman sudah ia serap kuat-kuat dari ayahnya yang juga merupakan seorang petani.

Konon, kakek Rhalemug merupakan sosok dibalik pengembang sistem hidroponik di Plante dan merupakan orang yang membuat Verzacasa mengaliri Plante.

Entah sejak kapan Rhalemug merasakan keterikatannya pada tempat ini mulai mengendur. Tidak seperti biasanya, ia datang tepat waktu. Pahadal selama bertahun-tahun ia selalu datang lebih pagi, sekitar setengah jam sebelum jam berladang dimulai.

Pagi itu Alo muncul dengan garpu pengeruk tanah di tangannya. Dua unit. Satu untuknya, yang lain untuk Rhalemug.

Beberapa petani bertepuk tangan ketika melihat benda itu kembali datang ke Aracheas.

Sepertinya Alo ingin menegaskan bahwa proyek yang melibatkan Verzacasa ini merupakan sesuatu yang serius dan akan berdampak pada produksi Aracheas di masa depan.

Rhalemug memandangi benda itu selama beberapa detik. Ini bukan pertama kalinya ia melihat benda pengeruk tanah semacam itu. Ia bahkan sudah beberapa kali mengerjakan pembukaan saluran irigasi baru, dengan atau tanpa Alo.

Ia hanya berpikir, apakah mereka benar-benar perlu melakukannya. Maksudnya, mengapa Alo tidak mengubah letak penanaman saja. Toh dengan ditandainya musim panen, hal itu berarti tidak lama lagi musim tanam yang baru juga akan datang.

Sayangnya Rhalemug bukan ahli penampakan alam, ia tidak tahu apakah proyek ini benar-benar di butuhkan oleh Aracheas karena sebelum ada saluran ini pun mereka dapat menghasilkan makanan dengan jumlah yang mencukupi.

Setahunya, produksi Aracheas dari masa ke masa juga tepat sesuai kebutuhan.

Namun perintah adalah perintah. Sebagai bawahan tentunya ia harus melaksanakan tugas atasan. Lagipula jika benar Patizio yang merencanakan, pastinya saluran yang baru memang dibutuhkan.

Patizio dikenal dengan keahliannya mengelola tanah dan pencegahan penyakit tanaman. Oleh karenanya para regulator dan pemimpin pertanian yang sebelumnya memilihnya untuk menjadi pemimpin.

Sesungguhnya Rhalemug enggan mengakuinya, namun ia merasa idiot dengan kebanggaannya mengenai tanaman yang ia miliki selama ini.

Ternyata pengetahuannya tidak lebih dari segenggam pasir. Rasanya ia ingin segera ke perpustakaan dan kembali belajar. Menjadi anak-anak yang antusias karena keingintahuannya.

“Kau masih ingat dengan denah saluran baru yang waktu itu aku gambarkan?” tanya Alo sembari menyerahkan alat pengeruk tanah kepada Rhalemug.

Rhalemug mengangguk. Ia merasakan benda itu di tangannya. Agak berat, tapi tentu saja ia bisa mengatasinya.

Beban semacam itu bukanlah sesuatu yang baru yang harus dihadapinya. Bekerja di ladang membutuhkan fisik, itu berarti fisiknya sudah terlatih dengan baik selama bertahun-tahun.

“Bagus! Kita akan mulai mengerjakan saluran irigasi mulai hari ini, tepatnya setelah makan siang. Pagi ini kau boleh melakukan kotrol gulma”.

Rhalemug mengangguk sebelum berlalu ke gudang peralatan berladang. Di sana ia menemukan Glaric sedang memandangi cairan nutrisi menggunakan kacamatanya.

“Kupikir kau akan datang lebih lama lagi,” sapa Glaric ketika mengetahui Rhalemug muncul.

“Sepertinya kamu sedang menungguku,” sahut Rhalemug seraya memakai sarung tangannya. Mereka ada di tempat penyimpanan pupuk organik.

Bau yang tidak sedap menguar di udara, membuat siapapun yang tidak terbiasa dapat merasa pusing juga mual.

Glaric memberikan senyumannya.

“Aku ingin mengajakmu ke perpustakaan”.

“Kita harus bekerja, ingat? Beberapa hari belakangan ini aku melihat gulma. Jumlahnya meningkat dari biasanya,” terang Rhalemug. Dahinya agak berkerut memandangi pipa-pipa berisi tanaman di hadapannya.

Glaric mengeluarkan larutan nutrisi untuk tanaman dari lemari penyimpanan.

“Atau kita bisa ke sana saat istirahat. Sebentar saja,” sambung Glaric.

“Kau ingin berganti profesi?” Alo bisa mencekikku jika ketahuan aku pergi saat jam kerja,” tanya Rhalemug, curiga.

“Tidak,” bantah Glaric tegas. “Aku hanya ingin menemui Mozza”.

“Kau tidak ingin menjodohkanku dengan Mozza, bukan?”

“Astaga Rhalemug, kau pikir aku lupa kalau kau ini penyuka sesama jenis?”

“Enak saja! Maksudku kau bisa ke sana sendiri tanpaku!” protes Rhalemug sembari melemparkan gulma yang baru ia cabut ke arah Glaric.

Dengan gesit Glaric mengelak. “Tidak kena,” ejeknya. “Ayolah sobat, masa kau tidak mau menemaniku?”

“Kau bisa ke sana sendiri. Aku tidak ingin ikut campur. Jangan bilang kau ini orang yang suka minta ditemani saat melakukan pendekatan pada seorang gadis”. Rhalemug kembali melemparkan gulma ke arah Glaric.

Kali ini kena. Tapi Glaric memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. “Lagipula baru beberapa hari yang lalu kita mengunjungi Schavelle”.

“Jangan bilang Alo marah dan memintamu untuk tidak pergi bersamaku lagi,” ujar Glaric muram.

Rhalemug mencabut gulma lain kemudian menghentikan kegiatannya.

“Alo tidak mungkin melarangku seperti itu. Aku hanya berpikir waktu istirahat kita hanya dua jam. Jika berjalan kaki kita membutuhkan satu jam penuh supaya dapat sampai ke Schavelle”

“Jika menggunakan Shuttle Bus, kita membutuhkan waktu sekitar 40 menit pulang pergi belum ditambah waktu untuk menunggu di halte. Dengan demikian kita tidak memiliki banyak sisa waktu untuk menemui Mozza. Kecuali kau memiliki alat pemindah canggih...”.

“Aku punya!” selu Glaric tanpa menyembunyikan kepuasan dalam nadanya.

“Apa?” sahut Rhalemug tak percaya.

“Sebenarnya kita sedang berbicara teknologi. Aku hanya ingin memperlihatkan perpustakaan padamu dan menanyakan pendapatmu mengenai perpustakaan”.

Rhalemug bisa merasakan desakan yang muncul dari tiap kata-kata yang Glaric berikan. Seolah sesuatu yang besar akan terjadi, dan ia menjadi orang terpilih untuk terlibat di dalamnya. Ia memilih untuk tidak mendebatkan ide Glaric.

Seorang pekerja berjalan mendekati mereka, Rhalemug berharap tingkahnya tidak terlalu mencurigakan untuk orang itu.

Orang lebih mudah menghasut dari pada mendengarkan. Dan hal yang terakhir ingin Rhalemug peroleh adalah mendapatkan masalah.

“Sebaiknya kita bisa tepat waktu buat kembali bekerja,” bisik Rhalemug. “Alo dan aku harus mengerjakan proyek irigasi setelah makan siang. Kau tidak boleh membuatku menghilang dari Aracheas”.

“Tenang sobat, teman yang baik tidak akan mencelakakan temannya, bukankah begitu?” Glaric menepuk bahu Rhalemug kemudian beranjak ke area umbi-umbian.

Seperti kata-katanya minggu lalu mereka akan mulai memasuki masa panen mulai minggu ini.

Sementara itu Rhalemug tetap berkutat dengan gulma-gulma di tangannya. Jika tidak ditangani dengan baik, gulma-gulma itu akan mengancam panen tahun ini.

Sesuai pengetahuannya, tanaman pertama yang akan dipanen kemudian dilanjutkan dengan buah-buahan yang tumbuh dengan menjalar.

Tanaman di tingkat hidroponik akan berbunga secara hampir bersamaan dengan masaknya buah-buahan. Apabila para petani mampu mempertahankan bunga-bunga itu menjadi buah, mereka dapat menambah pasokan pangan secara signifikan.

Pekerjaannya untuk mencabuti gulma benar-benar menyita waktu lebih lama daripada yang diperkirakannya.

Ia tidak mengerti sejak kapan tanaman penghambat ini beranak pinak lebih cepat dari pada biasanya. Mungkinkah penggiliran tanaman tidak terlalu berdampak?

Rhalemug benar-benar tidak memiliki kemungkinan yang logis untuk peristiwa ini.

Para petani secara disipin telah melakukan tindakan preventif termasuk memberantas gulma di sisi sungai dan saluran pengairan juga menghindari penggunaan pupuk kandang yang belum matang.

Penggunaan herbisida juga telah memerhatikan takaran supaya tidak meninggalkan efek residu terhadap alam.

Rhalemug berusaha menyelesaikan makan siangnya secepat mungkin tanpa terlihat terlalu tergesa-gesa.
Untung makanan hari ini berkuah sehingga ia dapat segera menelan makanannya tanpa banyak kunyahan.

Setelah itu ia bergegas meninggalkan Aracheas untuk menuju Sintesa Samiroonc karena Glaric ingin menunjukkan cara cepat ke Schavelle di flatnya.

Ini sekaligus menjadi pengalaman pertama Rhalemug mengunjungi tempat tinggal Glaric.

Sesuai dengan peta yang diberikan Glaric, tempat tinggalnya hanya berbeda dua blok saja dari flat Rhalemug. Ia memeriksa kertas catatannya sekali lagi.

Memastikan tidak salah alamat karena seluruh flat di Sintesa Samiroonc seluruh bentuknya sama.
Rhalemug baru saja menghela napas panjang dan memutuskan untuk menekan bell ketika mendadak pintu di hadapannya terbuka.

“Masuk!” kata Glaric singkat.

Flat milik Glaric sebenarnya sama seratus persen dengan milik Rhalemug.

Namun tumpukan benda-benda dan kabel di sini membuat suasananya seratus persen berbeda. Berbagai benda yang hanya pernah dilihat Rhalemug di buku pelajarannya saat sekolah seolah disulap menjadi nyata.

“Glaric, apa maksudmu memintaku mengendap-endap kemari seolah kita akan melakukan tindak kriminal?” protes Rhalemug sembari berkacak pinggang.

“Pelankan suaramu Rhalemug. Aku hanya ingin menunjukkan penemuanku”

“Sebenarnya aku tidak benar-benar menemukannya, hanya memperbaiki benda yang sudah usang, termakan usia. Aku sudah mencoba mengoperasikannya semalam dan tidak kusangka alat ini sangat hebat!”

Pandangan Rhalemug menyapu keseluruh sudut ruangan. Berbagai benda aneh dengan lampu indikator berkedap-kedip seolah tengah mengawasi segala gerak-gerik Rhalemug di ruangan ini, membuatnya merasa agak tidak nyaman.

Belum lagi lilitan kabel yang terlihat berbahaya. Rasanya mustahil untuk keluar dari ruangan ini tanpa tersandung kabel.

Dalam hati Rhalemug bertanya-tanya apakah ini pekerjaan Glaric yang sebelumnya?

Hidup bersama mesin-mesin tak bernama dengan kemampuan yang hanya diketahui penciptanya.

Pendapatnya mengenai Glaric yang super cerdas benar-benar telah terbukti.

“Benda yang akan kuperlihatkan padamu ini bukan berasal dari pengetahuanku dari divisi energi. Aku banyak melakukan percobaan pembuatan mesin pendorong di sana’

“Harus kuakui ini merupakan hasil kerja kerasku untuk membongkar pasang barang, suatu hobi jika boleh kukatakan”.

Glaric berdiri dengan sikap formal. Keempat tangannya ia taruh di belakang punggung.

Matanya terpejam dan senyumnya mengembang. Mirip seorang pria yang mentalnya baru saja melewati masa-masa berat menunggu kelahiran putra pertamanya.

Kemudian Glaric membuka matanya dan menyodorkan satu tempat duduk tanpa punggung ke Rhalemug sebelum melanjutkan pidatonya.

“Plante sebenarnya merupakan dunia yang cerdas, di mana kita dapat mengirimkan data secara nirkabel. Ini bukan suatu keajaiban, atau mukjizat, semua yang akan kau lihat terjadi karena teknologi semata”

“Awalnya teknologi ini dapat digunakan oleh Seluruh Penduduk Plante. Namun seiring dengan pergantian peradaban, hanya beberapa yang dapat menggunakannya”.

“Apa itu nirkabel?” sela Rhalemug penasaran.

“Teknologi tanpa menggunakan kabel. Kita bisa mengirimkan informasi juga berinteraksi dengan orang yang ada di tempat yang jauh menggunakan alat ini”.

“Sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan bagaimana alat ini bekerja”

“Semalam Mozza sudah mengirimkan alamatnya, maka dari itu aku akan menyambungkan alat ini ke tempat Mozza. Perhatikan baik-baik sobat, hari ini kau akan melihat sejarah!” Glaric terlihat bersemangat.

“Kalau hanya ingin menghubungi orang lain, kau bisa menggunakan komputer yang ada di flat. Bisa video juga. Tinggal menyalakan televisi kemudian memilih channel untuk interaksi,” jelas Glaric.

“Beberapa orang menganggap televisi kita hanya menyajikan gambar-gambar bergerak yang aneh atau alat pengumuman saja, tapi sebenarnya itu alat komunikasi”. Tambahnya.

Rhalemug ingat bagaimana tampilan televisinya selalu menyajikan gambar yang bergerak lambat dengan sesekali memperlihatkan benda bulatan besar. Sangat besar mungkin berkali-kali lipat dari Plante.

“Terkesan sama, namun alatku ini memiliki jalur yang berbeda dengan yang ada di sentral. Memungkinkan kita untuk membagikan informasi yang sifatnya pribadi tanpa di ketahui para regulator. Aku menamainya Mimosa Paradiamo. Perhatikan bagaimana ia bekerja sobat!”

Glaric menekan beberapa tombol pada mesin yang ia maksudkan.

“Eh? Mengapa tidak ada yang terjadi? Aku yakin semalam aku bisa membuatnya berfungsi,” beber Glaric, frustasi. Ia bahkan melepas kacamatanya dan membersihkan menggunakan bajunya yang sebenarnya kotor.

“Apa kau yakin sudah menyalakan seluruh daya yang dibutuhkan? Atau mungkin ada tombol yang lupa kau tekan?” usul Rhalemug mencoba memberikan masukan jalan keluar.

Tapi mesin itu bergeming. Beberapa lama setelahnya seluruh lampunya mati. Glaric menekan-nekan seluruh tombol yang ada di mesin itu dengan frustasi.

 “Mungkin komponen di dalamnya ada yang bermasalah. Hal itu pernah terjadi pada televisiku, meskipun akhirnya aku memutuskan untuk tidak membawanya ke tukang reparasi”.

“Kau mungkin benar sobat, aku merasa tidak berguna dengan kejadian ini. Aku tidak berbohong…”

“Semalam alat ini menyala dan dapat menghubungkanku dengan orang di tempat yang jauh. Kawan lamaku yang kebetulan sedang ada shift malam di divisi energi”.

“Kau masih memiliki banyak waktu untuk memperbaikinya, Glaric,” ucap Rhalemug berusaha membesarkan hati sahabatnya. “Ketika alat ini sudah stabil, aku yakin penemuanmu merupakan salah satu mesin terhebat di Plante”.


*
Plante Dulu, Plante Sekarang
Sebagian orang mengklaim sejarah hanyalah masa lalu yang sudah tak perlu diapresiasi 
Mereka mengatasnamakan masa kini untuk menyerang, memelintir dan memerkosa sejarah

“Apakah Patizio yang memintamu datang ke perpustakaan?”

Aku sendiri tidak yakin apakah orang tua itu pernah mengunjungi perpustakaan, batin Rhalemug.

Rhalemug benar-benar kesal karena tidak dapat bertemu dengan Mozza. Ia malah bertemu dengan ibu-ibu separuh baya dengan kacamata dan make up tebal yang membosankan.

“Kau bisa membuat kartu member dan mulai meminjam buku. Meski tidak ingin meminjam, kami tetap mengharuskan pengunjung menjadi anggota,” lanjut si ibu-ibu itu lagi tanpa menunggu jawaban Rhalemug.
Ia sebenarnya tidak sedang memberi pilihan. Intinya seluruh pengunjung perpustakaan harus terdaftar.

“Boleh tahu apakah hari ini Mozza datang ke perpustakaan?”

Si ibu-ibu perpustakaan tadi membenahi blazernya dan menatap dengan garang.

“Mozza hari ini sedang libur. Kau tidak mengharapkannya selalu bekerja di tiap akhir pekan bukan? Kuharap kau kemari memang karena ketertarikan pada pengetahuan”.

“Aku memang ingin memperkaya pengetahuanku mengenai Plante,” timpal Rhalemug meluruskan maksud kedatangannya.

Memangnya ada yang salah jika ia menanyakan keberadaan kenalannya yang kebetulan memang bekerja di tempat ini.

“Dan kau bisa memberiku beberapa rekomendasi juga mengenai buku tanaman yang bagus”. Kata Rhalemug.

“Tentu saja aku tidak keberatan untuk membantu mengingat ini memang pekerjaanku”

“Ada banyak sekali buku yang bagus. Bahkan mungkin yang berisi pengetahuan yang kebanyakan orang tidak mengerti. Aku akan merekomendasikan buku-buku yang berkualitas padamu, termasuk buku non tanaman jika kau tertarik,” jawab si penjaga perputakaan itu, melunak.

“Bagaimana jika satu buku tanaman dan satu buku non tanaman per peminjaman?” usul Rhalemug.

“Ide bagus, mengingat kau memang hanya bisa meminjam dua buku per peminjaman,” tekan si penjaga perpustakaan kali ini sembari membenahi letak kacamatanya.


bersambung....


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 4 Juni 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage