CERMIN: FALO & PREIL


Manusia tidak menyukai perbedaan. 

“Hei!” Seseorang menepuk bahuku. Tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa. Tapi toh aku tetap membalikkan badan juga lalu memberikan senyuman.

“Sudah datang?” pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, tapi tetap kutanyakan.

“Masih di rumah!” jawabnya sembari tertawa.

Preil, temanku satu-satunya, jongkok di sampingku.

“Jadi apa yang sebenarnya kau lakukan di sini? Pagi-pagi, duduk sendirian di sekolah yang masih sepi.”

“Kau sendiri juga datang kemari pagi-pagi!” tuntutku.

“Karena aku tahu kau sudah di sini,” ujarnya sembari tersenyum. “Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku. Kau ngapain pagi-pagi sudah di sini. Mencari alien?”

Aku terbahak. Preil tahu aku sangat, sangat suka membahas soal alien. Meskipun dia sendiri menyangsikan ada atau tidaknya makhluk cerdas selain manusia di jagad raya, Preil tetap mau mendengarkan ocehanku.

Tidak seperti teman-temanku yang lain. Tapi mungkin memang mereka bukan temanku, jadi mereka tidak mau mendengarkan pikiranku yang tergolong liar untuk manusia abad ini.

“Aku hanya suka suasana sekolah di pagi hari,” ujarku, tentu saja itu bohong.

“Kau ini aneh!” celetuknya,

“Aku tahu,” kataku, singkat.

“Tapi aku lebih aneh karena mau berteman dengan manusia aneh sepertimu,” sambungnya.

“Aku tahu,” ulangku, tidak mampu menyembunyikan senyuman.

“Tapi jujur kau ini terlalu misterius.”

Aku membulatkan mata. “Seharusnya kau sudah memahami pesonaku itu sedari dulu!”

Preil menggerutu tidak jelas.

“Jadi apa sesungguhnya alasanmu datang kemari pagi-pagi?” Aku selalu bertanya lebih dulu, sebelum ditanya. Mungkin itu bentuk pertahananku. Supaya Preil tidak banyak memberiku pertanyaan, maka aku harus memancingnya bicara lebih dulu.

“Victora.”

Satu kata yang menjelaskan segalanya, pikirku. Preil sudah lama naksir cewek ini. Adik kelas. Tinggi. Putih. Kurus. Preil mengaku poni rata dari Victora membuatnya terpesona.

“Kau bahkan tak mengenalnya,” cibirku.

“Oleh karenanya orang-orang bilang kalau cinta itu turun dari mata ke hati, bro. Kurasa kau tidak menggunakan matamu dengan benar makanya kau tidak pernah jatuh cinta,” cibirnya.

“Aku menyukai seseorang, kok!” bantahku.

“Siapa? Femosa? Teman masa kecilmu dulu? Aku bahkan curiga sebenarnya pernah kau temui cewek itu dimimpimu saja,” ejeknya.

Femosa itu nyata, hanya saja aku tidak dapat mengenalkannya pada Preil. Ia akan tahu kalau gadis itu adalah aku. Aku perempuan, aku laki-laki. Keduanya. Sesuatu yang tidak dimiliki manusia abad ini.

Aku tidak bisa mengakuinya, sama seperti aku tidak dapat memberitahu Preil kalau aku berbeda darinya. Bahwa aku menyukai Preil....

Dan karena aku sudah terlanjur memilih peran sebagai laki-laki, akan sulit membuat Preil menerima kenyataan menyukainya. Preil juga tidak akan bahagia jika mengetahui aku memiliki dua kelamin. Dia akan melihatku sebagai monster!

“Kurasa aku harus mengenalkanmu pada beberapa saudara cewekku, Falo. Aku mulai khawatir kalau sebenarnya kau ini penyuka sesama jenis. Oh tidak! Mungkinkah kau menyukaiku?”

Aku tertawa. Preil hanya bercanda, tapi kena sasaran. Aku tidak bisa mengatakan kalau ucapannya benar. Menyedihkan.

“Jangan pedulikan aku, kau sendiri juga masih jomblo,” kataku, mencibir.

“Mungkin saja sebentar lagi tidak” Preil tersenyum penuh misteri.

Tapi aku tahu apa yang akan dilakukannya. Dia akan mengajak gadis itu berkenalan dan kalau beruntung Victora akan menerima ajakan kencan Preil.

Lalu bagaimana nasibku? Aku akan tetap menjadi teman Preil. Memberinya ucapan selamat, meminta pajak jadian. Dan aku akan sedih.

Tapi bukankah ini pilihanku? Aku menyukainya, tapi tidak berani mengungkapkannya. Preil temanku satu-satunya. Aku tidak ingin kehilangan dia. Itu sudah pasti.

“Apa yang dilakukan Victora pagi-pagi begini dan bagaimana kau bisa mengetahui apa yang akan dilakukannya? Kau ini stalker ya?” tanyaku sembari memicingkan mata.

“Bukan salahku kalau dia selalu meng-update kegiatannya di social media. Itu artinya dia memang mau membagi informasi pribadinya bukan?” jawab Preil, santai.

Mungkin Victora lupa kalau di dunia ini ada yang disebut privasi, pikirku.

“Jadi apa yang dia tulis di social medianya?” tanyaku, malas.

“Kalau dia akan berangkat pagi-pagi hari ini,” ujar Preil dengan mimik serius.

“Itu saja?”

“Itu saja.”

Aku mendengus pelan. Tidak tahu harus ngomong apa lagi. Preil mengeluarkan bunyi “Oh!” kecil dari mulutnya. Pasti ia sudah menemukan Victora yang dinanti-nantinya.

Preil berbisik ke arahku, “Apa aku sedang bermimpi? Victora sedang berjalan ke arah sini”

“Sapa saja dia,” kataku, acuh tak acuh.

Aku bisa mendengar langkah kaki cewek itu. Preil benar. Dia mengarah menuju kami. Tapi ada apa?

Sama seperti Preil, jantungku berdetak lebih cepat. Ketidakpastian yang menyiksa. Tinggal beberapa detik lagi hingga Preil membuka mulutnya.

“Selamat pagi!” sapa Preil pada Victora. Aku bisa merasakan semangatnya, dan itu sedikit banyak membuatku cemburu.

“Pagi,” balas Victora.

Aku tidak ingin terlibat di sini, jadi aku mengeluarkan ponsel dari saku celana seragamku dan mulai membuka aplikasi game. Terserah Preil mau ngapain.

Preil meraih rambut dengan tangan kanannya. Ia selalu melakukan hal itu tiap kali salah tingkah, aku sudah hafal.

“Ada perlu apa, Victora?” tanya Preil malu-malu.

Victora mengangkat sebelah alisnya. Aku bisa merasakannya meski pandanganku tertuju pada layar ponsel.
“Kau tahu namaku?” tanya Victora.

“Ya, aku tahu,” jawan Preil, gugup.

“Oh!” Respon cewek itu hanya sampai di sana saja. Kalimat berikutnya membuatku tercengang, “Aku ingin bicara dengan Falo.”

Detik itu juga aku mengangkat wajahku dari ponsel, sementara Preil menoleh ke arahku, tak mengerti. Victora menatapku tajam. Ia tidak marah, tapi tatapan itu membuatku jengah.

“Kau mengenalnya?” Entah pertanyaan itu ditujukan Preil buat siapa.

“Aku mengenal Falo,” sahut Victora dengan nada datar.

“Aku tidak mengenalmu,” timpalku, dingin.

“Kau mengenalku,” ujar Victora menekankan setiap kata yang diucapkannya.

Preil melihatku dan Victora secara bergantian. Kondisi ini tentu membuatnya bingung.

“Apa maumu?” tuntutku. Aku tidak mengenalnya, itu bukan kebohongan.

“Aku sudah lama mencarimu Falo. Kau benar-benar hebat dalam menghilangkan jejak. Aku bahkan hampir tidak menyadarinya. Dari data terakhir yang bisa dilacak, kau beberapa kali mengunjungi tempat ini. Jadi kupikir kau ada di sini, dan dugaanku benar,” jelas Victora.

“Ada apa ini? Mengapa kau melacak Falo? Memangnya dia kriminal? Dia tidak pernah menghilangkan jejak kok, Kami sudah satu kelas selama dua tahun terakhir!” ujar Preil, tidak mengerti.

Sedikit rasa senang membuncah di dadaku. Preil ada di pihakku.

“Kita pernah bertemu di laboratorium pamanmu. Aku memberitahumu, siapa tahu kau lupa” jelas Victora sembari memamerkan senyuman miring, senyum penuh kemenangan.

Senyuman itu! Victora bukan manusia. Ia android buatan paman. Ya. Ya. Kami pernah bertemu. Beberapa bulan sebelum aku pergi kemari.

Tapi aku jadi memahami apa maksud Victora. Harusnya hari ini dia membawaku pulang ke zamanku. Ia tahu kalau aku suka berangkat pagi-pagi. Teleport langsung ke sekolah.

Mestinya Preil tidak bersamaku pagi ini. Mestinya aku sudah pulang sekarang. Tidak terjebak di dunia ini. Dunia yang bukan duniaku.

Kejadiannya berawal dari dua tahun yang lalu ketika aku menjadi relawan untuk mesin waktu buatan pamanku.

Sebenarnya aku bukan relawan pertama yang mencoba mesinnya. Relawan lain berhasil pergi dan muncul kembali.

Tapi nasib lain menimpaku. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak tahu apa yang salah. Semua yang tertulis di peraturan sudah kulakukan. Tapi tetap saja aku tidak kembali.

Dan meski aku sesungguhnya sudah berumur enam ratus tahun, secara fisik aku masih terlihat seperti anak SMA, jadi kuputuskan untuk menghabiskan hari-hariku dengan pergi ke sekolah.

Meskipun ilmu yang diajarkan sudah ketinggalan zaman, meski aku sudah beradaptasi di sini, tapi aku tetap membutuhkan kegiatan selama terjebak di sini.

Tapi tetap saja ngapain si Victora update banget di social media. Preil jadi ikut kemari pagi ini. Harusnya aku bisa pulang dengan tenang.

Hanya saja... Mungkinkah aku bisa pulang tanpa berpamitan pada Preil? Mungkin ini memang jalan terbaik.

“Ayo pulang, Falo. Pamanmu sudah mencarimu untuk waktu yang cukup lama,” ujar Victora sembari mengulurkan tangannya padaku.

“Pulang? Bagaimana mungkin! Kelas hari ini saja belum dimulai!” seru Preil tidak terima. Ia kemudian mengguncang tubuhku yang seakan beku. “Katakan sesuatu sobat! Aku benar-benar tidak mengerti!”

“Seharusnya kau menungguku sendirian. Kau menyisakan saksi,” gerutuku pada Victora.

“Saksi?” Preil mengulang kata yang kuucapkan dengan nada tinggi. “Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Falo, jadi sebenarnya kau mengenal Victora? Mengapa selama ini kau tidak memberitahuku?”

“Aku tidak mengenalnya sebelum beberapa saat yang lalu,” kataku memberitahu Preil.

Victora melipat kedua tangan di depan dada. “Aku sudah mendapat izin khusus. Meski itu artinya ada saksi. Kau sudah terlalu lama menghilang. Sekarang saatnya kita pergi ke dunia kita.”

“Dunia mana yang kau maksud,” dengus Preil. “Sobat, kau tidak akan kemana-mana, kan? Katakan sesuatu!”

Aku menghela napas panjang. “Beri aku waktu untuk berpamitan.”

“Jangan membuatku menunggu lama. Aku bisa melakukan pemaksaan,” ujar Victora dengan nada mengancam.

“Beberapa menit saja, OK?” pintaku.

Victora membalikkan badan tanpa memberikan kata-kata lagi. Aku tahu dia bukan tipikal makhluk yang sabar.

Preil mengerutkan dahinya sehingga ia terlihat lebih tua dari pada yang seharusnya.

“Apa maksudnya pergi duniamu?”

“Aku tidak sama sepertimu Preil. Kau juga merasakannya,” tuturku, lambat-lambat.

“Kau memang aneh. Termasuk karena kegemaranmu bicara soal luar angkasa juga alien. Tapi aku selalu mendengarkanmu! Aku tidak meninggalkanmu, jadi jangan pergi, ke mana pun maksudmu itu!” rengek Preil.

Kembang api di dadaku kembali membuncah. Preil ingin aku tetap di sini, di dekatnya!

“Maafkan aku, Preil,” kataku tanpa berani menatap matanya.

“Kau akan pergi?” tanya Preil dengan raut sedih. “Aku tidak tahu ke mana kau akan pergi, tapi aku berharap kau tidak pergi. Begini, kalau kau memang harus pergi, apa kau bisa memberitahuku alamat barumu? Apa kita masih bisa saling mengirim e-mail?”

“Tidak, Preil. Kita tidak akan saling bertukar kabar, maafkan aku.”

Kemungkinan paman tidak akan memperbolehkanku menggunakan mesin waktunya lagi. Aku juga sebaiknya segera menyudahi cinta sepihak ini.

“Aku benar-benar tidak bisa mengerti, tahu. Kau ternyata mengenal Victora, tapi kau tidak menceritakan apa-apa padaku.

Apa dia anak dari pamanmu dan laboratorium apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” Preil berhenti sejenak untuk mengambil napas.

“Kemudian kau mengatakan akan pergi. Ini semua mendadak, kau bahkan tidak mau kita berkomunikasi satu sama lain lagi. Sebenarnya selama ini kau menganggapku sebagai teman tidak sih?” tanya Preil sembari menarik kerah bajuku.

Ia marah. Aku juga tidak tahu apakah sebenarnya aku suka Victora menjemputku.

Setahun setelah kedatanganku ke zaman ini, aku sudah menerima nasib kalau aku tidak akan bisa pulang ke zaman asalku. Zaman di mana Preil sudah mati.

Semestinya aku tidak pernah bertemu dengan manusia ini. Manusia yang membuatku ingin tetap berada di sini, hidup di dunia masa lalu.

Aku menepis tangannya dengan kasar, melepas cengkeramannya.

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai teman, Preil! Aku tertarik sejak pertama kali kau mengajakku bicara. Kemudian seiring kita bersama, aku menyukaimu. Seperti wanita menyukai pria.”

Aku berhenti sejenak, memandangi wajah Preil yang memucat. Ia mematung, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang harus diucapkan.

“Aku akan kembali ke masaku, Preil. Terima kasih atas pertemanan yang terjalin selama ini, meski sebenarnya aku memiliki motif yang berbeda padamu. Lalu.... Aku juga minta maaf telah mengakibatkan kekacauan ini.”

Dengan langkah mundur aku menjauhi Preil yang masih membeku, entah apa yang ada dipikirannya.
Victoria muncul dari udara kosong. Begitu saja. Tangannya terjulur padaku.

“Sudah siap pulang, Falo?”

Aku mengangguk. Berusaha tidak menoleh ke belakang. Kalau aku melihat Preil lagi, aku mungkin akan mencari-cari alasan untuk menunda kepulanganku.

“Dalam hitungan ketiga,” gumam Victora yang sudah meraih tanganku.

“Tidak Falo! Tetaplah di sini! Sebenarnya aku juga mencintaimu!”

Jeritan Preil membuatku terpaku sedetik. Aku menoleh. Terlambat. Preil sudah tidak ada di sini. Atau sebenarnya aku yang sudah pergi. Aku sudah kembali ke zaman di mana aku berasal.



Cerpen ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 2 Nomor 2 Februari 2017
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free