CERMIN: MAKHLUK PEMAKAN AMARAH


“Aku benar-benar membencimu tiap kali kau melakukannya!”

Aku mengangkat kepalaku dari mangkuk makanan, meletakkan sendok, kemudian menatapnya. Tidak lupa aku menyunggingkan senyuman mengejek di wajahku.

“Apa?” tuntutku.

Sebenarnya apa yang membuatnya kesal kuketahui dengan jelas. Tapi benar-benar tidak menarik jika aku tidak mempermainkannya.

Membuat amarahnya naik beberapa senti lagi sebelum aku meredakannya.

Memang memadamkan api kemarahan yang sudah terlanjur menyala bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi aku ini tipe orang yang senang bermain-main dengan api.

Mungkin aku akan terbakar dengan api yang aku ciptakan, tapi untuk sekarang aku benar-benar tidak mau peduli.

Membuat orang lain marah entah mengapa terasa begitu... Menyenangkan.

Ya! Menyenangkan! Biar orang-orang tidak setuju, aku tetap akan melakukannya.

Karena aku tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Aku bertindak atas kemauanku, meski itu berarti membuat marah orang lain, contohnya orang yang ada di hadapanku.

“Apa?” ulangku, dengan nada mengejek yang sama.

Aku bisa merasakan amarahnya mendidih. Monster di dalam tubuhku memekik kegirangan, ia benar-benar menikmati situasi ini.

Monster dalam diriku lapar dan makanannya adalah amarah.

“Kau sedang mengejekku ya?” tanyanya, marah. Matanya dipicingkan, benar-benar sipit.
“Aku?” sahutku sembari mengarahkan telunjuk tangan kananku ke dada.

“Mengejekmu? Aku sedang makan. M-A-K-A-N. Jadi bagaimana mungkin aku mengejekmu?”
“Ha! Ha! Lucu sekali!” serunya dengan kemarahan yang makin menjadi-jadi.

Aku melirik ke bawah meja, ke dalam tas, melihat tabung yang selalu kubawa kemana-mana. Isinya sudah penuh. Isinya seperti gas berwarna keperakan.

“Kurasa kau butuh udara segar. Pergilah,” desahku sembari kembali menatap lawan bicaraku.

Orang itu memicingkan mata, membuat matanya terlihat sipit lagi. “Aku memang mau pergi kok.”

Detik berikutnya, ia mendorong kursinya ke belakang dan melangkah menjauhiku tanpa menoleh.
Aku memerhatikannya hingga keluar dari pintu cafe kemudian menghela napas. Ternyata aku sudah menahan napas sejak ia mendorong kursinya.

Senang, sekaligus merasa bersalah. Serius, aku terkadang merasa tidak enak membuat orang lain marah seperti itu, tapi monster dalam diriku selalu menuntutku buat melakukannya.

Seolah aku tidak bisa hidup tanpa menghirup kemarahan, seolah aku akan mati jika tidak ada orang-orang yang sedang marah di sekelilingku.

“Seharusnya aku pergi ke tempat itu saja,” gumamku pada diri sendiri.

Aku menutup tasku. Tidak menyelesaikan makanan yang belum habis kusantap dan bergegas meninggalkan cafe ini, seperti yang dilakukan orang tadi.

Hari ini aku pergi ke cafe yang sama lagi. Di waktu yang hampir sama dengan waktu itu. Di tempat duduk dekat jendela yang sama.

Sebenarnya situasinya akan lebih mudah jika hari ini ada sidang pengadilan terbuka. Akan jauh lebih mudah jika aku bisa mangkal di kantor polisi, rumah sakit, atau di rumah duka.

Di sana banyak energi negatif yang menguar, bercampur dengan udara, tanpa aku perlu membuat seseorang marah padaku.

Tapi aku tinggal di kota kecil di mana tidak banyak yang bisa dilakukan polisi. Tidak banyak kejahatan yang dilaporkan.

Rumah sakit hanya ada dua. Satu milik swasta, satu milik pemerintah dan aku sudah terlalu sering berkeliaran untuk membuatku dicurigai pegawai di sana.

Sayang sekali, aku tidak memutuskan untuk menjadi perawat atau dokter karena takut darah.
Rumah duka juga tidak selalu laku, kebanyakan warga sini menyimpan jenazah anggota keluarganya di rumah sebelum dikuburkan.

Kalau aku pergi ke kuburan, akan lebih jarang ada orang lagi. Lagipula aku bisa kena tuduhan sedang mempelajari sihir hitam atau semacamnya.

Aku membuka tasku dengan uring-uringan. Hari ini ada dua tabung di dalamnya dan keduanya kosong.

Monster dalam diriku memprotes, tidak senang. Ia ingin aku membuat seseorang marah. Ia ingin ada orang lain di sekitarku yang tidak dalam suasana hati yang baik.

Monster itu membutuhkan kemarahan. Ia menghirup kemarahan dan hidup darinya. Seolah jika aku tidak bisa membuat orang di sekitarku marah, ia akan mati.

Atau mungkinkah monster itu akan mati?

Tapi bukankah jika ia mati, maka aku juga akan mati?

Lalu bagaimana? Aku harus tetap hidup, dan untuk hidup aku harus memberi monster ini makan.

Monsterku memakan rasa marah, dan aku membutuhkan orang yang marah di sekitarku. Supaya kemarahannya bisa kuhirup, supaya monsterku bisa makan.

Dan orang itu akan marah dengan mudah, seperti yang tiap kali terjadi ketika aku datang ke tempat ini. Dengan demikian monsterku bisa makan.

“Pesananmu,” ujar suara yang familiar di telingaku.

Monster di dalam diriku melompat-lompat kegirangan. Ia tahu saat yang dinantikannya akan segera tiba. Ia akan segera makan, ia tidak akan kelaparan lagi.

“Aku belum memesan,” kataku dingin, sembari membuat isyarat supaya orang itu menyingkirkannya.

“Aku yang pesan, kalau perlu aku yang bayar. Sekarang, cepat habiskan dan pergilah. Aku tidak sedang ingin marah hari ini.”

Aku menyunggingkan senyuman ejekan yang biasa kutunjukkan padanya. “Kenapa aku harus menurutimu?”

“Habiskan saja, lalu pergi,” perintahnya sembari menekuk kedua tangan di depan dada.

“Bagaimana ini, sepertinya kau tidak senang aku berkunjung.”

“Bagus kalau kau menyadarinya! Mestinya kau tidak muncul, berkeliaran di hadapanku, di tempatku bekerja, terutama setelah kita bercerai!”

Monster di dalam diriku memekik kegirangan. Orang dihadapanku akan marah.

“Aku tidak muncul untuk menemuimu,” jawabku kalem, tapi dimaksudkan untuk membuatnya makin marah. “Aku datang untuk makan.”

“Kalau begitu makan saja di cafe lain!” serunya, tidak sabar.

Aku bisa merasakan amarah mulai mendidih dalam diri lawan bicaraku dan entah mengapa aku benar-benar menikmatinya.

“Jadi begini cara manager cafe ini memperlakukan pelanggan?” bentakku sembari berdiri.
Beberapa pelanggan yang sedang makan di sana melirih ke arahku dan mantan pasanganku. Begitu juga dengan karyawan cafe, mereka mulai berbisik-bisik.

“Jangan membuat keributan di sini. Kau bisa membuatku kehilangan pekerjaan!” desisnya sembari melotot ke arahku.

Aku bisa melihat kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuhnya. Samar-samar aku bisa melihat isi tasku yang sedikit terbuka.

Gas berwarna keperakan itu terlihat memenuhi kedua tabung, tapi belum benar-benar penuh.

Sedikit lagi, kata monster dalam diriku. Sedikit lagi dan aku bisa lega karena tabung-tabung itu memastikan monster dalam diriku tidak akan kelaparan selama beberapa waktu.

Gas keperakan itu berasal dari kemarahan yang diserap dari orang yang ada di dekatku.

Gas keperakan yang menjadi makanan monsterku. Di mana selama monster itu hidup, maka aku juga akan hidup.

“Kau tidak akan pergi?” tuntut si manager cafe.

“Kau benar-benar membuatku ingin menggelitik kemarahanmu itu supaya lebih meluap lagi,” cibirku.

Detik berikutnya aku menarik taplak meja dan menjatuhkan makanan yang ia bawakan padaku.

Piring dan gelas yang tadinya ada di atas mejaku, pecah, hancur berkeping-keping ketika membentur lantai yang dingin dan keras.

“Apa yang kau lakukan?” tuntutnya. “Pergi! Pergi!”

“Aku akan pergi setelah kau meminta maaf padaku!” pekikku, tak mau kalah.

“Minta maaf?” katanya dengan suara bergetar. “Minta maaf? Masa bodoh dengan semua ini. Lagi pula setelah semua kekacauan ini aku pasti akan dipecat.”

“Bukan urusanku jika kau tidak punya pekerjaan,” sindirku, kejam.

Aku bisa merasakan api kemarahan itu meluap-luap. Tabung-tabungku pasti sudah penuh sekarang.
Aku suka bermain dengan api, meski aku mungkin saja bisa terbakar karena api yang kukobarkan.
“Keterlaluan! Keterlaluan! Aku akan membunuhmu!”

Sebelum aku bisa menghindar, sebelum aku bisa mengalihkan pikiran dari tabung-tabungku, ia sudah menerjangku hingga aku jatuh ke belakang.

Mengadu kepalaku dengan lantai yang keras. Lantai dengan kepingan-kepingan piring dan gelas yang kujatuhkan tadi.

Salah satu kepingan tajamnya menancap, masuk kedalam kepalaku. Membuat darah keperakan merembes keluar dari tubuhku.

Monster dalam tubuhku meraung kesakitan. Dia tahu akan mati. Jika dia mati, maka aku juga mati.
Inilah saatnya di mana aku harus mati karena api yang kukobarkan sendiri.

Amarah itu memerangkapku kemudian menyeretku ke dalam kematian.(ARC)


Cerpen ini ada di An1magine majalah eMagazine Volume 1 Nomor 3 Mei 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage