CERMIN: HUBERT DAN NAGA


Seluruh penduduk Kastella pasti tahu soal naga. Tidak ada yang akan meragukannya sebagai omong kosong atau imajinasi. Mereka tahu bahwa makhluk itu ada. Meski tidak selalu muncul, bukan berarti tidak nyata. Desas-desus merebak dan kian lama ceritanya kian heboh.

Kisah sang naga berkembang dengan bumbu-bumbu cerita yang mungkin sebenarnya tidak nyata. Meskipun begitu sang naga tetaplah ada. Mereka percaya karena mereka melihat, atau lebih tepatnya leluhur mereka yang melihat.

Seekor naga penuh duri di tubuhnya dan menyemburkan api dengan ganas, melahap apa saja yang berada di sekitar jangkauannya.Walaupun peristiwa itu terjadi dulu sekali, bukan berarti naga itu telah hilang.

“Naga itu tidur, nak!” seru Hubert dengan suara seraknya. Pria tua itu mengaduk tehnya dan membagikan teh ke arahku.

“Tidur bukan berarti mati”

“Kau beruntung bisa melihatnya”, kataku.

“Tapi tidak dengan generasiku. Bahkan orang-orang dari generasimu sudah banyak yang mati”

“Ah! Kematian....” desah Hubert. “Aku ingin tahu butuh berapa lama lagi hingga aku dapat mencicipi rasanya”.

Aku membenahi posisi dudukku, tidak nyaman, berusaha tidak terpengaruh soal ucapannya mengenai kematian.

Hubert mengatakannya dengan nada santai, seolah kematian adalah temannya.
Mungkin itulah yang akan terjadi jika umurmu sudah lewat dari delapan puluh tahun.
“Menurutmu apakah naganya akan datang lagi?” ujarku dengan nada mendesak yang sama.

“Memangnya sang naga akan laporan padaku kalau dia akan menyerang lagi atau tidak?” dengus Hubert tidak senang.

“Aku hanya tahu kalau dia belum mati, tapi aku tidak tahu apakah dia akan menyerang lagi”.

“Kalau begitu kau tahu di mana dia bersembunyi?”

“Apa maksudmu?” Tanya Hubert tajam.

“Yah, kau memastikannya tidak mati. Kupikir... Kupikir kau tahu di mana naga itu berada”.

Aku menelan dengan susah payah.
 “Kuharap kata-kataku barusan tidak membuatmu tersinggung. Kau harapanku Hubert, tidak ada orang lain yang bisa kutanyai lagi.”

“Tentu saja tidak ada orang lain yang memahami soal urusan naga itu sebaik aku,” ujar Hubert melunak.

“Aku tahu kau pasti tahu sesuatu.”

Hubert memicingkan matanya ke arahku.
Hanya satu mata, karena mata kanannya sudah lumpuh.
“Kenapa kau ingin tahu, padahal orang-orang di sekelilingmu memilih untuk membicarakannya” Tanya Hubert

“Yah, kau bisa bilang kalau aku punya rasa penasaran yang lebih baik daripada orang lain”.

“Tidak. Penasaran saja tidak cukup, nak!”

Aku kembali menelan ludah. “Kau ingin aku mengatakan sesuatu?”

Hubert mendekatkan wajahnya ke arahku, memerhatikan bekas-bekas lukanya yang cukup dalam. Luka bekas cakar naga.
“Rasa curiga mungkin membawamu pada masalah yang tidak bisa kau bayangkan.” Hubert berkata dengan penekanan.

Kemudian detik berikutnya dia tertawa. “Sekarang pulanglah, aku bisa menyakitimu kalau kau menanyakan pertanyaan yang sama padaku terus-terusan.”

Jeritan itu terasa seperti milik orang lain, tapi aku tahu itu milikku sendiri. Aku benar-benar tidak merasakan kakiku. Yang aku tahu hanyalah aku sudah berlari menembus rintik hujan, membenamkan sepatuku di antara tanah berlumpur.

Hubert benar-benar mengerikan, seringaiannya tidak nampak seperti manusia. Benar-benar mengerikan.
Aku menyumpah-nyumpah di jalanan sepi. Untung tidak ada yang sedang lewat. Aku tidak mau ada orang yang tahu kalau aku sedang bertingkah aneh sekarang. Lari seperti orang gila. Meninggalkan teh yang disajikan padaku tanpa menyentuhnya.

“Orang itu sinting! Orang itu sinting!” Aku mengucapkannya berkali-kali seperti merapal mantra.
Hubert mungkin tidak berbahaya, kecuali pada saat dia marah. Ia bisa melempar benda-benda dari rumahnya ke arahku, termasuk pisau seperti yang pernah dilakukannya padaku saat aku masih sebelas tahun.
Rasanya kepalaku hampir meledak, ketakutan itu menguasaiku. Aku bisa merasakan tubuhku bergetar hebat.

Hari berikutnya tidak lebih baik. Jeritan-jeritan itu masih ada. Tapi bedanya tidak berasal dari diriku. Ada hal-hal lain seperti derap langkah panik dan bunyi gubuk yang terbakar.Ini tidak bagus, pikirku.Aku segera menyambar belatiku dan menggunakan baju sebelum lari menghambur keluar.Naga itu menyembur-nyemburkan api dari moncongnya.

Memberangus rumah dan pepohonan yang ada di hadapannya. Ia tampak marah. Untuk sedetik aku merasa keinginanku terkabul. Aku benar-benar melihat sang naga. Ia bukan legenda. Ia nyata. Tapi aku tidak yakin benar-benar ingin merasakan teror yang dibawa oleh naga tersebut. Atau tepatnya aku tidak pernah memikirkannya. Karena jauh, jauh dalam pikiranku, naga itu hanyalah legenda. Aku hanya curiga kalau sebenarnya Hubert adalah pembual besar.

“Hubert! Hubert!” seruku ketika pikiranku itu muncul. Orang tua itu tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri pada masa-masa seperti ini.

Dia bisa saja marah kemarin, juga menjadi berbahaya, tapi bukan berarti aku tidak akan menolongnya.
“Hubert! Hubert!” raungku di antara jeritan-jeritan yang ada.

Gubuknya tidak jauh dari tempatku berlari, sementara sang naga terus mengekor di belakang. Meluluhlantakkan apa pun yang ada dalam jangkauannya.

“Hubert! Hubert!” panggilku panik. Aku membuka pintu rumahnya.

Ia tidak pernah menguncinya. “Hubert! Di mana kau!”

“Tidak usah menjerit, aku tidak tuli. Dasar dungu!” kekehnya sembari menuang ketel air panas untuk menyeduh tehnya.

“Apa yang kau lakukan! Kenapa kau masih berada di dalam rumah!” jeritku, tidak sabar.

“Lalu apa yang kau lakukan? Menjerit-jerit, masuk ke dalam sini, seenaknya.”

“Naga itu Hubert! Naga itu sedang menyerang desa! Tidakkah kau mendengar kekacauan di luar?”

“Kekacauan apa?”

“Orang-orang berteriak....” Aku berhenti, mengernyitkan dahi. Ini aneh, benar-benar hening.
Tidak ada gemeretak api yang sedang membakar pepohonan. Tidak ada jeritan ketakutan, tidak ada isak tangis. Yang ada hanyalah hening.

“Hubert kau melamun lagi!” sahut laki-laki di hadapanku.

“Aku... Apa?” sahutku sembari mengernyitkan dahi.

“Aku benar-benar khawatir dengan ilusi-ilusi di kepalamu, nak. Bagaimana mungkin kau memanggil orang lain dengan namamu sendiri,” ujarnya dengan tatapan iba.

“Tapi kaulah Hubert!”tuntutku.

“Pikirkan, nak. Siapa namaku?” ujarnya sembari mendorong teh ke arahku.

“Kau Hubert,” jawabku lirih.

Orang di hadapanku menggeleng. “Kurasa kita sudahi sesi kali ini, nak. Kuharap kesehatanmu kian membaik.”

“Tapi kau Hubert! Dan naga itu! Naga itu sedang menyerang desa!” lolongku sembari mulai melempar benda-benda yang ada dalam jangkauanku.

Aku tidak memerhatikan apa pun yang aku lempar. Yang aku tahu aku benar-benar marah. Aku kesini untuk menyelamatkannya! Bagaimana mungkin Hubert memperlakukanku seburuk ini?

Mengatakan bahwa aku yang bernama Hubert dan tidak ada naga! Tidak ada naga!
Detik berikutnya pintu terbuka, dua orang laki-laki tinggi besar segera memiting dua tanganku.

“Tidak! Jangan lakukan ini padaku! Aku datang untuk menyelamatkanmu!” Ikatan itu semakin mengencang, dua laki-laki itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskanku.

“Bawa dia ke sel,” kata pria yang kupanggil Hubert itu dengan tatapan letih.

“Tidak! Lepaskan aku! Hubert! Lari! Naganya akan membinasakan desa dan membunuhmu! Hubert!”  (ARC).

Cerita ini ada di An1magine majalah eMagazine Remaja Volume 1 Nomor 1 Maret 2016
yang dapat di-download gratis di Play Store, share yaa

Komentar

Page Views

counter free

Visitor

Flag Counter

Postingan populer dari blog ini

STANLEY MILLER: Eksperimen Awal Mula Kehidupan Organik di Bumi

CERPEN: POHON KERAMAT

Menerbitkan buku di An1mage