CERMIN: FREDELL


Kanvas-kanvas setinggi dua meter itu menjulang tinggi di depanku. Gambarnya tidak kompleks, tapi artistik dan bermakna.

Bagaimana mungkin ada makhluk yang dapat membuat mahakarya seindah itu?

Aku menelusurinya. Perlahan, berusaha tidak melewatkan satu goresan pun dari sang kreator. Mengaguminya, seolah-olah aku tinggal dalam lukisan itu.

Terdengar suara pria berdehem dibelakangku. Kemudian kata-kata itu meluncur. “Kuharap kau bisa memandangiku selama waktu yang kau habiskan untuk memuja karyaku”.

Aku berbalik. Nyengir.

“Fredell, aku tahu kau sang maestronya!” ujarku memberi pujian, tulus.

Fredell hanya tertawa menanggapiku.

Aku melihatnya, lebih tepatnya mendongak. Ia benar-benar menjulang tinggi. Dua kali lipat dibanding tinggi badanku. Jadi kira-kira ia memiliki tinggi sekitar tiga meter.

Saat pertama kali melihatnya, aku tahu dia tidak bisa disebut manusia. Karena manusia tidak ada yang setinggi dia. Karena manusia tidak memiliki mata kuning dengan garis mata hitam. Karena kulitnya berwarna kebiru-biruan....

“Ah, pandangan itu lagi,” tegurnya sembari meraih kedua bahuku dan membawaku ke lukisannya yang lain.

“Kurasa kau sedang memikirkan science fiction atau semacamnya”.
“Aku sedang memikirkan Krisna”.

“Siapa itu?”

“Tokoh dalam kisah Mahabharata yang digambarkan sebagai perwujudan Dewa Wisnu”. Aku melanjutkan penjelasanku karena nampaknya Fredell tidak memahami penjelasanku barusan. “Ajaran Hindu”.

“Oh! Agama dari planetmu!” seru Fredell yang akhirnya mendapat sedikit pencerahan. “Krisna itu sama dengan Kristus?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Rasanya aku tidak menguasai bidang yang satu ini. Soal kepercayaan, apa yang mereka yakini sebagai ajaran yang membawa manusia pada kedamaian.

Padahal sebenarnya tidak lebih dari sekadar alat untuk mewajarkan intoleransi.

Identitas yang membuat manusia menyakiti sesamanya, bahkan hingga membunuh satu sama lain. Aku jadi ingin menyebut ajaran agama sebagai science fiction, bolehkah?

Aku memandangi Fredell, tersenyum. Seolah senyuman itu bisa menjawab keingintahuannya. Padahal senyuman itu hanya suatu pengelakan supaya aku tidak menjawab.

“Kau ingin melihat karya mahasiswa yang lain?” tanyanya. Ia mengerti. Fredell tidak ingin mendesakku untuk menjawab pertanyaannya yang tadi.

Dan itu membuatku menjadi pecundang. Pecundang yang tidak berani menyatakan pemikirannya. Bersembunyi dalam diam.

Aku masih merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan pemikiranku. Karena aku bisa saja dicelakai, bahkan dibunuh oleh orang-orang yang tidak sepemikiran denganku.

“Planetmu memang tidak ramah pada pemikiran-pemikiran baru. Banyak pemikir hebat dibunuh, dibakar hidup-hidup,” gumam Fredell. Matanya menatap lurus-lurus ke karyanya.

Aku ikut memandangi karyanya. Lukisan seorang manusia yang tengah bergandengan tangan dengan makhluk biru dengan tinggi dua kali lipat dari si manusia.

“Itu kita!” seruku, penuh antusias.

Fredell mengangguk.

Aku berjingkat sedikit untuk membaca judul dari karya tersebut yang diletakkan beberapa senti dari atas kepalaku. Hanya satu kata dan sangat mengena. “Persahabatan”.

Fredell membungkuk sehingga kepala kami sejajar. Selama beberapa detik aku terperangkap dalam sorot mata reptilnya.

“Kurasa tidak baik menyabotasemu untuk hanya menikmati karya-karyaku saja. Ini bukan pameran tunggalku, kau harus melihat hal-hal menarik lainnya”.

“Kalau begitu kau yang jadi pemandunya,” kataku, bersemangat.

Kami berjalan ke arah timur gedung. Matahari di belakang, membentuk bayang-bayang di lantai batu yang dingin.

Aku harus berjalan lebih cepat supaya dapat mengimbangi jangkauan Kaki Fredell yang luar biasa panjang. Aku tahu dia sudah melambatkan langkah, tapi tetap saja aku butuh tenaga ekstra supaya tidak ketinggalan.

Koridor-koridor dipenuhi murid-murid yang lalu lalang. Ada yang setinggi aku, ada yang setinggi Fredell.

Ketika masuk ke salah satu ruangan di sayap bangunan, lukisan-lukisan tinggi lainnya seolah menyergapku.

Beberapa makhluk setinggi Fredell tengah menyapukan kuas ke kanvas setinggi dua meter. Sesekali berbicara satu sama lain dalam bahasa yang tidak bisa kupahami.

“Tidak, tidak. Aku ingin menunjukan sesuatu yang lain padamu,” cegah Fredell saat aku berjalan menuju para makhluk tinggi yang tengah melukis itu.

Aku memiringkan kepala.

“Temanku sedang menggelar pertunjukkan yang menarik, tapi sayang kurang mendapat apresiasi. Bagaimana kalau kita menghiburnya?” ajak Fredell.

“Apa yang dia lakukan?”

“Kau akan segera mengetahuinya”.

Bukannya mengikuti alur orang-orang, kami malah mengarah ke kiri. Ke tempat yang cenderung tidak mendapat sinar matahari, meski di luar begitu panas.

Tempat yang kami tuju lembab dan gelap, bahkan tidak ada tanda-tanda ada pertunjukan di sana.
Sealunan suara menyambut kami. Suara berat dan serak yang memecah kesunyian.

“Siapa teman kecilmu itu Fred? Dari golongan kulit coklat, eh?”

Aku mengangkat satu alis. Di tempat ini, kami kadang dipanggil berdasarkan warna kulit kami. Manusia bumi selalu identik dengan kulit coklat karena makhluk dari planet lain bisa berwarna biru seperti Fredell, hijau, bahkan ungu.

Detik berikutnya aku melihat si pemilik suara. Sama tingginya dengan Fredell, tapi nampaknya makhluk itu lebih muda meskipun suaranya berat.

“Kuharap kau belum memulainya Siron. Ini Elvarette”. Fredell mengenalkan kami satu sama lain.

“Sebuah kehormatan!” kata Siron dengan suara berat dan kasar yang sama.

“Senang berkenalan denganmu,” balasku sembari menjulurkan tangan. Kami bersalaman, tanganku terbenam dalam tangan Siron yang ukurannya benar-benar lebar.

“Jangan buru-buru merasa senang karena aku baru akan menghibur kalian!” perintahnya dalam nada tawa yang berat. “Perhatikan langkah kalian, ikuti jalur yang sudah kubuat. Aku tidak ingin ada korban di sini”.

Kemudian aku melihatnya, sesuatu yang berkilauan, menyala dalam gelap. Sesuai petuah Siron, kami mengikuti petunjuknya. Meski aku tidak yakin siapakah yang ia maksudkan sebagai korban.

“Duduk di sini,” bisik Siron padaku dan Fredell. “Kalian lihat garis biru yang berpendar samar itu kan? Jangan melewati batas! Jangan membuat suara keras! Aku tidak ingin ada korban di sini”.

Aku bisa mendengar suara sepatu Siron mengetuk-ngetuk lantai batu, langkahnya begitu pelan dan teratur.
Mendadak aku merasa sedikit gugup karena Siron terus-menerus menyebut kata ‘korban’.

Aku melirik ke arah Fredell tapi keadaannya terlalu gelap untuk melihat ekspresinya.

Beberapa makhluk yang sedang menanti pertunjukan mendesah pelan. Sepertinya ada tujuh atau delapan makhluk termasuk aku dan Fredell yang menantikan pertunjukan yang aku tidak ketahui apa yang hendak kutonton ini.

Sebelum aku bisa bertanya-tanya lagi, aku mendengar gumaman pelan Siron dari seberang tempatku duduk. Lingkaran biru menyala lebih terang dan saat itu aku melihatnya.

Makhluk itu bergerak membentuk pola-pola mengikuti alunan Siron. Makhluk kecil berwarna hitam. Berbaris dan berpencar, membentuk koreografi yang tidak kumengerti, tapi yang jelas pola-pola yang dihasilkan begitu indah.

Itu semut, pikirku.

Seolah terhipnotis, aku mengikuti bentuk-bentuk yang dibuat. Bagaimana mungkin semut-semut itu bisa memosisikan dirinya secara tepat. Tidak ada yang tercecer, begitu disiplin.

Aku memajukan tubuhku, memicingkan mata supaya bisa melihat semut-semut itu dengan jelas.
Kemudian aku menyadarinya. Adakah semut yang berjalan tegak? Mungkin ada mengingat aku sekarang ini ada di planet lain, bukan di bumi.

Pertunjukan itu berlangsung sekitar sepuluh menit hingga Siron menutup pertunjukan tanpa tepuk tangan dari penonton, karena memang penonton tidak diizinkan membuat keributan.

Fredell menarikku keluar, memandikanku dengan cahaya senja.

“Apa itu tadi?”

“Burk. Mengagumkan bukan? Siron benar-benar mencurahkan keahliannya dalam pertunjukan tadi”.

“Pertunjukkan yang hebat, sayang tidak banyak yang menonton,” decakku, pelan.

“Memang tidak boleh mencapai sepuluh makhluk dalam satu pertunjukan. Burk tidak suka keributan, mereka suka gelap, dan mereka cukup mematikan”.

Aku membulatkan mata. Seolah menolak percaya makhluk kecil tadi mematikan.

“Memangnya apa yang akan mereka lakukan jika kita mengganggu mereka?” tuntutku.

“Jangan berencana untuk mengganggu mereka, aku serius mengatakannya. Mereka akan mengigitmu, membuatmu mati dalam dua detik. Burk yang menggigitmu juga akan mati”.

“Dua nyawa hilang bersamaan,” ujarku menyimpulkan.

“Bagaimana pendapatmu? Bukankah planet ini menjadi habitat dari banyak makhluk mengerikan? Sepertinya bumi lebih damai dari sini?” kata Fredell yang menatap matahari terbenam dengan mata reptilnya.

“Bumi...”. ujarku lambat-lambat. “Lebih mengerikan. Kau bisa dibakar hidup-hidup hanya karena memiliki pemikiran yang berbeda”. (ARC)


Cerita ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 4 Juni 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa



Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage