MINDPORTER: Mindporting to Plante di An1magine Volume 1 Nomor 3 Mei 2016


MINDPORTER:
Mindporting to Plante
M.S. Gumelar


“Harapan?” tanyaku

“Iya” balas Zhemara.

Mendadak deru mesin menerjang

Dan memorak-porandakan ruangan sempitku.

Sekelebat mahluk berbentuk seperti pohon dan beberapa bagian tubuhnya bersulur bergerak gesit menarikku masuk ke alat transporttasi yang memiliki sebentuk bor di area depan dan gerinda di area samping-sampingnya.

“Ah ternyata tidak perlu lama menunggu bukan?” suara itu ku kenal, suara Zhemara.

“Siapa dia Zhem?” Tanya seseorang manusia yang mengenakan helm dan mengemudikan mesin tersebut.

Akhirnya aku melihat manusia, membuatku lega, “Theos…Atheos” jawabku.

“Waaah nama yang bagus” ucap Zhemara.

“Hah kau juga baru tahu? Kuharap dia tidak menyulitkanmu nanti, siapa tahu dia seorang mata-mata?” dengan suara penuh keraguan dari orang tersebut.

“Seorang Feline berjiwa kesatria” ujar Zhemara. Kemudian dia bergerak ke arah belakang, dan memegang alat yang terhubung di area luar alat transportasi ini.

“Feline?” gumamku, segera saja ku melihat refleksi diriku dengan seksama.

“Sial…” gumamku, setelah melihat wajahku, manusia harimau putih.

“Nanti kita diskusikan, beberapa golem penjaga mengejar kitaaaaa” ujar Zhemara histeris.

Kemudian dia menembak beberapa golem yang mengejar mirip seperti cumi-cumi terbang dan menembaki dengan senjata sinarnya ke alat transportasi kami.

“Jangan kuatir bos, membobol penjara adalah pekerjaanku, sudah 35 tahun aku melakukannya dan hanya tiga kali saja tertangkap” hiburnya.

“Tertangkap?” kataku.

“Hei… tiga kali selama 35 tahun itu capaian yang luar biasa, jangan terlalu membesar-besarkannya” teriaknya dengan wajah tidak senang.

Aku sebaiknya diam, aku perlu mengadaptasi diriku dengan cepat dengan situasi ini dan mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Kulihat Zhemara masih sibuk menembaki golem-golem yang mengejar, jumlah mereka lumayan banyak.
Sementara itu alat transportasi ini mampu mengebor menembus bebatuan dengan mengeluarkan sejenis sinar dan melaju dengan cepat.

Kemudian alat transportasi ini berhasil masuk ke area seperti pipa besar. Alat transportasi ini berbelok dengan tajam, beberapa golem tidak beruntung, menabrak dinding metal pipa dan hancur.

Tetapi masih ada golem yang mengejar, alat transportasi ini melaju kencang di pipa besar ini, setelah melewati titik tertentu.

“Sekaraaaaaaaang” teriak pengemudi alat transportasi ini dengan keras memekakkan telinga sembari menekan sesuatu.

Muncul pintu tebal dari pipa sehingga golem-golem tersebut menabrak pintunya dan hancur, beberapa golem yang selamat berhenti dan kembali ke arah asalnya.

“yeaaaaaaaaa” Zhemara dan pengemudi alat transportasi tadi berteriak kegirangan.

“Jebakan dan persiapanmu berhasil” ucap Zhemara.

“Namaku Dirman” melepaskan helm dan mendadak orang tersebut mengulurkan tangannya kepadaku, tangan satunya masih memegang kemudi yang berbentuk seperti bola mengambang.

Dirman, nama yang familiar bagiku, di suatu masa. Entah di mana.

“Kita belum jauh dari area kamp itu, walaupun telah lolos dari kejaran golem” Zhemara mengingatkan.

“Aaaah siaaaaal, kenapa kau selalu merusak suasana yang aku banguuuun?” Dirman kesal.

“Sebaiknya, nanti setelah sampai di tempat tujuan, kau ganti baju yang lebih pantas, biar Dirman tidak menggodamu” ucap Zhemara.

Menggodaku? Ah sial, aku memiliki sepasang payudara, aku feline wanita dan ada robekan besar di pakaian area dadaku serta celana  panjangku robek pula di area paha sampai ke pinggang.

Alat transportasi ini dari pipa yang besar tadi keluar ke area yang lebih besar, terlihat beberapa area seperti perumahan yang berbentuk unik tetapi tetap di dalam suatu kubah.

Kemudian alat transportasi ini mendadak melayang dan menembus area dan terlihat matahari yang cerah dengan awan-awannya yang indah.

Alat transportasi ini selain dapat menembus tanah, juga dapat terbang. Melayang di antara di atas kota indah, banyak sungai dan pepohonan unik yang berwarna ungu, hampir semua pohon berwarna ungu walaupun sepertinya beraneka ragam.

Setelah kuperkirakan melayang selama beberapa jam menurut waktu yang kukenal, kemudian alat transportasi tadi sampai di area pegunungan dan masuk ke air terjun.

Di dalam air terjun tadi ternyata tempatnya sangat luas dan seperti kampung kecil yang dibuat untuk persembunyian.

Alat transportasi yang kami naiki telah mendarat dengan sempurna.

Bergegas Dirman dan Zhemara keluar, kemudian aku bergerak menyusul.

Saat di dekat pintu keluar, Dirman mengulurkan tangannya. Aku terdiam sejenak dan kemudian menepisnya.

“Ah seorang feline sejati, mandiri” ucap Zhemara, entah itu pujian atau bukan, aku tidak peduli.

“Ha ha ha” Dirman tertawa kecut lalu menarik tangannya dan menunjuk sesuatu “Kita akan makan terlebih dulu di area sana”.

Aku melihatnya, demikian jelas ke arah yang ditunjuknya, dan penciumanku luar biasa tajam, mampu mengendus aroma makanan entah daging atau sayur, tetapi aromanya enak sekali datang dari area yang ditunjuk oleh Dirman.

“Ayooo” Dirman berlari, diikuti oleh Zhemara, aku pun mengikuti mereka.

Lariku terasa ringan dan lebih gesit. Lebih cepat dari yang pernah kuingat. Kami berlari melintasi penduduk lokal yang beragam dari species humanoid.

Kemudian kami berhenti di depan restoran kecil, tradisional tetapi rapid an nyaman, dekat aliran sungai kecil di sampingnya.

Dirman duduk terlebih dulu di kursi dekat air sungai tersebut, tempat yang sebenarnya sudah kuincar, tetapi sudahlah, aku bergerak pelan ke kursi lainnya yang ada di depannya.

Zhemara memesan makanan, aku juga tidak tahu harus memesan apa, kubiarkan Zhemara yang melakukannya.

Zhemara kemudian melihat ke arahku, dia tersenyum dan mendekatiku.

“Theos, di sini suasananya damai, kami kelompok pemberontak, gunung ini disebut Zciendur. Kampung ini Minaxkhasa, area ini diberi alat sejenis pengacak sensor kehidupan yang kuat, sehingga tidak terdeteksi adanya kehidupan di life detector pemerintah” Zhemara menjelaskan.

“Zhemara bergabung sebagai pemberontak di karena orang tuanya terbunuh sejak dia masih sangat kecil, sekitar usia delapan tahun” jelas Dirman.

“Aku sendiri bergabung karena pemerintah Planet Thragh permukaan bagian dalam ini telah membuat sengsara rakyatnya karena mendeklarasikan peperangan dan bersekutu untuk melawan alien dari frekuensi kesembilan dengan alasan mereka tidak memiliki tuhan” jelas Dirman.

“Perang suci yang bodoh!” teriak Dirman

“Aku tak peduli mereka menyembah kotoran sekalipun selama mereka baik menyayangi sesama lintas species atau speciesity, maka mereka bahkan lebih baik dari kita yang katanya memiliki tuhan tapi membunuh dan menghancurkan karena kita merasa yang tidak bertuhan itu jahat dan wajib dihancurkan” gerutu Dirman dan mendadak matanya memerah berkaca-kaca karena amarah dan kesedihan.

“Dirman juga orang tuanya terbunuh saat dia masih remaja karena peperangan ini” Zhemara berkata lirih tertahan.

Semua terdiam beberapa saat.

“Planet bagian dalam?” aku menggumam untuk memecahkan kesunyian.

Pelayan mengantarkan makanan, seperti menyodorkanku piring yang berisi semacam serangga besar dengan capit yang tampak kuat dan lebih besar di kaki belakangnya.

“Nah itu yang disebut Gorghy, rasanya enak, biasanya berada di tepian sungai Zciendur, dan uniknya hanya ada di area ini” Zhemara menjelaskan “Sengaja aku pesankan, agar kamu menikmati makanan khas tempat persembunyian ini”.

Zhemara benar, aromanya terasa kuat terendus oleh hidungku yang sangat sensitif ini.

“Oh ya kau tadi bilang planet bagian dalam? Hm… kau dari daerah mana? Apakah kau alien dari frekuensi lain yang diperangi oleh pemerintah error kami?” Tanya Zhemara.

“Aku tidak tahu…” jawabku.

“Jangan kuatir, kami pemberontak, kau aman bersama kami…” Hibur Zhemara.

“Planet Thragh ini terbagi menjadi dua permukaan, permukaan luar yang juga dihuni oleh berbagai species humanoid cerdas lainnya, dan permukaan area dalam, di mana mataharinya terus bersinar tanpa ada malam hari” jelas Dirman yang mulai tenang.

Kemudian pelayan datang lagi membawa makanan berbentuk kadal besar dengan lumuran saos rempah tertentu.
Dirman langsung menyantapnya dengan wajah yang merasakan enaknya makanan tersebut tanpa menunggu lainnya, amarah dan sedihnya mendadak sirna.

“Berbeda dengan di permukaan planetnya, karena rotasi planet maka ada siang dan malam” jelas Dirman.

“Matahari di dalam planet?” tanyaku.

“Ya, ada beberapa planet yang awal terbentuknya dimulai dari matahari yang besar, kemudian energinya mulai habis dan kerak bagian luarnya mengeras, sedangkan matahari yang di dalam intinya masih bersinar, sehingga tidak ada malam, selalu siang, banyak species reptil lebih suka tinggal di permukaan dalam” jelas Zhemara.

“Di masa lalu terjadi perebutan sisa-sisa energi matahari berupa minyak yang ada di kedua permukaan planet ini, yang awalnya dianggap sebagai minyak hasil fosil, ternyata peneliti kami mulai mengerti bahwa itu bukan fosil, sebab bila fosil hancur, akan cenderung terurai menjadi tanah” jelas Zhemara.

“Dan pusat planet ini ternyata ada di antara dua permukaan kerak planetnya” Dirman menambahkan sembari mengigit daging kadal besar yang dipegang oleh kedua tangannya.
*


Schavelle

Perubahan merupakan milik keabadian
Ia tetap berjalan. Dari suatu titik ke titik lainnya meski kau memilih untuk hidup dengan status statis.

Schavelle merupakan lokasi perbelanjaan di Plante. Pusat dari seluruh perdagangan. Beragam barang yang dibutuhkan tersedia. Juga barang-barang yang mungkin tidak pernah dibayangkan ada, terdapat di sini.

Salah satunya benda yang dipegangi oleh Rhalemug saat ini. Sebentuk benda memanjang. Gagangnya dari besi sementara di bagian lainnya terdapat kain yang sepertinya kedap air.

“Anda dapat membukanya seperti ini.” Si pemilik toko menjelaskan benda itu pada Rhalemug. “Payung. Leluhur kita menggunakannya ketika hujan datang.”

“Hu-hujan?” ulang Rhalemug tak mengerti.

“Kondisi di mana air turun dalam jumlah yang besar dari langit. Tentunya kita tidak pernah menikmati kondisi seperti itu lagi di Plante.” Glaric tiba-tiba saja sudah berada di belakang Rhalemug dengan kedua tangan bawah menjinjing plastik belanjaan.

“Bagaimana jika kita mampir ke kedai kopi di seberang sana? Aku ingin duduk sebentar.” Usul Glaric.

Rhalemug segera meletakkan benda yang disebut payung itu ketempatnya dan mengikuti Glaric keluar toko.

Mereka melewati jalanan Schavelle yang padat. Langit-langitnya lebih tinggi dari pada di area perkebunan. Lampu-lampu di sini juga gemerlap. Benar-benar suasana kota.

Mereka menunggu hingga lampu penyeberangan berubah menjadi hijau. Rhalemug mendapati kendaraan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Beroda dua. Si pengendara berdiri di papan yang ada di antara dua roda itu dan tangannya memegang stang untuk mengemudikan kendaraannya.

Sewaktu ia kemari bersama ayahnya dulu, Rhalemug tidak pernah melihat adanya kendaraan semacam itu di Schavelle.

Semua orang berjalan kaki, seperti dirinya sekarang. Untuk perjalanan jauh, penduduk dapat menggunakan bus yang disediakan para regulator.

Jika dulu bus-bus itu berwarna kuning, sekarang bis 90% terdiri atas kaca. Sangat modern. Benarkah dunia berubah sepesat ini sementara ia terus-menerus menghabiskan waktunya bersama tanaman dan memikirkan jumlah pasokan makanan dunia?

Selain karena malas untuk menempuh jarak yang jauh, Rhalemug tidak memiliki keinginan untuk mengunjungi Schavelle adalah karena menurutnya ia sudah mengenal kota itu dengan baik.

Ia tahu toko sepatu ada di dekat lapak pemilik tukang jahit, di mana di seberangnya ada toko yang menjual bunga-bunga segar dari Aracheas.

Diujung jalan terdapat toko kue dengan taburan permen warna-warni, sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan saat makan siang.

Mendadak ia kembali rindu pada ayahnya. Kerinduan yang memunculkan memorinya masa kecil di mana saat itu Rhalemug digandeng oleh ayahnya menyusuri trotoar Schavelle sementara tangan lainnya menggapai-gapai udara.

“Kita akan mencari sepatumu selesai beristirahat,” janji Glaric sembari meletakkan belanjaannya di atas kursi kosong.

Mereka sudah tiba di kafe yang mengambil konsep minimalis, mengingatkan Rhalemug pada suatu tempat yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya.

Bukan di Schavelle, namun desain ini benar-benar mengingatkannya pada sesuatu.

Namun memori itu hilang tidak lama setelah kemunculan memori tersebut. Rhalemug tidak bisa mengingat lebih jauh lagi.

Sebenarnya sudah berapa lama ia meninggalkan dunianya?

Ia memang ada di Plante, namun kepalanya hanya dipenuhi oleh Aracheas. Menyempitkan dunianya sendiri. Pilihan untuk menghabiskan hari-hari memang sangat memengaruhi kehidupan seseorang.

Mungkin kata-kata Alo tempo hari memang benar. Ia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Seorang wanita yang dapat mengisi kekosongan hari-harinya. Seolah ia hanya mendedikasikan hidupnya untuk bekerja, untuk tanaman.

“Cappuccino dan Blueberry Scone.” Glaric menyebutkan pesanannya.

Sementara itu Rhalemug mengernyitkan dahi sembari memandangi menu di hadapannya. Ia tidak benar-benar mengerti nama-nama maupun perbedaan kopi.

Oleh karenanya ia menyebutkan minuman yang gambarnya dinilai menarik. “White Hot Chocolate dan....” Ia kembali membolak balik buku menu menuju bagian makanan. “Almond Croissant.”

Saat itulah bel di pintu kedai kopi berbunyi. Rhalemug dan Glaric menoleh bersamaan ke pintu.
Seorang wanita dengan rambut agak ikal memasuki kedai, tidak sengaja seorang pegawai menyenggolnya dan menumpahkan kopi ke blousenya yang berwarna putih.

“Ma-maaf Machieri,” ujar si pelayan, terbata-bata.

Machieri merupakan panggilan penghormatan untuk wanita muda, tanpa mempermasalahkan status pernikahannya. Rhalemug sudah lama tidak pernah mendengar seseorang disapa menggunakan kata-kata itu.

Telinganya lebih mengenal istilah di bidang pertanian seperti Aklimatisasi yaitu tahap perlakuan penyesuaian lingkungan tumbuh tanaman setelah dari persemaian ke tempat pembesaran.

Auksin yang memberi hormon pertumbuhan pemacu akar, atau Dormansi tahap di mana benih berhenti tumbuh karena lingkungan tumbuh yang tidak sesuai.

“Aku ingin Carrot Cake Muffin dan Caramel Macchiato tersaji dalam satu menit dan aku janji tidak akan mempermasalahkan pakaianku yang kotor,” kata gadis itu tegas.

“Segera Machieri,” kata pelayan itu tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia kemudian bergegas untuk kembali ke dapur.

“Mozza!”

Tidak disangka, Glaric mengenal cewek tegas tadi. Gadis tadi menoleh dan mendapati Glaric berada di meja dekat jendela. Ia langsung menghampiri meja Glaric dan duduk di antara Rhalemug dan Glaric.

“Pelayan tadi sedang beruntung karena aku tidak memiliki waktu buat berdebat sekarang. Aku heran kenapa orang sekaku itu bisa bekerja di kedai kopi terbaik di Schavelle,” cerocos gadis itu begitu meletakkan pantatnya di atas kursi.

“Aku harus kembali ke perpustakaan sebelum pukul tiga atau hukuman. Tidak pernah kubayangkan, bekerja di tempat semacam itu juga menuntut ketaatan waktu yang tinggi.”

“Ini semua karena usulmu Glaric! Semestinya aku tidak memberiku usul untuk bekerja di tempat memuakkan seperti itu,” sambungnya matanya sembari melotot pada Glaric.

“Kau sendiri yang pernah bilang. Gerbang menuju pengetahuan merupakan hal yang krusial. Selama ini kita tidak memiliki koneksi untuk masuk ke perpustakaan. Jadi waktu itu aku berpikir kenapa bukan kau saja,” jawab Glaric enteng.

Mozza memindahkan rambutnya ke belakang bahu. “Kenyataannya jarang yang datang ke tempat itu. Sepertinya penduduk Plante mengalami deevolusi. Aku membenci orang-orang yang hanya memerhatikan divisinya dan acuh pada perkembangan lain. Semoga suatu saat mereka mati dengan damai dalam pekerjaannya.”

Rhalemug tersedak liurnya sendiri karena mendengar ucapan Mozza. Ia adalah orang yang dimaksud Mozza secara tidak sengaja, golongan yang acuh pada hal lain di luar divisinya. Pengetahuannya di luar tanaman bahkan mendekati nol. Benar-benar memalukan.

Dalam hati Rhalemug mulai merutuki pilihannya. Bekerja sepenuh hati memang baik, namun begitu keluar dari zona nyaman, kau akan merasa sangat bodoh. Seperti ia yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “hujan”.

Namun ternyata Glaric tidak menilai Rhalemug tengah merasa tertampar oleh kata-kata Mozza. Ia merasa Rhalemug tengah memintanya berkenalan dengan temannya.

“Tentu saja Rhalemug, aku akan mengenalkanmu dengan temanku yang menawan ini. Rhalemug ini Mozza, Mozza ini Rhalemug,” sahut Glaric bersemangat.

Kedua orang yang baru kenal itu saling berjabat tangan sembari menyebutkan nama masing-masing. Rhalemug bisa merasakan kalau Mozza sebenarnya tidak terlalu antusias untuk berkenalan dengannya, dan itu membuatnya merasa kikuk.

Mungkin sebaiknya tadi ia tidak menginterupsi, meski ia sebenarnya tidak ada niat untuk hal itu.

Pelayan datang membawakan pesanan Mozza. Hebat sekali gadis itu bisa mendapatkan pesanannya, padahal Rhalemug dan Glaric yang datang duluan juga belum memperoleh makanan dan minuman mereka.

“Kuharap kalian tidak keberatan karena aku akan menyantap hidanganku terlebih dulu,” kata Mozza sembari membersihkan garpunya menggunakan tisu. Dan mulai menikmati muffinnya.

“Silakan saja,” ujar Glaric, di mana pada saat yang bersamaan pelayan kembali untuk menghidangkan pesanan mereka.

Rhalemug melihat minuman pesanan Glaric disajikan dalam cangkir bening berbentuk bulat. Setengah minumannya terlihat berwarna coklat, setengah keatas berwarna putih. Kue pesanannya berbentuk kotak dengan taburan berry di segala sisinya.

Sementara pesanan Croissant Almondnya terlihat lebih kering dari kue Glaric.

Almond yang ditabur di atasnya terlihat sangat menggiurkan. Hal yang membuatnya senang adalah, ketika mendapati minumannya. Campuran coklat putih dan susu dengan topping es krim.

“White Hot Chocolate? Kusarankan lain kali untuk mencoba Peppermint Hot Chocolate atau Green Tea Frappuccino. Kau akan menyukainya!” seru Mozza setelah menelan muffinnya yang kedua.

“Eh...” Rhalemug merasa gugup karena diajak bicara oleh orang yang baru dikenalnya. “Akan aku pertimbangkan bila lain kali aku mampir ke kedai ini lagi.”

“Apakah mereka masih sering mengecek pekerjaanmu?” tanya Glaric setelah mengosongkan setengah gelasnya dan melahap habis Blueberry Scone-nya. Ia membenahi letak kacamatanya yang sedikit miring.

“Sudah berakhir beberapa tahun lalu. Kurasa aku sudah mendapat predikat pustakawati terbaik sepanjang masa. Tidak hanya membersihkan debu-debu di buku. Aku bahkan juga berusaha menulis buku.”

Rhalemug merasa Mozza secara kilat memberikan kedipan ke Glaric, seolah ada sandi rahasia di antara mereka.

"Untuk membuat waktuku lebih berkualitas saja sebenarnya. Kadang kita merasa jenuh dengan pekerjaan yang berulang-ulang dari waktu ke waktu, bukan begitu?” Gadis itu menambahkan.

Kejenuhan karena pekerjaan tidak berbeda dengan melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Rhalemug seolah mendapat pencerahan dadakan dari gadis ini.

Jika diperhatikan sebenarnya kata-kata Mozza cukup tajam, tipikal orang yang berani menyatakan pendapatnya. Meski begitu ketegasan dan keteguhan sering dinilai sebagai perilaku yang kejam dan kesombongan.

“Entahlah Glaric, kurasa dulu para regulator hanya berjaga-jaga. Mereka terlalu dihantui ketakutan. Seolah Plante merupakan tempat terbaik bagi Generoro.” Gadis itu menghentikan kata-katanya.

Menggigit-gigit bibir dengan gusar. Ia memilih untuk tidak mengingat-ingat masa lalu yang hanya diketahuinya itu.

Ia melirik jam dinding digital yang ada di Kafe dan berpamitan. “Baiklah, aku sudah selesai dan harus kembali. Aku katakan peraturan di perpustakaan itu gila. Memangnya siapa yang butuh tea time pukul dua hingga tiga sore?”

“Kuharap kau benar-benar menikmati pekerjaan baru di perpustakaan, Mozz.” Glaric ikut berdiri dan memeluk teman lamanya itu sebagai tanda perpisahan.

“Mampirlah ketika sempat,” Mozza menoleh ke arah Rhalemug,” Siapa namamu tadi? Aku harap kau juga mengunjungi perpustakaan. Aku memiliki banyak koleksi buku mengenai tanaman yang bagus.”

Glaric mengantar Mozza hingga pintu keluar dan menunggu temannya menghilang di balik tikungan sebelum kembali ke mejanya.

“Siapa dia?” tanya Rhalemug yang sudah selesai mengosongkan piring kuenya. Minumannya juga sudah tinggal sedikit.

“Mozza, temanku di pekerjaan yang lalu. Sepertinya ia juga dipindahkan sepertiku. Sekarang ia menjadi pustakawati.” Glaric membenahi letak kacamatanya kemudian memandangi gelas minumannya selama beberapa saat. “Kita dapat bertemu dengannya lagi bila mengunjungi perpustakaan.”

Tatapan itu mengingatkan Rhalemug, mengenai bagaimana ia bersikap setelah bertemu dengan Ahora. “Apakah kau menyukai gadis itu?”

Glaric memindahkan tatapannya dari bibir gelas. “Tentu saja! Mozza merupakan gadis yang memiliki pengetahuan luas juga pekerja keras. Bukan sembarang gadis cantik yang mengandalkan penampilan fisik. Banyak orang yang meremehkannya di awal, tapi diakhir banyak yang berhati-hati pada otaknya yang cerdas.”

“Banyak yang berpendapat gadis cantik biasanya tidak cerdas,” sambung Rhalemug setuju.

“Kuharap kau pribadi tidak memiliki stereotipe seperti itu, sobat!” kekeh Glaric. Meski tertawa, Rhalemug dapat merasakan kesedihan dari pancaran mata temannya itu.

“Jadi mengapa kau tidak mencoba mendekatinya, Glaric?”

Menurut Rhalemug segalanya akan menjadi lebih mudah jika seorang pria mengutarakan perasaannya. Supaya tidak terombang-ambing oleh ketidakpastian, tentunya.

Pastinya ucapan memang lebih mudah daripada perbuatan karena ia sendiri tidak pernah mengutarakan cintanya pada gadis yang ia sukai. Benar-benar omong kosong yang manis.

“Seandainya aku bisa menjangkaunya, sobat! Kau terkadang tidak menyadari hubungan berlabel sahabat dengan seorang wanita bisa menjadi hal paling memuakkan dalam hidupmu!” seru Glaric sembari tertawa lebar, seolah mengucapkan penghalang hubungannya tidak lebih dari sebuah lelucon murahan.

“Menurutku banyak sahabat berbeda lawan jenis yang mengharapkan sahabatnya jatuh cinta padanya. Bagaimanapun kita semua pasti menyukai sahabat kita, entah sampai tahap percintaan atau tidak.” Rhalemug mencoba memberikan dukungan.

Glaric terkekeh riang hingga kacamatanya sedikit melorot. “Kau benar, bahkan yang sahabat sesama jenis pun bisa berujung pada percintaan.”

Tanpa disadari, Rhalemug spontan memundurkan kursinya, berusaha menambah jarak di antara dirinya dan Glaric. Ekspresinya pasti sangat aneh sekarang.

“Hei! Jangan memberiku tatapan seperti itu sobat! Hatiku masih milik Mozza.”

“Siapa tahu kau biseksual, aku kan tidak pernah tahu,” cicit Rhalemug dalam volume yang rendah.

“Ide yang brilian, sobat!” Glaric bertepuk tangan kecil.

“Oke, mulai sekarang kau tidak boleh lebih dekat dari satu meter dariku.”

“Jangan begitu!” kekeh Glaric. “Lantas bagaimana selama ini kau memenuhi kebutuhanmu?”

“Aku selalu meminta tolong Alo untuk membelikannya untukku. Lagipula aku jarang membeli barang baru. Aku ini tipikal orang yang memakai barang hingga rusak baru berpikiran untuk membeli lagi.”

“Hingga sangat rusak!” seru Glaric membenahi pernyataan  Rhalemug.

Mereka beranjak ke toko sepatu khusus sepatu keselamatan kerja di Schavelle. Hari sudah sore sementara Rhalemug masih belum menentukan pilihan.

Sudah bertahun-tahun ia membeli model sepatu yang sama. Mulanya ia berpikir untuk membeli model yang sama lagi. Namun setelah melihat deretan model sepatu yang tidak pernah dilihatnya, ia menjadi bimbang.

“Harganya kurang lebih sama. Kau pilih saja yang sesuai dengan seleramu,” kata Glaric memberi masukan. “Atau kita bisa kembaran kalau kau mau.”

Rhalemug menatap sepatu milik Glaric. Perpaduan coklat dan hitam tidak menjadi favoritnya. Ia sebenarnya naksir dengan sepatu dengan sol warna biru dan tali senada di jajaran rak nomor dua.

Namun sepatu dengan aksen garis-garis hijau spotlight di rak enam juga menyita perhatiannya. Apa sebaiknya ia membeli dua pasang sepatu sekaligus. Namun bukankah itu berlebihan?

Lagipula ia tidak akan merasa percaya diri. Mungkin akan ada orang yang memerhatikan sepatunya dan berpikir bahwa Rhalemug sombong karena menghabiskan banyak uang untuk sepasang sepatu.

“Hei segera pilih sobat! Apa yang sebenarnya kau lamunkan?”

“Aku ambil yang warna biru,” cetus Rhalemug, memantapkan pilihan.

Glaric mengangkat alis ketika melihat Rhalemug menuju rak nomor dua dan mengambil sepatu yang ia maksud.

“Biru menggambarkan ketenangan, perdamaian, kesatuan, harmoni, kepercayaan, kebenaran, juga merupakan warna teknologi. Pilihan yang bagus, sobat!” puji Glaric atas pilihan sepatu Rhalemug.

Rhalemug membayar sepatunya dan mengambil bungkusan plastik yang di sodorkan oleh pelayan toko. Ia baru sadar, selama ini ia tidak pernah memerhatikan Glaric. Ia bahkan tidak tahu apa yang Glaric beli di toko barang-barang aneh tadi.

Tingkat keacuhannya pada sekitar sudah sangat parah. Sungguh pribadi yang acuh. Padahal Glaric sangat perhatian padanya. Bahkan memberikan pujian atas barang yang dibelinya.

Mendadak Rhalemug merasa bersalah atas sikapnya. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah Alo pernah merasa kesal atas sikapnya, mengingat Alo adalah orang yang paling dekat dengannya selama ini.

Jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di ladang. Persahabatan bertahun-tahun lamanya yang sudah terjalin semenjak bangku sekolah.

“Glaric, benda apa yang sebenarnya membawamu hingga harus jauh-jauh ke Schavelle hari ini?”

Rhalemug memberanikan diri untuk bertanya. Bila Glaric menunjukkan ketidaksenangan karena merasa privasinya terganggu, Rhalemug dapat segera memadamkan rasa keingintahuannya.

Jangan sampai hal sepele berdampak besar, seperti merenggangkan tali pertemanan, contohnya.

“Aku ingin kemampuanku dari divisi sebelumnya tidak menjadi tumpul. Beberapa eksperimen kecil untuk menciptakan sumber energi memerlukan alat-alat tertentu.”

“Tadi aku memberi beberapa hal saja karena sebenarnya aku sudah memiliki perkakas yang cukup lengkap untuk itu,” jawab Glaric. Ia membuka plastik belanjaannya dan memperlihatkan kumparan kawat juga dinamo.

“Jadi sebelumnya kau ada di divisi energi? Pasti kau orang yang sangat cerdas!” Rhalemug tidak menyembunyikan kekagumannya.

“Semuanya bisa dipelajari Rhalemug. Asal kau mendedikasikan waktu dan pikiranmu dengan baik, sebenarnya banyak hal yang bisa kita serap. Ngomong-ngomong kecerdasan itu relatif.”

“Kau tadi menyebutkan bahwa aku sangat cerdas, padahal  aku hanya memahami pembentukan dan perubahan energi saja. Bila kita membicarakan tanaman, aku tak mungkin menandinginmu,” Jelas Glaric.

Sungguh orang yang rendah hati, batin Rhalemug. Ia mulai membanding-bandingkan Glaric dengan Alo dalam pikirannya.

Alo merupakan orang yang sangat percaya diri, perfeksionis, dan keras kepala. Meskipun bukan orang yang pelit pujian, pujian yang Alo berikan tetap saja tidak setulus Glaric. Alo selalu memasukan unsur-unsur dominasi dalam perkataannya.

Rhalemug tidak tahu apakah hal itu sesuatu yang wajar atau bukan karena pada kenyataanya Alo memang bukan petani biasa.

Ia adalah tangan kanan, orang kepercayaan dari Patizio, pemimpin divisi Pertanian. Mungkin saja sikapnya hanya untuk menegaskan posisinya dalam divisi.

“Rhalemug, coba katakan padaku, apakah kau sudah mulai tertarik dengan hal-hal di luar divisi pertanian?”

Yang ditanyai terdiam. Glaric menghentikan langkahnya seperti yang Rhalemug lakukan. Menunggu jawaban dari pertanyaan mudah. Pertanyaan ya dan tidak.

Apakah aku tertarik dengan hal-hal di luar tanaman? Rhalemug membatin.

Jika pertanyaan itu disampaikan Glaric seminggu yang lalu, tanpa keraguan Rhalemug akan menjawab bahwa seluruh hidupnya ia dedikasikan pada tanaman.

Namun pemikiran itu perlahan berubah, terutama semenjak keputusannya untuk mengunjungi Schavelle.
Semenjak pertemuannya dengan Mozza. Menurut gadis itu, orang yang hanya memikirkan divisinya tidak lebih dari sekadar robot. Seolah tidak memiliki keinginan, mengerjakan pekerjaan yang diulang-ulang tanpa mengeluh.

Banyak sekali yang berubah dalam satu hari. Karena hari yang dilaluinya hari ini benar-benar berbeda.
Membukakan pikirannya mengenai hal-hal baru. Mengenai hal-hal yang tak pernah muncul dalam dirinya.
Hal yang selama ini tak pernah dipikirkan. Tidak pernah dipikirkan bukan berarti tidak eksis. Karena ia bukan Tuhan.

Oleh karenanya ia tidak akan ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Apakah kau tertarik dengan hal-hal di luar divisi pertanian? Rhalemug memutar pertanyaan Glaric dalam pikirannya.

“Ya Glaric, aku ingin belajar banyak. Hari ini kau menyadarkanku. Betapa sebenarnya aku ini makhluk bodoh. Tidak banyak yang kuketahui, namun aku telah menetapkan, bahwa aku ingin belajar banyak.”

“Aku senang mendengarnya. Banyak orang di dunia ini yang menganggap dirinya sudah super cerdas padahal yang mereka lakukan tidak lebih dari menyempitkan hidupnya. Mereka takut untuk keluar dari zona nyaman dan belajar lagi seperti anak-anak.”

“Aku juga lama ditahap itu. Menganggap telah memiliki segala pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk menjalani hidup. Ternyata aku salah.”

“Aku tahu kau bukan orang dengan pemikiran sempit, sobatku!  Terbukti dengan kesediaanmu buat pergi meninggalkan Aracheas yang sangat kau cintai itu untuk mengunjungi Schavelle. Tidak banyak orang yang berani melakukan apa yang hari ini kau lakukan, sobat!”

Rhalemug tersenyum.  Ia tidak tahu harus mengeluarkan kata-kata apa lagi untuk menunjukkan kepuasan atas pilihannya.

Hari sudah malam ketika mereka mulai melakukan perjalanan untuk kembali ke Sintesa Samiroonc.
Sebenarnya untuk menempuh antar kota, penduduk Plante bisa memilih. Pertama berjalan kaki, kedua dengan menggunakan Shuttle bus khusus. Hanya saja jamnya perlu diperhatikan agar tidak terlewat.

Karena Rhalemug dan Glaric tidak ingin menunggu bus, dan malas berjalan ke halte terdekat, mereka sepakat untuk berjalan kaki. Cara sama yang mereka tempuh untuk bisa tiba di Schavelle.

“Jadi kau sering kemari?” tanya Rhalemug memecahkan keheningan. Bepergian seharian ternyata melelahkan juga. Tidak jauh berbeda dengan bekerja seharian.

“Hampir setiap minggu. Kecuali Patizio menyuruhku untuk lembur. Aku suka untuk pergi ke perpustakaan. Membaca buku-buku atau sekadar melihat gambar-gambar.”

“Gambar-gambar? Gambar apa?” tanya Rhalemug penasaran.

“Beragam hal. Astaga Rhalemug, jangan katakan kau tidak pernah mengunjungi perpustakaan sebelum ini!” Glaric berkata dengan menggebu-gebu.

“Kita harus kembali ke Schavelle. Aku akan membawamu ke perpustakaan dan menunjukkan hal-hal yang ada di luar imajinasimu!”

“Entahlah aku tidak yakin apakah sebaiknya aku mengunjungi tempat asing semacam Schavelle kembali.” Rhalemug memandangi lantai di bawahnya.

Glaric mengangkat alis. “Memangnya kau tidak punya keinginan untuk mengeksplorasi tempat-tempat lain? Apakah ladang pertanian sudah terlalu nyaman buatmu? Kupikir beberapa saat yang lalu kau sudah bersemangat untuk mengunjungi tempat-tempat baru”

bersambung…


Cerbung ini ada di An1magine majalah eMagazine Volume 1 Nomor 3 Mei 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage