Komodo-External Instant Evolution di An1magine Volume 2 Nomor 9 September 2017


KOMODO: External Instant Evolution


Chapter 19

Siapa yang mampu benar-benar beristirahat saat kepalanya penuh dengan hal-hal buat dipikirkan? Apalagi ini bukan masalah sepele seperti galau karena ujian nasional, ini masalah negara.

Benar kata beberapa kata-kata bijak bahwa kebahagiaan itu sederhana, yaitu “bisa tidur dengan nyenyak”.

Para pasukan merupakan orang-orang biasa itu tidak akan berhasil melawan gadis gila yang sudah memiliki kekuatan di luar manusia normal. Presiden pasti kalah kalau mereka tidak membantu.

Meski kemungkinan untuk menang yang dimiliki kecil, mereka tetap akan berusaha maju. Menyatukan kekuatan dan menghadang sang pengincar tahta presiden supaya keinginannya tidak terwujud.

Sekitar pukul empat pagi mereka berkumpul kembali di ruangan. Maung Geulis sudah menyiapkan sedikit cemilan dan minuman hangat.

"Aku suka hotel ini. Ada pemanas air juga oven," katanya sembari menghidangkan sajiannya.

"Kau memiliki persiapan yang bagus," puji Selo.

"Aku tahu malam ini semua orang bakalan susah tidur. Sangat mendebarkan bukan?" sahut Maung Geulis lagi.

"Debar-debar menyebalkan," celetuk Maung Bodas.

"Kurang tidur pasti berimbas pada meningkatnya nafsu makan. Rasanya lapar," ujar Selo sembari memegangi perutnya.

"Aku punya beberapa makanan. Tapi kusarankan yang ringan dulu. Aku menaruh mereka di kulkas kemarin sore supaya tinggal dihangatkan saja," ujar Mau Geulis, bangga.

"Tahu Sumedang?"

Masakan Sunda, pikir Rangga. Tentu saja, legenda maung atau harimau memang berasal dari sana.

Konon maung merupakan metamorfosa dari Keturunan Prabu Siliwangi, Kerajaan Pajajaran. Diceritakan Prabu Siliwangi berubah menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng.

Legenda ini dipercayai kebenarannya oleh masyarakat di sekitar hutan Sancang. Kini Rangga tidak lagi percaya, karena ia sendiri yang bertemu dengan dua maung dalam hidupnya, sudah bukan kepercayaan lagi, tapi kenyataan.

"Apa saja yang penting mulutku segera mengunyah," sahut Maung Bodas di antara mengunyah kudapannya.
Tiga orang dari masa lalu yang sangat pintar membaur dengan gaya hidup masa kini. Mereka pastinya mengalami era tanpa listrik, makan harus dipetik, dan jika ingin daging harus berburu.

Kini banyak pertokoan. Listrik, komputer, internet dan berbagai alat internet lainnya yang dulu tidak pernah dibayangkan sekarang berada dalam genggaman.

Selo bermain game RPG menggunakan tabletnya. Maung memainkan ponselnya. Mungkin terasa aneh  jika mereka melakukannya empat ratus yang lalu.

"Jika kau bisa membawa benda-benda itu ke masamu, apa kalian akan membawanya?" tanya Rangga, iseng.

"Harus ada colokan tentunya. Mungkin Selo yang bisa mengisi baterai dari jarinya," sahut Maung Bodas terkekeh.

"Atau malah merusaknya," timpal Selo.

"Apakah menyenangkan bisa hidup lebih lama dari orang kebanyakan?" tanya Rangga, penasaran.

"Positif-negatif, tidak pernah terpisahkan," jawab Selo.

"Terutama ketika kau harus kehilangan orang-orang terdekatmu," jawab Maung Bodas.

"Atau harus berpindah tempat dan identitas," tambah Maung Geulis.

"Aku senang bisa melihat kemajuan manusia. Makin ke sini, sisi humanisnya makin kuat. Kau tahu dulu sedikit-sedikit berperang, seolah nyawa tidak berharga," ujar Selo, sedih. Ia pasti mengingat masa lalunya.

"Sama seperti gadis yang mengultimatum presiden itu. Tidak berperi kemanusiaan. Dia membunuh hampir seluruh orang di stasiun televisi yang dibajaknya. Tanpa ampun. Pokoknya yang melawan, mati," sahut Maung Bodas.

Maung Geulis juga bicara," Benar. Ia hanya menyisakan satu kameramen dan satu operator. Setelah mengultimatum, ia pergi begitu saja. Entah ke mana. Bersembunyi hingga saatnya ia datang kembali."

"Sebenarnya orang itulah yang kutakutkan datang pada kampanye Pak Selo di Bali, tapi ternyata dugaanku salah," ujar Rangga, parau.

Ia segera mengambil teh hangat yang sudah tersedia dan meminumnya.

"Kau mengenal orang ini?"

"Apa kau pernah melawannya?"

"Kekuatan apa yang sebenarnya ia miliki?"

Langsung saja ketiga orang itu memberondong Rangga dengan serangkai pertanyaan.

Rangga mengangguk. "Cleopatra menggunakan kekuatan dari Topeng Calon Arang. Ia bisa menggeluarkan energi bola sinar yang sangat besar, melebihi tubuhnya, dan melemparkannya ke musuh."

"Kau kalah," ujar Maung Bodas, lirih.
Rangga kembali mengangguk.

"Aku terpental beberapa kilometer jauhnya. Bahkan ketika pertarungan satu lawan satu pun dia lebih gesit daripadaku."

"Orang itu akan menjadi lawan yang tangguh," sahut Selo sembari mematikan tabletnya dan mendekati jendela, memandang ke luar dari jendela yang sengaja tidak ditutup gordennya.

Televisi di ruangan itu dibiarkan terus-terusan menyala. Siapa tahu Cleopatra akan muncul kembali.

Sementara para pasukan kepresidenan sudah berjaga-jaga di istana sejak ada ultimatum, dengan presiden berada di istana bersama keluarganya.

"Menurutmu apa dia akan muncul dengan jam yang sama, Rangga? Agar masuk berita pagi, maksudku," tanya Maung Bodas.

"Entahlah. Dia itu seenaknya. Aku sendiri kurang bisa memperkirakan apa yang ada dikepalanya," sahut Rangga.

"Karena kita ini pahlawan, dia penjahat. Cara pikir kita tidak mungkin sama," kekeh Maung Geulis.

"Kalau kita kalah, dia yang pahlawan, kita penjahatnya," sahut Maung Bodas.

"Aku tidak tahu berapa persen kemungkinan buat menang. Tapi yang jelas kita harus berusaha melawannya," desah Selo.

Hari itu terasa sangat lambat. Rasanya jarum jam enggan bergerak, waktu terasa sangat lambat. Akhirnya mereka turun buat sarapan pukul delapan dengan mata sedikit berkantung.

Meski begitu, mata mereka terus-terusan terpaku pada layar televisi. Semangat untuk mengobrol sudah mulai menguap, terlebih ketika siang sudah menjemput. Mereka kadang-kadang setengah tertidur di sofa.

Tidak ada yang mengajak bicara, Rangga memutuskan ke kamar. Toh, di sana juga ada televisi. Ia bisa menonton sembari bersantai dan menikmati pendingin ruangan.

Idenya diikuti yang lain. Mereka memutuskan masuk ke kamar masing-masing dengan menyalakan televisi. Tidak tidur dengan normal membuat badan lebih lemah. Namun mereka tidak benar-benar bisa tidur karena takut mendadak ada berita penyerangan Cleopatra.

"Aku benar-benar lelah. Kurasa aku akan tidur sebentar," desah Maung Bodas.

"Mungkin kita bisa bergantian? Supaya bila ada berita penyerangan, atau melihat ada baku tembak di istana, kita bisa segera ke sana."

"Kuharap ini bukan siasatnya untuk membuat orang-orang kelelahan dulu sebelum dia menyerang," ujar Selo.

"Cleopatra sungguh licik. Ia belum muncul hingga sekarang. Bahkan tebakan kita soal dia yang akan menyerang pagi hari, nihil. Aku takut ia benar-benar sedang mencari celah supaya orang-orang tidak melawannya dalam kondisi prima," ujar Maung Geulis.

"Maka dari itu kita harus beristirahat," sahut Maung Bodas.

"Kalian istirahat dulu. Aku masih tahan," sahut Rangga.

"Kau yakin?" tanya Maung Bodas.

Rangga mengangguk. "Aku masih bisa tahan. Kalau aku sudah mengantuk, nanti aku bangunkan kalian."

"O.K. Kami istirahat dulu," kata Maung Bodas.

Tidak ada orang di sekitarnya, Rangga sengaja bersantai di sofa. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam dan merasa mengantuk setelahnya.

Wajar saja mereka mengantuk. Rangga benar-benar tidak mengantuk, apakah itu tidak wajar? Entahlah tidak tahu.

Yang jelas ia merasa masih segar. Belum lelah meski kadang menguap, tapi tidak sering. Semalam ia tidur hanya sekitar dua jam. Tadi siang sempat tidur satu jam. Benar-benar kacau pola tidurnya.

Untuk mengurangi rasa bosan, Rangga mencoba latihan kecil-kecilan. Ia menahan tenaganya agar tidak terjadi insiden lagi.

Berhasil. Ia mengeluarkan semacam bola energi di telapak tangannya. Bersinar terang dan hangat.
Ini kah kekuatan menyerangnya? Mungkin, tapi masih belum kuat.

Rangga ingat Pak Made menyebut tenaga dalam yang dimilikinya sebagai "Ajian Panglebur Jagad". Sepertinya nama itu cukup cocok untuk kekuatan barunya.

Belum lagi artinya keren, penghancur jagad raya.

Biarpun kekuatannya masih baru, ia tidak berkecil hati. Karena tidak semua orang bisa melakukan apa yang dilakukannya sekarang.

Rangga berharap "Ajian Panglebur Jagad" miliknya bisa bertambah kuat dan membantunya dalam memberantas kejahatan.

Mulanya ia pikir bakal memiliki seperti kekuatan Selo. Mengeluarkan petir dari tangannya tapi tenyata berbeda. Ia menyukainya dan ingin membuatnya menjadi lebih hebat.

Belum besar saja lampu di sekitarnya sudah terpengaruh  gelombang energinya. Terang, redup. Ia segera menghentikannya dan mencoba lagi dari awal.

Karena merasakan gelombang eksperimen kekuatan Rangga, Maung Geulis terbangun dan keluar dari kamarnya. Ayahnya kelihatannya sangat lelah, akhirnya beliau bisa tidur dengan pulas.

"Wow! Mainan yang hebat!"

Rangga yang kaget langsung mematikan energinya.
"Kau membuatku terkejut."

"Ah! Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Ngomong-ngomong sudah tengah malam dan tidak ada serangan. Wanita itu benar-benar misterius. Apakah dia tidak memenuhi ucapannya sendiri?"

"Aku yakin dia tidak main-main."

"Lantas mengapa sepertinya Cleo tidak jadi menyerang?"

"Mungkin dia ingin mempermainkan orang-orang seperti kita terlebih dulu," sahut Rangga sembari mengangkat bahu.

"Kau istirahatlah. Aku sudah lumayan segar," usul Maung Geulis.

"Kau yakin?" tanya Rangga setengah tidak tega.

Maung Geulis mengangguk. "Istirahatlah."

Rangga mengikuti saran Maung Geulis. Berjaga-jaga saja.

Siapa tahu meski sekarang merasa segar, saat ada penyerangan dia malah mengantuk dan tidak bisa melawan penjahatnya dengan benar.

Sudah pernah kalah dengan kondisi badan yang baik, jangan sampai ia lebih mudah di kalahkan karena kondisi tubuh yang buruk.

Ia masuk ke kamarnya yang dingin.

Rangga yakin Cleopatra bakal menyerang. Ia menginginkan kursi presiden. Ia tidak sedang becanda. Tinggal waktunya saja kapan?

Yang jelas bukan hari ini, karena tengah malam sudah lewat. Tidak ada penyerangan dan Rangga dari jauh bisa mendengar pergantian shift para penjaga istana.

Derap langkah kaki mereka dan bagaimana suaranya. Rangga tahu mereka lelah.

Ia sendiri dan teman-temannya juga lelah dipermainkan oleh Cleopatra.

Jika dugaan Selo benar, wanita itu sedang menunggu para pasukan kelelahan, berarti mereka akan dihadapkan dengan situasi yang kurang menguntungkan.

Lagi-lagi Rangga tidak bisa tidur lama. Dua jam dan ia tersentak terbangun lagi. Setelah mencuci wajah, ia kembali ke ruang duduk. Televisi masih menyala sementara Maung Geulis tertidur di sofa.

"Hei," sahut Rangga pelan, membangunkan orang yang meski kelihatannya lebih muda darinya, sebenarnya lebih tua.

Maung Geulis langsung terbangun dan kaget karena ternyata ia tidak bisa membuat dirinya tetap terjaga.

"Aku sudah merasa lebih baik, kau kembalilah ke kamar," kata Rangga.

"Terima kasih," sahut Maung Geulis sembari mengucek matanya.

"Terima kasih juga sudah memberiku kesempatan buat beristirahat."
Rangga melirik ke arah jam selepas kembalinya Maung Geulis ke kamarnya.

Sudah subuh sekarang. Tidak lama lagi matahari akan bersinar dan ia akan menyaksikannya dengan secangkir kopi susu.

Seandainya mungkin, sebenarnya ia ingin bandrek saja.

Cleopatra masih belum menyerang, setidaknya televisi belum memberitakan apa-apa. Tidak ada penyerangan. Ia tidak melewatkan apa pun selama tidur.

"Kau tidak tidur?"

Waktu itu pukul lima dan Selo keluar dari kamarnya dengan mata masih merah.

"Tidur. Aku sempat bertukar posisi dengan Maung Geulis sebentar," ujar Rangga sembari memandangi minuman hangat.

"Apa ada perkembangan? Wanita itu muncul?"

"Sebenarnya lebih bagus dia tidak muncul."

"Menurutmu di akan muncul?"

"Aku ingin tidak muncul. Aku senang dia tidak jadi muncul kemarin."

Selo memandangi Rangga dengan mata masih sayu.

"Apa kau takut, Rangga?"

"Kadang aku hanya ingin tidak berhadapan dengannya."

"Kita akan mengalahkannya. Merebut kembali Topeng Calon Arang dan membuatnya mendekam dipenjara," ujar Selo menyemangati.

Tidak lama kemudian Maung Bodas muncul.

"Rangga kau ingin gantian? Maaf aku tidak bisa bangun sebelumnya. Tidurku sungguh pulas. Aku kelelahan," sahutnya sembari menggerak-gerakkan tubuhnya. Semacam stretching.

"Tidak, aku merasa segar," sahutnya, jujur.

"Ah! Kau segar seperti jeruk? Aku ingin minum jus jeruk," sahut Maung Bodas tidak jelas. Ia menyebutkan hal-hal yang simpang-siur di otaknya.

"Nanti kau bisa mendapatkan jus jeruk di bawah," sahut Selo sembari mengeluarkan cangkir untuk ikutan membuat kopi susu seperti Rangga.

"Sayang sekarang restorannya belum buka," gerutu Maung Bodas seraya duduk di sofa.

"Kau bahkan tidak menanyakan berita Cleopatra," ujar Selo.

"Aku akan merasakan energi gadis itu jika ada di dekat sini. Dia belum muncul, aku benar kan?"

"Aku yakin ini bagian dari strateginya," ucap Rangga lirih. Entah mereka dengar atau tidak karena berikutnya yang terdengar hanyalah suara televisi.

Berita pagi ini masih membahas soal Cleopatra yang tidak jadi menyerang.

Masyarakat bingung mendapati sosoknya yang tiba-tiba mengultimatum presiden kemudian dia tidak muncul sesuai ucapannya.

"Mereka berganti shift lagi," gumam Rangga.

"Apa?" tanya Maung Bodas.

"Pegawai sini tiga jam yang lalu. Pasukan presiden terakhir tujuh jam yang lalu. Kupikir mereka akan melakukan pergantian pasukan sejam lagi," sahut Rangga.

"Whoa! Pendengaranmu boleh juga, bung!" puji Maung Bodas.

"Kau juga bisa Maung, seandainya kau lebih sering terjaga dari pada tidur, seperti Rangga," gumam Selo.

"Aku tidak sekuat anak muda ini," kekeh Maung Bodas. "Tapi harus kuakui kau memiliki stamina yang bagus."

Rangga hanya mengangguk. Ia jadi ingin tahu berapa lama ia bisa benar-benar tidak tidur. Tapi buat merasa lelah, sepertinya ia sudah lama tidak merasakannya.

Maung Geulis muncul tepat saat mereka akan turun. Restoran buka pukul tujuh dan belum ada kejadian yang berhubungan dengan Cleopatra.

"Apa mungkin pagi ini?" sahut Maung Geulis bertanya-tanya pada ayahnya.

"Siapa yang bisa menebak dengan tepat? Tapi selalu ada kemungkinan," balas ayahnya seraya menekan tombol lift dan mereka berempat segera menuju ke bawah.

Sarapan kedua di hotel yang sama.

Mereka segera sibuk mengambil sarapan.

Meja yang sama, digunakan empat orang yang sama dengan posisi tak ada beda.

Mereka duduk dekat kaca sekaligus pintu keluar dan mulai mengacuhkan suara kucuran air dari kolam.

"Kurasa aku akan ke gym sebentar setelah ini," ujar Maung Bodas sembari memakan saladnya.

“Eh kukira para maung lebih suka makanan daging?” Rangga berkomentar.

“Kau pikir harimau atau singa tidak makan rumput?” Jawab Maung Bodas.

“Kau harus sering lihat National Geographic Channel Rangga” lanjut Maung Geulis.

“He he he maaf, salah duga” jawab Rangga nyengir.

"Kau berolah raga setelah sarapan?" Selo menengahi.

"Aku tidak mau otot-ototku loyo," balas Maung Bodas, santai.

Selo masih tidak habis pikir dengan gaya hidup temannya. Tapi ia tidak berkomentar lebih lanjut. Matanya kembali menatap televisi.

"Aku khawatir...."
Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, beberapa karyawan di sana mendekati Selo.

"Pak Selo?"
Selo menoleh. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ah! Ternyata benar. Kemarin kami masih ragu-ragu. Kami ingin berfoto bersama Bapak, kalau Bapak tidak keberatan," ujar salah satu dari tiga orang itu, menyampaikan tujuan mereka.

Penggemar Selo Adimulyo. Impak dari ketenaran yang ia peroleh setelah mencalonkan diri sebagai calon presiden Indonesia.

Tentu saja, wajahnya mudah dikenali setelah berbagai acara televisi yang dia isi. Juga baliho dan spanduk, serta kampanye ke daerah-daerah di tanah air.

Namun sekarang berita politik sudah bergeser ke Cleopatra. Berita soal kampanye presiden sudah tidak ramai lagi.

Ngiiiiing

Rangga melihat ke suatu arah, lalu melihat ke Selo. Setelah acara foto-foto selesai, Rangga teringat ada yang hilang.

"Ke mana perginya pengawal, Bapak?"

"Aku meminta mereka lebih banyak berjaga di lobby dan area luar hotel karena aku juga sudah bicara dengan pihak manajemen hotel ini supaya keberadaanku di sini tidak sampai terekspose." Jawab Selo.

Seekor burung masuk ke restoran dan hinggap di bahu Maung Bodas. Begitu tenang, seolah bahu itu adalah batang pohon.

Mereka baru saja ingin mengambil hidangan pencuci mulut ketika mendadak siaran televisi terganggu sehingga yang terlihat hanyalah warna-warna yang berjajar.

Tidak lama kemudian Cleopatra muncul dengan presiden di sampingnya.

"Halo Indonesia! Sesuai dengan janjiku, aku sudah memberi waktu buat presiden untuk mengundurkan diri secara baik-baik. Tapi karena dia menolak, jadi kubawa dia langsung ke sini sebagai bukti kalau penolakan tidak berlaku bagiku."

"Presiden kalian sudah ada di sini dan telah menyerahkan kekuasannya padaku dengan paksa!" katanya sembari menempelkan bogemnya ke wajah presiden.

Cleo menarik rambut presiden dengan kasar. Sehingga kepalanya mendongak ke atas. Cleopatra meludahi wajah pria berumur itu. Seolah dia adalah binatang.

"Mulai dari sekarang Ni Agung Sagung Cleopatra yang akan memerintah Indonesia. Ingat, aku presiden kalian. Mulai sekarang kekuasaan ada di tanganku! Bagi yang tidak setuju, temui aku di istana negara!"

Kemudian terlihat Cleopatra pergi, sementara presiden ditinggal di stasiun televisi dengan keadaan babak belur.

"Dia mencari celah, sungguh licik. Gertakannya bertujuan untuk membuat pasukan kelelahan," sahut Selo.

"Ia juga langsung terbang menculik presiden dan membawanya ke stasiun TV untuk melakukan siaran. Buktinya sudah sangat kuat. Sekarang dialah presiden Indonesia," geram Maung Geulis.

"Dan yang menyebalkan, dia benar-benar menyukai penyebaran berita pagi agar menyebar dengan kuat."

"Aku bahkan hampir tidak bisa mendengar gerakan terbangnya yang sangat cepat. Ternyata dengingan samar tadi berasal dari gadis itu. Ia akan menjadi lawan yang tangguh karena aku sudah kalah, tidak bisa mendeteksinya," kata Maung Bodas, murung.

“Kau juga mendengarnya?” Rangga menekankan dan melihat ke Maung Bodas.

Selo menoleh ke arah Rangga. "Ada yang ingin kau sampaikan?"

"Kurasa kita harus segera mengalahkan gadis itu. Aku tidak rela Indonesia di hancurkan oleh gadis gila," jawab Rangga mantap.

"Itulah mengapa aku suka ada anak muda di tim! Semangatnya membara! Ayo berangkat!" sahut Maung Bodas tertawa.

Mereka segera berangkat ke istana.

*

"Presiden baru kita sudah datang," Ucap Maung Geulis, sembari mengerutkan dahi.

Selo segera menggunakan penutup wajah. Semoga orang-orang tidak melihatnya sebagai penjahat. Karena ia tidak mau jati dirinya dikenali.

Bagaimana ternyata seorang calon presiden ternyata memiliki kekuatan super. Ia tidak ingin orang-orang tahu.

Sementara Rangga segera berubah dengan salah satu desain rancangan yang lain lagi sembari berlari.

"Kau keren juga, nak," komentar Maung Bodas yang sekujur tubuhnya sudah dipenuhi loreng harimau, loreng hitam dan putih, bukan oranye.

Sama seperti ayahnya, Maung Geulis juga memiliki loreng disekujur tubuhnya. Mereka sungguh keturunan dari Prabu Siliwangi, harimau putih, tidak diragukan lagi.

"Terima kasih," balas Rangga, singkat.

Selo berlari sangat cepat, seperti tidak terlihat. Rangga kagum dan berusaha mengimbanginya, Selo masih terlalu cepat, berlari secepat kilat, sepertinya level Rangga belum sampai ke sana.

Minimal lari Rangga bisa lebih cepat dari para maung, para maung  berlari dengan sesekali melompat layaknya harimau, Rangga akhirnya melambatkan dirinya dan menyejarjarkan kekuatan larinya dengan para maung.

“Langsung ke kamar presiden saja. Kalau kita berhenti di gerbang, kita bisa melukai pasukan-pasukan itu. Tujuan kita adalah Cleopatra, usahakan sedikit mungkin korban di luar itu," perintah Selo yang sepertinya sudah lama menunggu mereka.

"Siap!" sahut Rangga, Maung Bodas, dan Maung Geulis secara hampir bersamaan.

Menyelinap dengan cepat merupakan perkara mudah bagi mereka berempat.

Tidak perlu waktu lama untuk bisa sampai ke dalam.

Tapi belum genap langkah mereka di dalam istana, mendadak pengawal yang ada di dalam gedung memergokinya.

"Mereka ada di sini! Penjahat yang ingin merebut tahta presiden ada di sini!" serunya memanggil pasukan yang lain.

"Hah?" sahut Maung Bodas tidak terima.

"Kenapa justru kita yang dianggap penjahat?"

"Pengawal-pengawal ini tidak melihat berita. Mereka sedang dalam tugas. Aku yakin Cleopatra juga belum berkeliaran di istana. Ia sedang menikmati kemenangannya menjadi presiden, pagi ini," ujar Selo.

"Aksi diam-diam yang gagal," keluh Maung Bodas.

"Fokus saja ke Cleo."

Mereka memfokuskan diri untuk mencari tahu letak energi besar yang berasal dari Cleo.

"Di atas," sahut Maung Geulis mantap.

Mereka menghindari kejaran pasukan.

Salah satu komandannya sudah meneriakkan bahwa mereka akan menembak apabila para penyusup istana tidak berhenti.

"Bagus, sekarang kita penyusup," gerutu Maung Bodas sembari berlari dengan gaya harimau.

"Kurang lebih itu benar," kekeh Rangga. Lucu. Dalam keadaan seperti itu, ia bisa tertawa. Mereka tidak dalam kondisi nyaman sekarang.

Satu tembakan dilepaskan, tapi tentu saja empat orang ini lebih cepat dan mampu menghindarinya dengan mudah.

"Keadaan bertambah panas sekarang, saudara-saudara," celetuk Maung Bodas seolah-olah komentator bola.

"Itu dia ruangannya!" seru Maung Geulis mengarah pada pintu adat Jawa tengah yang kental. Ukiran-ukiran yang rumit menjadi salah satu maha karya pengrajin kayu Indonesia.

"Menurutmu mereka memesannya di Jepara?" kata Maung Bodas santai.

"Kau ingin pesan?" tanya Selo.

"Mungkin."

"Berhenti kalian penjahat!" seru salah seorang pengawal yang di belakang nya terdapat puluhan pengawal lagi.

"Kurasa kami bisa menjelaskan ini," sahut Maung Bodas menyeringai. Gigi taringnya berkilau tajam.

Prajurit-prajurit itu nampak ragu sebentar, kemudian kembali bersikap sangar.

"Kalian ini yang ingin mengultimatum presiden kan! Sebagai prajurit, kami akan melindungi presiden kami. Itu sudah sumpah kami!" seru prajurit itu lagi.

"Presidennya sudah ganti, kalian tetap mau melindunginya?" balas Maung Bodas tidak sabar.

"Jangan berkhayal kalian! Tembak!"
Rangga segera maju dan menerima serentetan tembakan dengan tubuhnya.

DAR DAR DAR

"Apa? Kebal?" sahut si kepala pengawal kaget.

Pasukan pengawal presiden nampak kebingungan.

Mereka merupakan kelompok yang melaksanakan pengawalan kediaman resmi Presiden dan Wakil Presiden.

Juga mengawal Kepala Negara RI dan Istana Negara, serta melaksanakan tugas – tugas protokoler kenegaraan.

Jadi sudah sepantasnya mereka melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat terhadap Presiden, mengantisipasi keadaan yang demikian mengkhawatirkan terhadap keselamatan jiwa Presiden.

"Penjahatnya sudah ada di dalam!" sergah Selo.

"Ah! Tidak mungkin!" sahut jenderal tidak setuju.

"Mengapa tidak coba kalian periksa? Kalian kan tidak memiliki akses untuk melihat berita selama bertugas," sahut Maung Geuling menyarankan.

“Mudah bagi kami mencelakai kalian, tapi kalian tetap segar bugar bukan?”

Melihat keempat orang aneh ini terlihat tidak ingin melukai mereka, sang jenderal setuju. Ia mengetuk pintu kamar presiden.

Cleo membuka pintu dengan senyuman miring.

Ia sudah menyiapkannya. Kostum khusus untuk menjadi seorang presiden.
"Sambut, presiden Indonesia yang baru!" serunya senang.

Tanpa aba-aba jelas dari jenderal, mendadak seluruh prajurit yang ada menodong Cleopatra dan menghadiahinya dengan rentetan tembakan.

DAR DAR DAR DAR DAR DAR

Ruangan dipenuhi oleh asap tebal. Beberapa pengawal batuk-batuk karena asap.

Setelah asap hilang, Cleopatra muncul tanpa terlihat terluka. Tergores sedikit pun tidak. Tanpa berkata apa-apa ia langsung mengulurkan tangan kanannya.

PYAAAAAAASH

AAAAAAARGH

Seluruh prajurit yang ada di sana terpental dengan badan gosong.

Cleopatra kemudian memandangi empat tamunya "Kuharap kalian lebih baik dari mereka," ujarnya sembari tersenyum. "Mau main keroyokan?"

"Keroyokan pun tidak masalah kalau lawannya wanita sakit jiwa sepertimu! Kau tidak pantas menjadi presiden Indonesia!" geram Maung Bodas.

Mereka pun menyerang. Selo bergerak secepat kilat dan mengeluarkan rentetan petir dari tangannya.

BLAAAAR BLAAR BLAAAAAR CTAAAR

Tapi gadis itu lebih ternyata gesit kecepatannya mampu melebihi kecepatan Selo.

Rangga merinding, kekuatan Cleo sudah melebihi yang pernah dihadapinya, keraguan melingkupi pikirannya.

Gerakan Cleo lebih cepat dan lebih lincah. Tidak satu pun serangan Selo berhasil mengenai targetnya. Bagi orang biasa, mereka seperti menghilang.

Para maung bengong tidak dapat melihat, tetapi mereka mampu merasakan energi kuat berseliweran, sehingga kepala mereka mampu ke arah gerak Cleo dan Selo walaupun tidak mampu melihatnya.

BLAR BLAAAAR BLAAAAAAAAAR

Serangan Selo semuanya meleset, malah membuat bangunan istana rusak, seperti diledakkan. Tembok-tembok rusak terkena serangan petir dari tangan Selo yang menggelegar. namun Cleopatra tidak terluka. Ia benar-benar cepat, dan menertawakan serangan Selo yang gagal.

Terlihat Selo seperti putus asa. Rangga masih mampu melihatnya.

Mendadak Cleopatra melompat berputar di udara dan detik berikutnya.

BRRUAAAAGH

Selo sudah jatuh ke lantai, tidak bergerak. Namun seperti kesulitan bernapas.

"Aku suka kecepatan dan kekuatan petirnya. Sangat cantik. Tapi sayang tidak mampu menggoresku walau sesentimeter," cibir Cleopatra.

"Jadi kau merasa hebat? Kekuatan pinjaman saja kau sombong! Aku ingin lihat kau akan jadi apa tanpa kekuatanmu!" hardik Maung Bodas tidak senang sahabatnya dihajar seperti itu.

Maung Bodas dan Maung Geulis menyerang bersamaan dengan gaya menerkam.

WUT WUUT WUUUUTH

Kolaborasi mereka bahkan terlihat sangat indah, terkoordinasi. Ketika ayahnya menyerang, dengan cepat Maung Geulis memberikan serangan lanjutan.

Cleopatra sepertinya meremehkan karena gerakan para maung sangat lambat baginya. Maung Geulis mengincar wajah gadis itu. Ia harus dapat melepas topengnya dan seluruh neraka ini akan berakhir.

Cleopatra yang meremehkan para maung dibayar dengan cakaran tajam kuku Maung Geulis mengenainya dan darah segar muncul dari lengan Cleopatra.

Maung Bodas dan Maung Geulis terbawa kegembiraan bahwa mereka setidaknya berhasil membuat wanita gila ini terluka.

Cleopatra segera fokus, segera saja dengan sekali hentakan Maung Bodas dan Maung Geulis terlempar ke ruangan di sebelah  kanan.

Cleopatra nampaknya tidak mau merusak ruang tidurnya. Mereka meruntuhkan dinding yang semula sudah dirusak Selo dan menabrak berbagai perabotan.

Dua harimau sekarat.

Cleopatra memandangi musuhnya yang tersisa.

"Jadi kau ingin menyerah setelah melihat kekuatanku atas teman-temanmu ksatria berkostum? Kau mengingatkanku pada lawanku sebelumnya. Tentu saja dia kalah meski mengaku seorang ninja," ujar Cleopatra.

Komodo memasang sikap kuda-kuda.

"Ayolah, jangan terburu-buru begitu. Bersikaplah lebih manis. Katakan apa kau teman ninja itu? Apakah kalian satu perguruan?" tanyanya sembari melihat lukanya. Lumayan dalam, darah belum berhenti mengucur dari lengannya.

Kemudian seperti dia memfokuskan ke area luka tersebut, mendadak dengan cepat lukanya sembuh seketika setelahnya.

"Anggap saja begitu," sahut Komodo sembari menendang wajah Cleopatra dengan telak.

PRAAAAKH

Ketika hendak menyerang lagi, Cleopatra dengan gesit sudah melompat mundur. Memberikan dia jarak dan membuka peluang untuk menyerang.

"Kau lambat, lebih lambat dari Selo, tapi kau lebih cepat dari para manusia harimau putih itu…dan barusan itu sangat tidak sopan, pria berkostum!"

"Mana memikirkan masalah kesopanan ketika kau bertarung?" sahut Komodo sembari menyerang lagi.

Kali ini pukulannya mengenai bahu Cleopatra yang meremehkan Komodo.

BEKH

Cleopatara segera menendang Komodo dengan sangat cepat, sanat-sangat cepat, kecepatan yang melebihi Selo.

KRAAAAGH

Komodo terkena dan terlempar ke dinding lainnya, menembus beberapa lapis tembok dalam ruangan yang berbeda.

BRUGH BRUUGH BETH

Cleo mengejar dan memberikan tendangan berikutnya bahkan sebelum tubuh Komodo terhenti karena tabrakan dengan beberapa dinding tembok.

BLEEEGH

“Kau kuat, melebihi Selo, dan para manusia harimau”

Tubuh Komodo terlempar lebih jauh lagi dan terhenti setelah menabrak beberapa tank yang diparkir di area istana.

BRAKH KLANG CTANG WUUTTH

Cleo mengambang dan berhenti di depan Komodo “Gaya bertarungmu aku kenal, mirip dengan ninja yang pernah bertarung denganku sebelumnya, sepertinya kalian satu perguruan.”

Komodo “Ya kau benar, kami seperguruan”

“Hah sudah kuduga, kesalahan beladiri yang sama, kekuatan yang mirip, kecepatan yang payah, kau harus belajar pada Selo agar kecepatanmu meningkat, namamu siapa ninja” Cibir Cleo.

“Apa arti sebaris nama…” jawab Komodo.

“Tentu saja ada bodoh, untuk branding, untuk merek, untuk hak cipta dan memudahkan identifikasi, kau benar-benar korban filosofi yang salah” jawab Cleo ketus.

Cleo mendekati Komodo dengan cepat, Komodo tidak dapat menghindar.

BLUGH BLUGH BLUGH

Diangkatnya tubuh Komodo, dibanting ke tanah berkali-kali sampai area yang terkena tubuh Komodo menjadi melesak dan seperti retak-retak beberapa meter.

Cleo kemudian melemparkan Komodo menimpa beberapa tank.

BRAKH KRAK KLAAAANG

Tank-tank itu sempat terlempar beberapa kilometer bersama terlemparnya tubuh Komodo mengenai dan menembus gedung-gedung yang terkena tubuhnya.

Cleo terbang mengikuti pergerakan tubuh Komodo saat di udara bahkan mampu melebihi kecepatan lemparan yang telah dilakukan Cleo sendiri. WUUUSH

Cleo melesat terbang ke atas dan mendadak kemudian turun, kedua kakinya berada di bawah melesat menuju tubuh Komodo yang masih terlemparkan secara mendatar.

ZBRUAAAAAAGH

Tubuh Komodo dihantam lagi oleh dua kaki Cleo dari arah atas dan  tubuh Komodo berganti arah dari mendatar kemudian melintang melesat ke bawah dan melesak beberapa ratus meter di tanah setelah sebelumnya menghantam jalan toll dan jalan beton di bawahnya.

“Ah kau sepertinya lebih kuat dari ninja yang sebelumnya, sepertinya kau kakak seperguruannya ya…” Cleo memuji sekaligus mengejek Komodo.

Cleo menunggu Komodo keluar dari area seperti sumur yang berlubang besar yang tercipta karena hantaman tersebut.

Tidak berapa lama Komodo mulai berhasil merangkak keluar, tangannya mencengkeram tepi mulut lubang besar tersebut. Komodo melihat kaki Cleo sudah di depannya. Saat Komodo mendongak ke area di mana wajah Cleo berada.

Kaki kanan Cleo bergerak dengan sangat cepat mengenai wajah Komodo yang membuatnya terlempar ke arah sekitar 30 derajat ke atas dan tubuh Komodo menghantam banyak sekali dinding dari puluhan gedung yang mengenai tubuhnya.

Tubuh Komodo baru terhenti setelah menghantam gedung ke 27 di sisi luarnya dan tubuh Komodo meluruk ke bawah terkena tarikan gravitasi.

ZBUUUUM

Tubuh Komodo menghantam jalanan ramai, debu berterbangan, orang berlarian menjauh.

Lalu lintas menjadi kacau.

Cleo sudah berada di area, dan terbang turun dan menjejakkan kakinya di jalanan dengan anggunnya.

Beberapa mobil dengan kencang tidak sempat mengerem dan menabraknya, tetapi tubuh Cleo seperti memiliki energi perisai plasma, mobil-mobil tersebut bergelimpangan membal saat beberapa meter mendekati tubuh Cleo.

Cleo berjalan anggun bak peragawati berjalan di atas runway atau catwalk ke arah area di mana Komodo jatuh yang masih diselimuti banyak debu.

Setelah debu mulai menghilang. Cleo sudah mengeluarkan energi bola sinarnya dandengan cepat diarahkan ke Komodo yang mulai terlihat.

“SRAAAAAAAATH”

"Oh! Oh!" ucap Komodo lirih.

Komodo memandangi bola energi yang melesat cepat ke arahnya, Komodo seperti terpaku, dia tidak sempat menghindar.

Mendadak pandangannya buram.

bersambung....


Cerbung ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 9 September 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free