CERMIN: API


Panas. Aku ingat api menyala-nyala di sekelilingku. Mereka menari dan membuat dirinya makin banyak. Membuat kamar terlihat terang, terlalu terang di malam tanpa bulan.

Hubunganku dengan api cukup dekat, tapi tidak terlalu bagus. Yang bisa kuingat adalah saat aku berumur sebelas.

Saat itu aku tengah tidur ketika ranjangku terbakar. Saat aku bangun, api telah mengepungku. Aku terjebak.
Bajuku hangus, kulitku terbakar. Luar biasa sakitnya!

Aku menjerit, aku berteriak minta tolong! Tapi tidak ada suara yang keluar.

Entah berapa lama sampai orang tuaku datang. Rasanya lama sekali, tapi aku yakin sebenarnya tidak selama yang kurasakan.

Begitu membuka pintu, orang tuaku langsung memeluk kaget. Ibu menjerit, lebih keras dari jeritanku, seolah dia yang sedang dibakar hidup-hidup.

Ayah segera menghilang dari pandanganku, secepat kedatangannya. Begitu muncul kembali, dia sudah siap membawa ember berisi air.

Jeritanku kembali terdengar, melengking menulikan telingaku. Atau api yang membuat telingaku tuli, aku tidak tahu.

Sakitnya tidak hilang meski sebagian tubuhku tidak dijilati lidah-lidah api lagi. Guyuran lainnya datang. Mungkin itu ibu. Kemudian guyuran yang lain.

Aku bertanya-tanya mengapa aku tidak mati saja. Rasanya benar-benar sakit dan rasanya aku tidak kuat menahannya.

Jika tidak mati, kuharap setidaknya aku bisa pingsan saja, pikirku.

Tapi itu tidak terjadi. Lidah-lidah api itu menjilati seluruh tubuhku, memanggangnya dan aku masih saja hidup. Seolah aku tidak boleh mati saja!

Aku ingat tiap detiknya yang begitu lama, seolah-olah waktu diperlambat secara sengaja. Bagaimana api mendadak padam, secepat datangnya.

Apinya hilang tapi bau gosong masih memenuhi ruangan, dan mendadak kulitku berangsur-angsur membaik. Seolah api tadi tidak pernah memanggang kulitku.

Aku sembuh dengan cepat, tapi ketakutan pada api tidak hilang.

“Kau tidak apa-apa?” tanya ibuku, ngeri. Matanya menelusuri tiap jengkal kulitku yang berangsur membaik dengan sangat cepat. Tidak ada manusia yang bisa menyembuhkan luka seperti aku.

“Ku-kurasa begitu,” jawabku dengan suara agak tercekat.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, apinya sudah padam, seolah tubuhku menyerap lidah-lidah api tadi.

Kupandangi kasurku yang gosong, tadi aku terpanggang di sana. Dibakar hidup-hidup oleh diriku sendiri kemudian dua menit berikutnya aku sudah utuh lagi.

“Tadi itu apa?” tanyaku tidak mengerti. Aku memandangi ibuku, kemudian ayahku. “Apa kalian dapat melakukannya? Ini tidak normal kan?”

Kedua orang tuaku berpandangan satu sama lain. Tatapan takut, dan ketakutan itu ditunjukan padaku.
“Itu tidak normal, Faiya. Sangat tidak normal, sungguh.”

“Tapi aku anak kalian.” Aku menelan ludah. “Salah satu dari kalian pasti juga dapat melakukannya.”

“Kami tidak bisa....” ujar ayahku sembari mengernyitkan dahi.

Ibuku buru-buru memelukku.

“Jangan ceritakan kejadian ini pada siapa pun. Biarkan ini jadi rahasia.” Aku bisa merasakan ibuku memandangi ayahku di balik punggungku. “Ini adalah rahasia.”

Malam itu aku tidur dengan orang tuaku. Esok harinya mereka segera melakukan renovasi kamar juga mengganti kasurku.

Orang tuaku mengarang cerita aku bermain dengan lilin dan menyebabkan kebakaran kecil. Cerita yang mampu membuat orang-orang yakin kalau aku adalah anak nakal.

Disela-sela pandangan mencela mereka, aku bisa mendengar mereka saling berbisik kalau aku beruntung api tidak sampai membunuhku.

Padahal nyatanya aku memang nyaris terbunuh.

Dan selama sepuluh tahun lamanya kejadian itu tidak terulang lagi, hingga malam ini.

Aku masih menahan kobaran api di tubuhku yang berangsur-angsur menghilang, seolah tersedot masuk kembali ke dalam tubuhku.

Sekali lagi aku merasa sensasinya. Sensasi terbakar hidup-hidup, berharap mati ketika prosesnya terjadi dan nyatanya aku masih hidup hingga detik ini seperti sebuah keajaiban.

Sembari tubuhku berangsur-angsur membaik, aku segera membuka jendela kamarku. Beruntung sekarang masih liburan, jadi tidak banyak mahasiswa yang ada di asrama.

Aku sendiri tidak pulang karena orang tuaku sedang mengunjungi saudara jauh yang berada di area semenanjung Balkan dan aku tidak suka melakukan perjalanan jauh.

Orang tuaku juga tidak pernah mengajakku pergi jauh sejak kebakaran pada saat aku berumur sebelas.
Meski api itu tidak muncul lagi sepuluh tahun lamanya, tapi mereka tetap saja khawatir mendadak aktif kembali.

Mereka takut aku terekspose. Misalnya tubuhku terbakar saat kami sedang dipesawat dan membuat pesawatnya meledak.

Sekarang aku sendirian, belum sepenuhnya pulih. Samar-samar dalam kenanganku, aku bisa melihat wajah ibuku sepuluh tahun yang lalu.

Panik. Kemudian ia mengatakan bahwa aku harus merahasiakannya. Ya. Aku akan merahasiakannya seperti pesannya.

Aku juga akan merahasiakan kejadian kali ini dari orang tuaku. Mereka tidak akan dapat membantu, aku hanya akan membuat mereka khawatir.

Itu sangat tidak perlu. Mereka sudah mengira kejadian saat aku masih sebelas adalah yang pertama dan terakhir, meski masih merasa was-was hingga kini.

Tidak ada yang perlu ditakuti. Tidak ada yang tahu aku terbakar barusan. Tidak ada yang menyadari asap keluar dari jendela kamar. Tidak ada alat pendeteksi asap yang dapat membunyikan alarm kebakaran.

Semua aman. Aku hanya perlu mengganti kasurku. Tidak masalah, aku punya tabungan untuk itu.

Aku juga kenal dengan salah seorang officeboy asrama, dia pasti bisa membantuku untuk mendapatkan kasur baru.

Aku hanya perlu menghubunginya nanti saat matahari sudah tinggi dan mungkin baru akan mendapatkan kasur baru besok.


Jam ponselku menunjukan pukul setengah empat pagi. Perasaan lega sedikit membanjiriku.

Ponselku tidak dilalap api. Lemari baju juga aman. Kerusakan kali ini lebih kecil dibanding dulu.

Mungkin karena aku pernah mengalaminya, jadi kali ini aku bisa bersikap lebih tenang. Sangat tenang hingga aku tadi berharap mati saja.

Kusambar gelas minuman yang ada di atas meja, menuangkan air dingin dari dalam kulkas ke dalamnya.

Kusesap perlahan, merasakan kesejukan yang merambati tiap jengkal tubuhku.

Kuberitahu diriku sendiri bahwa segalanya terkendali. Bahkan aku sudah tidak terluka sedikit pun.
Setidaknya itulah yang kupikir hingga ketukan itu terdengar dipintu kamarku.

Aku memandang kamarku dengan panik, masih cukup berasap.

Bagaimana kalau aku pura-pura tidak mendengar ketukan saja?

Tapi ketukan itu kembali terdengar, makin keras. Bisa saja malah membangunkan mahasiswa lain yang juga tinggal di asrama selama liburan.

Setelah menarik napas panjang, aku segera membuka pintu kamar, sedikit saja, hanya sampai kepalaku kelihatan. Aku harap tidak ada cemong kehitaman diwajahku.

“Ya?” sahutku, berusaha terlihat tenang.

Aku berpura-pura kelihatan mengantuk.

Di hadapanku adalah Bara, cowok yang tinggal di kamar sebelah. Asrama kami memang tidak dibedakan antar jenis kelamin. Berbaur begitu saja.

“Aku mencium bau terbakar.”

Uh-Oh! Kalimat itu muncul begitu saja dari mulutnya.

“Aku tidak,” dalihku, bohong tentu saja. Memangnya aku mau mengaku kalau tubuhku mengeluarkan api, memanggangku selama beberapa saat, kemudian apinya masuk kembali ke tubuhku?

Terdengar sangat gila? Dia tidak akan percaya! Aku juga tidak mau mengatakan hal itu padanya. Ini adalah rahasiaku!

“Aku tahu ada sesuatu yang terbakar dan itu berasal dari kamarmu, Faiya,” ujarnya. Itu adalah kalimat tuduhan dan sayang sekali tuduhannya tepat sasaran.

Aku terpojok.

“Aku baik-baik saja hingga kau mengetuk kamarku, kembalilah ke atas kasurmu yang empuk. Tidak sopan mengetuk kamar seorang gadis subuh begini,” jawabku, berusaha terdengar kesal, padahal aku sedang ketakutan. Takut dia mengintip rahasiaku.

“Kau bisa membiarkanku masuk dan memeriksanya atau aku bisa memanggil petugas dan memberikan keluhan,” katanya, bersikeras masuk.

Dia akan memberitahu petugas! Pikirku dalam kepala. Biar aku mempersilakan dia masuk atau tidak, ujungnya akan sama saja.

“OK, aku mengaku aku memang err... sedikit membakar kamarku, tapi sekarang apinya sudah padam kok!”
Bara melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak terbujuk.

“Aku minta maaf sudah membuat udara di sini tercemar,” tambahku.

Ia masih bergeming. Menungguku mempersilakannya masuk.

“Aku tidak suka ada laki-laki masuk ke kamarku, apalagi subuh-subuh begini,” usirku, sekarang tidak berpura-pura bersikap manis lagi.

“Kecuali itu keamanan,” ujarnya sembari memicingkan mata.

Bara hampir berbalik ketika tanganku otomatis menahan lengannya.

“Kau periksa saja, apinya sudah padam, OK? Tidak perlu membuat keributan karena masalah yang telah kutimbulkan sudah kuatasi,” kataku, setengah merengek.

Dengan berat aku membukakan pintu kamarku untuknya.

“Kau bisa menungguku di pintu,” cibirnya sembari melangkah masuk.

Ia meraih saklar lampu, membuat kamarku terang benderang. Di sana terlihat kasurku yang sudah gosong, juga ternyata apinya menjilati tembok di dekatnya.

Aku menahan napas sementara dia mulai memeriksa kamarku.

“Sebenarnya apa yang tengah kau lakukan dengan api hingga membakar kamarmu sendiri?” ujarnya dalam nada geli.

Menurutnya ini lucu, sementara aku was-was. Takut dia menemukan keganjilan, takut ia menangkap basah rahasiaku.

Bara berbalik ke arahku, tanganku masih memegang gagang pintu dengan erat.

“Jadi sebenarnya apa yang terjadi?”

“Aku sedang membuat kerajinan,” ujarku berbohong. “Kemudian aku tidak sengaja menjatuhkan lilin ke kasur.”

“Aku tidak melihat ada lilin di sini.”

“Sudah habis terbakar.”

Bara mengangkat kedua alisnya. “Kemudian kau tidak sadar sampai lilinnya membakar ranjangmu?
Memangnya kau tidak segera memadamkannya begitu terjatuh? Kau sengaja menunggu apinya hingga besar ya?”

“Aku tidak sadar! Apinya sudah cukup besar ketika aku berusaha memadamkannya!”

“Dengan air?”

Kena sudah! Kamar asrama kami tidak dilengkapi dengan kamar mandi dalam.

Aku juga tidak memiliki dispenser dengan segalon air, juga tidak ada tabung pemadam api di kamar.

“Aku mengibas-ngibaskannya dengan selimut.” Astaga! Kenapa Bara menginterogasiku seperti ini. “Aku akan bertanggung jawab untuk mengganti kerusakannya, tentu saja.”

“Selimut yang mana? Tidak ada selimut yang gosong dan memangnya selimutnya tidak terbakar?”

“Entahlah! Yang aku tahu apinya tidak berkobar besar lagi, kemudian tidak lama aku berhasil memadamkannya.” Aku memasang tampang galak. “Sekarang keluarlah Bara, kamarku bukan tempat wisata.”

“Aku tahu kau tidak menceritakan yang sebenarnya, Faiya. Semua yang kau katakan tidak masuk akal. Mungkin kau harus mengarang cerita lain pada petugas....” sontak Bara menghentikan kata-katanya.

“Apa?” tuntutku.

Bara tidak mengatakan apapun, matanya menatap ngeri ke arahku.

Aku mengikuti arah pandangannya. Ia menatapku, ia memandangi tanganku yang sedang melumerkan gagang pintu.

Kemudian segalanya terjadi dengan cepat. Api menjalar ke sekeliling kami. Membakar karpet, membakar gorden, menjilat-jilati tembok.

Apinya merambat dengan sangat cepat seolah gedung ini sudah disirami bensin sebelumnya dan membakarnya dengan cepat.


Orang-orang berteriak minta tolong. Mereka terpanggang, sementara aku tidak merasa sakit sedikit pun. Seolah aku adalah api dan api tak dapat menyakitiku.

Apinya tidak menyakitkan karena bukan aku yang membakar tempat ini. Bara yang membakar gedung asrama kami! Aku bisa melihat dia tengah berdiri dengan tenang sementara api menjilati tubuhnya.

“Aku tahu tidak tahu kalau kau bisa menghasilkan api dari tubuhmu, sama sepertiku, Faiya,” ujarnya tenang.

“Kau gila! Hentikan sekarang juga!”

“Kenapa? Kenapa kita tidak boleh menggunakan kekuatan ini? Orang tuaku memperlakukanku seperti monster sejak aku secara tidak sengaja membakar rumah.”

“Bara! Kau mengapa kau membakar asrama?” ujarku di antara jeritan penghuni asrama.

“Karena aku sudah lama tidak mengeluarkan api dalam tubuhku dan sekarang aku bisa melakukannya. Orang-orang akan menuduhmu. Sumber apinya berasal dari sini, Faiya. Kau yang akan dituduh sebagai penyebab kebakaran ini.”

“Tidak! Bukan aku!” tegasku sembari memandangi sekelilingku yang sudah dikelilingi asap tebal dan api. Apinya tetap tidak membakarku. “Hentikan! Hentikan!”

 Bara memandangi tangannya yang sudah habis dilalap api.

“Aku akan membakar diriku hingga habis, Faiya dan kau yang akan disalahkan.”

Aku melihatnya menangis, tapi ia juga tertawa.

“Hidup ini kosong, Faiya! Terlalu gelap! Api akan menerangkan dunia ini kemudian segala yang dilalui api akan jadi tak berarti?”

“Hidup adalah abu! Kita hanya bisa bersinar terang sesaat, kemudian padam! Lantas mengapa kita harus bersusah payah buat bersinar lebih terang daripada yang lain? Bahkan menyakiti dan membinasakan orang lain dalam usaha untuk jadi terang?”

Aku berlari menembus lautan api, tanpa terbakar. Meninggalkan Bara yang menyerahkan diri pada kematian, melewati beberapa kamar yang berisi penghuni yang berteriak-teriak minta tolong, tapi aku tak bisa menyelamatkan mereka!


Cerpen ini ada di An1magine majalah eMagazine Art and Science Volume 1 Nomor 8 Oktober 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage