Aura: Nyoman Bratayasa


Mungkin banyak dari An1mareaders yang suka menggambar sewaktu kecil, tapi tidak menjadi pelukis ketika dewasa.

Nyoman Bratayasa gemar melukis sejak TK, kemudiah kuliah di bangku ekonomi. Tanpa pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, Bratayasa ternyata tetap memenuhi hasratnya untuk menuangkan ide dalam kanvas.

Berbeda dengan anak muda zaman sekarang yang lebih banyak mencurahkan perhatiannya ke gadget, Bratayasa menggunakan waktu luangnya sepulang sekolah untuk melukis.

Mulanya ia hanya membuat sketsa dengan pensil dan kertas, juga belajar Style Pengosekan yang sedang booming di Bali ketika Bratayasa masih SMP.

Sekarang selain sketsa, Bratayasa juga mengerjakan lukisan watercolor.

Kini lukisannya sudah mencapai nilai puluhan juta, dipajang di hotel-hotel, juga diburu oleh kolektor dari berbagai negara seperti Singapore, Malaysia, Australia, Amerika, juga Jepang.

Dia bahkan memiliki galeri sendiri yang dinamai “Aura”. Galeri ini didirikan tahun 2012 di desa kelahirannya, Desa Lodtunduh, Ubud, Bali. Nama Aura dipilihnya karena menggambarkan hal yang positif.

Aura merupakan tempat Bratayasa memajang karya-karyanya. Di tempat ini juga Bratayasa kerap menerima kunjungan teman-temannya baik yang berasal dari Bali juga luar Bali.


Biar pun begitu, perjalanan Bratayasa menjadi seorang seniman tidak berjalan tanpa hambatan.
Dulu Bratayasa dulu sempat membawa lukisannya ke galeri dengan sepeda motor pukul empat pagi.

Galeri sering kali mematok harga. Ketika harga kanvas naik, Bratayasa menaikkan sedikit harga lukisannya dan ditolak meski galeri dapat menjual dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada yang didapatnya.

Tidak hanya itu, Bratayasa juga mengaku pernah diusir salah satu galeri ketika hendak memasarkan karyanya.

Karena kejadian pahit ini Bratayasa sempat vakum melukis selama beberapa tahun sebelum kembali produktif berkarya. Pengalaman diusir diubahnya menjadi motivasi.

Berhubung belajar melukis secara otodidak, Bratayasa mengaku suka meminta pendapat pada senior-seniornya. Ia terbuka akan kritik dan saran. Saran yang cocok diambil.

Seperti terkadang ada kurator yang memberi komentar negatif. Bratayasa tidak serta-merta menerima pendapat kurator tersebut agar karyanya tidak mengikuti gaya orang lain. Lukisannya harus berdasar gayanya sendiri.


Bratayasa mengaku sering mengikuti pameran di berbagai kota seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta, Tangerang, dan tidak ketinggalan di pulau kelahirannya, Pulau Dewata.

Tidak selalu ada lukisannya yang terjual ketika mengikuti pameran. Namun dari pameran Bratayasa mendapat teman juga mencari link. Siapa tahu jika nantinya ada pengunjung pameran yang berkunjung langsung ke Aura.

Menurutnya, menjadi seorang pelukis membutuhkan mental yang kuat. Karena tidak semua komunitas mau menerima untuk bergabung.

Atau seusai pameran berhari-hari belum tentu ada lukisan yang terjual.

Yang terpenting adalah untuk selalu berusaha membuat lukisan bagus. Lukisan yang membuat orang tertarik berhenti di depannya dan menikmati goresan-goresan yang tertuang di sana.

Seperti salah satu lukisan favoritnya yang menggambarkan keseimbangan, di mana hitam dan putih dalam hidup ini tidak dapat dipisahkan, akan selalu ada. Seperti manusia, ada sisi baik dan buruk.

Nah, gimana An1mareaders? Apa kalian juga bakal pantang menyerah dalam mencapai cita-cita? Ingat untuk mengubah setiap kesulitan yang kalian hadapi menjadi motivasi seperti Pak Nyoman Bratayasa! Semangat! (ARC)



Artikel ini ada di An1magine majalah eMagazine Volume 1 Nomor 3 Mei 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage