CERMIN: REPTOID


Sepertinya semakin ke sini kita menyadari bahwa menolong orang lain belum tentu membuahkan hasil baik. 

Terutama kalau yang kau bantu ternyata para idiot yang gemar membalas kebaikan dengan kejahatan.

Ya. Ya. Bukankah memang seperti itu? Bahwa banyak orang yang tumpul dalam hal balas budi.

Bukan terima kasih yang kau dapat, tapi malah segudang makian dan cemoohan.

Keadaannya bisa tambah parah jika orang idiot tadi jumlahnya banyak. Kemudian orang idiot yang satu membisiki orang idiot lainnya supaya ikut-ikutan melawanmu.

Kurang lebih seperti itu dan kau akan mulai berpikir dengan cara lain.

Bahwa semestinya kau tidak perlu membantu orang idiot pertama.

Bahwa tidak perlu menolong karena kebanyakan akan menyeretmu dalam kesulitan.

Shasa mendongak dari literatur yang sedang dibacanya.

Satu paragraf ke paragraf lainnya kemudian mendesis pelan bukan karena tidak suka dengan bacaannya, tapi karena setuju wacana itu benar.

“Kebaikan tidak selalu berujung pada kebaikan, eh?” dengusnya kemudian ia melemparkan buku itu ke atas ke tempat tidurnya.

Ia duduk dengan mengangkat kakinya ke atas kursi. Kemudian melempar pandangan keluar jendela.

Malam baru saja turun. Biar pun sudah gelap bukan berarti dia bisa berkeliaran seenaknya.

Ia masih harus di dalam rumahnya yang aman hingga beberapa saat lagi. Jadi ia putuskan untuk turun dan menuju dapur.

Jujur saja. Rumahnya kotor dan suram, tapi ia sangat menyukainya.

Ia mencari-cari ibunya.

Dapur, pikirnya.

Ruangan itu sepi dan terdapat bangkai tikus di sudut. Rumahnya memang tidak pernah bersih dari tikus. Tapi siapa yang peduli. Tidak banyak orang yang mau berbagi rumah dengan berekor-ekor tikus bukan?

Sepertinya Ibunya sudah menyelinap keluar, mungkin diminta untuk merawat anak adik perempuannya yang tengah sakit karena rumahnya benar-benar kosong.

“Di sini kau rupanya!”

Sesosok muncul dari dalam gelap.

“Kau membuatku kaget!” desis Shasa terkejut. Ia bisa melihat jejak Sherkh di jendela. “Jadi kau masuk dari sana rupanya.”

“Lebih keren daripada melewati pintu bukan?” kekeh Sherkh. “Kupikir rumahmu kosong, aku hampir pergi sesaat kemudian mendengar seseorang turun.”

“Kau mau apa?” desis Shasa tidak senang.

“Aku ingin jalan-jalan, tapi tidak ingin sendirian seperti reptilian tersesat. Jadi kupikir aku akan mengajakmu.”

Shasa menoleh ke dinding. “Belum waktunya.”

“Ayolah! Tidak akan ada yang melihat. Jalanan benar-benar sudah lengang. Aku tidak melihat siapapun waktu berangkat ke sini,” ajak Sherkh.

“Memangnya kau berencana ke mana?” tanya Shasa berusaha agar nada penasaran tidak begitu kentara dalam ucapanku.

“Pub. Kemana lagi?” sahutnya sembari menyeringai. “Tentunya kau sadar bahwa tidak banyak tempat yang bisa kita kunjungi.”

“Kita akan mendapat masalah jika berangkat jam segini. Aku bertaruh banyak orang yang belum mabuk. Mereka bisa memberi kita masalah,” tolak Shasa.

Sherkh melipat kedua tangannya di depan dada.

“Jangan berperan sebagai pengecut. Kau tidak akan menyenangkanku?”

“Memangnya mengapa aku harus membuatmu senang?” sahut Shasa sembari menjatuhkan diri ke lantai. Berbaring di sana dan memandang langit-langit.

“Kau benar-benar tidak ingat hari ini?”

“Apa maksudmu? Tentu saja ingat! Ini Hari Sabtu tanggal sebelas.... Tunggu. Kurasa aku melewatkan sesuatu.”

Sherkh tertawa nyaring.

“Ini hari ulang tahunmu!” pekik Shasa nyaring.

“Dan aku berani taruhan kalau kau tidak menyiapkan apapun sebagai kado!” tuduh Sherkh.

“Memang,” ujar Shasa yang kini merasa sedikit merasa bersalah. “Aku akan menyediakan hadiahmu dalam dua hari, ok?”

“Memangnya kau akan memberi apa?” Sherkh memerhatikan sudut dapur rumah temannya. “Bangkai tikus.”


“Oh! Kalau kau memang menginginkannya, kau bisa membawa beberapa. Kurasa ibuku tidak akan keberatan,” ujar Shasa, tajam.

“Lupakan soal bangkai tikus. Hadiah bisa menanti, tapi aku ingin kau menemaniku ke pub sekarang.”

“Aku tidak bisa menolak permintaan dari makhluk yang sedang berulang tahun bukan?”

“Tidak, kau harus mengabulkannya.”

Shasa mendesah pelan. “Baiklah. Kita berangkat.”

Maka mereka berdua pun menyelinap. Menyatu dengan gelap. Seolah mereka adalah bagian dari malam.

“Apa kita aman?” tanya Shasa dalam desisan parau, takut ada yang mendengar atau mengetahui keberadaan mereka.
Detik kemudian dia mendapat jawaban.

Mendadak ada suara jeritan melengking. Dan yang lebih membuatnya khawatir, itu adalah suara ibunya.

Sherkh sudah menghentikan Shasa. Satu tangan untuk membekap mulut gadis itu, tangan lain untuk menahannya supaya tidak menghambur keluar dari tempat persembunyiannya.

“Dan ular beludak ini telah membuat manusia jatuh dalam dosa!” geram salah satu lelaki botak berbadan besar.
Beberapa orang yang mengitari Ibu Shasa berbisik-bisik mengiyakan si botak.

Jumlahnya banyak, lebih dari selusin hingga Shaha dan Sherkh saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan ibunya.
“Kita tidak bisa menolongnya,” bisik Sherkh dengan nada menyesal.

Air mata meleleh. Shasa menangis dalam diam.

“Kau ingat peraturan pertama?” desak Sherk, masih dalam bisikan.

Shasa mengangguk dan setelah itu Sherk melepas bekapan mulut gadis itu, namun masih memeganginya, siapa tahu gadis ini kehilangan kendali dan menghambur ke arah orang-orang yang menangkap ibunya.

“Karena kaulah manusia berkubang dalam dosa! Maka dari itu, atas kekuatan yang diberikan sang maha kuasa, kami akan membunuhmu!” geram si botak.

Kian lama, kian banyak orang yang berkumpul karena suara si botak. Mereka membawa obor, beberapa membawa kayu.
“Mereka akan membakar ibuku,” desis Shasa dengan suara bergetar.

“Ingat peraturan pertama. Katakan apa itu.”

“Tidak lagi membantu manusia. Tidak berurusan dengan mereka apapun alasannya.”

“Kau tahu jelas, leluhur kita telah membagikan pengetahuan pada mereka. Bercocok tanam sehingga manusia tidak hanya memetik dari pohon-pohon.

Menciptakan pakaian sehingga mereka tidak lagi telanjang, juga menciptakan rumah, tapi kau lihat sendiri. Mereka membenci kita.”

Sherkh menarik lengan jaketnya dan memerhatikan kulitnya yang bersisik halus, sangat khas reptilian
“Kita membantu mereka supaya tidak terus-menerus bergantung pada alam, mengajarkan bagaimana manusia bisa bertahan hidup dengan mengolah alam”

“Tapi mereka bukan makhluk yang pandai melakukan balas budi.”

“Tapi itu ibuku, Sherkh. Aku tidak mau membiarkan orang-orang yang mengaku umat tuhan itu menyakiti ibuku!”
“Mereka menganggap ular sebagai iblis! Jangan ikut melempar dirimu masuk dalam bahaya.”

Untuk sepersekian detik Shasa memerhatikan matanya dari pantulan Mata Sherkh. Mata yang hanya segaris, sangat berbeda dengan mata manusia. Kemudian ia menerjang kerumunan itu.

Ia menggigit si botak, tepat pada lehernya. Memastikan bisa yang ada dalam taringnya masuk ke aliran darah orang jahat tersebut.

Kemudian sebelum yang lain dapat bertindak, ia telah meraih tangan ibunya.

Kemudian mereka lari sambil menghindari lemparan obor-obor yang diarahkan manusia kepada makhluk keturunan ular itu.

Salah satu obor itu mengenai rumah dan segera lalapan api berkobar menjadi besar. Perhatian orang-orang terpecah, tapi kebanyakan lebih memfokuskan diri untuk menghentikan pengejaran untuk memadamkan api.

“Sherkh, kau yang membakar rumah itu!” seru Shasa yang terkejut atas tindakan temannya yang kini ikut berlari bersamanya.

“Aku tidak mau kau dan ibumu mati. Lebih baik kita lari sejauh mungkin. Ke tempat yang jauh dari manusia.”

“Ke tempat yang jauh dari manusia,” desis Shasa, setuju.

*
(ARC)




Cerita ini ada di An1magine majalah eMagazine Remaja Volume 1 Nomor 2 April 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage