CERPEN: DEPARTURE


DEPARTURE
Archana Universa


Seorang wanita di ujung ruangan tengah menangis. Ia membenamkan wajahnya di antara lilitan syalnya yang berwarna kuning. Warna cerah yang bertolak belakang dengan suasana pikirannya yang kelabu.

Aku menghela napas berusaha mengacuhkannya, tapi tetap saja tidak bisa.

Ia sedih dan entah mengapa aku ikut merasa tersakiti.

Ini bukan pertama kalinya aku merasakan hal tersebut. Hanya kenangan yang terlalu kuat yang dapat memengaruhiku. Baik sedih, tidak terkecuali juga yang bahagia.

Aku harusnya tidak ikut campur, tapi kakiku sudah bergerak duluan sebelum aku berpikir lebih lama, seolah takdir yang membawaku ke arah wanita itu.

“Anda baik-baik saja?” Pertanyaan bodoh pikirku, tentu saja wanita di hadapanku ini tidak baik-baik saja. Tapi memangnya pertanyaan apa lagi yang bisa kutanyakan sebagai orang asing?

Wanita itu mengangkat wajahnya dengan lambat. Aku bisa melihat matanya yang sembab dan wajahnya yang basah karena air mata.

Aku tidak tahu apakah ini lancang atau tidak. Tapi lagi-lagi aku langsung mengucapkan apa yang kupikir, “Kenapa, Ibu?”

Isakan wanita itu makin nyaring. Ia membenamkan kedua wajahnya ke telapak tangan. Bahunya berguncang-guncang pelan seiring tangisannya.

Rasanya aku tercabik-cabik. Kedekatan secara fisik, makin membuatku merasakan kesedihan yang tengah dialami wanita ini.

Kuputuskan untuk duduk di sebelahnya kemudian menepuk-nepuk bahunya. Berharap tangisannya akan mereda, meski aku tidak yakin hal itu akan memengaruhi suasana pikirannya menjadi lebih baik.

Kesalahan. Mestinya aku tidak menyentuhnya. Aku sudah terlalu lama tidak bersentuhan dengan orang lain karena itu artinya aku melihat kenangan mereka.

Aku melihatnya. Suatu pesawat yang terbang rendah di area pemukiman. Wanita ini sedang menjemur pakaiannya ketika suara mesin terdengar sangat dekat, juga hembusan angin menjadi lebih kencang.
Dedaunan bergemerisik mendendangkan lagu kematian.

Tidak butuh waktu lama, pesawat itu terhempas ke tanah dengan bunyi keras yang memekakan telinga. Bumi bergetar, wanita itu menjatuhkan pakaian yang hendak dijemurnya, pakaian milik anak perempuan.

Kecelakaan naas itu tidak hanya membunuh seluruh penumpang di dalamnya, tapi juga orang-orang yang ada di area jatuhnya pesawat.

Dari ratusan korban, tiga di antaranya adalah keluarga dari wanita ini. Di saat yang bersamaan ia harus kehilangan suami, anak perempuan dan laki-lakinya.


Kini dia sendirian. Setidaknya itulah yang dipikirkannya. Aku tidak heran kalau kesedihannya begitu mendalam.

Tapi kurasa dia lebih heran melihatku yang ikut-ikutan terisak. Air mataku mengalir, tidak mau berhenti meski pikiranku mencoba menyuruh mataku tidak menangis. Konyol.

“Kau baik-baik saja?” tanya wanita itu.

Astaga! Itukan pertanyaan yang tadi kuberikan padanya. Apa sekarang dia sedang mengembalikan pertanyaan yang lebih dulu kuberikan?

Susah payah, aku berusaha menguasai diri. Aku mengangguk, tapi tidak menjelaskan alasannya.

“Apa keluargamu juga terlibat dalam bencana pagi tadi?” tanyanya dengan suara parau, khas suara orang yang baru saja menangis untuk waktu yang cukup lama.

“Bukan begitu,” ujarku sembari mengeluarkan satu kotak tissue yang selalu kubawa kemana-mana. Aku mengambil selembar, kemudian menyodorkannya pada wanita tersebut.

“Pasti seseorang yang kau cintai,” tebaknya sembari mengambil beberapa  tisu untuk ingus dan juga menyeka air matanya.

100% persen salah. Aku memutuskan tidak menggeleng atau mengangguk. Akan aneh kalau aku bilang kesedihanku sebenarnya berasal dari kesedihannya.

Bahwa aku ikut mengalami apa yang dialaminya karena sentuhan singkat.

“Aku... tidak pernah menyangka akan kehilangan suami dan anak-anakku sekaligus hari ini”

“Tadi pagi mereka ke lapangan kecil tidak jauh dari rumah untuk bermain layangan. Sebenarnya mereka mengajakku ke sana bersama-sama, tapi kutolak karena belum membereskan cucian.” Wanita itu berhenti untuk menarik napas panjang.

“Harusnya aku ikut saja dengan mereka.”

“Tidak, bukankah artinya memang bukan waktunya buat Anda meninggal,” bisikku.

“Aku tidak takut mati. Aku takut kesedihan ini menyiksaku untuk waktu yang sangat lama,” keluhnya sembari menatap lantai di bawah kakinya.

Wanita itu kemudian memukul-mukul dadanya, seolah hal itu dapat mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Bukan sakit fisik, kesedihan yang membuatnya merasa sakit.

“Kadang aku tidak benar-benar tahu apakah kesedihan dan kebahagiaan benar-benar nyata,” bisikku pelan.

Aku bermaksud mengatakan kalimat itu untuk diriku sendiri, tapi kurasa wanita di sampingku mendengarnya juga.

Aku mengambil lembaran tisu yang lain untuk membuang ingus.

Dia mungkin tidak memahamiku biarpun aku memahaminya. Dia tidak tahu mengapa aku menyangsikan kesedihan dan kebahagiaan sebagai hal yang benar-benar nyata.

Ia tidak tahu kalau sebenarnya aku sedih karena ia sedang merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Empati. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tidak semua orang bisa melihat kenangan orang lain hanya karena tubuh mereka bersentuhan.

Tidak kulit ke kulit sebenarnya. Tadi tanganku terhalang pakaiannya, tapi tetap saja aku bisa melihat kenangan itu dari posisi wanita ini.

Aku jadi merasa sebenarnya aku yang sedang kehilangan suami juga kedua anakku yang masih kecil. Konyol memang, tapi kesedihan ini begitu nyata. Kesedihan milik orang lain yang juga menjadi milikku.

Kesedihan copy-an, tidak nyata, tapi terasa begitu real. Sulit dibedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Ataukah memang tidak ada nyata, juga tidak ada yang palsu.

Semua hanya ilusi?

“Untuk keadaanku sekarang, kurasa kesedihan itu nyata sementara kebahagiaan hanya ilusi,” jawab si wanita setelah beberapa saat kami terdiam, berkelana dengan pikiran masing-masing.

“Aku merasa seperti tidak dapat bahagia lagi.”

“Anda akan bahagia lagi,” ujarku menguatkannya. “Tidak sekarang, tapi di masa depan....”

“Di masa depan sekalipun aku tidak akan melupakan keluargaku. Semisal suatu hari aku membuka diri lagi sekalipun, aku tetap akan ingat,” potongnya dengan luapan kesedihan yang begitu menyayat.


Aku kembali merasa tercabik-cabik. Dadaku terasa sakit.

Aku menangkap kenangan lain. Kelebatan bayangan suatu pagi ketika suami wanita ini tengah membuat sarapan untuk keluarganya muncul.

Sementara si ayah tengah sibuk di dapur, wanita ini membangunkan anak-anaknya karena mereka harus sekolah. Ketika anak-anaknya mandi, si ibu memeriksa tas anaknya, sekadar memastikan anaknya sudah membawa buku sesuai jadwal sekolah.

“Ingatan ini akan menetap dipikiranku, mengendap di sana. Mungkin aku akan mampu mengatasinya, cepat atau lambat, atau mungkin aku hanya berpura-pura mampu mengatasinya padahal tidak,” ujarnya sembari menyeka air matanya yang kembali tumpah.

“Apa akan lebih baik jika ingatan sedihmu itu hilang?”

“Bisakah kita hidup dengan satu kenangan saja? Hanya bahagia? Kurasa jawabannya sudah jelas tidak akan bisa”

“Seandainya ingatan sedihku menguap semua, pasti akan ada ingatan sedih lainnya yang muncul,” ungkapnya sembari tersenyum sedih.

“Pasti akan ada ingatan bahagia lainnya yang akan muncul,” ujarku, optimis.

“Kuharap kebahagiaan itu segera datang. Meskipun begitu....”

Wanita itu menyentuhku, aku kembali melihat kelebatan bayangan. Bukan masa lalunya, tapi masa depannya.

Di masa depan, wanita itu menikah kembali. Aku bisa melihatnya tertawa bahagia bersama suaminya, juga anak-anak di rumahnya. Bukan anak yang ia lahirkan dari rahimnya, tapi wanita itu menyayangi anak-anak itu seakan ia melahirkannya.

Wanita itu tertawa, tapi bukan berarti ia melupakan keluarganya yang mati hari ini.

Ia masih ingat dan kadang merindukan keluarganya, suami dan anak-anak yang telah meninggal. Tapi bedanya, ia telah belajar arti merelakan.

Bahwa hidup memang seperti itu.

Pertemuan dan perpisahan. Selalu begitu.
“.... meskipun begitu, aku senang karena ada orang yang dapat kuajak bicara. Sejak pagi aku menangis sendirian di sini. Kupikir aku akan menjadi gila,” katanya, masih tetap menyentuh tanganku.

“Aku berterima kasih padamu karena menemaniku di sini, sekarang.”

“Bukan masalah, aku senang mendengar ceritamu,” ujarku sembari mengangguk.

Aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Setidaknya aku sudah mulai berhenti menangis.

Mungkin karena wanita ini juga sudah lebih tenang. Aku juga jadi lebih bisa menguasai diri.

Kadang aku merasa kelebihan ini sebagai anugerah, kadang juga sebagai musibah.

Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak tepisahkan.

“Sepertinya aku terlalu banyak bicara ya, mungkin ada yang mau kau ceritakan padaku juga?” kata wanita itu sembari mengumpulkan tisu dan membuangnya ke tempat sampah.

“Menceritakannya hanya akan membuatku semakin sedih,” dalihku. Memangnya aku ingin cerita apa? Aku tidak mungkin memberitahu wanita ini kalau sebenarnya aku menangis karena kehilangan yang dialaminya kan?”

“Dia akan memandangku aneh, atau lebih parah lagi, mengira aku sudah gila.

“Setelah menangis seperti ini aku sudah cukup tenang.”

“Menangis dan memiliki teman dapat meringankan penderitaan, bukankah begitu? Kurasa aku tidak akan menangis lagi malam ini. Aku akan mencoba menerimanya meski sulit. Tangisan tidak akan membawa keluargaku kembali hidup, bukan begitu?”
Dia masih belum menerima, tentu saja ini bahkan belum dua puluh empat jam. Aku senang mendengarnya akan mencoba menerima nasib buruk yang menimpanya, ia tidak mengatakan ingin menyusul keluarganya, atau pernyataan negatif semacam itu.

Wanita ini berusaha untuk bangkit, aku menyukainya. Mungkin karena inilah aku tidak menyesali keputusanku untuk mengetahui kisah dibalik kesedihannya.

Perut wanita itu keroncongan, sepertinya ia belum makan apa-apa sejak tiba di sini.

“Kurasa aku harus melanjutkan hidup, pertama-tama aku harus makan,” katanya sembari menepuk-nepuk perutnya.

“Jangan sakit,” tambahku. Aku yakin wanita ini kuat. Ia memang tengah bersedih, tapi kesedihan hanya bersifat sementara.

Demikian pula dengan kebahagiaan juga kehidupan.

“Bagaimana dengan melanjutkan obrolan sembari makan malam? Aku akan mentraktirmu,” katanya sembari membenahi syal warna kuningnya.

“Aku sudah makan tadi, tapi aku akan menemani Anda,” ujarku sembari tersenyum. Aku memikirkan secangkir kopi yang tidak terlalu pekat, campuran susu akan membuatnya sempurna.


Cerpen ini ada di majalah AN1MAGINE Volume 2 Nomor 5 Mei 2017 eMagazine Art and Science yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa


“Menerbitkan buku, komik, novel, buku teks atau 
buku ajar, riset atau penelitian di jurnal? An1mage jawabnya”

AN1MAGINE BY AN1MAGE: Enlightening Open Mind Generations
AN1MAGE: Inspiring Creation Mind Enlightening 
website an1mage.net www.an1mage.org

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

Menerbitkan buku di An1mage

CALL FOR CHARACTERS - ICF3 - exhibit your original characters globally for free